
"Itu cerita udah lama kali, Vi. Masih aja lo inget." tukas Alvin.
"Hihihi, habisnya elo lucu banget sih waktu SD dulu. Jadi kangen gue." Ivi terkikik.
"Kalo sekarang, emang lo gak kangen sama gue, gak suka sama gue?" tuntutnya.
"Kalo itu jangan di tanya lagi! Gue paling suka sama elo! Dari dulu, sekarang, bahkan mungkin besok, gue tetep suuuka sama elo! Elo ini sahabat the best gue!" seru Ivi semangat.
Alvin mengangguk mengerti, walaupun agak sedikit kecewa bahwa Ivi hanya menganggapnya sebagai sahabat.
"Vi, waktu itu, setelah elo ketemu lagi sama... mantan elo, apa dia masih sering nemuin elo?" tanya Alvin hati-hati.
Ivi tiba-tiba menjadi diam saat mendengar nama mantan di sebut, walaupun secara tidak langsung Alvin menyebutkan namanya, karena Alvin tidak tahu nama mantan pacar Ivi. Tapi, Ivi menjadi kesal tiap mengingatnya. Lagi pula tidak mungkin Ivi cerita soal Arya pada Alvin. Ia membuang nafas berat lagi.
"Gak kok." jawabnya pendek.
Tidak terasa motor Alvin sudah berhenti di depan rumah Ivi. Ivi segera turun dari atas motor lalu menyerahkan helmnya pada Alvin.
"Thanks ya, udah nebeng motor elo. Sering-sering aja kayak gini, biar gue irit ongkos gitu." Ivi cengengesan.
Di saat yang bersamaan motor Eric juga baru sampai di rumah, Ivi serta Alvin pun menoleh. Begitu motor di parkir Eric membuka helmnya dan langsung menghampiri Ivi, tanpa di duga Eric menjitak ubun-ubun kepala Ivi cukup keras, akibatnya Ivi mengaduh kesakitan, dan juga ia bingung kenapa tiba-tiba kepalanya di jitak.
"Aduuh! Apa-apaan sih Kak Eric! Pulang-pulang langsung njitak gue! Salah gue apaan coba! Sialan, mana sakit lagi, aduh!" semprot Ivi keki.
"Elo masih nanya salah elo apa! Elo ini adik siapa sih, kalo mau pulang bareng Alvin kabarin gue dulu dong! Jangan main kabur aja! Paling gak telepon gue kek, jadi gue gak khawatir, tadi gue udah nunggu lama, taunya elo malah udah pulang duluan!" Eric tak kalah kekinya.
Ivi tersadar. "Oh! Sori, Kak. Gue lupa! Beneran! Gue gak inget apa-apa tadi. Sori lhaa!"
"Bukan gue lho yang ngajak Ivi pulang bareng." kata Alvin membela dirinya.
"Elo tuh ya, bikin orang emosi mulu!" Eric geregetan di buatnya. "Thanks ya, Vin, udah anterin adek gue. Dan maaf kalo Ivi udah sering banget ngerepotin elo, gue harap elo maklum sama mahkluk satu ini." Eric melirik Ivi sesaat.
"Siapa yang sering ngerepotin, gue biasa aja tuh!" sahut Ivi.
"Gak apa-apa, Kak. Gue seneng bisa bareng Ivi, jadi gue ada temen."
"Tuh kan, Alvin aja bilang gak masalah kok, kenapa elo yang sewot!"
"Awas lo ya!"
"Vin, thanks ya. Mau masuk dulu gak?" tawar Ivi dan ia mengabaikan Kakaknya.
__ADS_1
"Gak usah, gue ada keperluan. Jadi gue langsung aja."
"Oke. Elo hati-hati ya."
Alvin mengangguk. Ia menghidupkan kembali motornya, dan kemudian pergi meninggalkan rumah Ivi. Setelah Alvin hilang dari pandangan, Ivi segera masuk dan di ikuti oleh Eric di belakangnya.
"Heh! Urusan kita belum selesai ya!"
Entah apa lagi yang terjadi di dalam rumah, sepertinya mereka melanjutkan kembali pertarungannya.
Di tempat lain...
Alvin memarkir motornya di depan sebuah kafe. Lalu ia menaruh helmnya di atas spion. Ketika hendak masuk ke dalam tiba-tiba ia di sapa oleh seseorang.
"Hei... elo yang waktu itu bareng Ivi, kan?"
"Elo..."
"Gue Arya. Elo pasti udah tau soal gue."
