The Singer

The Singer
051. Planning


__ADS_3

"Widih, seger banget nih gue liat-liat yang abis liburan." celetuk Zayyan ketika Amira baru saja menduduki sofa yang berada di ruang musik.


"Seger apanya? Gerah iya. Jakarta kapan ya tiba-tiba hujan salju."


Zayyan tergelak, "Serem dong kalo tiba-tiba hujan salju. Tanda-tanda akhir bulan."


"Gak jelas." sindir Amira dengan desisan.


Langkah kaki Zayyan mendekat pada Amira, lalu duduk di hadapan perempuan ini.


"Jadi gimana? Udah siap buat promosi lagu baru?"


Anggukan Amira tampilkan. Dia sudab siap, dan juga memikirkan selama semalaman penuh. Dia sudah memikirkan jenjang perjalanan hidupnya akan bagaimana dan juga persoalan hubungannya dengan Alkan.


"Udah. Aku udah siap. Kita mulai dari mana?"


"Karna lo gak punya temen banyak sesama artis jadi mau gak mau, bikin strategi marketjng buat deketin diri sama fans."


"Caranya?"


"Main twitter. Disana, lo lebih gampang buat interaksi sama fans-fans lo itu."


Amira merenung, dia sedikit takut kalau nanti akan ada hujatan yang Amira baca. Dan juga, Amira takut, bukannya mendekatkan diri dengan para fansnya namun malah mengungkit rasa traumanya.


"Santai aja. Bakal dibantu sama yang lain kok. Mereka bakak langsung ngeblock akun yang komentar jelek soal lo."


"Hm... Oke, tapi aku ada kok temen yang bisa bantu promosi di akun instagramnya."


"Siapa?"


"Jia."


"Jiani wu?" Zayyan mengangkat alisnya ke atas dengan heran.


"Iya,"


"Kok bisa? Lo kesurupan apa sampe punya temen artis selevel Jia?"


"Emangnya aku rendahan apa?"


Zayyan kembali tergelak melihat kekesalan Amira yang terpancar di wajahnya.


"Bukan gitu. Tapi lo ini bener-bener anti sosial, gue kadang heran kok bisa sampe segitunya."


Ya, karna rasa traumanya dulu. Dulu Amira seorang yang aktif dalam sosial dalam di kehidupan nyata atau pun sosial media. Dia dulu mempunyai cukup teman banyak di kalangannya, ditambah dulu Amira terkadang mengikuti acara sosial Ibunya yang menambah relasinya dengan anak-anak dari teman Ibu. Namun, semenjak kejadian soal penangkapan Ayahnya, semuanya langsung berubah detik itu juga. Dia langsung menjadi manusia individual karna tidak ada yang mau berteman dengannya, sedangkan teman satu-satunya semasa SMA-nya dulu sudah pindah pergi jauh.

__ADS_1


"Aku gak suka keramaian aja."


Zayyan mengangguk seolah memaklumi, "Jadi planning lo gimana? Gue denger fans lo menurun."


"Aku gak peduli soal itu. Planning aku sekarang sehabis promosi mau tour konser."


Mata Zayyan membelalak ketika mendengar hal itu, "Tour konser? Serius lo?"


Amira mengangguk dengan mantap, "Iya, kenapa kaget gitu sih?"


"Ya siapa yang gak kaget sih? Lo gak pernah mau tiap ditawarin, mau tour konser atau nggak. Lo cuman nerima job yang ada ngundang lo doang. Sekarang kenapa tiba-tiba mau tour konser?"


"Euh..." Amira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "karna aku mau hiatus dari dunia entertainment atau mungkin undur diri."


Wajah kaget Zayyan semakin ketara, "Apa lo bilang? Undur diri? Coba bilang sekali lagi lo, biar gue geplak mulut lo."


Kekeuhan Amira menguar karna mendengar kekesalan dari Zayyan.


"Aku mau undur diri."


"Kenapa?? Tiba-tiba banget? Apa karna lo insecure takut gak laku lagi? Karna fans lo menurun, iya kan? Heh, inget ya. Kita ini punya tim marketing yang gak akan mungkin ngebiarin artisnya jadi pengangguran gitu aja." celotehannya panjang kali lebar.


"Bukan gitu..." Amira menghaluskan suaranya, seakan mencoba menenangkan Zayyan yang meledak-ledak, "aku mau nikah. Makanya, mau undur diri."


