The Singer

The Singer
021. Street food.


__ADS_3

Malam solo saat itu sedang melanda cukup dingin, taman hotel itu cukup agak sepi. Hanya terisi oleh lampu yang menghias malam gelap gulita. Langit tak menampilkan bulan, namun cukup terhias oleh beberapa bintang di atasnya.


Disana ada tukang kebun yang masih bekerja, jam 7 malam. Harusnya dia sudah istirahat. Namun, paksaan keadaan memang memaksanya untuk terus giat dalam bekerja. Bapak-bapak yang sudah menginiak umut setengah abad itu tidak kenal lelah, Amira jadi merindukan ayahnya. Walau pun ayahnya telah melakukan hal salah, tapi dia tetap menyayangi ayahnya, selayaknya sang ayah dari dulu.


"Bapak, udah makan?" Amira menghampiri pria tua itu yang sedang meminum air putih dalam botol bermerk terkenal.


"Eh, sudah tadi." Jawabnya dengan sopan.


"Gak capek? Ini udah malem loh, Pak."


"Ah, Ngga. Udah biasa ini."


Amira mengangguk-anggukan kepalanya, melihat sekeliling tamanan yang sudah rapih, hanya tersisa sedikit lagi. "Sampai jam berapa Pak biasanya?"


"Jam 8 udah pulang kok," Katanya dengan santai masih memotong-motong rumput.


"Bapak punya ATM?"


"Punya, kenapa memangnya?" Bapak itu menghentikan dulu aktivitasnya untuk menatap Amira.


"Saya mau kasih uang, tapi gak bawa uang cash. Biar saya transfer, mau gak, Pak?"


"Alhamdulillah... Terimakasih, mau sekali, akhirnya ada rezeki untuk si bujang."


"Anak bapak berapa?"


"Dua, dua-duanya laki-laki. SMP satu terus masih SD satu." Jelasnya.


"Nah, Bapak tulis nomor rekeningnya di ponsel saya, ya. Biar saya transfer." Lalu Amira menyerahkan ponselnya yang langsung diambil Bapak itu.


Tangannya memakai sarung tangan abu-abu dengan lengkap pakaian hitam khasnya.


"Ini, terima kasih banyak ya, Mbak. Mbak ini artis ya? Saya berasa pernah lihat di televisi."


Amira langsung mengambil ponselnya lalu dengan cepat jarinya melangkah pada Mobile Banking untuk segera mentransfer uang itu pada ATM bapak-bapak yang sedang berada di dekatnya.


"Iya, Pak."


"Walah, pantas saja. Cuantik, pol!"


Amira tergelak ketika mendengar itu, geli. Baru kali ini dia dipuji dengan cara lucu. "Makasih, oiya, saya mau nanya boleh, Pak?"


"Bolehlah nanya doang gak akan bayar, nanya apa?"

__ADS_1


"Kalo cari makanan kaki lima di deket sini di mana ya?"


"Oh, itu ada di deket lampu merah nah kesananya dikit, banyak tuh kaya nasi goreng, sate, martabak, gorengan, lumpia, soto, terus apa lagi ya? Banyak pokoknya, enak-enak." Promosinya sekalian mengabsen makanan yang berada disana.


"Wah, okay! Terima kasih, ya, Pak. Kalau gitu saya masuk dulu ke dalam, ya? Bapak jangan kemalaman pulangnya,"


"Siap, makasih, ya, Mbak!" Bapak-bapak itu mengacungkan jempolnya.


...----------------...


Amira sedang berada di lobby untuk menunggu seseorang. Dia sudah memakai atribut seperti maling maksudnya; jaket hitam tebal, celana hitam panjang, masker hitam, kacamata hitam, dan bahkan topinya hitam. Dia sudah siap menjelajah mencari makanan di pinggir jalan, sudah lama dia tidak merasakan makanan itu.


Tadi dia sudah mengirim pesan mengajak seseorang dan dengan cepat laki-laki itu menyetujui ajakannya. Kita lihat bagaimana reaksinya ketika diajak makan disana.


