
Ivi sengaja tidak memanggil si cowok karena ia tidak tahu namanya. Ivi mengejar si cowok, lalu begitu sampai di belakangnya ia langsung menepuk pundaknya.
"Hey, tunggu!" seru Ivi sambil menghentikan langkah si cowok.
Yang merasa di pegang pun menoleh ke arah Ivi. Ia menatap Ivi heran. "Apa?"
"Heh, Om jangan pergi gitu aja dong setelah nabrak nenek tadi. Minta maaf dulu sana baru boleh pergi!" ujar Ivi keki.
Si cowok pasang wajah malas. "Apa lo bilang? Minta maaf? Buat apa? Emang gue salah apa harus minta maaf segala, dan lo ini siapa?"
Ivi semakin geram saja. Ia mendengus lalu berkata, "Elo tanya salah elo apa? Elo ini udah nabrak Nenek itu. Sekarang elo harus minta maaf padanya!"
"Heh, emang lo ini siapa beraninya nyuruh-nyuruh gue!" si cowok tetap ngotot.
"Oooh, jadi elo enggak mau minta maaf? Oke, berarti elo lebih milih gue hajar dulu di sini, baru elo mau minta maaf!" ancamnya.
Terlihat kalau si cowok mengerlingkan matanya pertanda malas meladeni Ivi. "Hah!" ia mendengus menuruti perintah Ivi. "Iya, gue minta maaf sekarang!"
"Dari tadi kek."
Dengan malas si cowok menghampiri Nenek tersebut. "Nek, saya minta maaf ya karena sudah nabrak Nenek tadi," ucapnya lirih sembari mencium punggung tangan Nenek.
"Iya, tidak apa-apa Nak." Nenek tersebut tersenyum lalu beralih menatap Ivi.
"Nenek hati-hati ya pulangnya," imbuh Ivi sebelum Nenek itu benar-benar pergi.
Kini si cowok menatap Ivi kaku. "Puas lo!" setelah berucap ia langsung pergi begitu saja.
"Huh! Anak jaman sekarang kalo salah enggak mau ngakuin kesalahannya. Di mana dia yang salah dia yang ngomel, heran gue!" sungutnya.
Masih sibuk mengomel karena cowok tadi, tanpa di duga dari arah belakangnya ada sebuah tangan usil yang hendak mengambil ponsel milik Ivi. Tapi, sepertinya mata Ivi ada dimana-mana, nyatanya dengan sigap Ivi langsung menangkap tangan usil tersebut. Dengan gerakan cepat Ivi berhasil menangkap si tangan usil dan berhasil memelintir si empunya tangan.
"Apa lo! Mau gue hajar juga lo, hah!" semprot Ivi memaki si tangan usil. Kini beberapa orang yang berada di sana melihat ke arah Ivi.
Sepertinya si tangan usil tadi tertangkap basah, ia ketakutan jika menjadi bahan bulan-bulanan orang-orang di sana. Terlihat kalau ia menatap sekelilingnya, takut.
"Enggak, enggak ... ampun, ampun!" pintanya meminta ampunan dari Ivi. Sepertinya ia merasakan kalau tangannya sakit.
"Sana pergi! Dari pada gue bikin elo bonyok di sini! Ada pekerjaan yang lebih halal lagi tau tanpa harus jadi copet! Gue hajar modar lo!"
makinya geram. Lalu, Ivi melepaskan si tangan usil tersebut dan ia pun langsung berlari secepat mungkin.
'Kenapa sih hari ini gue ketemu sama dua orang yang menyebalkan!' Batin Ivi heran.
Merasa sudah terlalu lama ia jalan-jalan, Ivi pun bergegas untuk pulang. Dan benar saja, ketika baru saja masuk ia langsung kena semprot Eric. Katanya Ivi pulangnya telat. Tapi, sebenarnya Eric hanya khawatir saja dengan Ivi jika terjadi sesuatu padanya.
*****
Seperti biasa, Ivi menaiki bus yang sering mengangkutnya ke sekolah. Dan pagi ini ia berangkat sendiri. Ketika ia masuk dan hendak duduk, Ivi terkejut tatkala melihat seseorang yang sudah ada di kursi sebelahnya yang hendak di duduki oleh Ivi.
__ADS_1
"Kayaknya gue pernah liat elo deh, tapi di mana ya?" ucap Ivi pada seseorang itu sembari mengingatnya.
"Aaaaa ... elo lagi!" ucapnya setelah melihat Ivi cukup lama.
Setelah beberapa saat berusaha mengingatnya, akhirnya Ivi tersadar. "Ah, elo Om yang tadi malem itu 'kan?" tebaknya sambil menunjuk wajah orang tersebut.
Ternyata orang itu adalah anak cowok yang ia temui semalam.
Si cowok melotot ke arah Ivi. "Siapa yang elo panggil Om-om? Elo enggak liat baju gue, hah?" sepertinya si cowok dongkol akan sebutan Om untuk dirinya.
