
"Diem gak?!" sengit Amira karna dari tadi Alkan merecokinya.
Sejak awal mereka sampai di hotel mereka dia terus-terusan mengusilinya sampai Amira kelewat kesal menabok punggung Alkan dengan tatapan sengit.
"Balik sana ke kamar kamu." perintah Amira yang tak pernah diindahkan oleh makhluk satu ini.
Dari tadi dia merecoki Amira yang sedang membenarkan riasan di wajahnya. Dia terus-terusan bernyata ini apa? Itu apa? Bagai anak kecil yang sedang fase ingin tahu segalanya.
"Itu kamu pakai apa?" tanyanya ketika Amira menaburkan blush on ke wajahnya. "Lucu banget pipi kamu jadi kemerahan gini." ucapnya ditambah dengan posisi mereka yang sangat ingin membuat Amira mendorong lelaki itu.
Dia sedang duduk di belakang Amira, kepalanya di pundak Amira sedangkan dari tadi dia menatap arah cermin atau langsung melihat pada wajahnya, membuatnya semakin memajukan tubuhnya membuat punggungnya berbenturan dengan dada Alkan. Posisinya seperti Alkan sedang memeluknya dari belakang.
"Blush on."
Sesudah memakai blush on, tangan Amira mengambil liptint berwarna nude dan tengah-tengahnya memakai warna kemerahan agar terlihat ombre.
"Centil banget pakai warna merah-merah buat siapa?"
"Buat bule." jawabanya dengan nada judes. Sengaja agar Alkan bungkam.
Namun, yang namamya Alkan pasti tidak akan bungkam-bungkam. Dia akan terus merecoki Amira. "Yaudah, gak usah keluar biar gak diliat bule."
"Dih? Katanya mau dinner di luar. Gimana sih?"
"Tapi nanti kamu genit ke bule."
Amira memutarkan bola matanya, dia menatap ke depan cermin. Melihat penampilannya lalu membenarkan perataan warna dari perona bibirnya itu menggunakan jari. Alkan memperhatikannya, lebih tepatnya memperhatikan bagaimana bibir gadis itu disentuh-sentuh oleh jari gadis yang di dekatnya ini. Bagaimana kalau digantikan oleh bibirnya?
"Can i kiss you?" entah kesurupan setan Singapore mana, Alkan tiba-tiba bertanya begitu membuat Amira dengan refleks memalingkan wajahnya ke arah Alkan.
Membuat wajah mereka semakin dekat. Amira sekarang bisa memperhatikan bulu mata lentik Alkan yang sedang berkedip-kedip menatap matanya lalu jatuh kembali menatap bibirnya.
"Can i?" izinnya kembali.
Amira dari tadi hanya bisa diam. Entah harus menanggapi bagaimana karna dia sendiri tidak tahu karna malaikat membisikan tidak boleh, sedangkan para setan sedang berusaha mendorongkan agar memulai mencium Alkan.
Namun, sayang disayangkan dering telpon memisahkan jarak diantara mereka. Karna Amira langsung menjauh dan menerima telpon dari ponselnya.
"Hallo, Mbak?" sapa Amira ketika mengangkat telpon itu. Lalu dia menempelkannya ke telinga yang berada di sisi Alkan membuat lelaki itu menjadi ikutan menguping.
"Hallo, Mi. Ganggu gak?" tanya Mbaknya dengan nada yang tidak santai di sebrang sana.
Amira mendorong kepala Alkan agar menjauh, tidak menguping pembicaraanya dengan Mbaknya. Tapi yang namanya Alkan ketika sudah berhasil didorong malah kembali mendekatkan dirinya membuat Amira pasrah membiarkan lelaki itu menguping.
"Nggak. Kenapa?"
__ADS_1
"Lagi sama siapa? Sendiri."
"Iya,"
Bertepatan ketika Amira bilang 'iya' Alkan malah mencium pundaknya membuat Amira berjengit kaget.
"HEH!" teriaknya refleks dengan pelototan.
Bukannya takut dipelototi, Alkan malah tersenyum puas.
"Lagi sama Alkan, ya?"
"Nggak. Kenapa, Mbak?" Tanya Amira kembali agar Mbaknya itu segera ke inti.
