This Is Me

This Is Me
Part 3: Move On, dong!


__ADS_3

Hari Minggu.


Dua hari kemudian, setelah dimana kejadian gila di bar tersebut, Hoseok menyarankan Yoongi untuk tidak mengunjungi bar itu lagi.


Tapi ucapan Hoseok hanya diacuhkan Yoongi.


Yoongi sangat ingin menemui 'gadis antiseptik' itu untuk meminta maaf, bagaimanapun juga gadis itu kehilangan pekerjaannya karena tingkah gilanya.


Meskipun ia tahu kalau gadis itu tak lagi bekerja disana, dirinya hanya bisa berharap, menunggu keajaiban siapa tahu dia bertemu gadis itu lagi disana.


Semua tentang gadis itu membuat si pria bermarga Min merasa berhutang nyawa sekaligus rasa bersalah.


Padahal kenal saja tidak, sebenarnya sejak kapan Yoongi dan gadis itu bertemu?


Apa sejak ia berniat untuk mengakhiri hidupnya?


Ah, buat apa juga dirinya memikirkan hal itu. Membuang waktunya saja.


Yoongi mengucek matanya secara berulang, membiasakan penglihatannya pada layar ponsel yang menampilkan sebuah nama serta nomor telepon.


Layar ponselnya memperlihatkan puluhan panggilan tak terjawab dari Seara, serta dua pesan yang belum dibaca.


Tanpa pikir panjang Yoongi memencet tombol 'panggil', kemudian menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.


Tut.. Tut...


Suara itu menunjukkan bahwa panggilannya tersambung, dan seseorang yang diteleponnya sedang aktif.


"Halo..?"


Akhirnya diangkat juga, Yoongi tersenyum kecut saat mendengar suara itu. Dia sangat merindukannya. Sungguh.


"Halooo??" suara itu kembali terdengar.


"Hiks, oppa kau disana?"


Yoongi hanya bisa tersenyum getir, mendengar isakan pembicara di seberang sana.


"Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu--"


"Seara, aku meneleponmu bukan untuk itu." potong Yoongi dengan cepat.


Hening beberapa saat, hingga terdengar lagi suara si penerima.


"A..apa?"


"Hm, bagaimana kabarmu?"


"Oppa, aku benar-benar minta maaf waktu malam itu, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Tapi aku ingin menunggu waktu yang tepat.."


Bibir si pria menipis saat mendengar penjelasan dari sang 'mantan kekasih', dan sampai sekarang dirinya tentu saja masih sakit hati.


"Mari kita bertemu di cafe xx, aku akan menjelaskan semuanya--"


"Tidak perlu, aku mengerti."


"Tidak, aku tidak ingin meluruskan semuanya. Tentang hubunganku dengannya, juga tentang hubungan kita!"


"Kau tidak perlu menjelaskannya, cukup dilihat sekilas saja aku langsung mengerti. Aku memang tak pantas untukmu,"


Wanita itu menggigit bibir bawahnya tanpa Yoongi ketahui, berusaha tetap tenang.


"Dan aku meneleponmu hanya ingin mengucapkan..kalau hubungan kita harus berakhir, bukan? Maka sampai disini saja, aku dan kau sudah bukan siapa-siapa lagi--"


"Tidak! Jangan katakan itu, aku tidak ingin--aku masih belum bisa menerima kenyataan itu.. Kumohon berikan aku kesempatan untuk bertemu denganmu!"


"Aku tidak bisa, karena jika kita bertemu dan aku melihat wajahmu, maka semakin sulit bagiku untuk melepaskanmu. Jadi tolong, menjauhlah" ujar Yoongi dengan dingin, meskipun sekarang hatinya telah tersayat kembali dan menghasilkan luka baru.


"Kumohon jangan seperti ini--"


"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu."


Tut.


Telepon dimatikan secara sepihak oleh Yoongi, ia mendesah berat. Mencoba untuk tetap berekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dalam hati dia menyemangati dirinya sendiri, ia yakin perlahan tapi pasti, Yoongi bisa melupakan semuanya.


