The Singer

The Singer
40. Topik hangat.


__ADS_3

Seluruh isi gedung membuat topik hangat persoalan berita terkini yang menggunjangkan tanah air atau mungkin tanah luar juga jika mereka menyukai Sesil. Karna berita itu, berita Amira soal mendiang Ayahnya yang korupsi menjadi tenggelam dimakan masa, mereka sekarang terobsesi untuk mengobrolkan persoalan Sesil yang sangat panas itu. Apalagi ditambah penyebaran video dan foto-foto aib dia.


Telinga Amira rasanya panas karna terus mendengar itu, dia tidak ingin mendengarkan namun dimana-mana semua mulut membicarakan persoalan itu. Mereka memang selalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain, seperti hidupnya sudah benar saja. Atau mungkin itu bisa jadi hiburan bagi mereka yang hidupnya tidak beres, namanya adalah pengalihan pikiran. Tapi bukannya rasanya malah aneh, ya? Kita memikirkan hidup orang lain, padahal hidup kita terabaikan.


"Ini hebat. Berita soal lo jadi tenggelem." Ucap Zayyan ketika memasuki ruangan ini.


Di dalam ruangan ini ada Mbak Astrid, Amira, dan Zayyan sekarang.


"Ya, gue semalaman bersyukur banget. Lo jadinya bisa santai ngelupain berita soal kemarin, Mi." Ujar Mbaknya yang sedang membuat list jadwal Amira.


Tapi memangnya semudah itu untuk melupakan hal yang menyakitinya? Bahkan, berita soa Sesil saja membuatnya menjadi ke-trigger. Bagaimana bisa dengan mudah Amira melupakan yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya.


"Jadinya gak tau harus bersyukur atau berduka buat Sesil, ya?" Zayyan berbicara diselingi dengan kekeuhan bak penggosip handal.


"Harusnya diem aja." Jawab Amira sambil bangkit dari duduknya, ingin mendengarkan hasil final rekamannya.


"Gak bisa. Ini terlalu bikin kaget. Lo bayangin aja dah, orang yang imagenya baik-baik dan ramah kaya gitu, ternyata di belakang kamera dia liar banget."


"Nah, makanya dengerin tuh pepatah pernah bilang, 'Don't judge people by their looks.' gitu." Komentar Mbak Astrid.


"Bener. Image bisa dibikin kaya gimana aja bahkan nyembunyiin sikap atau sifat asli jelek kita. Makanya, pinter-pinter deh nilai orang."


"Karna itu bikin trust issues sama orang, ya?" Tanya Amira jadi hanyut dalam obrolan mereka.


"Iya, makanya gue kadang gak percayaan sama orang. Takut aja kaya yang udah-udah."


"Yeu, malah curhat lu."


Lalu mereka berdua tertawa karna lelucon yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.


karna ya, memang dasarnya orang bisa saja pandai menyembunyikan sesuatu yang menurut mereka bisa merusak, pemikiran mereka masih ingin menggunakan hal jelek itu bukannya menyingkirkan atau memperbaiki.


Tidak ada salahnya kita belajar menjadi manusia yang lebih baik, bukannya mewajarkan hal yang tidak sepantasnya di-normalisasikan.

__ADS_1


"Udah sore nih! Mau langsung pulang aja atau mau ke tempat lain dulu?" Mbaknya sudah memasukan Tabletnya pada tote bag.


Amira yang masih mendengarkan hasil rekamannya berpikir sebentar, sebenarnya dia ingin berbelanja dahulu. Stock snack di kamarnya sudah hampir habis, hanya tersisa tiga. Amira punya kebiasaan terbangun malam karna laper, maka itu dia selalu menyediakan snack dan minuman di kamarnya. Bahkan dia memiliki kulkas sendiri di kamarnya.


"Mau belanja dulu, boleh?"


Mbaknya mengangguk, lalu touch up dulu sebentar membenarkan bedaknya yang sudah lumayan luntur. Sedangkan Amira, gadis itu hanya memakai kaos dan celana jeans, bahkan rambutnya di cepol. Dari tadi dalam perjalanan dia memakai masker, malas menggunakan make up dan malas jika orang-orang harus mengenalinya.


"Yaudah, ayok balik."


