
Amira harusnya bisa merasa terbiasa oleh tindakan mendadak dari Alkan atau melihat tingkah yang Alkan lakukan secara mendadak. Tapi, masalahnya adalah dia menjadi bagian dari moment mendadak ini. Paginya ambruadul dengan keadaan mendadak yang diajak pergi. Di depan rumahnya itu Alkan sudah berdiri dengan menjulang dan melambaikan tangannya pada Amira. Bahkan penampilan Amira baru bangun tidur saja tidak membuat senyuman lelaki itu meluntur.
Sendal tidurnya, baju tidur yang bekas masa SMA nya alias sudah lusuh, rambutnya yang dicepol asal itu malah membuat Alkan merasa hangat. Rasanya dia ingin selalu melihat itu ketika dia baru bangun tidur nantinya ataupun ketika akan tidur hal yang terakhir dia lihat adalah sosok gadis yang berada di depannya ini.
Alkan rasanya selalu jadi ingin mendengar protesan kesal dari gadis itu.
"Kamu udah gila, ya? Ngapain sih pagi-pagi kesini? Mana tiba-tiba minta passport." Ucapnya dengan dengusan sambil membuka kunci pagar yang terkunci karna Mbaknya sedang berada di rumah sodaranya. Jadi, semalaman Amira di rumah sendirian.
Mengingat protesan itu membuat Alkan senyum-senyum sendiri di airport.
"Jangan senyum-senyum sendiri. Nanti orang ngira aku jalan sama orang gila." Ucap gadis di sampingnya yang memakai pakaian ala malingnya alias tidak luput dari masker, topi, dan kacamata hitamnya.
"Kamu mau emang punya suami gila?"
"Emang siapa yang bakal nikah sama kamu?"
Pertanyaan itu berbanding balik dengan hatinya. Seluruh dunia kalau mau tau, Amira sedang berdegup kencang mengatur nada jantungnya yang terpompa hebat. Sepertinya, jantungnya itu terlalu bersemangat.
Entah bersemangat karna akhirnya dia bisa berlibur atau karna berlibur dengan seseorang yang akhir-akhir ini menghantui hari-harinya.
"Kamu, kan? Kamu yang bakal nikah sama aku."
"Kamu kapan pesen tiketnya?" Amira memutar stir topik obrolan mereka.
"Buat apa?"
Amira mengerutkan keningnya bingung, mengapa pria ini malah bertanya buat apa? Sedangkan keadaan mereka sekarang berada di bandara yang akan menuju Singapore.
"Kita kan mau ke Singapore? Gimana caranya kalau kamu gak pesen tiket. Dikira kita bisa asal masuk?" Tanyanya penasaran. Atau jangan-jangan pria ini malah punya tiket vvip tanpa perlu beli tiket lagi.
"Kita gak naik pesawat yang ada disini. Kita naik private jet punya aku."
Oke, saat itu juga. Rasanya Amira tidak mau menebak-nebak lagi apa yang akan terjadi tentang persoalan lelaki ini. Karna semuanya tidak akan terpikir oleh otak Amira yang lumayan kecilnya ini. Gadis itu mulai sekarang hanya akan mengikuti alur yang sudah disediakan saja tanpa menebak-nebak kedepannya.
"Kamu mau makan dulu? Beli dulu makanan, ya?"
__ADS_1
"Aku gak laper."
"Tapi tadi kamu belum makan apa-apa. Mau makan apa dulu?"
Harus diingat satu hal kalau lelaki ini tidak suka ditolak dan akan memaksa sampai mendapat apa yang dia mau.
"Apa aja yang kamu mau, aku juga mau."
"Nikah sama aku, aku maunya itu. Kamu mau?"
Pria ini memang selalu bercanda. Dia serius melamarnya di bandara yang dikelilingi oleh ratusan orang yang sedang berlalu-lalang.
"Aku serius." Tambahnya lagi. "Tapi lebih serius soal kamu harus makan dulu. Aku emang pengen nikah sama kamu. Tapi sekarang, lebih pengen kamu isi perut kamu sama makanan dulu. Bentar aku yang pesenin."