Melupakan kisahnya bersama Seara, semua kenangan tentang Seara.


Kalau boleh jujur, Yoongi hampir menyerah dan ingin mengikuti egoisnya, tapi apa lagi yang harus diperjuangkannya?


Kekasihnya itu sudah menikah, dan Yoongi tak bisa berbuat apa-apa selain menelan kenyataan yang begitu pahit.


"Pada akhirnya, aku dan kau tak akan pernah bisa menjadi 'kita'." lirih Yoongi disela-sela helaan napasnya.


Jemari pucatnya menari mengusap layar ponselnya tanpa gairah, dilihatnya dua pesan dari Seara yang belum dibacanya.


Seara Kim❤


Maaf, aku tak tahu kalau ibu menjodohkan tanpa memberitahuku terlebih dahulu


Ini semua salahku, aku terpaksa menikahinya..


Tringg!


Suara notifikasi menandakan pesan baru dari pengirim yang sama.


Aku mencintaimu.


Begitulah isinya, berhasil membuat Yoongi meneteskan liquid yang sedaritadi ditahannya. Pria harusnya tidak menangis, bukan? Tapi ini sangatlah sakit, sampai Yoongi sangat sulit untuk bernapas.


Aku juga mencintaimu|


Aku juga menc|

__ADS_1


Aku jug|


Yoongi melempar ponsel pemberian Hoseok saat ulang tahunnya yang ke-19 itu ke arah dinding dengan kasar, menghasilkan retakan hampir di seluruh bagian layar. Dirinya marah, tidak terima, rasa egois itu semakin memuncak.


Dia menginginkan Seara. Tapi takdir justru berkata lain. Dirinya juga merasa tak pantas memiliki kekasih yang begitu sempurna untuknya, dibandingkan dirinya yang notabenenya adalah anak yang tak pernah diinginkan.


Sakit, Yoongi tak dapat merasakan hal yang lainnya selain rasa ditikam seribu pedang di tiap harinya.


Sedangkan yang bisa dilakukannya adalah..


Berteriak.


Menangis.


Menyalahkan nasibnya.


Menyalahkan Tuhan yang membuatnya lahir dari seorang wanita gila hasil pemerkosaan.


Semuanya begitu kelam, begitu kejam.


Jadi, siapa sebenarnya yang salah?


Yoongi hanya akan diam jika mendengar pertanyaan itu, ia pun tak mau menjawab sepatah kata.


Yang dia tahu, dunia ini sangatlah menyeramkan.


Yoongi mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang tergeletak tak berdaya, dipungutnya kembali kemudian menelepon seseorang.


15 detik berlalu, telepon akhirnya tersambung.


"Halo?"


"Kau dimana? Aku ingin kita minum-minum lagi, kau yang bayar seperti biasanya."


"Aish, aku tidak bisa! Sekarang aku sedang ada kencan dengan kekasihku--"


"Aku tidak peduli, jika kau tidak mengizinkanku untuk bergabung, maka aku akan melakukan hal yang paling kau takuti." tandas Yoongi tanpa memedulikan Hoseok yang menggeram dibalik telepon.


"Lakukan saja! Aku tidak peduli, kau tidak bisa merusak kencanku!" geram Hoseok tidak santuy.


Yoongi sedikit menaikkan kedua alisnya, "kau yakin dengan ucapanmu? Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Hoseok sedikit gemetar, tapi ia pun tak bisa membiarkan kencannya yang berjalan sempurna hancur begitu saja.


"Aku tidak peduli! Persetan Min Yoongi, kenapa kau selalu menggangguku disaat yang tidak tepat?!!" Yoongi tersenyum licik, dia benar-benar makhluk yang sangat licik.


Bukan Min Yoongi namanya kalau meminta sesuatu tanpa mengancam.


"Sayang, sebenarnya kau berbicara dengan siapa??" terdengar suara seorang wanita dibalik telepon, merengek dengan suara yang menggelikan di telinga Yoongi.


"Bukan siapa-siapa, sayang. Kau bisa lanjutkan makanmu." ucap Hoseok menenangkan kekasihnya.


