
Ivi terdiam, tidak bergerak karena pelukan Arya begitu erat.
"Apa yang elo lakuin! Lepasin gue sekarang, atau gue bakalan teriak!!" pekik Ivi masih dengan suara tertahan.
"Gak! Gak akan gue lepasin sebelum elo dengerin gue." ucap Arya berbisik di telinga Ivi.
Kali ini entah mendapat kekuatan dari mana, akhirnya Ivi berhasil mendorong tubuh Arya menjauh darinya. Di tatapnya Arya dengan tatapan tajam dan dingin. Rasanya Ivi ingin sekali meremukkan orang yang ada di hadapannya saat ini. Nafasnya terengah-engah karena berusaha berontak. Ivi hendak melakukan sesuatu saat itu, namun tindakannya terhenti ketika ada seorang OB yang mendadak masuk ke toilet membawa perlengkapan kebersihannya. Ivi terkejut namun juga lega karena ia tidak perlu repot-repot mengurus manusia satu itu. Lantas Ivi keluar dari toilet sambil mendengus kesal, meninggalkan Arya yang hanya bisa pasrah. Sementara si OB terheran memperhatikan Arya.
"Mas...?" ucap si OB sambil menunjuk tanda pada pintu masuk toilet.
"Maaf, saya salah masuk." jawabnya singkat, dan Arya pun keluar.
Ivi kembali ke meja, namun tidak untuk makan, melainkan untuk pamitan.
"Maaf semuanya, tiba-tiba gue ngerasa gak enak badan. Jadi, gue pulang duluan, ya. Maaf banget!"
"Elo kenapa, Vi. Elo sakit?" tanya Rina cemas.
"Vi, elo gak apa-apa, kan?" Eric ikutan cemas.
"Iya, gue gak apa-apa, cuma gak enak badan sedikit aja kok."
"Mau gue anter pulang?" tawar Radit.
"Gak usah, Kak. Kak Radit di sini aja, gue balik sendiri gak papa kok, ya."
"Atau elo biar di anter sama Arya?"
Ivi panik lagi. "Eeeh, gak, gak usah Kak. Beneran, gue bisa sendiri!" tolak Ivi cepat.
"Tapi, Vi..." Radit cemas terhadap Ivi.
"Udah, kalian santai aja di sini, ya. Gue gak apa-apa kok, gue bisa sendiri. Gue kan udah gede, jadi kalian gak perlu khawatir. Ya udah, kalo gitu gue pulang dulu." kata Ivi lalu buru-buru pergi dari sana sebelum Arya kembali.
Tepat setelah Ivi pergi dari restoran, Arya kembali dan apa yang di lakukan Arya sama dengan apa yang Ivi lakukan.
"Kak, terimakasih untuk makan malamnya, tapi maaf, gue harus pulang sekarang." kata Arya. Tentu saja membuat yang lain terheran.
"Elo kenapa? Sakit juga?" tanya Eric.
__ADS_1
"Bukan, cuma tadi temen gue telepon katanya ada perlu sama gue. Makanya sekarang gue mau pamit."
"Ooh."
"Sori banget ya gue tinggal." Arya meminta maaf kepada yang lain. "Kak, elo pulang sendiri ya. Kak Rina, gue pulang dulu ya, Kak Eric juga terimakasih untuk semuanya."
"Hati-hati, Ar." imbuh Rina.
Arya mengangguk, lalu Arya segera pergi meninggalkan restoran tersebut. Sedangkan yang masih di dalam hanya saling berpandangan bingung.
"Tadi Ivi, sekarang Arya. Ada apa sih dengan mereka?" ucap Radit.
"Anak muda, Dit. Kayak elo gak pernah ngalamin aja." kata Eric.
Ivi sengaja agak menjauh dari restoran, saat ini ia sedang menunggu taksi, tapi sudah dari tadi kenapa belum ada yang lewat sama sekali. Ivi mulai tidak sabar. Lalu pandangannya terhenti ketika melihat Arya tengah berjalan ke arahnya. Sontak hal itu membuat Ivi panik, tanpa berpikir panjang ia segera kabur.
"Ivi!"
Ivi tidak ingin bertemu lagi dengan Arya, apalagi menatapnya. Beruntung karena sejak tadi ia menunggu taksi tak kunjung datang, sekarang mungkin saatnya untuk lari. Maka tidak mau menunggu lagi, Ivi berusaha lari dari Arya. Untung Ivi tidak membawa barang berat seperti tas, jadi ini memudahkan Ivi untuk berlari.
