This Is Me

This Is Me
Part 4: An Accident


__ADS_3

Akhirnya Yoongi sendirian lagi.


Jomblo yang malang, ckck.


******


Yoongi terduduk sendirian di bangku besi yang dingin ini, sambil sibuk menghabiskan sisa minuman yang dipesan Hoseok sebelumnya.


Ya, Yoongi sama sekali belum memesan apa-apa karena kedua pasangan itu bertengkar karenanya, dan disaat keadaan mulai membaik, dirinya malah ditinggalkan begitu saja.


"Untung saja kuda itu membayar minumannya sebelum menghilang.." Yoongi bergumam seraya menopang pipi kirinya menggunakan tangannya sendiri, menatap jalanan Hongdae yang selalu ramai.


Sebenarnya dia merasa terusik, sangat terusik. Bagaimana tidak, 10 menit sejak peninggalan Hoseok, pasangan yang duduk tepat dibelakangnya memarahi salah satu karyawan cafe habis-habisan.


Dan ia tak ingin ikut campur, toh prioritasnya sekarang hanya menghabiskan minumannya lalu pulang ke rumah dengan tenang.


Namun tak dapat dipungkiri Yoongi secara diam-diam mendengarkan semuanya dengan seksama. Mulai dari awal, sampai sekarang.


"Dasar perempuan tak berguna!"


"Dimana bos-mu, aku akan bicara padanya!!"


"Kenapa kau selalu memakai sarung tangan itu, huh? Kau pikir kami yang memesan disini mempunyai penyakit?!"


"Ah, geugae, saya memakainya karena suatu alasan yang tak dapat dijelaskan.."


"Aku tak akan mempermasalahkan sarung tangan sialan itu jika kau tidak menumpahkan minumanku!!"


"Jwisonghamnida.." hanya itu yang bisa keluar dari mulut si karyawan, sehingga Yoongi meringis pelan.


Dulu, saat ia masih SMA, Yoongi pernah bekerja paruh waktu di cafe. Awalnya baik-baik saja, tapi karena dirinya yang sensitif itu tanpa sengaja mengamuk dan membogem si pembeli begitu saja.


Jangan salahkan dirinya, salahkan pembelinya yang mengatainya 'tanpa ekspresi'. Padahal setiap hari kedua pipinya sampai kram karena terus memasang wajah tersenyum yang sudah seperti Minmie itu.


Alhasil, Yoongi mengamuk karena tak tahan lagi. Tidak tahan dengan semua yang berbau 'pekerjaan di cafe' itu, karena mental dan kepribadiannya berbanding jauh dengan pekerjaannya.


Makanya, jangan paksa seorang Min Yoongi untuk tersenyum. Apalagi tersenyum lebar, bisa-bisa kau akan bernasib sama dengan pelanggan itu.


Kembali ke masa sekarang, pelanggan itu masih saja membentak habis-habisan si karyawan wanita yang bernasib malang itu.


"Minta maaflah dengan benar, cepat berlutut dan memohon pada wanitaku!"


Ah, Yoongi yakin karyawan itu akan berlutut begitu saja, meskipun itu sangat memalukan.


Jangan, kau tidak perlu berlutut padanya ataupun kekasihnya. Batin Yoongi menggema.


"Jwisonghamnida!! Saya mohon maaf atas kelalaian saya, karena kecerobohan saya tak sengaja minuman anda--"


Grep


Gadis yang keras kepala.


"Berhentilah memohon maaf, dasar bodoh." hm, bukan Yoongi namanya kalau menyuruh sesuatu tanpa mengumpat. Entah itu pada orang asing maupun pada Hoseok.


Tentu saja Yoongi tak tahan lagi dengan drama di belakangnya itu, akhirnya ia memutuskan untuk turun tangan langsung dengan menarik gadis itu untuk berdiri kembali.


