This Is Me

This Is Me
eps 32


__ADS_3

Ivi mengikuti langkah Arya menurut ke UKS. Sepertinya tidak jauh dari mereka ada seseorang yang menyaksikan Ivi dan Arya sedang berjalan ke UKS, tidak lain itu adalah Alvin.


"Ar, ngapain ke UKS. Udah gue bilang, gue gak apa-apa kok." ucap Ivi.


"Udah. Diem aja lo!" tegasnya.


Ivi bungkam menuruti perintah Arya. Yah kalau boleh jujur Ivi memang sedikit pusing.


"Sekarang elo tidur di sini sampe elo enakan," ujarnya sembari melihat ruangan tersebut. Tidak ada yang jaga.


"Sori ya, gue jadi ngerepotin elo. Dan, terimakasih udah nganter gue. Mending sekarang elo balik kelas deh, entar keburu ketinggalan pelajarannya."


Ucap Ivi sembari mendekati sebuah ranjang yang ada di sampingnya.


"Gue bakal nungguin, sampe elo bener-bener istirahat. Gue gak percaya kalo lo bakalan nurut!"


"Gue bisa sendiri kok, Ar. Elo gak usah nungguin gue. Bentar lagi kelas bakalan mulai...!"


"Udah, diem bisa gak sih?" potong Arya cepat.


"Duh, Arya, gue gak...-!" kalimat Ivi terpotong lagi, itu karena tiba-tiba Ivi tidak sadarkan diri. Ia pingsan di samping ranjangnya, beruntung dengan sigap Arya menangkap tubuh Ivi.


Arya cukup terkejut. "Vi! Bangun, elo gak apa-apa, kan? Hey... Ivi!"


Arya panik. Ia mencoba membangunkan Ivi dengan menepuk-nepuk pipinya. Tapi tidak ada reaksi apapun dari Ivi.


Dengan sekuat tenaga Arya membopong tubuh Ivi ke ranjang yang sudah tersedia. Kini ia membaringkan Ivi di atas ranjang. Arya panik, kemudian Arya keluar dari ruangan untuk mencari pertolongan. Sebelum petugas UKS datang, Arya lebih dulu mengambil air untuk mengompres. Di peras dan di tempelkan handuk tersebut di atas kening Ivi sembari menunggu petugas UKS datang.


"Bagaimana dengan Ivi, Pak?" tanya Arya begitu petugas UKS selesai memeriksa keadaan Ivi.


"Dia tidak apa-apa, hanya demam. Kamu tenang saja, teman kamu tidak apa-apa. Dia hanya butuh istirahat." jelasnya.


"Ooh, terimakasih, Pak."


"Sama-sama. Kamu tidak masuk kelas?" tanyanya pada Arya kemudian.


"Emm... saya mau nunggu Ivi sampai dia sadar, Pak."


Si petugas UKS menepuk pundak Arya. "Bapak tau, kamu khawatir dengan keadaan teman mu, tapi kamu di sini juga punya kewajiban, yaitu belajar. Kamu tidak perlu menunggu sampai dia sadar, biar saya yang menjaga teman kamu, oke? Sekarang kamu kembali ke kelas saja, nanti ketinggalan pelajaran lho. Nanti setelah pelajaran selesai, pas istirahat kamu boleh balik ke sini lagi, ya." jelasnya pada Arya.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Arya mengangguk setuju. Walau sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan Ivi. "Baiklah, Pak. Terimakasih sudah mau menjaga teman saya. Kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


Petugas UKS tersenyum sembari mengangguk. Lalu, Arya pun kembali ke kelasnya.


Bel istirahat berbunyi...


Seperti yang sudah di janjikan, Arya menuju UKS setelah bel istirahat berbunyi. Ia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Ivi. Ketika membuka pintu UKS, ia melihat Ivi sudah bangun.


"Hay, Vi." sapanya.


Yang di panggil pun menoleh. "Oh, hey, Ar."


"Elo gimana? Udah baikan? Masih panas gak?" tanya Arya yang kini duduk di samping Ivi, lalu mengecek keningnya.


"Udah, elo tenang aja. Gue udah agak mendingan kok setelah tidur di sini. Tadi masih pusing sedikit, tapi sekarang udah gak apa-apa."


"Syukurlah kalo elo gak apa-apa. Gue lega." ujarnya sembari membuang napas lega.


