
Rina terkesiap mendengar ucapan Ivi. Entah apa yang ingin Rina katakan saat ini, ia tidak tahu. Perasaannya campur aduk. Sedetik kemudian sebutir air bening meleleh dari sudut matanya. Tidak tahu apa yang di rasakan oleh Rina, tapi ia merasa sedikit senang mendengarnya. Dengan cepat Rina menghapus pipinya dengan punggung tangannya.
"Eric ... terimakasih, terimakasih ... maaf, maafin gue, Ric ...." air matanya kembali jatuh tanpa bisa di cegah.
Ivi meraih tangan Rina sambil tersenyum, "Kak Rina jangan sedih lagi ya. Jangan bebani pikiran Kakak dengan hal-hal yang tidak penting. Sekarang Kak Rina banyak-banyak istirahat biar cepet pulih kembali. Kata Dokter Kak Rina enggak boleh terlalu stres."
Rina pun tersenyum walau sedikit, ia mengangguk kecil. "Gue sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga elo, Vi. Banyak yang perhatian sama gue, salah satunya elo. Elo selalu dukung dan suport gue. Padahal elo tau gimana gue terhadap Eric. Gue bener-bener beruntung dengan adanya elo, gue merasa udah di selamatkan. Terimakasih banyak, Vi untuk semuanya."
"Kak Rina tenang aja. Gue bakal dukung Kak Rina apapun yang terjadi. Percaya deh sama gue, Kak Eric itu enggak ada alasan lain selain ingin menjaga Kak Rina. Kak Eric bener-bener enggak pengen kehilangan elo. Makanya sikap Kak Eric seperti tadi, emosi enggak jelas. Tapi, gue yakin kalo sepenuhnya dia enggak marah."
Rina tersenyum lagi, entah kenapa perasaannya menjadi hangat, damai dan lega.
"Terimakasih, Vi. Gue bener-bener beruntung bisa memiliki kalian semua. Kalian begitu perhatian dan sayang sama gue."
"Nah, gitu dong senyum. Kak Rina tuh cantik kalo banyak-banyak senyum. Sayang kalo Kak Rina enggak memperlihatkan senyum Kakak yang menawan itu," goda Ivi usil.
Rina tertawa kecil meski masih terasa sulit, "Elo bisa aja Vi."
"Ya udah, karena Kak Rina udah sadar, sekarang gue mau telepon Tante Retno dan Om Adi ya. Gue juga mau telepon Mama buat ngabarin ini."
"Ivi, sekali lagi gue ucapin terima kasih banyak ya. Karena elo dan Eric udah nyelametin gue."
Ivi tersenyum. Lalu, ia meminta ijin keluar untuk menghubungi keluarga Rina maupun keluarganya. Sedangkan, Rina masih menatap pintu yang di lalui oleh Ivi.
Berselang lama kemudian, Eric masuk kembali setelah mendinginkan kepalanya. Ia juga di beritahu Ivi kalau Rina sendirian di ruang inapnya.
Rina menoleh tatkala melihat Eric masuk. "Eric."
"Rin," Eric menghampiri Rina. "Ng ... gue minta maaf untuk yang tadi. Gue terlalu emosi, jadi gue--"
"Enggak apa-apa, gue ngerti kok. Elo enggak perlu minta maaf," ucap Rina cepat.
__ADS_1
Eric sedikit canggung karena ulahnya sendiri, ia mengusap tengkuknya, "Eem, gimana keadaan elo?"
"Seperti yang elo liat," ucapnya berusaha untuk tersenyum. "Eric, gue minta maaf. Gue udah salah, udah ngecewain elo. Gue ... udah bertindak bodoh dan hanya bisa bikin elo kerepotan karena gue. Maaf ... maafin gue." Rina berusaha untuk bangun, tapi ia tidak sanggup. Kemudian ia di bantu oleh Eric.
"Elo jangan paksakan untuk bergerak dulu."
"Gue baik-baik aja kok, Ric."
Eric duduk di samping Rina, cukup lama terdiam. Lalu, Eric memberanikan diri untuk bersuara.
