
Dia sedang menatap seseorang di pojok sana, berdiri dan berbincang dengan seseorang. Tawanya dengan renyah mengalun di udara seakan obrolan mereka sangat ringan. Padahal, Ami tau obrolannya pasti tidak jauh dari pembisnisan.
Ami masih menatap kesal pria itu dengan rutukannya, apa tadi katanya? Menerima dengan senang hati kalau Ami memberi? Cih jangan harap. Memangnya Ami perempuan apa maen memberi begitu saja. Dasar brengsek. Perkataan tadi membuat sekelibat bayangan saat di bali muncul, membuatnya ingin membenturkan kepalanya lalu kehilangan ingatan.
"Liatinnya biasa aja kali." Ucap seseorang datang tiba-tiba sambil membawa cup minuman berlogo starbucks. Lalu menyodorkam minuman itu pada Ami. "Nih, gue tadi beli kelebihan. Jadinya ngebagi-bagi."
"Kelebihan." Kata Ami mengulang sambil mengangguk-angguk. "Kelebihan duit juga kali ya, kamu?"
"Gue aminin aja deh. Siapa tau beneran." Katanya sambil tertawa pelan.
"Aku juga bantu ngeaminin deh." Lalu kami berdua sama-sama tertawa. "Rasa apa nih?" Kata Ami sambil mengintip cup gelas itu.
"Asian Dolce Latte, suka gak? Kalau nggak kasih ke yang lain aja."
"Hm... Lumayan, Thanks ya. By the way, Sesil kemana?" Tanyanya lalu menyedot minuman itu.
"Ck, lo dari tadi ngeliatin arah depan tuh, ngeliatin Alkan doang ya? Tanpa ngeliat pinggir-pinggirnya? Keren banget." Decak kagum Langga tapi Ami tahu itu adalah sebuah ledekan. "Tuh, dia lagi duduk di sebelah sana. Nungguin Si Alkan beres ngobrol kayanya, mau caper kaya biasanya."
"Hush... Kamu kok gitu sih ke temen sendiri?" Tegur Ami.
"Gue gak terlalu deket sama dia. Emang dianya aja yang sok asik dan sok deket sendiri ke orang-orang." Ucapnya sambil memuka ponselnya.
"Tapi aku kagum sih sama dia. Dia bisa akrab sama semua orang, dia itu ramah?"
"Ramah gak salah. Tapi sayangnya dia itu penjilat. Manfaatin orang doang." Katanya lalu mematika kembali layar ponselnya dan dimasukan ke dalam saku celananya, "Oiya, gue mau nanya sama lo."
"Nanya apa?" Ami langsung menatap Langga yang sedang duduk di sebelahnya.
"Alkan beneran deketin lo ya?" Pertanyaannya yang membuat Ami bingung harus menjawab apa.
"Gak tau. Iseng aja kali?"
"Masa iseng? Padahal dia berusaha keras banget ngedeketin lo sampai Sesil aja gak keliatan di mata dia. Sayang banget ya?"
__ADS_1
"Sayang kenapa?"
"Padahal tadinya gue mau deketin lo?" Katanya dengan raut datar membuat Ami kebingungan, orang ini serius atau bercanda?
"Hah?"
"Bercanda kali gue. Santai dong mukanya, kalau gue beneran ngedeketin lo sih bisa bahaya, liat aja sekarang noh. Dia lagi ngeliatin kita berdua." Tunjuk Langga dengan dagunya, menunjuk ke arah depan.
Disana Alkan menatap keduanya dengan tatapan lurus tanpa artian, orang di sebelahnya masih berbicara sedangkan Alkan fokusnya malah menatap Ami yang sedang mengobrol bersama Langga. Ami langsung memutuskan melihat ke arah Alkan.
"Ngeri banget ya," Tambahnya. "Btw, manager lo kemana?"
Ami melihat sekeliling, dan entah kemana larinya managernya itu. Dari tadi tidak terlihat batang hidungnya padahal sebelum Ami syuting dia meninggalkan Mbaknya di bangku yang dia duduki sekarang.
"Gak tau? Manager kamu ada gak?"
"Gak ada juga. Kayanya mereka pergi bareng-bareng. Yaudah deh, gue mau ke asisten gue dulu ya?" Pamitnya.
Ami hanya mengangguk, lalu melihat kepergian Langga. Mata Ami kembali bersitatap dengan Alkan yang masih memperhatikannya.
