This Is Me

This Is Me
eps 42


__ADS_3

"Vi, gue mau bicara sama elo," pinta Eric.


Mereka berdua duduk di kursi teras. Di temani langit yang terlihat cerah dan berbintang. Serta angin malam yang berhembus pelan. Namun, suasana malam yang terang itu tidak sama seperti suasana hati Eric.


"Jadi begitulah ceritanya," Ivi menceritakan pada Eric soal pertemuannya dengan Rina ketika sedang bersama cowok itu. "Waktu gue sama Alvin lagi nyari DVD, gue gak sengaja liat Kak Rina lagi jalan sama cowok lain. Awalnya gue kira kalo gue salah liat. Tapi, ternyata gak, setelah gue teliti lagi itu memang dia. Dan ternyata, Wawan juga pernah liat Kak Rina."


"Makanya cowok tadi bilang, kalo lo pernah liat dia lagi sama Rina. Gue gak habis pikir lho, kenapa lo bisa diem aja setelah tau hal ini, dan lagi bukan cuma elo yang liat Rina bareng cowok lain."


Ivi terdiam sesaat. "Ya, gue cuma gak mau salah omong aja, Kak. Takutnya gue salah paham doang. Tapi Kak, elo jangan marah sama Kak Rina, ya. Dia gak salah, sejak awal yang salah itu cowoknya. Dia yang udah maksa Kak Rina buat jadian," ujarnya memohon.


Eric membuang napas panjang lalu berkata, "Gue gak tau harus marah sama siapa, Vi."


"Dan juga, maafin gue. Gue gak ada maksud untuk nyembunyiin masalah ini dari elo. Gue gak berani bilang aja. Kak Rina udah janji kalo dia gak bakal nemuin cowok itu lagi. Dan, gue pikir, kalo lo tau sendiri, Kak Rina bakalan ngerti. Tapi, ternyata malah jadi begini. Gue juga udah bersikap egois," ucapnya lirih. Meski begitu, Ivi merasa sangat bersalah. Karena ia tidak jujur pada Kakaknya sejak awal.


"Gue cuma gak nyangka aja, Vi."


"Kak, kalo lo mau marah sama gue gak apa-apa kok. Tapi, jangan marah sama Kak Rina ya! Kasihan Kak Rina, gue mohon, ya?" ucap Ivi terus memohon pada Eric.


Eric menatap adiknya beberapa saat, lalu ia menyenderkan punggungnya pada kursi. Ia menatap langit yang masih terang di atas sambil menghela napas.


"Hah ... yang udah terjadi, biarlah berlalu. Gue cuma pengen ngelupain kejadian hari ini aja, itu doang. Elo tenang aja, gue gak bakal marah sama Rina kok."


"Beneran?" Ivi memastikan lagi.


"Ya," jawabnya singkat lalu terdiam sejenak. "Ngomong-ngomong soal Alvin, dia tadi gak keliatan, ya?" tanyanya kemudian.


"Ah, Alvin? Gue juga gak tau. Masih marah kali sama gue," tukasnya, lalu ia kembali cemberut.


"Marah? Kenapa?"


"Panjang deh ceritanya, gue aja bingung sendiri," keluhnya lagi.


"Ada apa emangnya? Kalian berdua berantem?"


"Gak sih, cuma ... ya itu, Alvin cuma salah paham aja kayaknya. Dia pikir gue gak pernah pulang bareng lagi, karena sekarang ada Arya. Dia pikir karena Arya, gue gak mau nyapa atau bareng dia lagi, apaan coba alasannya itu!"

__ADS_1


"Maksudnya?" Eric tidak paham.


"Gini ... beberapa hari ini gue 'kan sibuk bantuin elo tuh. Nah, hampir tiap hari gue gak sempet nyapa atau ketemu dia di sekolah. Dia telepon beberapa kali gak gue angkat, jadinya dia salah paham, gitu. Gue kira cuma sebentar doang, eh ternyata beneran marah dia."


"Jadi, intinya Alvin gak suka kalo elo lagi sama Arya? Apa, cuma karena itu doang Alvin marah?"


Ivi berpikir sejenak lalu berkata, "Kayaknya sih, soalnya waktu gue ke rumah Alvin, dia nyinggung soal Arya. Dia 'kan belum tau tentang acara pertunangan elo itu."


"Masa hanya gara-gara itu. Atau, Alvin cemburu liat elo sama Arya?"


"Cemburu? Arya juga bilang gitu sih waktu gue cerita ke dia. Tapi, gak mungkin lah Alvin cemburu sama Arya."


"Apa, Alvin suka sama elo?" tebaknya.