Yoongi tergelak mendengar suara sang sahabat yang dibuat selembut mungkin saat berbicara kepada kekasihnya.


"Hei, suaramu tidak cocok seperti itu. Kau lebih cocok menyengir seperti kuda" ucap Yoongi tanpa dosa.


"Berhenti memanggilku 'kuda' atau jangan harap kau bisa menonton episode lanjutan Kumamon lagi!"


"Oh ayolah, aku hanya ingin menghabiskan hari ini bersamamu! Apa kau tega membiarkanku sendirian di rumah, bersama para laba-laba beserta kawan-kawannya disini?" Yoongi mulai mengeluarkan jurus andalannya, yaitu merengek dengan suara seimut mungkin.


Dasar kucing tua, geli dengan rengekan seorang wanita, tapi lihatlah dirinya yang sekarang. Merengek seperti bayi besar kepada sang sahabat tanpa tahu malu.


"Sialan, dasar menjijikkan!" balas Hoseok diikuti gelak tawa si pemilik gummy smile dengan kulit seputih susu itu.


"Sudahlah sayang. Biarkan saja temanmu itu ikut bersama kita, bukankah lebih ramai lebih asik?"


Yoongi lagi-lagi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Hyera alias kekasih Hoseok yang terdengar sangat polos.


Dia sangat yakin wajah Hoseok kini sangat tertekuk, tidak percaya dengan ucapan Hyera.


"Tapi Park Hyera! Dia itu makhluk pucat jadi-jadian yang hanya akan merusak kencan kita!" gerutu Hoseok yang semakin melebarkan senyuman Yoongi.


"Ck, kenapa kau sangat kasar pada sahabatmu, eoh? Kau bahkan tidak pernah membentakku selama ini! Cepat suruh dia kemari atau aku pulang sekarang juga!!"


"Oh, pacarnya marah! Putus, putus..!" seru Yoongi yang untungnya hanya Hoseok yang mendengarnya.


"Grrr..puas kau sekarang, hah?" geram Hoseok dengan nada sepelan mungkin, menyadari macan betina yang sedaritadi memerhatikannya dengan tatapan ingin menerkam.


"Tentu saja. Sekarang katakan dimana kau sekarang" pinta Yoongi di ujung tawanya.


"Aku berada di cafe xx di kawasan Hongdae. Cepat kemari, jika kau terlambat, aku dan Hyera akan pergi dan meninggalkanmu--"


"Jung Hoseok!!" ups, Hoseok tidak sadar kalau kekasih tercintanya itu masih marah padanya.


"Halo, apa aku sedang berbicara dengan sahabat Hoseok??" kali ini Hyera mengambil alih ponsel Hoseok, lalu berbicara kepada Yoongi dengan ramah.


"Ah, iya. Apa ini Hyera? Park Hyera kekasihnya Hoseok?" sahut Yoongi tak kalah manisnya.


Hoseok meminta Hyera untuk me-loudspeaker agar dapat mendengarkan percakapannya dengan Yoongi, bermaksud untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu Yoongi berucap sesuatu yang seperti mimpi buruk bagi Hoseok tersendiri.


"Jangan segan padaku, jika kau ingin bertemu kami dan bermain bersama, tidak perlu ragu untuk meneleponku ataupun Hoseok!" ujar Hyera sambil tersenyum manis.


"Tentu saja! Terima kasih Hyera, kau sangat baik, aku jadi menyukaimu!" rayu Yoongi dengan nada riang.


Terdengar tawa Hyera yang renyah beserta umpatan penuh kekesalan dari Hoseok untuk Yoongi.


"Kumatikan sekarang!!!" kesal Hoseok, telepon pun terputus.


Yoongi tertawa tanpa minat, sungguh sebuah percakapan yang cukup panjang. Tanpa bermalas-malasan ia segera berjalan menuju kamar mandi, tidak ingin membuat sepasang kekasih itu menunggu lebih lama lagi.


******


"Halo, maaf membuat kalian lama menunggu." sapa Yoongi, menarik kursi yang berada tepat disebelah Hoseok sambil tersenyum lembut.