Amira menatap punggung pria itu yang sedang memesan makanan. Serius, apakah pria ini akan serius padanya? Rasa soal traumanya masih tersimpan dengan baik. Atau jangan-jangan dia adalah obat dari rasa sakitnya yang pernah dia dapatkan.
...----------------...
"Gak ada harapan, Bu."
Ibunya yang sedang mengiris bawang itu menoleh pada Rega yang sedang mengaduk sop buntut.
Rega memutar bola matanya, dia tahu kalau Ibunya mengerti hanya saja Ibunya suka memutar-mutarkan topik pembicaraan. Katanya sih supaya ada bumbunya.
"Bukanlah. Ini soal minta maaf ke Amira. Kayanya dia gak akan pernah mau maafin aku."
"Yaudah." Jawab Ibunya simpel sambil mulai menumis bawang yang tadi dia iris.
"Kok yaudah sih, Bu?"
"Ya, masa harus dipaksa nduk?"
Rega menghelakan nafasnya panjang. Ya memang sih, masa dia harus memaksa seseorang? Padahal dia suka melukai seseorang itu.
"Soal meminta maaf-memaafkan itu memang antara kedua belah pihak yang saling bersangkutan. Tapi..." ucapannya terhenti karna harus mengambil sesuatu dari dalam kulkas lalu berlanjut ketika sudah menutup kulkas, "Tapi, memaafkan itu biar jadi urusan masing-masing. Bagus sudah, si pihak meminta maaf sudah meminta maaf dan kalau tidak dimaafkan, yasudah, tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah tahu letak kesalahan kamu sendiri."
__ADS_1
"Tapi aku masih ngerasa gak tenang, Bu." Rega sudah menaruh centong sayurnya. Tidak mengaduk-aduk lagi karna sedang memperhatikan Ibunya yang berada di sampingnya sedang menumis.
"Ya, itu sih urusan kamu. Tinggal kamunya aja yang bisa ngatur bayang-bayang dari masa lalu kamu sendiri. Amira saja si korban bisa mengatasi bayang-bayang masa lalu kejamnya, masa kamu gak bisa? Maksudnya, bukan Ibu membandingkan. Tapi terkadang hal yang terkait masa lalu gak harus disembuhi oleh si masa lalu lagi."
"Ibu ngomong apa sih?"
"Ya, kamu berobat aja ke psikologi sendiri. Gak usah maksain minta maaf ke Amira kalau dia gak mau."
Semangatnya menurun, dia memang tidak seharusnya kembali di kehidupan gadis yang pernah dia cintai itu.
"Tolong ambilin garem di sebelah kamu itu" Tunjuk Ibunya menggunakan dagu. Rega langsung mengambil dan memberikan pada Ibunya.
"Terkadang seseorang bukan tidak mau memaafkan, namun lukanya kalau terlalu dalam bisa apa? Dia hanya bisa terus menguburnya dan kamu secara tiba-tiba si penyebab luka itu malah bangkit. Apa gak kasian?"
Iya juga, lalu dia harus pergi kemana lagi?
"Gak perlu kabur-kaburan lagi. Cukup kalau ketemu pura-pura gak kenal aja."
Memangnya bisa?
"Bisa kalau terbiasa. Sesuatu itu dilakukan harus secara terbiasa kan?" Tambah Ibunya bak bisa membaca pikiran Rega yang dari tadi memutari benaknya.
"Ibu kok bijak banget sih?" Tanya Rega iseng.
"Karna Ibu jadi Ibu harus bisa mengarahkan anaknya ke jalan yang benar. Tapi gak selalu benar juga, namanya juga manusia, kan? Tidak luput dari kesalahan."
"Iya, iya. Ini matiin?" Tanya Rega menunjuk pada kompor yang sedang mendidihkan sop buntut.
"Rasain dulu, pas gak?"
"Udah pasti pas. Kan tadi udah dibumbuiin."
"Ya, cobain lagi. Kadang-kadang suka gak sesuai sama feeling kita."
Rega berdecak tapi menuruti apa yang diperintahkan Ibunya, "Udah nih pas."
__ADS_1
"Yaudah langsung taruh mangkuk sama ke depanin. Bentar lagi pasti Bapak pulang."
Ke depanin yang berarti adalah taruh di meja makan.