"Kenapa sama baju elo?" tanya Ivi cuek.
"Gue ini masih SMA, liat seragam gue baik-baik! Jangan asal nyeplos aja kalo bicara! Main panggil gue Om-om!" sungutnya.
"Habis tampang lo kayak Om-om sih!" Ivi cekikikan.
"Apa lo tertawa! Elo pengen gue pites, hah! Kurang ajar banget lo ngetawain gue, setelah elo manggil gue Om-om!" makinya sembari mengangkat tangannya hendak menimpuk Ivi, tapi di urungkan karena ia ingat posisi berada di dalam bus. "Cih, dunia ini sempit banget ya. Ketemu lagi sama cewek sadis ini."
Ivi yang mendengarnya pun langsung melotot ke arah si cowok. "Apa lo bilang? Sadis? Siapa yang sadis? Itu karena elo yang salah. Elo enggak minta maaf sama Nenek itu saat elo berbuat salah! Makanya gue wajib negur elo karena elo udah salah! Ngerti enggak sih!"
"Payah."
"Siapa yang payah? Sembarangan aja lo!"
Tanpa membalas makian Ivi, si cowok turun begitu bus berhenti di sebuah halte. Namun, siapa sangka kalau si cowok akan membalas Ivi dengan mencibirnya saat bus hendak berjalan kembali. Tentu hal itu membuat Ivi naik pitam.
"Awas aja lo cowok sialan! Tunggu pembalasan dari gue!" geramnya sembari mengepalkan tangannya.
"Awas lo, gue bakal hajar elo kalo ketemu lagi!" dumelnya.
"Elo kenapa sih, Vi?" tanya Arya.
"Tadi gue ketemu sama cowok rese di bus! Bakalan gue habisi tuh cowok kalo ketemu lagi!"
"Emang kenapa? Segitu bencinya elo sama orang itu?"
"Pokoknya ada, intinya gue benci banget sama tuh cowok!" tidak ada habisnya ia mengumpat.
Untuk menghilangkan kekesalannya Ivi bergabung bersama para sahabatnya. Dan saat istirahat Ivi nongkrong di perpustakaan, ia di temani Adel. Dua kawannya yang lain itu entah kemana. Dan juga, Ivi menyadari sesuatu, sepertinya dari tadi pagi ia belum melihat Alvin di manapun di lingkungan sekolah.
Karena penasaran Ivi pun mendatangi kelas Alvin. Di sana ia melihat Ryo.
"Ryo, si Alvin kemana?"
"Hari ini dia enggak masuk."
"Enggak masuk? Kenapa?"
"Sakit dia."
__ADS_1
"Sakit? Tumben amat Alvin sakit, enggak biasanya deh. Sakit apaan emangnya?"
"Entah." Ryo angkat bahu.
Ivi hanya mengangguk mengerti saja. Setelah itu ia kembali ke kelas. Sebenarnya Ivi masih penasaran dengan keadaan Alvin, tidak biasanya Alvin tidak masuk sekolah.
"Namanya juga manusia, Vi. Ada kalanya dia bisa sakit juga, enggak kayak elo," tukas Adel yang saat itu duduk bersama Ivi.
"Gue juga pernah sakit kali."
"Nah itu elo paham," Adel gemas terhadap temannya ini. "Eh Vi, kayaknya gue lagi suka sama cowok deh," ucap Adel lagi.
"Iyalah elo suka cowok, kalo elo suka cewek lesbi dong," balas Ivi asal.
Adel ngambek, ia menimpuk kepala Ivi tanpa ampun. "Pengen gue santet lo ya!"
Ivi ingin tertawa tapi kalah dengan rasa sakit akibat di timpuk Adel. "Heeeh, kenapa tiba-tiba? Elo lagi suka sama cowok? Siapa? Erwin?"
Untuk yang kedua kalinya Ivi kena timpuk lagi, tapi kali ini Ivi berhasil menghindar.
"Asal aja lo! Mana mungkin gue suka sama tuh tukang jiplak!" gerutunya.
"Terus siapa dong?"
"Hehe ... masih rahasia! Belum saatnya elo tau, oke?" Adel cengengesan sendiri.
"Apaan sih pakai rahasia-rahasiaan segala. Enggak asik lo ah!"
Adel masih tertawa simpul karena ingin mengerjai Ivi. Sedangkan, Ivi berpikir bahwa ia harus ke rumah Alvin.
.
.
.
.
.
.
Hay, para readerku?😆
Di manakah kamu ... terimakasih sudah mampir dan sudi membaca tulisan gajeku😄
Aku terharu dan seneng lho ada yang nglongok neng panggonanku.
Tapi maaf, mulai dari eps ini sepertinya aye bakalan jarang up di karenakan ada satu dua hal, gitu.
__ADS_1
Kalau aye bisa on, aye pasti bakalan up dan lanjutin lagi. Sekali lagi aye ucapin terimakasih banyak untuk para pembacaku. Salam hangat dari author ndeso 😆😆😆