Ivi diam sesaat, ia sudah tidak kaget lagi. "Memang sih, kemaren Alvin bilang suka sama gue."


"Apa? Beneran?" malah Eric yang kaget. "Pantes aja dia sensi, ternyata dia suka sama elo. Jadi, Alvin tuh gak suka liat elo bareng sama Arya. Terus, elo bilang apa?"


"Ya, gue gak bilang apa-apa sih. Gue gak nolak dan juga gak nerima dia."


"Ya gue bingung lah, masa tiba-tiba dia bilang suka sama gue, aneh kan? Gue kaget dong, sampe gak bisa mikir harus jawab gimana. Elo tau 'kan, Alvin itu temen masa kecil gue, kita udah akrab banget, udah kayak keluarga malah. Terus, dia bilang kalo dia suka sama gue, apa yang dia pikirkan coba. Apa, dia itu gak liat bagaimana kita sampai saat ini masih jadi sahabat? Apa Alvin lupa?" Ivi mulai emosi.


"Terus?"


"Kak, nih ya, gue gak mungkin suka sama Alvin, dia itu sahabat gue dari dulu. Jangankan suka, punya perasaan sama Alvin aja gak, Kak. Sungguh, gue cuma anggep dia itu sahabat gue, gak lebih!"


"Iya, gue paham. Jadi, elo mau ngasih jawaban apa ke Alvin?"


"Hah ... gue bakal bilang apa yang gue rasain. Gue gak mau bohong soal perasaan, apalagi ini masalah hati."


"Elo yakin bisa meyakinkan Alvin?"


"Harus lah! Dia harus ngerti! Kalo gak, bakalan gue gantung tuh anak!" sungutnya.


"Ya udah, jujur aja apa yang elo rasakan. Bilang yang sebenernya, biar dia gak mengharap terlalu lebih. Gue tau, kalian bareng udah sangat lama, tapi gue gak ngira aja kalo perasaan Alvin saat ini berubah haluan. Jadi, elo kudu pinter bicara sama Alvin, bikin dia ngerti, dan jangan bikin dia kecewa."

__ADS_1


"Kalo liat dari penjelasan gue, Alvin pasti tau kalo gue bakalan nolak dia!"


"Makanya, bicara sama Alvin pelan-pelan. Bikin dia ngerti, kalo elo yang bicara, pasti dia bakal mendengarkan. Secara, elo itu udah bareng Alvin sejak kecil, tumbuh bareng, main bareng, apa-apa sering barengan. Jadi, elo yang paling tau gimana ngadepin Alvin, elo tau gimana sifatnya," jelas Eric panjang lebar.


"Kok gue gak yakin gini ya. Hah! Gue pusing ngadepin Alvin! Pada ngerti gak sih! Gue gak mau ada masalah kayak gini!" pekiknya pelan.


"Udah deh, gak usah marah-marah. Coba aja dulu, elo 'kan gak tau gimana hasilnya."


"Huh!"


"Ya udah, sebaiknya elo istirahat aja. Ini udah malem, elo pastinya capek," kata Eric sembari bangkit dari kursinya.


"Kak Rina udah tidur, ya? Gue kasihan deh liat Kak Rina tadi di sana, kayaknya dia ketakutan banget."


"Ya, gue juga merasakannya."


"Elo yang sabar ya, Kak."


"Elo tenang aja, gue gak apa-apa kok."


"Tapi, besok Kakak jangan tanya macem-macem sama Kak Rina!"


"Iya."


"Kakak juga janji, jangan marah sama Kak Rina!"


"Iyaaaaa! Bawel! Apa lagi? Ada yang kurang?"


"Udah. Cukup sekian dan terimakasih. Wassalam!"


"Dasar adik kampret!"


Mereka pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Mereka merasa lelah setelah menyelesaikan kejadian tadi. Benar-benar di luar dugaan, apa yang baru saja terjadi. Seharusnya kisah manis yang mereka rasakan malam ini, tapi malah sebaliknya. Kisah tragis yang harus mereka terima di malam yang sangat bermakna untuk Eric dan Rina, maupun yang lainnya. Sungguh, tidak ada yang bisa menebaknya, kalau Tuhan akan menjadikan malam ini begitu menyedihkan. Namun, mereka percaya, mereka sudah ikhlas, dan mereka juga bisa menerimanya. Pasti akan ada hal yang istimewa di balik musibah yang mereka alami. Tuhan sudah mengatur semuanya, dan mereka percaya.


Di luar beberapa kali gemuruh terdengar, lalu tidak lama turun hujan dengan lebat. Padahal langit tadi terlihat begitu terang. Tidak ada yang bisa mengira, langit yang semula ceria kini menangis di kegelapan malam.

__ADS_1


__ADS_2