This Is Me

This Is Me
eps 14


__ADS_3

"Terserah elo deh, Vi! Pokoknya gue suka sama Indah, dan gue tetep akan memperjuangkan cinta gue." ujar Ryo terlihat kesal. "Sepertinya gue salah orang buat mintai tolong, percuma gue bicara sama elo. Ternyata elo cuma ingin menghalangi gue doang."


Ivi terkejut. Ia bingung, sepertinya Ryo sudah salah paham. "Buka gitu maksud gue, Ryo. Dengerin dulu gue ngomong."


"Udahlah, Vi. Gue bakal pake cara gue sendiri. Thanks udah mau dengerin gue." ucapnya yang kemudian meninggalkan Ivi.


Ivi benar-benar tidak menyangka kalau Ryo bakalan nekat. "Gue harus ngomong apa lagi coba sama tuh anak."


Sorenya di rumah Ivi...


"Gue udah coba bicarain ini sama Ryo, seperti kata elo, dia emang keras kepala. Dia tetep gak mau denger, dia akan terus ngejar Indah. Di sini malah gue yang di tuduh ngalangin dia, aneh kan?"


"Terus...?"


"Ya gue gak tau harus bilang apa lagi sama Ryo, hah! Apa, terlihat jelas kalo gue ini menghalangi Ryo?" tanya Ivi pada Kakaknya.


Eric menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gimana bilangnya ya, di bilang elo menghalangi, gue rasa itu gak bener deh, kan di sini elo cuma pengen bicara doang sama Ryo. Dan kalaupun Ryo masih ngotot, itu bukan salah elo dong."


"Tapi Ryo bilang kalo gue ini udah ngalangin dia buat suka sama Indah. Makanya dia kayaknya salah paham deh sama gue. Gue kan jadi bingung harus gimana ngadepin Ryo, dan apa yang harus gue bilang ke Indah!"


"Hadeeh! Kenapa elo yang jadi ribet ya?"


"Gue juga gak mau kali kayak gini, tapi Indah udah minta tolong sama gue. Gue kudu gimana lagi, kasih solusi dong, Kak!"


"Haaah... udahlah, gak usah di ambil pusing. Elo bilang aja sama Indah yang sebenarnya. Kalaupun elo mau bantu, bantu Indah buat ngomongin aja, selanjutnya biar Indah yang menyelesaikan persoalannya dengan Ryo. Kan dia orang yang di sukai Ryo, jadi yang bisa mutusin dan menyelesaikan masalah adalah Indah. Biar dia yang ngasih jawaban ke Ryo, kalaupun pada akhirnya Indah menolak Ryo, itu sudah keputusan dia, dan mau gak mau Ryo harus menerimanya. Secara yang punya hak memberi jawaban adalah Indah sendiri, kan?"


Ivi mengangguk paham. "Iya sih, makanya elo bilang kalo gue jangan terlalu ikut campur urusan mereka, ya."


"Tepat seperti itu." Eric mengangguk kecil. "Nah, sekarang gue mau nantangin elo main PS nih. Gue yakin hari ini gue yang akan menang!"


"Heleh, gak usah seneng dulu kalo entar ujungnya kesel karena kalah!"


"Gak bakalan! Hari ini gue pasti bisa ngalahin elo, liat aja entar. Atau jangan-jangan elo takut?"


"Aiiih... siapa bilang gue takut! Gue gak takut tuh!" balas Ivi tak mau kalah.


"Oke! Kalo gitu sekarang kita tanding!"

__ADS_1


"Oke! Siapa takut!"


Ivi melayani tantangan Eric untuk main PS, lumayanlah buat ngilangin rasa jenuhnya saat ini. Ivi membantu Eric memasang konsol game dan yang lainnya. Ketika semua sudah siap, kini saatnya mereka bertanding.


Dari belakangnya Mama mengamati dua anaknya tersebut. Bahkan mereka sampai tidak menyadari kalau Mama ada di sana, karena sibuk bertanding. Orangtuanya sudah hafal akan kebiasaan anak-anaknya itu, ketika bermain game bersama mereka akan berteriak, yang entah itu kalah atau menang, saling mengejek bahkan sampai adu mulut, dan jotosan. Tapi orangtuanya berpesan, mereka di ijinkan main game jika semua urusan maupun tugas sudah terselesaikan. Ivi maupun Eric menyetujui syarat tersebut. Dan jika sudah ada teriakan barulah Mama atau Papa yang akan turun tangan.


