
Di samping itu, Radit justru menahan tawa ketika menyadari gelagat Ivi. Sepertinya Radit tahu tingkah lakunya.
"A,apa ... gue sama, Arya ....?" Ivi menunjuk wajah Arya. Hampir saja ia sesak napas.
Terlihat Radit mengangguk sambil tersenyum usil, lalu melirik Eric.
"Hahaha ... Kak Radit bercanda nih, gak mungkinlah gue sama ... lagipula gue ini masih sekolah, jadi ....!" tukas Ivi gelagapan. Ia terlalu panik menanggapi pertanyaan Radit.
"Kalo gue liat, elo sama Arya cocok kok, Vi."
"Kak Radit, udah dong. Jangan menggoda gue terus!" ucapnya yang bingung harus melihat kemana.
"Bener gak, Ric? Elo setuju gak, kalo adik elo sama adik gue? Biar kita jadi saudaraan gitu," kata Radit sambil meringis geli.
"Hmm, gimana ya?" Eric menimbang-nimbang usul dari Radit.
"Ar, bantuin gue dong! Kenapa elo malah diem aja!" bisik Ivi pada Arya, namun suaranya malah terdengar jelas.
Tentu saja Radit makin terbahak melihat tingkah laku Ivi yang malu-malu meminta bantuan.
"Ngomong-ngomong, Rina mana? Kok, gue belum liat dia dari tadi?" tukas Radit sambil melongok ke dalam.
"Oh, bener juga. Ini udah hampir jam delapan, kenapa Rina belum dateng juga," jawabnya heran.
"Coba elo telepon dia deh."
"Bentar ya." Eric mencari kontak Rina.
"Gimana Kak?" Ivi penasaran.
Eric angkat bahu pertanda tidak ada jawaban.
"Ric, sudah hampir jam delapan lho, Rina di mana?" tanya Papa yang muncul dari dalam.
"Eric juga lagi telepon Rina, tapi gak di angkat, Pa." Eric dan yang lainnya mulai panik.
"Apa, masih di jalan?"
"Tapi, Pa ... masa dari tadi gak sampai-sampai. Harusnya sih udah. Apa, terjadi sesuatu sama Rina, Pa?"
"Huss, jangan bicara yang tidak-tidak. Coba kamu hubungi Rina lagi, siapa tau bisa."
Eric mencoba menghubungi Rina, namun hasilnya pun sama, tidak di angkat juga. Eric menggeleng kecil sebagai jawabannya, dan mereka pun menangkap arti gelengan kepala Eric. Ivi dan yang lainnya jadi ikutan penasaran, mereka mulai khawatir.
"Rin, elo di mana sih." lagi-lagi telepon tidak di angkat, "gak di angkat juga, Pa. Atau, Eric telepon rumahnya aja, ya?"
"Bener, coba telepon mereka," sahut Papa.
Lantas, Eric pun menghubungi ke rumah Rina. Setelah menunggu beberapa detik, telepon di angkatnya.
__ADS_1
"Halo, Tante, apa Rina sudah berangkat?" terlihat kalau Eric tengah menanyakan keberadaan Rina. Siapa tahu mereka sedang bersamanya. Soalnya, kata Rina tadi, ia akan berangkat bersama dengan keluarganya.
"Gimana, Ric?" tanya Papa.
"Kata Mamanya, Rina udah keluar rumah dari tadi. Tapi, kok ...." Eric bingung.
"Lha, emangnya Rina gak bareng keluarganya?" tanya Radit yang ikut penasaran.
"Gak, dia nyetir sendiri katanya. Mamanya bilang kalo dia bawa mobil sendiri. Sedangkan, orang tua Rina bawa sopirnya. Gue juga gak tau," kata Eric panik. "Elo kemana sih, Rin!"
Wawan dan yang lainnya melihat Eric seperti sedang panik. Lantas, mereka pun menghampiri Eric.
"Vi, ada apa? Kok, pada panik gitu?" tanya Wawan.
"Kak Rina belum dateng ini."
"Udah di telepon?"
"Udah, tapi gak di angkat. Kak Eric udah telepon berkali-kali, tetep gak di jawab. Bahkan Mamanya Kak Rina bilang, kalo Kak Rina udah berangkat dari tadi," jelas Ivi.
"Lha, kok?"
Saat semua orang sedang panik, tiba-tiba ponsel Eric berdering. Ia melihat nama Rina di layar. Tidak mau menunggu lagi, segera ia menjawabnya.
"Halo, Rin? Elo di mana?"
Hening.
"Rina, ada sama gue," jawab seseorang di dalam telepon. Dan, itu membuat Eric menghentikan pertanyaannya.
"Apa? Halo, ini siapa? Rina di mana?" Eric terlihat terkejut saat mendapati kalau bukanlah Rina yang sedang berbicara. Tapi, seorang anak cowok.
