The Singer

The Singer
036. Ibu


__ADS_3

Hal yang tidak pernah Amira bayangkan adalah bisa menemukan sosok Ibu pegganti ketika ibunya meninggal. Ketika ibunya meninggal, dia akan selalu melakukan hal apa pun dengan sendirian, jika dia dulu adalah anak manja karna anak terakhir. Sekarang berbeda, dia terpaksa harus mandiri dan kuat hanya demi melanjutkan kehidupannya. Bahkan Mbaknya sendiri saja tidak pernah memperhatikan Amira ketika sakit, dia hanya akan memeriksa sesekali saja kalau ingat.


Dan kali ini, yang mengejutkannya adalah ibunya Alkan menjenguknya dan menjaganya seharian. Amira tahu betapa sibuknya keluarga itu kalau soal pekerjaan, namun bisa-bisanya dia menyempatkan untuk menemani Amira yang jelas bukan siapa-siapanya mereka, hanya seseorang yang masih digantung.


Kalau bertanya bagaimana statusnya dengan Alkan? Jawabannya adalah gantung. Ketika kemarin Alkan mengatakan itu ada telpon yang masuk ketika Alkan melamarnya atau entahlah apa itu, rasanya terlalu mendadak. Bahkan Amira sendiri tidak tahu perasaanya dan juga apa jadinya kalau sebuah pernikahan tanpa ada rasa satu sama lain? Memangnya Alkan serius padanya?


"Alkan itu benar-benar sayang kamu. Dia maksa Ibu supaya bisa jaga kamu, padahal tanpa disuruh pun Ibu bakal jenguk kamu."


Jika kalian pernah melihat seseorang wanita tua yang sangat anggun, berarti penampilannya seperti Ibu Alkan. Amira suka jika melihat setiap gerak-gerik dari wanita paruh baya itu, apa pun yang dilakukannya terlihat anggun.


"Kamu mau makan buah? Biar Ibu yang kupaskan." Tawarnya ketika melihat Amira hanya diam saja.


"Gapapa. Aku gak mau ngerepotin, Bu."


"Gak ngerepotin kok, kan Ibu yang menawarkan, berarti Ibu yang mau." Jelasnya lalu mengambil buah apel untuk dipotong. "Kamu suka kulit apelnya dikupas?"


"Ngga."


Ibunya Alkan mengangguk lalu ke kamar mandi untuk membasuh buah apel itu. "Kalau anak-anaknya Ibu, mereka suka sekali kalau apel kulitnya dikupas. Katanya sih kulitnya gak enak, padahal biasa saja, ya?"


"Anak-anak Ibu type pemilih makanan?"


"Iya, mereka itu suka sekali pilih-pilih makanan dan terlebih soal kehigienisnya. Tempat makan saja mereka akan ribut kalau misal ada bercak bekas makanan lain sedikit pun. Padahal itu karna kecipratan atau apa gitu." Ceritanya.


Amira memperhatikan dengan diam. Dia jadi teringat soal Alkan yang pernah diajak makan di pinggir jalan, detik ini juga Amira jadi merasa bersalah. Apakah orang itu sakit perut sesudahnya?


"Mereka suka sakit perut kalau makan sembrangan, Bu?" Tanyanya memastikan.


"Nggak. Mereka kalau pun pemilih gak sakit-sakitan, sih. Beda sama Jia, anak itu pemilihnya ampun-ampunan sama seperti Alkan dan adiknya, tapi dia kalau makan-makanan yang gak cocok sama perutnya bakalan sakit perutnya."


Amira mengangguk-angguk, memperhatikan bahwa sepertinya Ibunya Alkan teramat mengenal Jia. Bahkan secuil informasi saja dia tahu sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Kamu dan Jia itu hampir sama sekarang."


Beda

__ADS_1


"Kalian sama-sama Ibu anggap anai sendiri. Bedanya kamu akan jadi menantunya Ibu kan? Kalau kamu mau itu pun sama anak Ibu."


Apa kah Jia pernah dianggap calon menantunya juga?


"Jia itu sebelum pacaran sama Alkan memang sudah Ibu anggap anak sendiri, karna Ibu mengenal Mendiang Mamihnya Jia. Dia yang nitipin ke Ibu." Jelasnya bak mengerti apa yang Amira pikirkan, "Jadi, Ami jangan sungkan. Walau Ibu gak kenal sama mendiang Ibu kamu. Tapi Ibu bisa kamu anggap sebagai Ibu sendiri, layaknya seorang Ibu sungguhan. Ibu dari dulu kepingin punya anak perempuan, tau. Jadi kamu kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu, ya?"