Hoseok melirik pria yang lebih pendek 6cm darinya sekilas, memasang wajah tak suka. Yoongi sadar akan ekspresi itu, ia juga tahu kalau Hoseok sedang membencinya.

__ADS_1


Yoongi pun tak tahu kenapa saat dirinya merasa hancur, satu-satunya yang terlintas di kepalanya hanyalah Jung Hoseok. Meskipun ia sangat peka akan kondisi Hoseok yang juga memiliki prioritas, tapi egoisnya lebih besar dari itu semua.


"Senang bertemu denganmu, Min Yoongi. Ataukah.. Aku harus memanggilmu 'kakak'..?" uluran tangan dari Hyera disambut hangat oleh Yoongi.


Hoseok mendelik tak terima, "kenapa pula kau harus memanggilnya 'kakak'?" Yoongi melepas jabat tangan itu dengan kikuk, ia akhirnya merasa bersalah akan kedatangannya yang mengganggu suasana. Memperburuk lebih tepatnya.


"Karena Yoongi oppa lebih tua tiga tahun dariku!" jawab Hyera balas mendelik.


"Oh ayolah, aku tidak setua itu~" Yoongi berusaha mencairkan suasana, namun itu sama sekali tak membantu.


Hoseok terus saja menunjukkan rasa cemburunya, sedangkan Hyera yang tidak peka nan polos itu tetap saja keras kepala dan bersikukuh menahan Yoongi untuk tetap duduk di tempatnya.


"Cukup, hari ini kau berlebihan sekali oppa! Kenapa pula kau harus cemburu pada sahabatmu sendiri?" omel Hyera, jari lentik itu menunjuk Hoseok kemudian Yoongi secara berurutan.


"Berlebihan katamu? Aku tidak akan mempermasalahkan ini jika saja kau sedikit berpikiran lebih terbuka, sedikit saja kau mengerti diriku???" tutur Hoseok semakin mendramatisir keadaan.


"Yang benar saja, kau memaksaku untuk mengikuti kemauanmu, sedangkan apa yang kumau tak pernah kau turuti!" suara Hyera semakin meninggi, mulai mengundang perhatian sekitar.


"Ehm, teman-teman.." gugup Yoongi mulai merasakan tatapan aneh yang menusuk meminta jawaban atas kejadian sekarang.


"Demi Tuhan, Hyera! Semua keinginanmu selalu kuturuti, apalagi yang tidak cukup buatmu?!" Hoseok semakin memanas, bentakannya sedikit menciutkan Yoongi.


Hyera sedikit tersentak, bibir bawahnya bergetar menahan isakannya yang hampir lolos. Matanya mulai berkaca-kaca, namun air mata itu ditahannya. Lagi-lagi Hoseok membentaknya.


Yoongi yang berada di antara sepasang kekasih itu hanya bisa terdiam, membeku di tempat dengan tampang penuh rasa bersalah.


"Se-sepertinya aku salah waktu kali ini.."


Kedua pasangan itu menatap Yoongi secara bersamaan, meneriakkan sebuah kalimat yang berbeda.


"Ya dan kau baru menyadarinya sekarang?!"


"Tidak, kau tidak salah disini!"


Yoongi menelan salivanya dengan susah payah, Hoseok sangat setuju dengan ucapannya sedangkan Hyera justru menentangnya.


"Tuh, kan! Kau membelanya lagi, kau lebih memilih Min Yoongi daripada kekasihmu sendiri!" emosi Hoseok sambil menunjuk tepat di depan wajah Yoongi.


"Karena dia memang tak ada salahnya disini!"


"Bla bla bla bla"


"Bla bla bla"


Oke, cukup. Yoongi tahu dialah penyebab dari semua kekacauan ini, tapi lama-lama ia pun bisa muak. Bisa dikutuk jomblo selamanya dia kalau terus menjadi alasan utama dari pertengkaran tak berfaedah itu.


Akhirnya Yoongi memutuskan untuk menendang kaki kursi yang diduduki Hoseok, membuat pria tampan bermarga Jung itu menoleh sinis ke arahnya.