"Kalo elo mau Rina selamat, elo coba aja dateng ke sini selametin dia. Sebelum, Rina gue apa-apain," ancamnya.
"Halo! Ini siapa! Kenapa elo bawa handphone Rina? Di mana Rina, ini siapa?!" Eric sangat gusar menerima telepon yang jelas itu bukan Rina, melainkan orang lain.
"Eric, tolongin gue, Ric ... gue takut ....!" terdengar suara Rina meminta tolong. Dan lagi, sepertinya Rina tengah menangis.
"Rina! Rin, elo di mana? Ada apa sama elo?!" Eric sudah tidak bisa sabar lagi.
"Ric, Rina kenapa?" tanya Papa.
"Halo ... siapapun elo, tolong jangan sakiti Rina, oke? Gue mohon, jangan apa-apain Rina," ujar Eric memohon pada si penelepon.
"Kalo elo mau Rina selamat, elo dateng ke sini sekarang juga. Entar gue kirim alamatnya. Sepertinya, sekarang Rina lagi butuh banget pertolongan dari elo. Hahaha ....!" si penelepon tertawa, lalu menutup teleponnya tiba-tiba.
"Halo? Hey!" teriak Eric di telepon yang sudah terputus. Ia sangat kesal. "Haaah, sialan!"
"Ric, Rina kenapa? Kenapa kamu panik gitu, apa yang terjadi pada Rina?" tanya Papa heran melihat anaknya emosi. Yang lainnya pun ikut heran.
__ADS_1
"Pa, Eric harus segera nolongin Rina. Sekarang dia dalam bahaya. Eric takut terjadi apa-apa sama Rina," kata Eric. Terlihat jelas kalau ia panik.
"Maksud kamu apa? Bahaya apa?"
"Kayaknya Rina di culik deh, Pa. Barusan yang telepon bukan Rina, tapi orang lain."
"Apa?!" ucap Ivi dan yang lainnya hampir bersamaan, karena terkejut.
"Di culik gimana maksud kamu? Jadi, Rina memang belum sampai sini?"
"Eric gak tau, Pa. Yang jelas Eric di suruh dateng ke sana, itu kata orang yang tadi nelpon Eric. Sekarang, Eric mau ke sana."
"Sepertinya bahaya, Ric. Panggil polisi saja," usul Papa.
"Eric gak bisa diem aja di sini nunggu kabar dari polisi. Eric harus cepat-cepat tolongin Rina!"
"Tapi, Ric, kalau mereka berbahaya bagaimana? Sebaiknya kita telepon polisi."
"Kak, gue ikut ya," Ivi berucap.
"Gak usah, elo di sini aja sama yang lain. Biar gue ke sana sendiri."
"Tapi ....!"
"Gue gak mau kalo elo kenapa-kenapa."
"Justru gue gak mau kalo Kak Eric sendirian! Gue gak mau terjadi apa-apa sama Kakak atau Kak Rina!"
"Tapi, Vi ... berbahaya, nanti ...."
Kalimat Eric terpotong, ketika tiba-tiba Radit menepuk pundak Eric.
"Eric, bener apa kata Ivi, kita tolongin Rina sama-sama, oke? Elo jangan nekat pergi sendiri ke sana, elo gak tau dia sendiri atau sama komplotannya," ucap Radit.
"Tapi, Dit ...." Eric menatap Radit dan yang lainnya bergantian.
"Percaya deh sama gue. Kita ada buat elo, Ric." Radit tersenyum untuk meyakinkan Eric. Sepertinya, Eric memang harus mendengarkan perkataan Radit.
Seperti yang di katakan oleh si penelepon, Eric datang ke tempat yang sudah di beritahu oleh orang itu sebelumnya. Mereka mendatangi sebuah gedung yang sudah tidak terpakai, sepertinya gedung itu terbengkalai.
"Rina! Elo di mana!" teriak Eric memanggil Rina.
Akhirnya Eric datang bersama Ivi, Wawan, Erwin, dan Radit serta Arya. Mereka berenam mencari Rina bersamaan. Mereka ijin untuk mencari Rina sendiri, setelah pamit pada orang tua Ivi.
"Kak Rinaaa!'' teriak Ivi dan lainnya saling bersahutan. Suara mereka menggema di dalam gedung.
"Eriiic!" terdengar suara Rina dari salah satu ruangan di dalam gedung.
"Itu suara Kak Rina!" celetuk Wawan.
__ADS_1
"Suaranya dari sana deh," sahut Eric. "Kita ke sana."
Mereka menuju ke arah asal suara, sambil terus memanggilnya. Cukup sulit menemukan keberadaan Rina, karena terdapat banyak ruangan. Hingga mereka harus berusaha mencari dengan seksama secara terpisah.