"Tuan, maaf saya ikut campur. Tapi tidak bisakah anda untuk tidak membesar-besarkan masalah sepele ini? Gadis ini sudah meminta maaf, dan dia punya alasan tersendiri dengan sarung tangan itu," Yoongi melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jadi saya rasa untuk berlutut di depan pacar anda, itu sangat berlebihan. Apa dengan gadis ini berlutut di depannya, kopi yang terlanjur menyatu dengan tanah itu akan kembali seperti semula?"


Laki-laki yang membentak si karyawan hanya bisa terdiam, ia menatap bingung ke arah Yoongi.


"Ada apa lagi ini.. Astaga, Lee Yena! Jangan bilang kau membuat masalah lagi??" kali ini datanglah sang pemilik cafe, menggantikan posisi karyawan itu untuk meminta maaf.


"Maafkan karyawan saya, dia memanglah sangat aneh.. Katakanlah apa yang bisa kami lakukan untuk mengganti rugi minuman anda..?"


Yoongi hanya menatap malas ke arah pria tua itu yang sedang membungkuk berulang kali demi sebuah kata 'baiklah, saya maafkan'.


"Hei, kau pria itu, bukan?"


Yoongi membalikkan tubuhnya seketika, apa karyawan itu berbicara padanya?


"Eoh?" bagaikan orang bodoh yang terperangah, Yoongi menghadapakan tubuhnya sepenuhnya ke arah gadis karyawan itu.


Tidak salah lagi, Yoongi sangat mengingat wajah tanpa ekspresi itu. Gadis itu adalah orang yang selama ini dicarinya! Yang selalu menghantui pikirannya, yang selalu membuat tidurnya tak nyenyak!


"Gadis antiseptik!" seru Yoongi tanpa sadar.


Gadis itu mengangkat sebelah alisnya, "gadis...antiseptik?" ulangnya dengan datar.


Spontan Yoongi memegang kedua bahu gadis itu dengan antusias, "akhirnya aku menemukanmu! Ternyata kau sedang bekerja paruh waktu disini??" kini Yoongi semakin mengguncang tubuh mungil gadis itu sambil menyunggingkan senyumnya.


Dengan segala rasa kesal yang masih membekas, gadis itu menepis tangan Yoongi begitu saja.


"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor itu." ujarnya dengan datar, alhasil Yoongi menjadi bingung.


"Kau pikir aku--"


"Hei gadis bodoh!" teriakan itu sukses membuat Yoongi kembali berhadapan dengan pelanggan pria yang sebelumnya.


"Aku tidak mau tahu, pecat gadis itu karena aku tak ingin lagi datang kemari jika gadis pembawa sial ini masih bekerja disini!" sontak Yoongi tak percaya akan kata-kata itu barusan, memangnya siapa pelanggan itu?


Seolah bisa membaca pikiran Yoongi, gadis itu berbisik tepat di sampingnya dengan sepelan mungkin.


"Dia itu pelanggan VIP, tapi aku tidak mengerti kenapa bisa pelanggan VIP duduk disini, padahal sudah ada tempat khusus VIP di lantai atas." jelasnya panjang lebar.


Yoongi mengangguk samar, pantas saja si pemilik cafe tunduk begitu saja bagaikan budak yang diperintahkan Tuan-nya.


"Lee Yena, kau dipe--"


"Anda tak perlu mengatakan itu, karena sekarang dia tak akan bekerja lagi di tempat menjijikkan ini. Bukankah begitu?" potong Yoongi begitu saja, membuat gadis bernama Yena itu menatap Yoongi tak percaya.


"A-aku.." Yena terbata-bata, kehabisan kata.


Bahkan dirinya tak bisa menolak saat Yoongi melepaskan celemek yang dipakainya lalu menariknya untuk menjauh dari TKP.


Setelah cukup jauh berjalan, Yena menghentak genggaman Yoongi hingga terlepas dengan kasar.


"Apa-apaan kau ini? Apa yang baru saja kau lakukan? Padahal aku masih bisa berlutut di depannya agar masih diampuni! Tapi kau merusak semuanya--!"


Yoongi menatap tajam si gadis, "setelah kau diperlakukan tak pantas seperti itu, kau akan menjilat sepatunya agar dapat bekerja disana? Apa kau sudah gila--"


"Ya! Aku sudah gila, maka dari itu biarkan aku kembali!" bentak Yena sambil berkaca-kaca.