"Cepat minta maaf, sebelum kau kehilangan dia untuk selamanya..!" bisik Yoongi setelah melihat Hyera yang mulai mengeluarkan ponsel dari tas-nya.


Hoseok yang menyadari sebuah bahaya segera meminta maaf, sebelum semuanya terlambat. Hoseok tahu betul siapa yang akan ditelepon oleh Hyera, dan Hoseok tak ingin berurusan dengan yang ditelepon Hyera untuk kedua kalinya.


"Hyera sayang, aku minta maaf ya? Maafkan aku yang membentakmu tadi, aku tanpa sadar memperlakukanmu dengan kasar.." bujuk Hoseok seraya berusaha menggapai ponsel di tangan si wanita.


"Kau jahat, oppa. Padahal aku hanya ingin menjadi teman Yoongi oppa sepertimu, tapi kau terlalu posesif!" bentak Hyera mulai kembali berkaca-kaca, Hoseok tambah panik.


Yoongi yang melihatnya menjadi ikutan panik dan segera menyuruh Hoseok untuk lebih mendekat sebelum Hyera benar-benar menelepon 'orang itu'.


Hoseok berdiri dan menghampiri tempat duduk Hyera yang tepat di depannya, meraih kedua tangan sang wanita dan mengusapnya dengan lembut.


"Hyera, lihat aku sayang."


Bukannya menurut, Hyera semakin menundukkan kepalanya. Setetes air mata membasahi pipi meronanya. Hoseok merasa bersalah, ternyata bentakannya berimbas besar bagi wanitanya.


Akhirnya Hoseok mencoba untuk menangkup wajah Hyera, membuat kedua pasang mata itu saling bertatapan, menyiratkan sebuah cinta yang begitu kuat.


Yoongi yang sedaritadi menjadi nyamuk hanya menyeruput minuman Hoseok sambil terus menatap malas ke arah kedua sejoli itu.


Apalah daya dirinya yang hanya remahan rengginang.


Jomblo itu memang menyiksa, kalau sudah disuguhi adegan manis seperti yang dilihat Yoongi sekarang.


Kedua ibu jari Hoseok mengusap pipi Hyera, menyingkirkan liquid bening itu agar tidak membekas nantinya. Untung make up Hyera waterproof..


"Uljima, chagiya. Aku yang salah, maafkan aku ya? Kau mau memaafkanku, bukan?" bisik Hoseok dengan senyuman yang menggoda.


Hyera meleleh. Yaiyalah, siapa juga yang tidak akan meleleh melihat ketampanan bak pangeran dari kahyangan, menatapmu dengan senyuman yang menawan?


Tentu saja Hyera mengangguk seolah-olah terhipnotis dengan senyuman Hoseok, memaafkan si pria begitu saja. Hoseok melebarkan senyumnya, mengajak wanitanya berdiri dan menawarkan shopping bersama.


Oh, Hyera tak punya alasan untuk menolak. Bukankah begitu, wahai para wanita?


"Ehem, kurasa aku sudah menjadi transparan disini..." sindir Yoongi menopang dagunya.


Hoseok terkekeh pelan, dirinya mengacungkan jempol sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Hyera.


"Bro, aku duluan!"


"Yayaya, pergi saja sana. Lagipula aku sudah tak tahan melihat kalian yang terlalu manis." ucap Yoongi, sedikit memelankan suaranya di akhir kalimat.


"Sampai bertemu lagi, kawan!"


"Bayar minuman dulu sebelum pergi!"


Dan.. Akhirnya Yoongi sendirian lagi.


Jomblo yang malang, ckckck.


******


Lama gk update guys!!!


Berlaku juga buat Be Mine, maaf bgt yg udh nungguin lanjutannya, author lagi buntu bgt:(

__ADS_1


Pengen bgt ngelanjutin Be Mine, tapi apalah daya aku yang sama sekali sedang tak ada niat maupun ide:")


Kalo dipaksa, entar jadinya ancur bgt:'(


__ADS_2