
Amira kehabisan darah yang mempunyai menjadi pingsan. Dentingan suara dari alat yang mengatur detak jantungnya itu mengisi ruangan yang senyap ini. Alkan duduk di pinggir ranjang Amira. Astrid menunggunya di luar, sedangkan disini, dia menunggu Amira untuk tersadar dari tidurnya.
Dia tidak pernah menghadapi kejadian seperti ini. Ini adalah pengalaman pertama kali melihat seseorang yang sedang dia kejar dalam menghadapi penderitaannya. Dia terbiasa bersama dengan wanita yang hidupnya terlalu sempurna, kali ini dia menatap gadis lemah yang berada di depannya ini. Rasanya, Alkan ingin terus melindungi gadis itu.
Alkan terbiasa mengobati seorang pasien, namun kali ini berbeda. Apa dia bisa mengobati luka yang teramat dalam pada diri gadis itu? Apa dia bisa menjadi penyembuh dari masa kelam gadis itu?
Detikan jarum jam membuatnya melihat ke arah sana, sudah dua jam Amira belum menyadarkan dirinya. Dia menghembuskan nafasnya, khawatir pada gadis di depannya ini. Kapan gadis ini akan bangun?
Apa yang gadis ini takutkan sampai dia hampir saja menghabisi dirinya sendiri. Kepala Alkan menjadi penuh oleh pertanyaan yang tidak akan terjawab.
Amira mengerjapkan matanya, gadis itu tersadarkan. Dia melirik Alkan yang berada di sampingnya, duduk dengan setia dari tadi disana.
"Alkan? Kamu ngapain disini?" Tanya gadis yang sudah berganti menjadi baju pasien.
Hoodie putihnya itu sudah bukan hoodie putih, malah menjadi putih bercorak berwarna merah dan juga basah kuyup.
"Nungguin kamu. Mau minum?"
Amira mengangguk, seakan sadar dan terbiasa terbangun dalam keadaan seperti ini di rumah sakit. Amira membangunkan dirinya, duduk sambil menyandar pada ranjang itu.
Alkan mengambil gelas lalu membantu Amira untuk minum.
"Pusing?" Alkan memastkan keadaan gadis itu.
"Nggak. Makasih," Jawabnya dengan pelan.
Alkan mengangguk, "Jangan kaya begini lagi. Laper?" Tanyanya kembali. Padahal bukan itu yang ingin Alkan tanyakan. Pertanyaan penuhnya itu harus bisa ditahan untuk beberapa saat ketika Amira sudah mulai sedikit membaik setidaknya.
"Nggak."
"Tapi kamu belum makan dari pagi. Makan, ya? Sedikit aja, setidaknya perut kamu keisi."
"Mbak Astrid mana?" Gadis itu malah mengalihkan topik.
Matanya bahkan tidak mau membalas tatapan dari Alkan yang membuat Amira merasa takut dan juga merasa bersalah, entah karna apa.
__ADS_1
"Mbak kamu di luar. Makan, ya? Biar saya yang suapin." Inisiatifnya sudah mulai mengambil piring yang berisi porsi makanan untuk pasien yang disediakan oleh rumah sakit ini.
"Gak usah. Saya makan sendiri aja." Katanya ingin mengambil piring itu namun Alkan jauhkan.
"Dengan lengan yang penuh luka yang ditutupi perban itu?" Tanyanya yang dimaknai sebenarnya itu adalah sindiran.
Amira langsung menatap lengannya, dia baru menyadari goresan yang dibuat tadi malah tertutupi oleh perban. Seninya tidak diindahkan lagi. Seninya ditutupi, tidak pantas untuk diunjukan.
"Tapi tangan saya baik-baik aja. Tangan saya bukan lumpuh." Katanya masih berusaha ingin menggapai piring itu.
Alkan tidak menjawab kembali, pria itu malah menyendok makanan itu yang akan dia suapkan pada Amira. "Jangan ngebantah. Kamu gak ngerasa punya utang sama saya, ya?"
"Utang apa?"
"Utang budi. Beberapa kali saya udah nolongin kamu. Dan rasanya kamu bisa bayar itu saat ini, dengan cara nurut sama saya." Jelasnya lalu kembali mengulurkan suapan itu pada Amira.