Amira rasanya jadi ingin menangis. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca, akan tumpah sekarang juga. Dia mulai menangis membuat Ibunya Alkan terkejut.


Amira merindukan Ibunya, dia merindukan suara Ibunya, dia merindukan pelukan Ibunya ketika mekhawatirkan Amira.


Ibunya Alkan mendekat lalu memeluk Amira. "Udah, gak apa-apa. Ada Ibu sekarang, sekarang kamu punya Ibu lagi. Sekarang jangan sungkan, ya? Perlakukan Ibu layaknya Ibu kamu dulu." Katanya sambil tersenyum manis.


...----------------...


"Jadi kenapa lo manggil gue kesini?" Tanya seseorang yang sudah duduk di depan Alkan.


Lelaki yang mempunyai tato di lengan kanannya itu datang karna dipanggil Alkan.


"Bantuin gue. Gue mau cari orang."


Alkan terkekeuh dengan protesan lelaki jangkung dan besar di depannya ini. Lelaki ini keseringan gym tubuhnya sudah seperti atlit gulat padahal kerjaanya hanya mengikuti Jia kemana-mana.


"Lo kan bisa jadi hacker juga."


"Gue emang lulusan IT tapi bukan berarti bisa jadi hacker juga sialan!" Protes Ben kembali.


Ben adalah manajer Jia, lelaki itu dengan kebosabanannya mengerjakan bisnis orang tuanya jadi merangkap menjadi manajer Jiani.


"Gue tau lo suka cari orang yang bermasalah sama Jia. Makanya gue minta tolong lo."


"Yaudah, langsung to the point. Gue masih ada janji sama orang bentar lagi."


"Tolong cariin dalang siapa yang nyebarin berita soal keluarga Amira."


Ben mengerutkan keningnya, "Amira? Amira Dewangsih maksud lo?"

__ADS_1


Alkan mengangguk-anggukan kembali. "Iya, bisa kan?" Tanyanya memastikan.


"Bisa. Bayarannya gak murah tapi terlebih ini kan cewek lo."


"Dasar lo mata duitan! Gak ada harga teman?"


"Kita bukan temen by the way."


Ya, karna orang ini adalah trionya Jia. Dia temannya Jia sejak kecil bersama Sera. Mereka sudah seperti trio yang akan jalan bersama-sama, namun kabarnya sekarang Sera disibukan menjadi budak korporat.


"Iya, aman deh. Intinya lo bisa kerja dengan baik."


"Emangnya mau lo apain?"


"Menurut lo enaknya gue apain?"


"Gue ngeri kalau yang nanya orang berduit kaya lo." Katanya dengan sindiran.


Padahal Ben juga terbilang orang kaya. Namun dia hanya tidak terlalu menikmati kekayaanya, dia lebih suka menghasilkan uangnya sendiri.


Alkan tergelak ketika mendengar itu. "Jadi kapan ada hasilnya?"


"Kalau udah gue kirim ke email lo. Dan jangan lupa bayarannya di awal." Katanya lalu bangkit dari duduknya, "Gue pergi dulu." Ben pergi tanpa menunggu Alkan mengizinkannya untuk pergi.


Ben digantikan oleh Sekretarisnya yaitu, Lana. "Tadi Pak Ben, ya, Pak?"


Alkan mengangguk sambil menerima file laporan itu. "Iya, kenapa?"


"Makin ganteng aja udah lama gak liat. Dia udah punya gandengan belum, ya?"


Alkan menatap sekretarisnya itu dengan raut terkejutnya, diam-diam gadis riweh ini mengagumi Ben ternyata.


"Kamu tanya aja sendiri. Atau tanya Jia langsung, pasti dia tau."


"Kalau tanya Bu Jia, saya yang ngeri. Bu Jia kan posesif sama orang-orang terdekatnya." Jujurnya.

__ADS_1


Alkan terkekeuh, memgerti. Jia memang selalu seperti itu sampai orang-orang jadi takut duluan untuk maju mendekati orang-orang yang ada disekitarnya. Dia sudah seperti kucing penjaga para kesayangannya.


__ADS_2