
Warning: Depression // Bullying.
Flashback On.
Amira melangkahkan kakinya tanpa ragu sebelum dia mendapat pandangan aneh dari orang-orang. SMA Tunggal Bakti pada kala itu ricuh melebur membuat mendapat topik berita yang hangat dan menggemparkan karna menyangkut salah satu murid disana. Amira Dewangsih anak dari Hamka Dewangsih yang sedang menjadi topik perbincangan.
"Serius ini bapaknya si Amira itu kan?"
"Amira anak kelas 12 IPS B bukan si?"
"Pacarnya si ganteng Rega Pramoedya?"
"Ada kesempatan nih buat nikung, haha."
"Berarti selama ini dia tumbuh makan duit haram."
Bisikan itu memasuki telinganya tanpa permisi. Tatapan semua orang berbeda dengan yang kemarin, hari ini mereka menatapnya dengan penuh kebencian.
Ponselnya bergetar, dengan cepat dia membuka aplikasi chat dari salah satu temannya itu.
Disana berisi link cuplikan berita, artikel, dan berita lainnya yang dari twitter.
Jantung Amira detik itu nyaris akan copot, kakinya lemas seakan berubah menjadi jelly tanpa tulang, kepalanya berdengung, pening ketika membaca artikel-artikel disana. Ini tentang penangkapan Ayahnya.
Diduga KPK Menangkap Rektor Universitas **** Terkait Kasus Dugaan Korupsi.
Rekam Jejak Peng-korupsian seorang Rektor dari Universitas ****
Disana terpampang wajah Ayahnya sedang digrebek oleh KPK. Wajah Ayahnya yang sedang menunduk, agar tak tersosot kamera.
Dunianya runtuh seketika, tangannya gemetar ketika memegang ponselnya yang akan jatuh itu. Detik itu Amira menangis menjadi tontonan orang-orang dengan penuh bisikan yang membuatnya semakin ingin menjerit.
__ADS_1
"Amira!" Sindy, temannya yang tadi mengirimnya pesan menghampirinya lalu memeluknya berniat menenangkan. "Mir, yang sabar ya, its okay. Ini bukan salah kamu, jangan dengerin omongan orang ya?"
...----------------...
Satu minggu setelah kejadian itu, Amira tidak masuk sekolah. Hanya bisa menyaksikan kehancuran rumahnya yang dulu hangat menjadi dingin. Menyaksikan penuh dengan air mata dan pukulan keras pada kepalanya sendiri dan pelakunya adalah dirinya sendiri.
Kali ini dia berjalan dengan pelan, dia sudah siap dengan tatapan ini lagi. Dia sudah tahu akan mendapat cibiran lagi seperti kala itu, dia juga akan tahu mendapat cacian maki dari seseorang. Yang dulu temannya kini telah menjauh, mungkin malu mempunyai teman dari anak seorang koruptor.
Namun pertanyaanya hanya satu, jika satu orang pergi, mengapa yang lainnya harus mengikut pergi? Hanya satu yang tersisa yaitu Sindy. Dia masih setia duduk bersamanya dan mengajaknya berbicara, senantiasa pula memberikan catatan pelajaran yang Amira tinggalkan.
Waktu istirahat mereka berada di halaman belakang, menikmati gorengan Mang Jajang dengan angin semilir dan pohon beringin yang meneduhi mereka dari teriknya matahari. Tidak peduli soal mitos bahwa tempat itu angker, karna dia butuhkan sekarang adalah ketenangan tanpa riuh suara.
"Mi, aku mau sesuatu. Tapi gak enak ngomongnya." Sindy berbicara dengan hati-hati membuat Amira takut bahwa dia juga akan pergi. Dia takut Sindy akan pamit pergi memutuskan pertemanan mereka.
"Kenapa? Ngomong aja." Suaranya kali ini pelan, tidak seperti biasanya selalu riang.
"Maafin aku ya, Mi. Aku selama ini gak ngasih tau kamu sesuatu. Aku kira ini gak bakalan terjadi tapi setelah aku pikir-pikir kemarin, ini ada hubungannya sama kamu, Mi."
"Rega itu sebenernya anak dari salah satu KPK yang ditugasin buat nyeledikin kamu. Waktu itu aku sempet denger pembicaraan di telpon, aku kira dia gak akan lakuin itu tapi ternyata dia tetap nekat buat pacarin kamu cuman buat cari bukti." Jelasnya tanpa ragu lagi.