Amira tidak ingin melanjutkan debatnya, karna dia pun sebenarnya masih merasakan pening yang menjalar pada kepalanya.
"Saya boleh nanya?"
"Nanya apa?" Suara Amira kali ini terdengar lemah, tidak seperti biasanya.
Amira terdiam, tidak langsung menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangannya yang terpenting tidak melihat mata Alkan yang menusuknya.
"Masa depan aku."
"Masa depan kamu kenapa?"
"Masa depan aku bakal ancur." Jawabnya dengan suara parau bahkan terdengar seperti ingin menangis kembali.
"Kalau gitu. Nikah sama saya, masa depan kamu akan terjamin."
Kali ini tatapan Amira kembali jatuh pada tatapan Alkan yang masih setia memperhatikan setiap gerak-gerik Amira. Gadis itu mencari letak keseriusan lelaki itu pada matanya.
...----------------...
__ADS_1
Mbaknya menghadangnya dengan tatapan galak atau kecewa padanya. Amira berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana yang dari tadi Mbaknta diam. Disana ada Leo dan Rania juga. Leo sibuk dengan mainannya, dan Rania sibuk dengan ponselnya. Mereka tidak mengajak Amira berbicara seakan sedang menahan kesal.
"Udah berlagak gila lagi ya kamu?" Tanya Mbaknya yang berdiri bersedekapkan tangannya di dada sambil memperhatikan Amira. "Mbak nyita hp kamu sengaja biar kamu gak baca internet dan bikin kamu jadi balik gila! Ini malah sengaja buka tabletnya Leo." Omelnya.
Leo memperhatikan mamihnya dengan kerjapan mata takut. "Mamih, jangan marahin uty. Uty agi tatit." Tegur Leo.
Mbak Astrid melirik anaknya sekilas lalu beralih kembali pada adik iparnya itu. "Mbak khawatir sama kamu, Ami. Yang Mbak takutin malah terjadi kaya gini. Kamu kenapa sih? Gak pernah nurut apa kata Mbak? Mbak gak mau kehilangan kamu."
Kehilangan aku atau kehilangan sumber uangnya.
"Maaf." Cicit Amira.
"Jangan kaya gini lagi. Kamu sekarang tanggung jawab, Mbak. Jangan bertindak gila lagi kaya dulu, jangan keulang lagi."
Dulu juga, dia pernah ada diposisi ini ketika Ibunya meninggal. Dia jadi gila-gilaan selalu melukai dirinya sendiri. Dia bagai kehilangan arah dan jati dirinya, bagai bangkai yang hidup.
"Iya.." Amira masih menanggapi dengan pelan.
"Denger. Semua ini udah terlanjur kejadian. Mbak akan selidiki siapa yang berani ngungkap berita itu. Padahal kita udah bayar gede supaya berita itu kehapus."
Amira terdiam, sebenarnya dia tidak peduli pada siapa pelakunya. "Gak usah."
"Gak usah apa maksud kamu?"
"Gak usah dicari tahu." Pintanya.
"Dia udah mau ngerusak karir kamu dan juga bisa membahayakan kamu nantinya dan kamu malah bilang gak usah?! Gila ya kamu?"
Memang, Amira memang merasa dirinya gila sejak lama. Bahkan sejak dia merasakan dirinya adalah bukan dirinya yang asli.
"Udah sih. Lo banyak amat ngatur-ngatur, teeserah si Mbaklah mau ngapain aja. Ini juga buat kebaikan lo." Rania kali ini ikut menimbrung.
"Gak usah. Aku bilang, gak usah, ya gak usah. Atau aku sama sekali gak mau balik jadi artis." Kali ini Amira dengan berani mengancam.
Dia tidak ingin memperpanjang urusan dan juga membalas dendam yang hanya akan membuat kepalanya semakin pening juga amarahnya yang semakin gelap.
__ADS_1
"Oke. Oke kalau itu mau kamu. Tapi inget satu hal. Kamu tetap jadi artis dan berusaha mungkin mengabaikan berita itu. Seakan-akan kamu tidak tahu soal berita itu, karna lama-kelamaan pun orang-orang akan lupa sama berita itu. Ngerti?"
"Iya, aku ngerti."