Tanpa lama laki-laki itu berjalan ke arahnya dengan wajah terkejut bukan main karna melihat penampilan Amira, dia melihat dari atas sampai ujung kaki Amira. Mungkin, menurutnya aneh, malam-malam ini berbaju hitam-hitam.


"Saya kira siapa, ternyata kamu. Kamu ngapain pake baju begini? Kaya pencopet." Bukannya menyapa, dia malah mengoreksi pakaian Amira.


"Kan kita mau makan."


"Ya, ngapain makan sampe pakai serba hitam gini?"


"Ya, gapapa. Mau aja, ayok!" Ajak Amira lalu mereka berjalan ke arah yang berbeda.


"Apa sih?"


"Katanya mau makan?"


"Yaiya, ini kan mau makan. Keluar loh."


"Saya kira mau makan di hotel. Kenapa gak bilang sih?" Katanya dengan hembusan nafas.


"Kamu gak nanya." Amira ingin menjadi gadis menyebalkan untuk malam ini, melancarkan rencana balas dendamnya.


"Yaudah sebentar, saya ambil dulu mobil di lobby. Kamu nunggu dulu disini. Jangan kemana-mana, ya?" Pesannya seakan Amira akan kabur.


"Iya, iya. Udah buruan sana." Amira mendorong badan tegap lelaki itu untuk segera pergi mengambil mobilnya, dia tidak sabaran ingin makan.


Amira menunggu kembali di sofa yang berada di lobby itu, sambil memainkan ponselnya. Membuka google maps untuk mengarahkan arah jalan nanti yang mereka akan tuju.


Selang beberapa menit akhirnya mobil Alkan keluar memasuki depan lobby, menjemput Amira. Amira langsung bangkit berjalan menuju mobil itu.


Dia memasuki mobil itu dan entah mobil siapa sebenarnya, "Ini mobil siapa? Bukannya kamu gak bawa mobil?"

__ADS_1


"Asisten saya rentalin mobil tadi."


Amira mengangguk-anggukan kepalanya, bahkan merental saja dia merental mobil yang tidak main-main mewahnya. Lihat saja mobil rolls royce ini terlihat keren ditambah supirnya yang sangat keren. Alkan menyetir dengan santai menatap jalanan depan sana.


"Kita mau kemana? Saya gak tau restoran enak di dekat sini dimana. Coba kamu searching dulu."


"Aku udah tau kok mau makan dimana, kamu harus mau ya?"


"Makan apa emangnya? Check dulu restorannya bagus ngga ratingnya,"


Terus aja bilang restoran, orang Amira maunya makan di kaki lima.


"Bukan restoran kok."


"Hah? Terus apa?"


"Di kaki lima?"


Mendengar itu Alkan menoleh sebentar, melirik ke arah Amira. "Kaki lima maksudnya gimana?"


"Makanan di pinggir jalan gitu loh."


"Serius? Saya gak pernah makan makanan kaya gitu. Kamu serius ngajak saya?"


"Ya iya lah, kamu gak mau?"


"Mau kok, saya juga penasaran rasanya. Cuman agak aneh aja baru kali ini saya diajak kesana sama orang."


Amira tertawa dengan lelucon orang kelebihan uang ini.


"Wah, keren dong saya, ya?"


"Iya, keren. Tapi itu sehat kan?"


"Sehat gak sehat yang penting kenyanng. Eh, belok ke lampu merah sana." Katanya sambil mengarahkan jalan.


"Kalau saya sakit perut nanti gimana?"


"Saya tanggung jawab,"


Alkan tergelak, "Okay. Saya mau Habis ini kemana?"


Amira dengan fokus mengarahkan jalan sesuai demgan google maps. Alkan dengan telaten menyetir dengan santai karna dia tidak ingin melakukan momen ini dengan cepat, apalagi dengan gadis yang dia incar selama ini.

__ADS_1


Siapa yang tidak terkejut dan senang ketika mendapat kabar kalau dia duluan yang mengajak? Ya, Alkan bahkan kelewat senang ketika mendapat pesan dari Amira mengajaknya makan bersama. Mau dimana pun itu makannya, akan Alkan iya kan saja. Yang penting bukan di kuburan apalagi di penjara, yah mana mungkin juga si Amira mengajaknya kesana? Iyakan?


__ADS_2