
Ingin tahu hal gila apa yang pernah Amira rasakan? Dia sudah membayangkan kalau ketika keluar rumah sakit, dia akan menikmati liburnya dengan rebahan seharian di kamarnya. Namun, tidak. Seluruh bayangannya itu terkubur dengan tenang dengan kedamaianya. Karna tiba-tiba ada seseorang yang sedang menangkring di depan rumahnya dengan santai serta mobil mewahnya itu.
Katanya, berbicara dengan santai; i tau you aslinya gak sakit-sakit amat. Jadi ayok temenin i belanja dari pada mendekem terus di kamar.
Gadis cantik berambut merah itu memakai hot pants serta tangtop bunga-bunga dan itu masih saja tidak menurunkan kadar kecantikannya. Malahan gadis itu semakin cantik serta gaya kelas atasnya. Sepertinya gadis ini multi talent, dia bisa keluar bebas berjalan-jalan tanpa ada pengawalan. Gadis itu tampak percaya diri dengan langkah kaki mulusnya itu.
"Kamu biasa jalan sendiri?" Tanya Amira jadi ingin tahu tentang kehidupan gadis ini.
"Ya, santai aja. Gak akan ada yang tiba-tiba nyereduk you." Jawabnya dengan santai memasuki exclusive seperti Dior, Channel, Yves saint Laurent, dan lain-lain.
Amira jadi iri padanya, gadis itu terlalu santai untuk ukuran artis yang sangat terkenal. Kalau disandingkan dengan Amira yang tidak ada apa-apanya. Amira selalu dikekang, bahkan jalan sebentar saja sudah diomeli habis-habisa.
"Kita mau belanja apa?"
Sesuai dengan ucapannya saat pertama kali mereka bertemu, gadis cantik itu benar-benar mengajaknya shopping. Sepertimya gadis ini tidak bisa kalau tidak menghabiskan uangnya.
"Baju. I lagi nyari baju atau ya, kalau nemu yang lucu-lucu ambil aja."
Gadis ini benar-benar sesuai dengan lagu Ariana Grande yang berjudul 7 Rings, seperti ini; i see it, i like it, i want it, i got it.
Amira jarang menginjak store mahal seperti ini. Dia biasa belanja kalau bersama Ibunya atau Mbaknya yang selama ini mempersiapkan penampilan dan belanjaanya.
"I tadi ke rumah sakit dulu nyari Alkan buat izin ngajak you." Katanya sambil mengeluarkan card vvip yang diserahkan pada pelayan store sana. "Terus dia mgasih ini." Dia juga mengeluarkan card debit yang di serahkan pada Amira.
__ADS_1
"Apa ini?" Amira tidak langsung menerimanya karna kebingungan tiba-tiba diberi card.
"Kartu. Buat belanja."
"Aku punya uang sendiri kok." Tolak Amira.
Jiani mengangguk-anggukan seakan mengerti penolakan Amira. "You tahu gak? Terkadang kita harus manfaatin kebaikan lelaki. Seperti saat ini, terima aja tawaran Alkan, selagi dia yang ngasih bukan you yang minta. Dulu, waktu i pacaran sama Alkan, i selalu megang card dia. Dan selalu belanja apa yang i mau." Ceritanya sengaja memanas-manasi Amira agar gadis itu menerima card yang sedang dia sodorkan.
"Aku bisa belanja pakai uang sendiri." Kekeuhnya.
Jiani terkekeuh mendengar itu, "Uang you mending simpen aja buat keperluan lain. Sekarang, pake ini. Puas-puasin, kalau bisa abisin aja duit dia walau gak akan habis-habis." Jiani menaruh card itu pada telapak tangan Amira yang mau tak mau gadis itu terima karna Jiani langsung melongos ke store dalaman Victoria Secret.
"Kamu mau beli ini? Kamu kan belum nikah." Amira keheranan karna Jiani sedang memilih baju lingerie.