Amira bisa mendengar helaan nafas panjang dari Mbaknya, "Soal karir kamu. Cyber bullying tuh masih terjadi. Kemarin kan Rania ngepost spoiler lagu, tapi isi reply masih hujatan sebagian doang yang mendukung. Mbak gak ngasih tau karna takur kamu kenapa-kenapa."
Amira tidak mengetahui itu karna dirinya sudah berpegang teguh untul membatasi dirinya membuka hal yang bisa menyakitinya.
"Hidup di dunia Entertainment itu gak gampang. Kita bisa aja terus kerja, tapi yang ngasih kita kerjaan memangnya masih ada? Mungkin, masih bakal ada satu atau dua. Tapi lama kelamaan akan redup sendiri kalau kitanya gak bisa ngejar. Sedangkan, kamu ini itu gak mau. Kamu selalu pengen kerja sesuai apa yang kamu mau aja karna merasa itu juga udah cukup. Padahal nyatanya nggak."
Pendengarannya masih setia mendengarkan. Lengan Alkan memegang tangan Amira untuk dia genggam. Amira melihat genggaman itu dengan diam tanpa menggertak, meminta dilepaskan. Alkan mengelus pelan punggung telapak tangannya dengan jempolnya.
"Dan Mbak juga mikirin soal mental kamu, Mi. Mbak gak mau hal kaya dulu keulang lagi. Kamu mau nyerah aja? Kita cari kerjaan lain atau kamu manfaatin aja cowok yang deketin kamu."
"Terus kamu mau hidup kaya gimana selanjutnya, hah? Mau jadi gembel?"
Amira mematikan telpon itu secara sepihak. Membuatnya terdiam, merenung. Namun, jika ada Alkan di dekatnya mana bisa dia merenung terdiam diri?
"Berhenti kerja aja. Nanti aku yang tanggung biaya hidup kamu." tawar Alkan seenaknya bak Amira ini seekor kucing yang bisa dengan gampang membiayai hidupnya.
"Nanti aku gak tau harus bayar kamu pake apa."
"Gak usah dibayar. Kan aku gak bilang ngutangin. Aku gak mau hal yang kaya kemarin ke ulang."
Hal yang kemarin berarti kejadian saat Amira hampir mati di dalam dekapan Alkan.
"Gak mau. Nanti aku bakal tetep nganggep utang."
"Ya, tinggal gak usah dianggap. Atau anggap aja sebagai pesangon kamu sebagai anak yatim."
Amira melepaskan genggaman tangan Alkan dengan dengusan kesal. Membuat Alkan malah tertawa karna melihat respon dari Amira.
"Bercanda. Seriusan, aku gapapa ngebiayain kamu. Anggap aja simulasi aku nafkahin istri."
"Simulasi, simulasi. Kamu kira kita lagi ujian?"
__ADS_1
"Emang kan? Ujian hidup."
"Kamu gini ke semua cewek, ya?" Tanya Amira dengan memicingkan matanya.
"Hm?"
"Simulasi nafkahin juga ke semua cewek."
"Kalau semua cewek. Nanti yang ada aku bangkrut dong? Bayangin di dunia ini ada berapa puluh ribu perempuan."
"Ke para mantan kamu."
"Ya, nggaklah."
"Ke Jia?"
"Enggak. Dia kan punya bapak sama kerjaan ngapain aku ngasih dia nafkah."
"Aku penasaran."
Alkan menatap Amira dengan jelas. Tangannya kembali mengambil tangan Amira untuk di genggam.
"Soal?"
"Soal kenapa kamu bisa putua sama Jia. Kaya aneh aja cewek secantik Jiani malah disia-siain."
"Kita beda agama dan emang rasanya Jia tuh lebih cocok jadi adek aku aja."
"Beda agama?"
"Iya, Jia kan Chindo Islam."
"Oh, aku kira sama."
"Kalau kamu cocoknya jadi istri kamu."
"Apa sih? Gak nyambung. Sana balik ke kamar kamu. Terus mandi. Jadi gak sih? Kita kan mau dinner."
Alkan malah terkekeuh lalu mengangguk. "Yaudah, iya. Ini aku balik. Kiss-nya nggak?"
"Jangan ngarep."
Alkan kembali terkekeuh, "Tunggu, ya? Gak akan lama." lalu lelaki itu bangkit meninggalkannya.
Harusnya lelaki itu daei tadi bersiap-siap. Ini malah menungguinya dan merecokinya.
__ADS_1