"Kenapa? Kenapa kau yang selalu membuat pekerjaanku hilang.." kedua tangan kurus yang masih terbalut sarung tangan itu mencengkram kerah baju Yoongi, mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya itu secara berulang kali.


Tubuh Yena mulai bergetar, "memangnya apa dosaku padamu, padahal kita tidak saling mengenal satu sama lain.."


Yoongi membasahi bibirnya yang kering. Dirinya tak tahu ingin berkata apa.


Tapi sekali lagi, ia merasa bersalah.


"Maafkan aku.."


"Tidak, kau tak perlu meminta maaf, karena ini semua salahku. Ya, semua ini karena aku yang terlalu mustahil untuk menyentuh seseorang maupun sesuatu."

__ADS_1


"Maksudmu?" Yoongi sama sekali tak mengerti, kemudian gadis itu melepaskan sarung tangan yang selama ini melekat di kedua tangannya.


"Tanpa ini, aku tak bisa menyentuh sesuatu dengan mudah. Karena kupikir, semua yang ada di dunia ini sangatlah kotor" jelasnya, menatap Yoongi dengan serius.


Yoongi mengangguk sekilas, tapi kenapa baru sekarang ia melihat sarung tangan itu? Sebelumnya, ia tak pernah melihat Yena memakai sarung tangan itu saat mereka pertama kali bertemu.


Perlahan Yoongi mulai mengerti, "kau punya kelainan? Terlalu bersih?" gadis itu mengangguk sebagai jawaban.


"Aku mengidap OCD dan itu makin parah, aku sangat takut jika seseorang menyentuhku dan kuman yang berada di tangan mereka akan menempel padaku, lalu menggerogoti tubuhku hingga membuatku sakit!"


Oke, lewat penjelasan gadis itu, Yoongi semakin percaya bahwa Yena memiliki kelainan yang unik. Atau mungkin aneh.


"Oleh karena itu, kumohon jangan muncul lagi dihadapanku atau di tengah-tengah hidupku. Kau hanya akan merusaknya"


Yoongi mengernyit, memangnya siapa juga yang ingin masuk di kehidupan gadis aneh itu?


Yena berjalan melewatinya, hendak pergi begitu saja.


"Tunggu dulu, aku ingin mengatakan sesuatu." gumam Yoongi ikut memerhatikan gadis itu yang mulai berdiri di seberang jalan.


Seolah tak mendengar apapun, Yena justru semakin mempercepat langkahnya. Membuat Yoongi ikut mengejarnya, menyusulnya yang mulai menyeberangi jalan.


"Yak, michinnyeon! Aku ingin bicara! Lagipula siapa juga yang ingin masuk ke dalam hidupmu?!!" langkah Yoongi semakin cepat seiring Yena yang hanya mengabaikannya.


"Aku tak akan bertindak seperti ini jika kau masih saja menjauhiku!"


Yena membalikkan tubuhnya dengan kesal, "berhenti mengikutiku--!!" tapi yang didapatkan Yena adalah wajah panik Yoongi yang berlari ke arahnya.


Tepat saat itu, Yena baru menyadari sebuah mobil truk melaju ke arahnya.  Suara klakson beserta pekikan dari Yoongi mengakhiri semuanya.


Din, din!!


"AWAS!!"


Yoongi mendorongnya  hingga membuatnya terpental sejauh satu meter, disusul suara tabrakan yang cukup membuat semua orang berteriak ketakutan.


Crraaatt!


DEG.


"Ada yang tertabrak! Cepat panggil ambulans!!"


DEG..


"Rekam, cepat rekam korbannya! Ini akan menjadi viral!"


"Siapapun foto plat nomor truk itu, supirnya hendak melarikan diri!"


"Darahnya sangat banyak, oh ya ampun!!"


"Apa yang sudah kulakukan.." Yena terduduk di seberang jalan yang satunya, ia menekuk kedua lututnya sambil menatap nanar Yoongi yang terbaring di atas genangan darahnya sendiri.


