The Singer

The Singer
044. Mendadak.


__ADS_3

Sederet kertaa itu menumpuk di mejanya. Alkan dari tadi membolak balikan kertas untuk dia check satu persatu. Apalagi sebulanan dia meninggalkan kerjaan rumah sakitnya.


"Pak," Panggil seseorang ketika membuka pintu ruangannya.


Alkan menolehkan kepalanya, "Kenapa?"


"Ada tamu. Namanya Amira katanya, Pak. Mau ngirim makanan."


Alkan mengerutkan jidatnya, keheranan. Tiba-tiba mengirim makanan? Fenomenal yang langka, sepertinya ini harus masuk 7 fenomena terlangka versi on the spot.


"Suruh masuk aja."


Lalu asistennya itu keluar kembali dan tergantikan oleh Amira. Gadis itu berjalan masuk dengan langkah santai namun membuat Alkan menerka-nerka kenapa gadis itu secara tiba-tiba datang dan apa katanya? Membawa makanan?


Dress floral santai itu membalut tubuhnya dan juga sendal jepit berwarna pinknya. Sepertinya, Amira memang tidak suka memakai high heel, ditambah gadis itu tanpa high heels saja sudah tinggi.


"Hi! Aku ganggu?" Tanyanya dengan senyuman yang tidak biasanya.


Alkan melirik jam tangannya menunjukan pukul 12 lebih, ternyata memang sudah memasuki waktu makan siang. Sedangkan dia dari tadi masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Nggak kok, duduk dulu aja. Aku beresin dulu ini, sedikit."


Gadis itu mengangguk lalu duduk di sofa yang menampilkan pemandangan jalan di bawah sana. Dia menyimpan tote bagnya di meja, di depannya.


"Kamu gak mau nanya kenapa aku dateng kesini?" Tanya Amira selagi Alkan masih membereskan kerjaannya.


"Kenapa? Tumben banget. Aku aja agak kaget tadi. Kamu udah suka sama aku, ya?"


Amira memutarkan matanya. Kalau sekarang, dia masih belum tahu jawabannya dan sejujurnya, dia sendiri tidak tahu kesurupan apa, tiba-tiba ingin memasakan Alkan lalu mengirimkannya secara langsung dengan dirinya sendiri.


"Nggak. Geer banget."


"Oh, aku tau. Jangan-jangan kamu kabur lagi, ya?" Selidiknya namun tidak menatap Amira. Karna pria itu masih sibuk dengan mencoret-coret kertas yang tidak Amira mengerti.


Memang iya sih. Dia malas untuk bekerja jadinya dia memilih datang kemari. Kalau kesini, pasti Mbaknya tidak akan marah apalagi menyangkut soal Alkan. Mbaknya itu entah mengapa menyukai Alkan, bahkan terkadang bertanya kapan katanya dia berpacaran dengan Alkan.


"Iya, males kerja." Jawabnya singkat.


Alkan berdiri sambil terkekeuh mendengar jawaban Amira. Lelaki berjalan mendekat ke arah Amira. Ketika sudah berdiri disamping Amira dia menyentuh kepala Amira sambil mengelusnya pelan.


"Nikah sama aku makanya. Biar kamu gak usah kerja." Ujarnya sambil duduk mepet disamping Amira.


"Gak usah bercanda mulu." Delik Amira.


"Padahal aku gak bercanda." Dia berkata begitu sambil tangannya menyusup memegang pinggang Amira. "Kamu masak apa?"


Amira melirik lengan Alkan tanpa minat untuk menampar si lelaki di sampingnya itu. Harusnya dia merasa risih dan menampar lengan si lelaki itu yang sudah seenaknya menyentuhnya tanpa izin. Namun, kali ini rasanya mengapa dia malah jadi suka? Bahkan jantungnya jadi berdegup kencang seakan terpompa kuat.

__ADS_1


Matanya lalu menolehkan kembali pada Alkan yang sedang menatapnya bahkan cukup terkejut ketika mendapati jarak dekat diantara mereka. "Masak... Cumi sama cah kangkung. Kamu suka?" Tanyanya dengan sedikit gugup.


Bukannya menjawab, pria itu malah tersenyum geli. "Nikah, yuk?"


"Apa sih?!" Sewot Amira lalu mulai membuka tupperwarenya untuk menyiapkan makanan yang akan disantap oleh Alkan. "Nasinya segimana?" Tanyanya setelah berhasil membuka tutup tupperwarenya.