"Rin ... awalnya gue kecewa pas tau elo selingkuh di belakang gue. Gue kaget, gue enggak tau harus bersikap seperti apa karena gue emang enggak tau apa-apa. Tiba-tiba elo ilang dan cowok itu muncul di depan gue, di juga bilang kalo elo ini pacarnya. Sungguh, gue enggak ngerti apapun. Lalu Ivi, dia dan Wawan pernah liat elo lagi sama cowok itu. Di situ gue bener-bener bingung."
Rina terdiam.
"Meskipun begitu, enggak tau kenapa, gue enggak bisa benci sama elo. Perasaan gue enggak berubah sama sekali. Elo tau kenapa, karena gue memilih untuk percaya sama elo ketimbang cowok itu.
Rina hampir mau menangis lagi, namun seketika ia menghapus sudut matanya.
"Kenapa elo bisa bicara seperti itu ... setelah tau kalo gue ... gue--"
"Rina ... gue udah lupain masalah itu. Udah gue buang jauh-jauh itu masalah. Gue enggak ingin mengungkitnya lagi. Udah gue bilang, kalo gue ini enggak bisa yang namanya dendam terhadap seseorang. Elo paham itu?"
Dari sudut matanya meluncur air bening tanpa seijinnya. Senang rasanya mengetahui bahwa Eric baik-baik saja dengannya. Senang karena melihat Eric seperti biasanya. Senang karena Eric masih ada di sisinya sampai sekarang. Saking senangnya, Rina bisa merasakan kalau dadanya terasa sesak.
"Terimakasih, karena elo mau percaya sama gue. Terimakasih karena elo enggak membenci gue dan memilih untuk tetap bertahan. Terimakasih ... karena perasaan elo ke gue enggak pernah berubah."
"Itu keputusan gue sejak awal, Rin," ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk menghapus pipi Rina yang basah.
"Gue janji. Gue janji enggak akan mengulangi kesalahan gue lagi. Itu janji gue ke elo, Ric."
Eric tersenyum kecil, "Iya, gue percaya kok."
__ADS_1
Kini dua sejoli itu menautkan kedua tangannya masing-masing dan saling bertatapan penuh cinta. Mereka seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Tidak bisa di ungkapkan, namun bisa di lihat dari wajah mereka. Terbaca dengan jelas, bahwa mereka itu sedang jatuh cinta lagi.
"Eric, gue boleh tanya sesuatu sama elo enggak?" tanya Rina setelah lama saling diam.
"Hmm ... apa?"
"Sebelumnya gue minta maaf. Selama kita pacaran ... kenapa elo enggak pernah ...." Rina sengaja menggantung kalimatnya.
"Enggak pernah apa?"
Terlihat kalau Rina sedikit ragu untuk bertanya, "Eng ... kenapa elo enggak pernah ... nyium gue?" tanya Rina hati-hati.
"Apa?" Eric terlihat sangat kaget.
Melihat reaksi Eric, membuat Rina panik seketika. "Sori ... sori, bukan itu maksud gue. Gue cuma ... ah, lupain aja."
"Kenapa elo gagap gitu?"
"Eh, ah bukan, bukan kok ... gue enggak bilang apa-apa!" Rina salah tingkah.
"Emang boleh kalo elo gue cium?"
Rina terperanjat mendengarnya, "Apa?"
Eric bertaut alis, "Kenapa elo kaget kayak gitu? Gue tanya, emang boleh kalo gue mencium elo?"
Ngalamat! Rina semakin panik. Ia tergagap untuk bicara. Sepatah kata pun belum keluar dari mulutnya. Ia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa saat ini.
"Duh, gue cuma ... gue--"
"Rina ... gue enggak pernah ngelakuin itu sama elo, karena gue menghormati elo sebagai perempuan. Gue menghargai apapun yang elo punya. Gue enggak mau jadi cowok yang mau pacaran hanya karena ingin ini dan itu. Gue enggak pernah nyentuh elo, karena gue bener-bener mencintai elo, Rin. Gue menghargai elo sebagai cewek gue," jelas Eric padanya.
__ADS_1
Entah kenapa Rina yang mendengarnya merasa sangat bahagia. Walaupun hanya kata-kata sederhana dari Eric, hal itu mampu membuat Rina merasa sangat di hargai. Membuatnya menjadi seorang wanita yang sangat spesial di mata Eric. Sungguh beruntung bahwa Rina bisa memiliki Eric. Bukan, tapi sungguh beruntung wanita yang di cintai oleh Eric.