Mereka akhirnya mengobrol di dalam kafe tersebut. Dua cowok itu kini tengah membicarakan sesuatu. Tapi yang terjadi adalah tidak ada satupun yang mau memulai obrolan. Sampai akhirnya Arya memutuskan untuk membuka suara.
"Jadi, elo ini temennya Ivi?"
"Berarti elo kenal banget sama Ivi."
"Gue sama Ivi udah temenan dari kecil dulu, sampe sekarang gue sama Ivi masih sering bareng." jelas Alvin tanpa ekspresi.
"Oooh." Arya manggut-manggut. "Apa, Ivi pernah mengatakan sesuatu soal gue...?".
"Tidak pernah." jawabnya cepat.
"Katanya elo deket sama Ivi."
"Memang bener gue deket sama Ivi. Tapi, dia gak pernah sekalipun menceritakan urusan pribadinya. Dia selalu tertutup sama siapapun, termasuk gue. Gue cuma berteman biasa aja sama Ivi." jelasnya lagi.
Entah apa lagi yang mereka bicarakan. Alvin menjawab apapun pertanyaan dari Arya. Tapi Alvin tidak akan bicara apa-apa kalau tidak di tanya. Entahlah, yang tersisa di sekitar mereka berdua hanyalah hawa dingin saja.
Malam harinya di rumah Ivi...
"Kak, gimana kerjaan Kakak di kantor?"
__ADS_1
"Kenapa? Tumben tanya kerjaan gue."
"Gak, cuma tanya doang!"
"Vi, tadi di kantor Radit mengatakan sesuatu sama gue."
"Apaan?"
Tujuh jam yang lalu...
"Ric, gue sama sekali gak nyangka kalo mantan Arya itu ternyata adik elo, Ivi..."
"Jadi elo udah tau?"
"Ya. Setelah makan malam waktu itu dia cerita semuanya ke gue. Itupun gue yang harus maksa dia buat ngaku."
"Sama dong, Ivi juga cerita ke gue, ternyata memang Arya, adik elo, Dit."
"Gue minta maaf ya, Ric, sebagai Kakak Arya. Gue minta maaf atas apa yang udah di lakukan oleh Arya terhadap Ivi. Gue gak tau mereka ada masalah apa di masa lalu, tapi gue gak mau hubungan antara gue dan elo jadi rusak karena gue ini Kakaknya Arya. Gue harap pertemanan kita gak berubah."
"Yaelah, gak mungkin gue gitu. Gue tau gimana rasanya, dan gue pun sama kayak elo. Biarin mereka yang menyelesaikan masalah. Itu kan masalah mereka, jadi biarkan saja mereka yang cari jalan keluarnya. Gue percaya kok sama mereka!"
"Tapi gue udah suruh Arya buat minta maaf sama Ivi. Kemaren gue paksa dia supaya minta maaf. Biar dia bertanggung jawab atas kesalahannya."
"Jangan gitu, jangan terlalu kejam sama Arya. Mereka udah pada gede, jadi percaya aja sama mereka, oke. Kita di sini sebagai penonton aja. Kan mereka tokoh utamanya. Kita dukung aja dari belakang."
Radit menarik nafas dalam-dalam. "Tapi Arya bilang, kalo dia jujur masih sayang sama Ivi. Dia pengen banget minta maaf sama Ivi secara langsung."
"Gue ngerti kok. Entar gue kasih pengertian sama Ivi.
Balik ke sekarang...
Ivi merenungkan kembali semua penjelasan Eric. Bahkan Radit saja sampai meminta maaf pada Eric untuk Arya.
"Jadi ya gitu deh, itu kata Arya dan perasaan Arya saat ini." ucap Eric di akhir ceritanya. "Jadi, mau sampe kapan elo bakalan diem-diem bae kayak gini sama Arya. Mau sampe kapan kalian bertengkar terus, udah cukup lama lho. Emang enak ya?"
"Ng... gak sih sebenarnya..."
"Maka dari itu, temui Arya kalo dia ngajak ketemu. Coba deh tenangin emosi lo sebentar, gak ada salahnya kan. Dia sungguh-sungguh lho mau minta maaf sama elo." kata Eric sambil melirik Ivi yang masih menunduk.
"Entar kalo gue maafin dia gitu aja, pasti dia bakalan kege-eran!"
__ADS_1
"Bangke! Nih anak kenapa keras kepala banget sih!" Eric gemas terhadap Ivi. Di saat seperti ini bisa-bisanya masih saja keras kepala.
*****