This Is Me

This Is Me
eps 10


__ADS_3

"Kak, jangan minta maaf sama Ivi. Karena yang Kak Rina sakitin tuh Kak Eric, bukan Ivi. Jadi Kakak jelasin aja ke Kak Eric!" Ivi mulai emosi.


"Gue... gue gak bisa, Vi..."


"Terus kenapa Kak Rina minta maaf sama gue? Gue gak ada urusan di sini!"


"Vi... kalo gue bilang ke Eric, dia pasti bakalan marah sama gue. Gue gak mau sampai itu terjadi."


"Tau kalo Kak Eric bakal marah, kenapa juga Kak Rina selingkuh, huh?!"


"Gue terpaksa, Vi. Dia yang maksa gue buat pacaran sama dia!"


"Harusnya Kak Rina tolak dengan tegas dong! Kalo Kak Rina itu udah punya pacar, yaitu Eric, Kakak gue! Apa bagusnya sih cowok itu di banding dengan Kak Eric?"


"Maafin gue, Vi... gue gak mungkin bilang ini ke Eric, tapi gue juga gak mau nyakitin hatinya. Gue mohon, jangan bilang masalah ini ke Kakak lo, ya?" Rina memohon.


Ivi menatap Rina semakin muak saja.


"Gimana bisa Kak Rina bersikap egois seperti itu, Kak Rina nyuruh gue buat tutup mulut? Lalu, gimana dengan Kakak gue? Kak Rina mau bohongin Kak Eric sampe tua nanti?!"


"Ivi, bukan begitu..."


"Kak! Kak Rina udah jahat sama Kakak gue dengan berselingkuh di belakangnya, lalu sekarang Kak Rina minta gue buat tutup mulut? Jangan harap!"


"Siapa yang selingkuh hayooo...!" tiba-tiba kepala Eric nongol masuk ke dalam kamar Ivi. Tentu saja mereka berdua kaget di buatnya.


Apalagi Rina ketika itu langsung menatap memelas pada Ivi. Rina meremas tangan Ivi pertanda minta bantuan. Namun sepertinya Ivi tidak bisa menolong Rina kali ini. Baginya Rina sudah sangat keterlaluan. Ia menatap Rina dan Eric bergantian.


"Ini nih Kak, kata Kak Rina kucingnya selingkuh sama kucing lain, padahal dia sudah punya pasangan." jelas Ivi lalu melirik Rina.


Di situ Rina bernafas lega yang dari tadi dag dig dug jantungnya karena takut Ivi bakal membongkar rahasianya. Tapi ternyata di luar dugaan Rina. Rina menatap Ivi dengan wajah lega, ia sangat berterimakasih pada Ivi. Genggaman tangan Rina yang tadinya kuat, kini mulai mengendur. Pertanda ia lega.


"Ooh gitu, wah kasihan ya sama kucingnya Rina. Emang kucingnya lebih ganteng dari kucing pasangannya?" kata Eric polos.


Entah Eric yang gak sadar atau dia memang bodoh, batin Ivi kesal. Untung aja Kakaknya bodoh.


"Ya kali, makanya Kak Rina curhat sama gue."


"Ya udah, Rin, jangan sedih. Percaya deh sama gue kalo kucing elo itu bakal balikan lagi sama pasangannya. Kalo mereka saling memahami isi hatinya, mereka pasti bersatu kembali."


Ivi maupun Rina bernafas lega.


"Iya, Ric." balas Rina pendek. "Thanks ya."


"Sama-sama. Elo jangan sedih lagi ya." kata Eric sembari mengusap rambut Rina pelan. "Sekarang kita sarapan bareng aja di depan yuk, Ivi juga, tapi mandi dulu."


"Ogaaah!"

__ADS_1


"Elo duluan aja, Ric, entar gue nyusul sama Ivi."


"Oke. Kalo gitu gue tinggal ya."


Setelah Eric meninggalkan kamar Ivi, Rina menatap Ivi kembali.


"Thanks ya, Vi. Elo gak cerita ke Eric."


"Ini demi Kak Eric, bukan demi Kak Rina!"


"Iya, gue tau kok." Rina benar-benar sangat berterimakasih pada Ivi.


"Jangan di ulangin lagi, Ivi gak mau lagi liat Kak Rina jalan bareng cowok lain selain Kak Eric!" tandas Ivi.