"Thanks ya, elo udah nolongin gue, dan maaf juga udah bikin elo khawatir. Gue gak tau apa jadinya kalo elo gak ada di sini tadi."


"Santai, yang penting elo udah di tangani."


"Hmm... yang lain pada kemana?"


"Oh, gue suruh mereka nunggu di kelas aja. Tapi, beneran elo udah gak apa-apa? Masih pusing gak?" Arya memastikan keadaan Ivi.


"Yuk ah, balik ke kelas. Mereka pasti khawatir sama gue. Dari pagi kan gue belum nampang di kelas." Ivi nyengir.


Dan mereka berdua pun kembali ke kelas. Benar saja begitu Ivi muncul, para sahabatnya langsung menyerbu Ivi dengan berbagai macam pertanyaan. Ivi sampai bingung mau menjawab yang mana dulu. Sebab tadi mereka khawatir dengan keadaan Ivi.


Selesai sekolah...


"Kalo gue liat, elo kayaknya makin deket sama Arya, Vi." tukas Alvin.


Alvin dan Ivi pulang dengan berjalan kaki. Mereka berjalan beriringan.


"Emm yeah, ya karena gue udah baikan sama dia. Lagi pula gak nyaman juga, masa satu kelas tapi gak bicara sama sekali. Pastinya mereka bakalan mikir yang aneh-aneh."


"Lebih aneh lagi kalo liat elo tiba-tiba deket sama Arya. Mereka pasti mikirin yang aneh-aneh tentang kalian, apalagi cewek-cewek. Secara dia kan anak baru di sini." kata Alvin.


"Iya kah?"


"Tapi, Vi, elo sama Arya... apa kalian balikan lagi?" tanya Alvin hati-hati.

__ADS_1


"Hah?"


"Maksud gue... sori, waktu itu gue gak sengaja dengerin elo sama Arya. Ya kalo di bilang curi dengar, bener sedikit sih. Jadi, elo sama Arya...?"


"Gak! Gue sama Arya gak balikan lagi." jawabnya tegas.


"Tapi, bukannya waktu itu elo bilang..."


"Emang, gue mau nerima dia lagi, tapi bukan sebagai pacar! Gue mau terima dia hanya sebagai temen aja, dan dia gak keberatan kok."


"Emang bisa ya mantan balikan cuma sebagai temen doang? Emang ada yang kayak gitu?" Alvin kurang yakin.


"Maksud elo apaan? Elo gak percaya sama gue atau sama Arya? Perlu gue panggil dia ke sini, dan jelasin ke elo?!" tukasnya kesal.


"Gak. Gak perlu." balas Alvin cepat. "Tapi... elo masih suka sama Arya, Vi?"


"Kenapa tanya ke situ?"


"Cuma tanya doang. Oh ya, DVD nya udah elo kasih ke Wawan?"


"Astaga! Lupa gue! Sialan!" Ivi baru tersadar.


"Vi, gue minta maaf, ya."


"Minta maaf? Buat?" Ivi berkerut kening.


"Soal cewek yang gue suka itu, waktu gue cerita sama elo."


"Nah iya, itu dia! Gue pengen tau siapa anaknya. Sampe sekarang gue belum tau, elo juga gak ngasih tau sih! Jadi, gimana? Apa, ada perkembangan?" tanya Ivi mulai penasaran.


"Bukan begitu!" kata Alvin. Entah kenapa ia menjadi kesal. "Sebenernya... cewek yang gue suka itu... elo, Vi..." ucapnya lirih.


Seketika langkah Ivi terhenti, dan kemudian menatap Alvin. Ia berharap kalau Ivi salah dengar.


"Barusan, elo bilang apa?"


"Cewek yang gue suka itu, elo..." ulangnya.


Ivi terkejut dengan pengakuan Alvin. Ia tidak percaya apa yang di dengarnya barusan. Ia menatap Alvin tidak percaya. Ivi tidak tahu harus menjawab apa.


Di rumah...

__ADS_1


Sampai rumah Ivi melepas sepatu dan menaruh tasnya di atas meja belajarnya. Kemudian membanting tubuhnya di atas kasur. Ia menutupi wajahnya dengan bantal. Kepalanya terasa berputar-putar. Ia menghembuskan nafas panjangnya. Lalu berteriak di dalam bantal.


__ADS_2