"Kalian ini apaan sih, ini kan cuma permainan. Jangan di anggap serius begitu, kayak anak kecil saja."


Dan mereka hanya akan tertawa malu menyadari kelakuannya sendiri.


Setelah beberapa lama bermain, akhirnya tahu siapa yang jadi pemenangnya.


"Hahahaha! Gue menang! Akhirnya setelah sekian lama, gue menang juga dari elo! Apa gue bilang, kali ini gue pasti menang, dan elo liat buktinya kan?!" kata Eric bangga.


"Astaga, baru juga menang sekali udah girang kek gitu. Tadi itu gue lengah aja, makanya gue kalah. Gue ngalah tau sama elo!"


"Jangan marah kalo kalah!" ujar Eric di sela-sela tawanya.


"Siapa yang marah, gue gak marah kok. Tapi, inget sama janji elo yang mau nraktir gue kalo elo menang."


"Tentu gue inget dong, tenang aja. Gue gak bakal lupa. Hahaha... gue menang, gue menang!" tak hentinya Eric bersorak senang.


Malamnya di kamar Ivi tengah belajar untuk besok, tapi pikiran tidak pada buku yang sedang di bacanya. Pikirannya entah ada di mana, yang jelas saat ini bukunya pasti merasa bosan karena di abaikan oleh sang pemilik.


"Gue kudu bilang apa sama Indah." gumam Ivi pelan. Di tatapnya buku tersebut, namun tidak ada satupun ringkasan yang mau masuk ke dalam kepalanya.


"Elo belum tidur?" kepala Eric melongok dari luar kamar Ivi.


"Ah, ini, bentar lagi kok."


"Ya udah, jangan terlalu malem, besok sekolah. Entar telat."


Ivi hanya mengangguk, dan Eric pun menutup pintunya kembali. Ivi masih merasa jenuh dengan semua materinya, pada akhirnya ia pun menutup bukunya, dan kemudian naik ke atas kasurnya.


*****


Di kantin Ivi sendirian, para sahabatnya belum ada yang nongol. "Mereka ke mana sih, masa iya belum dateng."

__ADS_1


Baru juga di rasa, yang di tunggu pun muncul.


"Pagi, Vi!" sapa Wawan dan Erwin bersamaan. Mereka terlihat bersemangat.


"Baru juga gue batin, eh udah nongol aja kalian berdua. Panjang umur lo."


"Emang ada apaan?" kata Erwin, kini mereka berdua ikut duduk bersama Ivi.


"Kalian lama amat."


"Ini nih si Wawan, lama banget dandannya."


"Ugh! Siapa yang dandan, ngarang aja kalo bicara!" balas Wawan tidak terima. "Oh ya, Vi, waktu itu yang mau gue omongin soal Kak Rina, kok elo tiba-tiba matiin telepon gue?"


"Yang kalian liat waktu itu emang bener Kak Rina."


"Serius?" tanya Erwin.


Ivi mengangguk.


"Terus?"


"Ya bener, Kak Rina selingkuh di belakang Kakak gue."


"Terus gimana sama Kak Eric?" sahut Wawan.


"Kak Eric gak tau."


"Emang elo gak cerita ke Kak Eric soal Kak Rina?" imbuh Erwin.


"Kenapa elo gak bilang?" tanya Wawan lagi.


"Ya kali gue bilang Kak Eric, bisa marah tuh gorila satu itu!"


"Adik kupret lo, ngatain Kakaknya sendiri gorila!" sergah Wawan.


"Lha kenapa elo gak bilang aja sih, maksud gue apa elo gak kasihan sama Kak Eric?" kata Erwin.

__ADS_1


"Sebenarnya gue mau ngasih tau ke Kak Eric, tapi gue kasihan kalo liat Kak Eric yang kelihatan seneng tiap kali telepon sama Kak Rina. Waktu itu Kak Rina udah ngakuin semuanya, dan dia janji gak akan nemuin cowok itu lagi. Dia juga udah minta maaf, jadi gue pikir, gue gak perlu bilang apa-apa ke Kak Eric." kata Ivi menjelaskan.


__ADS_2