"Iya."


"Kak Rina tau kan kalo Ivi marah kayak gimana. Ivi bisa lebih jahat dari cowok!"


"Iya, gue janji sama elo. Jadi, elo maafin gue?"


"Terpaksa, huh!" Ivi membuang muka.


"Kok gitu sih?"


"Biarin! Weeek!"


Rina tahu kelemahan Ivi apa, yaitu sentuhan. Jika ada orang yang menyentuh punggung Ivi barang satu jari saja ia akan berontak habis-habisan. Ivi bakalan ngamuk. Tahu kalau itu adalah kelemahan Ivi, lantas membuat Rina ingin usil padanya. Rina habis-habisan menggelitik sampai membuat nafas Ivi terengah-engah dan menyerah.


Pernah suatu kali Rina berkata.


"Wah, kalo elo di pegang punggungnya aja udah berontak gitu, gimana nanti kalo di sentuh sama pacar, bahkan suami, yang ada kena jotos tuh pasangan elo."


Tapi mau di apakan lagi, itu benar-benar yang tidak bisa Ivi sangkal.


"Kalo gitu Rina pamit pulang ya, Tan. Terimakasih banyak untuk sarapannya." pamit Rina pada Mama.


"Sama-sama, Rin. Sering-seringlah main ke sini nemenin Tante. Tante pusing tiap hari liat kakak-adik itu kalau sudah adu mulut."


"Iya, Rina pasti sering ke sini kok." lalu ia melihat ke arah Ivi. "Vi, kalo gitu gue balik dulu ya, thanks buat yang tadi."


Ivi mengangguk.


"Soal apaan? Emang kalian ngomongin apaan sih tadi?" Eric kepo.


"Rahasia dong." jawab Ivi dan Rina bersamaan.


"Oh gitu ya, berani main rahasia-rahasiaan di belakang gue?!"

__ADS_1


Rina dan Ivi tertawa. "Bukan apa-apa kok. Ya udah, Rina pamit dulu ya semuanya, maaf kalau sudah ngerepotin."


"Gak kok, Rin. Hati-hati ya di jalan." balas Mama.


Rina masuk ke dalam mobilnya, lalu beberapa saat kemudian mobil milik Rina berlenggang pergi dari halaman rumah Ivi.


"Ma, kok sepertinya ada bau-bau apa gitu..." ucap Eric usil berpura-pura mencari asal bau. "Kayak bau, iler deh."


"Masa sih, gak ada bau apa-apa tuh." kata Mama yang juga ikutan mengendus.


Ivi yang merasa menang belum mandi pun mendelik ke arah Eric.


"Gue gak bau kok."


"Gue gak bilang kalo itu elo, kan. Ya sukur deh kalo elo nyadar."


"Apaan sih! Iya, gue bakal mandi, jadi gak usah nyindir gitu ngapa!"


"Yang nyindir juga siapa, gue cuma nanya sama Mama doang kok, iya kan, Ma?"


"Udah deh, pagi-pagi jangan ribut." kata Mama yang kemudian masuk ke dalam.


"Kak..."


"Ya??"


"Gak jadi deh."


"Apaan sih! Udah gue dengerin serius malah bercanda! Dasar adik kampret lo!" kutuk Eric gemas.


"Kak, entar gue mau ke rumah Alvin ya."


"Ngapain ke rumah Alvin?"


"Mau cari DVD, kemaren gue mau nyari sama Alvin, tapi gak jadi lagi karena ketemu sama Kak Rina dan...!"


Ups! Hampir saja keceplosan! Gila!


"Ketemu Rina, dan...??" Eric masih menunggu kelanjutannya.


"Eemm... dan kita belum sempet nyari DVD nya lagi, gitu...!" Ivi nyengir.


"Oh." Eric ber-o ria.


Syukurlah, Ivi bernafas lega. Hampir saja mulut ini tidak bisa di tahannya. Lalu ia cepat-cepat masuk ke kamarnya.


Ivi menggunakan taksi online menuju ke rumah Alvin. Setelah membayar argo ia pun turun. Ivi mendapati gerbang rumah Alvin tidak di gembok. Tapi, kenapa sepi sekali.

__ADS_1


__ADS_2