Ami duduk menunggu di kursi depan ruangan yang sedang dipakai Mbaknya meeting bersama Tim perusahaan ini. Mbaknya tadi mengirim pesan untuk menunggunya disana saja. Pantesan hilang, ternyata memang bersembunyi dalam ruangan.
Langga dan Sesil telah pulang bersama asisten mereka, Ami jadi iri. Mengapa dia mempunyai Asisten tidak berguna? Berguna sih sedikit, banyaknya tidak. Rania itu seperti makan gaji buta, dia kerja kalau ingin ikut saja dan kalau bosan di rumah karna sedang libur kuliah. Mbaknya juga tidak memperkerjakan supir, karna katanya dia bisa menjadi supir juga untuk mengantar Ami kemana pun.
Pukul hampir 5 sore itu sudah membuat Ami kelelahan ingin segera berbaring di tempat tidurnya, membaringkan badannya yang seperti jompo ini. Memperhatikan kapan pintu itu terbuka lalu mengeluarkan orang-orang yang sedang mengeluarkan isi otaknya.
Ami bernafas lega ketika melihat pintu itu terbuka lalu sebagian orang akhirnya keluar, Ami bisa melihat Mbaknya berjalan sambil berbincang dengan Alkan. Perasaan Ami jadi tidak enak.
Mbaknya berjalan ke arah Ami, "Mau langsung pulang?" Tanyanya.
Ami hanya mengangguk, malah berbicara.
"Pulang sama saya aja. Kita dinner bareng." Ajak Alkan yang sudah berada di samping Ami.
__ADS_1
"Pak, kita masih ada kerjaan." Ingat Asistennya di samping Alkan.
"Iya saya tau."
"Males. Ayok Mbak kita pulang." Ami sudah berdiri lalu ingin beranjak pergi, namun tangannya di tahan oleh Alkan.
"Kalau kamu nolak berarti lupa soal di Bali kemarin ya?" Ancamnya.
Astaga pria ini kenapa sih? Ami jadi semakin kesal. Kenapa dia bisa bertindak bodoh pada saat kemarin sih?Sekarang Ami jadi menanggung akibatnya sendiri. Mau pulang saja cobaannya segini banyak.
"Ami... Udah sih. Kamu sama Alkan aja gimana? Mbak mau belanja dulu, kamu pasti kesel kan tiap nunggu Mbak belanja?" Tegur sambil membujuk.
Halah ini pasti hanya akal-akalan Mbaknya.
Karena Ami malas memberontak akhirnya dia mengiyakan, "Ada ruangan lain selain nunggu di ruangan kamu gak?" Tanya Ami malas kalau harus berduaan dengan pria ini.
"Ada. Kamu mau?"
"Mau. Asal gak di ruangan kamu."
Alkan hanya mengangguk menyetujui, Mbaknya berpamitan untuk pulang duluan.
Sekarang mereka berjalan menuju lift entah akan ke lantai berapa.
"Tapi ruangannya itu kamar saya. Yang biasa saya pakai buat tidur. Kamu masih mau? Atau mau saya temenin sekalian disana?" Bisiknya sambil mendekatkan badannya agar bisa berbisik langsung ke telinga Ami. Ami jadi merinding mendengarnya, bahkan ingin menginjak kaki pria ini sekarang juga.
"Jaga ya mulut kamu."
Bukannya tersinggung, Alkan malah tertawa. Memang sepertinya orang ini mempunyai kewarasan yang sedikit.
"Jadi gimana? Mau di ruangan saya atau di kamar?"
"Di mobil kamu aja gimana? Biar sekalian saya curi mobil kamu."
__ADS_1
"Boleh. Ambil aja, saya masih banyak." Katanya dengan santai. Namun Ami yang tidak santai karna perkataannya pasti benar, mencuri satu mobil pria itu tidak membuat dia mejadi bangkrut atau miskin seketika. Pasti uangnya masih tersimpan banyak yang bahkan sampai tidak terhitung. Kapan ya Ami hisa begitu? Kalau begitu mungkin Ami sudah tidak perlu bekerja pontang-panting seperti ini sekarang. Hanya tinggal menghamburkan uang saja dengan sisa umurnya.
Semuanya hanyalah haluan belaka yang selalu Ami pikirkan. Atau mungkin setiap orang yang kekurangan uang pasti akan berhalu seperti itu.