
Setelah beberapa menit mereka berpencar kesana-kemari mencari keberadaan Rina, akhirnya Ivi menemukan sebuah ruangan, di mana di dalamnya ada Rina dan beberapa anak cowok. Ivi terperanjat tatkala melihat kondisi Rina di dalam sana. Sontak, Ivi memanggil Eric dan yang lainnya. Ketika mereka menghampiri Ivi dan melihat ke ruangan tersebut, mereka sama terkejutnya. Apalagi Eric, ia terperangah saat melihat keadaan Rina yang tengah duduk di lantai yang kotor dan berdebu. Beberapa bagian bajunya rusak, dan make up yang sedikit berantakan karena mungkin saja Rina menangis sejak tadi. Eric begitu marah ketika melihat kekasihnya dalam kondisi yang menyedihkan dan sedang menangis ketakutan. Tanpa sadar tangannya ia kepalkan kuat-kuat.
Sementara, anak-anak cowok yang ada di dalam ruangan itu menyadari kedatangan Ivi dan yang lainnya. Salah satu dari mereka menoleh dan berjalan menghampiri mereka. Sambil tersenyum sinis si cowok menatap mereka satu persatu. Lalu, tepat menatap mata Eric. Di sana Rina merasa lega karena melihat Eric dan Ivi.
"Eric! Tolongin gue ....!" teriak Rina.
"Rina? Elo gak apa-apa, kan?" tanya Eric cemas. Ia hendak mendekati Rina, namun langkahnya terhenti saat si cowok tiba-tiba menghadangnya.
"Pasti elo itu pacarnya Rina, kan? Akhirnya datang juga lo ya. Gak nyangka, gue pikir elo itu cowok yang cukup hebat lho, dateng ke sini sendirian, tapi ternyata elo bawa pasukan," ucap si cowok dengan nada mengejek.
"Tolong lepasin Rina. Gue gak tau elo punya masalah apa sama Rina, tapi tolong, lepasin Rina. Gue minta maaf kalo ini ada hubungannya sama Rina, gue juga minta maaf atas nama Rina. Jadi, gue mohon, lepasin Rina sekarang," ujar Eric memohon pada si cowok tersebut.
Si cowok justru memperlihatkan seringainya, ia menatap Eric jengah. Sementara Eric masih bingung dengan keadaan di sini.
"Gak semudah itu, Bung!" kata si cowok.
"Sebenernya ada masalah apa antara Rina dan elo, sampe elo bawa Rina ke sini. Rina punya salah apa sama elo, kenapa elo tega sama dia?" tanya Eric masih kebingungan.
Sementara Ivi dan yang lainnya masih mendengarkan pembicaraan Eric dan cowok itu. Mereka hendak menerobos maju, tapi komplotan si cowok segera menghalangi Ivi, hingga membuat mereka mundur kembali.
"Elo mau tau salah dia apa?" tanya si cowok dengan nada sinis. "Oke, biar gue kasih tau ke elo sekarang. Salah dia itu, karena Rina udah ninggalin gue," ucapnya kemudian.
"Ninggalin elo? Maksudnya?" Eric berkerut kening tidak paham.
"Lha, Vi, itu cowok yang gue maksud waktu itu," timbrung Wawan, setelah beberapa saat mengamati dan mengingat wajah si cowok tersebut.
"Apa?" Eric terkejut menoleh ke arah Wawan.
__ADS_1
Si cowok terlihat tidak peduli, namun kali ini matanya beralih menatap Ivi.
"Elo kan, cewek yang waktu itu mergokin gue lagi jalan bareng Rina, iya kan?" tanya si cowok sembari menunjuk wajah Ivi.
"Apa?" untuk kedua kalinya Eric terkejut mendengar pengakuan si cowok dan yang pertama dari Wawan. Eric menatap Ivi tidak mengerti. "Vi, apa maksudnya? Elo pernah ketemu sama cowok ini? Sama Rina? Kapan?"
Ivi benar-benar tidak tahu sama sekali. Kenapa bisa ia tidak sadar kalau cowok itu adalah cowok yang pernah jalan bareng Rina, dan ia memergoki mereka berdua.
"Itu, sebenarnya ...." Ivi bingung mau ngomong apa.
"Emang cewek ini gak cerita apa-apa sama elo?" si cowok kini menatap Ivi sambil tersenyum licik. "Kalo begitu, biar gue yang cerita semuanya."
"Cerita? Cerita apa? Vi, apa maksud dia? Elo pernah bertemu sama cowok ini? Coba jelaskan!" Eric mulai gusar, karena ia merasa hanya dirinya yang tidak tahu apapun. Kini ia beralih menatap Rina penuh tanda tanya besar. Tapi, Rina justru terdiam dan menunduk.