Kening Jiani berkerut, "Girls. I make ini karna i pengen, bukan buat cowok atau suami i. Jadi, ya kalau pun i belum nikah kalo suka ya, pake aja. You mau? I beliin, pasti Alkan suka." Jailnya.
"Aku boleh nanya gak?" Tanya Amira di sela-sela mereka memilih.
"Nanya apa? Kalau persoalan pengetahuan jangan nanya i, i bego." Jawabnya dengan jujur.
Amira jadi terkekeuh pelan, gadis itu ternyata lumayan judes walau dengan tampan judesnya sedikit.
"Kamu kenapa sama Alkan bisa putus? Padahal kalau dibayangkan, kalian cukup serasi dan seimbang."
__ADS_1
Seimbang yang dimaksud Amira adalah, status keluarga mereka sama-sama anak konglomerat. Dan jelas orang kaya mana yang tidak menerima menantu dari tingkat status yang sama.
...----------------...
Amira tidak tahu lagi mau berbicara apa. Amira jelas hanya mengambil beberapa baju, namun gadis itu malah banyak memasukan baju ke keranjangnya bahkan alat make up pun, padahal Amira tidak jago-jago amat kalau soal make up.
Kali ini mereka beristirahat, makan bersama di Mie Udon. Katanya gadis itu ingin memakan makanan yang berkuah-kuah, jadi kakinya berselancar menuju ke restoran ini.
Dari tadi Amira merasa tidak enak, banyak orang yang menatapnya. Kali ini berbeda, bukan tatapan memuja seperti bertemu dengan artis seperti biasanya, tatapan mereka bagai akan menusuk Amira kapan saja kalau mereka mau. Amira tahu mereka pasti sudah membaca berita itu yang membuat mereka membencinya bahkan menggunjingnya karna Amira mendengarnya.
"Gak usah didengerin." Tegur Jiani sambil mengaduk minumannya. "Bukan salah you mau lahir di keluarga mana dan jadi siapa. Jadi gak usah didengerin, santai aja. Kalau mereka mengerti dan pintar pasti gak akan nyalahin you. Yang salah kan bukan you. Ngerti?"
Amira berdeham pelan, menjadi canggung. "Iya, thanks ya,"
"No problem." Ucapnya sambil menyuapkan Mienya. "Soal pertanyaan tadi. Kenapa i sama Alkan bisa putus. Karna emang kita gak sesuai aja. Maksud i, kita gak cocok jadi pasangan dalam beberapa hal. Lebih cocok sebagai kakak adek aja." Jelasnya karna tadi dia menunda untuk menjawab.
Amira kira, gadis ini akan mentatarnya habis-habisan seperti sinetron yang pernah Amira tonton karna kecemburuan, ternyata gadis ini malah baik hati. Sudah cantik terus baik lagi, kurangnya apa sih?
"You serius sama kakak i?" Tanya Jiani memastikan, kini mata kucingnya menatap lurus pada Ami.
"Aku gak tau. Aku masih bingung sama perasaan sendiri."
"Why? Apa yang you takutin? Bukannya i ngepromosiin kakak i sendiri, tapi serius. Walau tampang dia kaya buaya lepas kandang, dia setia dan baik." Katanya seakan membuat Amira untuk menurunkan keraguannya, "I sebenarnya gak suka kalau ada yang orang asing yang deket-deket sama kesayangan i. Tapi i tahu you baik, jadi i restuin." Ujarnya membuat Amira tersenyum geli.
__ADS_1
"Kalau semua ini karna rasa trauma you, kayanya you harus sembuhin diri you sendiri sebelum memulai hubungan dan hidup baru. You harus ikhlasin semua hal yang pernah nyakitin you."
Walau pun tampang gadis ini sedikit seperti kucing jahat, tapi hatinya benar-benar malaikat. Dan Amira menyetujui itu, dia harus menyembuhkan dulu lukanya sebelum memulai dengan yang baru karna takut malah dia yang memberi luka pada orang lain.