"Ni- WHAT?!" teriak Zayyan tidak sanggup meneruskan kata nikah.


"Nikah sama siapa?!"


"Alkan."


Zayyan terdiam sebentar lalu berdecak, "Ck, pantes aja mau nikah. Ternyata udah nemuin ladang duit yang lebih gede."


Amira menyemprotkan tawanya mendengar kalimat dari Zayyan.


"Jadi, kapan emang lo mau nikah?"


"Sehabis konser."


"Oke, ayok kita omongin ke Pak Hartono soal planning lo dulu. Kita atur planning baru."


Amira mengangguk lalu berdiri, mulai mengikuti Zayyan dari belakang yang akan menuju ruangan CEO agensi ini.


...----------------...


"Gimana? Diterima?" tanya Jia sambil memperhatikan Alkan yang sedang mengurus alat kesehatan untuk mengatur oksigen dari Ben.

__ADS_1


Alkan menggeleng, "She needs time." lalu dengan penjelasan.


"Gimana kalau kamu ditolak?" tanya Jia iseng.


"Nikah sama kamu." jawabnya enteng dan mungkia Jia akan memukulnya kalau tidak mengingat Alkan sedang sibuk mengurusi Ben.


Ben belum sembuh, lelaki ini dalam setaun mungkin satu kali sakit saja. Tapi kalau sudah sakit, parah banget sampai seperti orang yang sekarat dan waktu sakitnya pun memakan waktu yang lumayan lama, bisa sampai 2 minggu dia tepar di rumah sakit.


"Sial. Amit-amit." celetuk Jia membuat Alkan terkekeuh.


Jia sudah move on, bahkan mengingat soal dulu mereka pernah pacaran saja membuatnya geli, jadi kalau ada orang-orang yang membuat persepsi soal Jia yang masih menyukai Alkan itu salah besar. Lagian mereka dulu berpacaran ketika sama-sama dalam menjungjung ilmu di Jepang.


"Ben kapan sembuh?" tanya Jia. Dia tidak sabaran ingin dijaga kembali oleh Ben. Dijaga oleh Kaila itu memuakkan, gadis itu cerewetnya bukan main. Sedangkan Ben lelaki itu akan anteng saja, namun kalau Jia sudah kelewatan barulah cerewetnya keluar dari tubuh si kekar ini.


"Gak tau. Aku bukan peramal."


Jia mendecak karna jawaban dari Alkan tidak memuaskan.


"Kamu kesini sama siapa, Ji?"


"Nyetir sendiri." jawabnya dengan pelan namun masih terdengar jelas oleh Alkan.


"Really? Gak ada luka cedera kan? Atau mobil kamu yang lecet?"


"Stop hiperbola. Orang Jia gak kenapa-kenapa."


Alkan melirik penampilan Jia yang memakai rok selutut dan kemeja hitam. "Justru akan heran kalau kamu gak kenapa-kenapa ataupun gak nabrak apa-apa saat nyetir sendiri."


"Yaudah, iya-iya. Aku nabrak plang parkiran rumah sakit kamu." akunya dengan terpaksa.


Alkan berdeham, sebenarnya dia sudah tau. Namun, sengaja memancing agar gadis yang dianggap adiknya itu mengaku sendiri. Dan ya, gadis ini tidak bisa berbohong lama-lama. Pasti akan ketahuan.


"Hmm... Pantesan tadi ada ribut-ribut di depan. Ternyata ulah kamu."


"Sorry... Jia gak sengaja."


"Ya, kalau kamu sengaja sih udah aku laporin." katanya sambil menaruh seluruh alat yang habis dipakai. "kamu harus belajar lagi nyetir kalau mau nyetir sendiri. Biar gak ngebahayain keselamatan kamu dan orang-orang yang berkendera di sekitar kamu."


"Malas." jawabnya sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Alkan menatapnya dengan kesal, "Ji..."


"Iya, iya. Kalau Jia senggang. Akhir-akhir ini lagi banyak jadwal dan Kaila itu lelet kalau ngejemput."


Alkan mengangguk-angguk, "Belajar di kursus jangan minta Sera atau Ben ketika Ben udah sembuh." tegurnya seakan tahu niat Jia.

__ADS_1


Sedangkan Sera dan Jia itu sama saja soal menyetir walau lebih parah Jia, Sera itu tidak sabaran. Sedangkan Jia, dia seenaknya saja kalau sudah menyetir.


__ADS_2