"Kamu mau berlian atau permata?" Pria itu malah bertanya balik tidak setara dengan apa yang ditanyakan Amira.


Amira menyipitkan matanya. "Aku nanya. Nasinya mau segimana?"


"Berlian aja, ya? Mau? Mau pilih sendiri atau aku yang pilihin?"


"Kamu gak waras, ya?"


"Besok kamu ada waktu? Aku mau ngajak kamu dinner ke Singapore."


"Alkan..."


"Iya, sayang?"


Amira menghembuskan nafasnya lelah, "Mau makan gak?" Tanyanya kembali untuk memastikan.


"Mau. Nasinya dikit aja."


Akhirmya Amira mengambil nasi itu sedikit ke dalam wadah makan yang akan diberikan pada Alkan.


"Tapi besok ada waktu kan?"


"Biar aku yang minta izin ke Mbak kamu. Pasti gak akan sibuk."


Lihat, dia sekarang sering memakai card vvipnya. Karna sudah berhasil mengambil hati dan restu dari Mbaknya. Kalau sudah begini sih, susah. Dia akan terus-terusan memaksanya.


"Kamu nawarin tapi ujungnya maksa." Sindir Amira membuat Alkan kembali terkekeuh.


"Serius. Kayanya aku butuh calon istri deh. Kamu mau? Soalnya kamu udah masuk segala syarat jadi calon istri."


"Sorry, gak minat."


"Tuhkan. Kalau gitu makin aku pengen nikahin kamu. Kamu mau langsung nikah atau tunangan dulu?"


"Aku maunya kamu diem bisa gak?"


"Nggak."


Amira mendengus kesal, ingin sekali rasanya memukul pria di sampinya itu. Akhirnya Amira menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa itu membuat tangan Alkan semakin terasa di badannya.


"Mending kamu makan deh cepet."

__ADS_1


"Kamu gak makan?"


"Aku udah makan sebelum kesini."


Alkan mengangguk lalu mengambil wadah makannya dan mulai nyuapkan makanannya.


Ketika dia berhasil menelan suapan pertamanya lalu mengambil ponselnya entah untuk apa. Namun, jarinya dengan cepat menelpon seseorang. Amira menatap itu dengan keheranan.


"Hallo, Jasmine?"


"Apaan? Gue lagi makan, Kak. Lo ganggu aja." Jawab gadis di sebrang sana dengan nada tinggi.


"Sorry, Tapi saya mau minta tolong sama kamu."


"Kenapa? Kok gue agak takut ya denger suara nada lo kaya begitu, Kak." Kali ini suara Jasmine sudah memelan.


"Cariin cincin berlian dong. Malam ini atau besok haeus udah di rumah. Bisa, kan?"


Amira melotot ketika mendengar itu, kali ini tangannya sudah gatal maksimal ingin menabok tangan pria di sampingnya itu. "Ngapain sih?" Matanya menampilkan wajah kesalnya.


Namun yang namanya Alkan, dia selalu bertindak sesuka hati.


"Hah? Cincin buat apaan? Ibu mau nikah lagi?"


Kebiasan para anak didik Ibunya Alkan, akan memanggil Ibu Alkan dengan panggilan Ibu juga.


"Sembrangan banget kamu. Saya mau ngelamar orang."


"Buset. Mendadak banget kaya roro jongrang. Serius lo, Kak? Mau ngelamar siapa sih? Jia atau Amira?"


"Amira."


Merasa disebut namamya Amira melirik dengan sengitan.


"Bisa sih. Bisa gila. Tapi ya, bisalah. Nanti gue kirim katalognya store punya temen gue. Lo pilih aja, terus kirim ke gue lagi. Jangan lama tapi, soalnya kan lo pengen cepet-cepet."


"Iya, kirim cepetan."


"Udah."


"Oke, thanks. Sorry, ganggu." Akhirnya telpon itu tertutup secara sepihak.


"Kamu ngapain sih?!" Tanya Amira dengan sewot.


"Mau lamar kamu kan?"


Amira melenguh pasrah. Dia sudah tidak tahu harus berkata apalagi dengan segala tingkah mendadak Alkan. Pria ini benar-benar sangat di luar nalar pikirannya.

__ADS_1


"Kamu udah gila."


Bukannya kesal dikatai gila. Pria itu malah lanjut makan dengan tenang dan damai tanpa terganggu dengan kekesalan Amira.


__ADS_2