Patah hati pertamanya dalam cinta juga patah kepercayaannya untuk pertama kali. Entah harus kepada siapa lagi dia menaruh kepercayaannya, semuanya mengkhianatinya.
...----------------...
Amira keluar dari toilet perempuan di sela jam pelajaran di mulai. Di depannya sekarang ada Rega, pacarnya atau akan berganti status menjadi mantannya. Lelaki itu menahan langkahnya yang akan pergi, menghindar.
"Kamu kenapa? Aku ada salah? Telpon, chat, bahkan imess gak ada kamu bales. Aku khawatir sama kamu." Ucapnya penuh tuntutan.
Khawatir katanya. Amira tersenyum getir bahkan mungkin akan mentertawakan drama lelaki di depannya atau mentertawakan kebodohannya yang bisa-bisanya masuk ke dalam perangkap pembodohan.
"Amira? Aku ada salah sama kamu? Ngomong jangan ngehindar kaya gini. Aku tau keadaan kamu lagi gak baik. Tapi please, aku ada disini kalau kamu butuh aku." Kali ini dia mengambil lengan Amira untuk dia genggam.
__ADS_1
Amira langsung menepisnya saat itu juga. "Cukup, Ga. Kamu gak usah pura-pura. Aku udah tau semuanya."
"Tau soal apa sih?"
"Soal kamu yang cuman pura-pura sayang aku demi melancarkan misi kamu itu, brengsek!" Amira teriak di depan wajah Rega dengan memukuli bahu lelaki itu.
Tangisnya kembali merambat pada wajahnya, dia lelah menangis namun matanya tidak berhenti untuk terus mengalirkan air mata.
"Mi? Aku bisa jelasin semuanya. Kamu tolong dengerin aku dulu. Tenang dulu please."
Lelaki itu berusaha menghentikan pukulan dari Amira, berusaha membawa tubuh gadis itu untuk dia peluk dan dia tenangkan. Namun, sayangnya Amira semakin hilang kendali tidak peduli pada apa yang lelaki itu keluarkan.
"Aku gak mau liat muka kamu lagi." Katanya dengan pelan. Suaranya semakin melemah.
"Mi, aku minta maaf. Please kamu harus dengerin penjelasan aku dulu, kita ngobrol baik-baik, ya?"
"Gak perlu." Ucapnya lalu akan beranjak pergi meninggalkan Rega disana.
Rega berusaha menghentikan Amira sebisanya, "Mi, tolong. Aku minta maaf, aku serius minta maaf sama kamu. Please dengerin penjelasan aku dulu ya?" Dia menghadap langkah Ami di depan gadis itu.
"Minggir. Minggir Rega sebelum aku teriak bikin ulah ketika jam pelajaran gini. Aku muak sama semuanya, aku juga muak liat kamu. Kamu pengkhianat." Tunjuknya menunjuk pada muka Rega.
"Oke, maaf. Aku kasih kamu waktu buat tenangin diri kamu dulu. Nanti kita ngobrol lagi, ya? Pas kamu udah tenangin diri kamu. Pas kamu udah siap dengerin penjelasan aku. Aku siap nunggu." Lalu dia menyingkir dari depan Amira.
"Jangan harap. Aku gak akan sudi lihat kamu lagi." Amira langsung bergegas meninggalkan Rega sendiri disana yang sedang mematung menatap kepergian Amira dengan penuh pedih.
"Arghhh!" Marahnya pada dirinya. Rasanya dia ingin menonjok tembok jika tidak ingat bahwa ini adalah sekolah.
Langkahnya salah, seharusnya dia tidak menuruti perkataan ayahnya. Semuanya tidak akan jadi begini, semuanya hancur karna Amira tidak akan mau menemuinya lagi. Dia yakin Amira akan terus menghindarinya sampai kapan pun.
Ini bukan soal penangkapan Ayahnya Amira. Tapi soal kesalahan Rega yang merusak kepercayaan Amira dan membuat Amira sebagai alatnya. Dia mengakui kalau dia benar-benar brengsek sudah merusak anak gadis orang dan perempuan dia yang cintai itu.
__ADS_1