"Gue ini pacarnya Rina," ucap si cowok.
"Apa?"
"Ya. Gue ini pacarnya Rina. Tapi, dia tega ninggalin gue demi seorang cowok yang bahkan tidak lebih baik dari gue," ucapnya. Kini tangannya mulai membelai kepala Rina, membuat Rina menghindar dengan cepat.
"Apa, pacar? Rina pacar elo? Gak ... gak mungkin, elo bohong kan. Gue gak percaya. Rin, apa yang di katakan sama orang ini, gak bener kan? Semuanya gak bener kan? Elo lagi bercanda pastinya, gak mungkin ini beneran. Coba elo bilang, kalo semua omongannya tadi adalah sebuah kebohongan. Semua itu gak bener kan?" tanya Eric penuh harap mendapatkan jawaban dari kekasihnya. Tapi, yang ia dapatkan justru isakkan tangisnya.
Terlihat si cowok tersenyum puas melihat mereka berdua. Ia tidak peduli dengan mereka.
"Jawab dong, Rin. Bilang ke dia, kalo gue ini pacar elo. Kita udah lama bersama dan bersenang-senang juga," ucap si cowok di dekat telinga Rina, membuat Rina merasa jijik.
Sedangkan Eric, ia sudah habis kesabaran. Telinga serta dadanya terasa panas. Emosinya memuncak. Terlebih ketika Eric melihat perlakuan si cowok pada Rina yang terlihat sangat menjijikan. Napas Eric naik-turun seperti pompa, tangannya mengepal kuat. Pandangannya tajam dan dingin menatap si cowok tadi.
__ADS_1
"Jawab dong, Rin ...." kata si cowok lagi dan hendak mengecup bibir Rina.
Suasana semakin menegang, apalagi Ivi dan yang lainnya menyaksikan langsung perlakukan cowok tadi terhadap Rina. Mereka pun sama geramnya seperti Eric.
"Stop! Jangan berani tangan elo nyentuh Rina sedikitpun!" ucap Eric kaku dan dingin.
Entah setan apa yang merasuki tubuh Eric saat ini. Tiba-tiba ia berjalan maju mendekat, tanpa berpikir panjang Eric meninju wajah si cowok dengan kencang, hingga membuatnya terjungkal ke lantai. Itu karena Eric menggunakan seluruh tenaganya.
"Heh, elo punya nyali juga ya ternyata," ujarnya sembari bangkit berdiri. Ia memegangi ujung bibirnya yang terkena tonjokan Eric. Kini seringainya semakin lebar. Kemudian ia bersiul seperti memanggil bala bantuan. Dan benar saja, dalam hitungan detik sejumlah orang datang berkumpul setelah mendengar panggilan dari si cowok ini. Sepertinya mereka memang sudah bersiap di posisi jika suatu waktu di beri tanda.
Ivi dan yang lainnya panik, mereka segera pasang tameng untuk melindungi diri masing-masing. Mereka berhimpitan punggung saling menjaga. Di tatapnya komplotan itu bergantian. Eric menoleh ke arah adiknya dan yang lain. Terlebih pada Ivi, karena dia satu-satunya perempuan di sana.
"Ivi!" teriak Eric.
"Kak Eric tenang aja! Gue bisa atasi mereka. Gue gak sendirian, sebaiknya Kak Eric cepat bawa Kak Rina pergi dari sini!" balas Ivi.
"Gue juga punya urusan di sini sama orang ini," ucap Eric sembari menatap cowok yang ada di hadapannya.
Eric dan cowok tadi saling berpandangan penuh dendam. Si cowok tidak hentinya tersenyum sinis pada Eric.
"Habisi mereka!" teriak si cowok memberi perintah pada bawahannya.
Semua para bawahannya langsung menerjang secara bersamaan. Ada yang memegang kayu, besi dan bahkan pisau. Tidak tanggung-tanggung mereka mengayunkan senjatanya ke arah Ivi, Arya, Radit, Wawan serta Erwin. Mereka mencoba menghindar dari serangan senjata yang melayang ke arahnya. Di sebelah sana, Eric tengah menghajar cowok yang sudah menculik Rina. Dan, terjadilah perkelahian antara Ivi dan para bawahan cowok tadi.
Ketika salah seorang tumbang oleh tendangan Ivi, datang seorang lagi yang membawa pisau dan hendak menyerang Ivi. Tapi ....
"Ivi! Awas!!" teriak Arya sambil berlari berusaha menyelamatkan Ivi, hingga membuat Arya terjatuh ke lantai. Saat orang suruhannya itu maju kembali, dengan cepat Arya menangkisnya. Dan, akhirnya pisau yang di bawa oleh orang barusan berhasil menggores pelipis Arya.
__ADS_1