Di belakangnya Arya terus mengejar Ivi, ia tidak ingin kehilangan jejaknya. Saat Ivi semakin mempercepat lajunya, Arya pun tidak mau kalah cepat, ia terus berusaha mengikuti Ivi di belakangnya.
"Aman." ucapnya. Sekarang nafasnya mulai tenang.
Ivi membenarkan posisi berpijaknya lalu membersihkan celana yang kotor akibat duduk di tanah. Ivi kembali keluar dari gang sempit tersebut dan berniat ingin mencari taksi atau ojek supaya ia segera sampai rumah. Tapi, belum juga sempat mendapatkan kesempatan itu, entah datang dari mana tiba-tiba muncul dua orang setengah konslet menghadang Ivi. Ia pun menghentikan langkahnya.
"Eeeh... ada cewek di tempat sepi seperti ini... ugh, sendirian lagi... lagi ngapain Neng..." katanya dengan suara seraknya.
Hiieeee... Ivi bergidik ngeri.
"Kok sendirian aja, pacarnya mana...?" tanya yang satunya lagi.
"Pacar gue udah mati! Minggir, gue mau lewat!" balas Ivi ketus.
"Waaaah... kasian amat Neng. Kalo gitu Abang temenin main ya... Neng mau gak di ajak main sama Abang...?"
Benar-benar mabuk nih orang. Bicara aja gak bener gitu, mana berdiri aja kayaknya susah amat! Batin Ivi.
"Minggir lo! Jangan macem-macem ya sama gue. Gue hajar juga lo berdua!" ancam Ivi.
__ADS_1
"Jangan galak-galak dong Neng, hehehe..."
Sumpah ya, nih orang lama-lama bikin Ivi senep liat mukanya. Mana ketawanya gitu amat! Jijik!
"Sini... sama Abang aja..." ucap salah satu orang lalu berniat meraih tangan Ivi.
Perlahan mereka mendekati Ivi, dan sekarang Ivi mulai panik. Masa mau di lawan? Kalau tidak, bagaimana? Ivi bingung. Mau bagaimanapun Ivi adalah seorang anak perempuan, tidak mungkin menang melawan dua orang yang sedang teler. Mending orang itu sadar, tapi ini...
"Heh! Mau apa kalian! Jangan macem-macem ya!" Ivi mundur beberapa langkah. Sedangkan kedua orang itu terus mendekati Ivi.
"Ayo sini... main sama Abang, dari pada sendiri... kan gak seru...!
"Tolong!!" Ivi berteriak meminta tolong. Sekarang Ivi benar-benar mulai takut.
"Percuma teriak, gak bakalan ada yang denger... ini kan gang sepi... tidak ada yang lewat sini, hihihihi...!"
Ivi melihat sekelilingnya, memang benar, tidak akan ada yang datang meski Ivi teriak sekeras apapun. Kakinya mulai gemetar karena takut.
"Jangan mendekat!!" pekik Ivi takut.
Saat salah satu dari mereka mencoba menggapai tangan Ivi, dengan cepat Ivi bergerak dan berhasil meninju perut orang tadi. Teman yang satunya terkejut melihat temannya itu jatuh tersungkur. Tidak terima jika temannya itu di pukul oleh Ivi maka ia pun membalas pukulan Ivi. Tapi Ivi cepat tanggap, dalam gerakan cepat Ivi berhasil membuat satu orang tadi jatuh juga.
"Kurang ajar nih cewek! Habisi aja sekarang!" kedua orang itu beringasan mendapat pukulan dari Ivi.
Mereka hendak menyerang Ivi secara bersamaan, tapi lagi-lagi entah dari mana di belakang kedua preman itu datang seseorang dan tiba-tiba memukul punggung mereka menggunakan kayu besar.
Satu orang tumbang akibat pukulan keras tadi. Kini tinggal seorang lagi. Di tatapnya preman itu dengan garang.
"Elo mau juga, hah?!"
"Gak Bang, ampun Bang...!" kata si preman takut dengan ancaman kayu yang di pegangnya.
"Pergi sana! Beraninya sama cewek!"
Lalu tanpa perlawanan dari mereka, para preman itupun lari tunggang langgang, takut kena pukul kayu.
"Elo gak apa-apa?" tanyanya pada Ivi.
"Arya?"
__ADS_1