Kali ini Amira yang mengangguk lalu berjalan mendekati Mbaknya untuk mengambil sling bagnya. Dia melepaskan cepolan rambut panjangnya lalu menyisir sebentar karna walau dia akan memakai topi dan orang-orang tidakn akan terlalu memperhatikannya, setidaknya dia harus membenarkan penampilannya sedikit.


"Ayok. Kak, duluan, ya!" Pamit Amira pada Zayyan.


"Bye, Zay. Selamat lembur sampe tipes." Mbaknya berjalan duluan keluar dari ruangan ini.


Zayyan mendengus mendengar itu, kesal. Karna faktanya dia memang harus lembur membereskan pekerjannya yang menyangkut soal lagu Amira.


Mall sebesar kerajaan ini pastinya akan selalu ramai orang-orang yang akan menghamburkan uangnya untuk keperluannya atau hanya bosan saja kelebihan uang. Terkadang Amira selalu bertanya-tanya, kapan kah mall ini akan sepi? Apakah ketika nanti dunia kiamat saja? Atau ketika para mall bangkrut.


Amira berjalan ke jejeran snack, memilih yang akan dia makan nanti atau memilih kesukaan Leo. Karna terkadang para chiki-chikinya itu selalu dicuri oleh makhluk kecilnya Mbaknya Astrid.


Mbak Astrid menunggunya di lantai atas, yang berarti tempat tempat-tempat pembelanjaan baju dan sepatu. Sudah dipastikan, pasti Mbaknya akan shopping walau dia tadi bilang tidak akan, karna dia sedang menghemat. Namun, rasanya tidak bisa memegang omongan wanita kalau bilang tidak akan shopping. Mau uang mereka seperak pun pasti akan diusahakan untuk shopping.


Telponnya berdering dari sling bagnya. Amira tas itu untuk mengambil ponselnya lalu asal mengangkat telpon itu.


"Hallo?" Sapa Amira sambil mendorong troli belanjaanya.


"Hallo, sayang. Kamu dimana?" Suara lelaki yang berkamuflase menjadi buaya.


Amira menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya agar dia melihat nama pemanggil dari ponselnya itu. Nama Alkan terpampang di ponselnya membuat Amira menghembuskan nafasnya bersiap agar emosinya tetap stabil menghadapi manusia buaya jadi-jadian itu.


"Di rumah." Jawab Amira asal.

__ADS_1


"Bohong. Tadi aku telpon Mbak kamu, katanya lagi di Mall."


Rasanya Amira ingin membalas omongan pria itu dengan protesannya. Kalau dia sudah tahu Amira ada dimana, lalu mengapa dia pakai bertanya lagi padanya coba?


"Aku juga lagi ada di Mall. Abis meeting tadi ketemu klien. Mau makan bareng? Nanti pulangnya juga bareng, kalau kamu mau." Tawarnya layakmya jika Amira menolak laki-laki itu akan menerimanya.


"Males."


"Tapi Mbak kamu setuju. Dia juga mau ikut makan bareng."


Saat mendengar itu, Amira memijit tumitnya yang mulai pusing karna mendengar dan karna tingkah Alkan.


"Kamu udah belanjanya? Pakai card aku aja. Card aku kan masih di kamu." Tambahnya lagi.


"Aku punya uang sendiri. Lagian kamu ngapain sih ngasih aku card segala?" Protes Amira.


Walau pun lumayan dia bisa menyimpan uangnya lalu pakai uang dari Alkan. Namun tetap saja, rasanya dia tidak enak.


"Sengaja itu aku bikin Card baru buat kamu sih." Katanya dengan jujur.


Karna memang saat itu Alkan menyuruh asistennya untuk membuat debit card baru untuk Amira.


"Sengaja? Sengaja apaan? Kamu ini lagi cari pahala lewat aku karna aku anak yatim, ya?"


Amira bisa mendengar suara gelakan tawa dari Alkan. Lelaki itu malah tertawa, padahal Amira sedang marah padanya.


"Bukan gitu. Itu tandanya aku lagi latihan ngasih nafkah ke calon istri."


Ew, cringe.


Rasanya Amira ingin meriaki begitu pada lelaki itu walau hatinya jadi terenyuh bak terpanggang.


"Dasar gila." Lalu telpon itu diputuskan secara sepihak oleh Ami.

__ADS_1


__ADS_2