Ia beralih menatap celananya yang terkena cipratan darah segar milik Yoongi, seluruh tubuhnya gemetar dilanda ketakutan yang luar biasa.


"Aku sudah menelepon ambulans, kuharap mereka cepat datang" ujar salah satu dari kerumunan yang ternyata adalah seorang pria, orang itu menenangkan Yena dengan memberikan sapu tangannya untuk membersihkan noda darah di tangannya.


"Bersihkan juga wajahmu, dan tolong tetap tenang sampai ambulans datang, nona. Kekasih anda akan baik-baik saja."


Dan, ternyata darah itu juga mengenai wajahnya.


Yena berjalan menjauhi pria itu setelah mengambil sapu tangannya, tanpa sadar ia kini jatuh berlutut di samping tubuh Yoongi yang tengah sekarat itu.


"Kumohon jangan mati, kumohon.." sambil terisak Yena menggoyang tubuh Yoongi secara perlahan.


******


Dan akhirnya, Yoongi berakhir di rumah sakit lagi. Kali ini dengan robekan di bagian pelipis hingga ke bahunya.


Dirinya baru saja siuman semenit yang lalu, tepat telinganya mendengar suara isakan di sebelahnya. Kepalanya yang diperban itu berdenyut sakit, lukanya yang baru dijahit itu masih sangat terasa.


Yoongi teringat kejadian gila yang terjadi padanya, karena aksi menyelamatkan gadis antiseptik itu dirinya berakhir kembali di tempat yang mengerikan seperti ini.


"Kenapa?"


Yoongi mengernyit, suara itu terdengar familiar. Dirinya kenal betul suara wanita itu, ia sangat yakin pemilik dari suara itu adalah kekasihnya, atau mantan kekasih lebih tepatnya.


"Kenapa kau yang berakhir disini, kenapa kau yang semakin tersiksa karenaku?!" Yoongi meraba kepalanya yang semakin berputar, "apa..maksudmu? Aku dimana..?" akhirnya setelah berulang kali menggelengkan kepalanya, Yoongi berhasil melihat dengan jelas.


Ternyata benar, bahwa yang didepannya sekarang adalah Kim Seara mantan kekasihnya. Yoongi sangat terkejut akan hal itu, ditambah lagi Seara yang menangis membuatnya tambah bingung.


Sebuah pukulan kecil yang sama sekali tak berbobot itu mendarat di dada bidang Yoongi. "Kau jahat, kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa Yoongi, kenapa??" Seara menghapus air matanya dengan kasar, meskipun itu sia-sia saja karena liquid bening itu semakin mengalir deras.


Tangan Yoongi terangkat dengan sendirinya, menyeka kedua pipi itu menggunakan kedua tangannya. Si pria menatap sendu sang pujaan hati yang menunduk dan terus menangis, melihat itu hati Yoongi teriris semakin dalam.


"Jangan menangis, kenapa wanita cantik ini menangis, hm? Kumohon jangan buang air matamu untukku, jika kau menangis maka aku--aku akan--"


Hening sejenak, Yoongi menelan ludah sebelum kembali melanjutkan. "Aku akan merasa bersalah seumur hidupku" Seara mengangkat kepalanya, wanita cantik itu menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Untuk apa kau merasa bersalah? Kau pria yang sangat berarti di hidupku, jadi wajar saja jika aku menangis karena--"


Yoongi menjauhkan tangannya dari wajah Seara, "tidak. Aku tidak pantas untuk itu, kau harus pergi, Seara. Seharusnya kau tidak berada disini, bagaimana jika orangtuamu mencarimu dan menemukanmu bersamaku?"


Seara kembali menggeleng, "aku tidak mau pergi, ada yang harus kujelaskan--" ucapan Seara kembali terhenti saat mendengar bentakan Yoongi.


"Pergi sekarang juga!! Pergilah Seara, apa lagi yang ingin kau jelaskan? Semuanya sudah jelas di mataku, bagiku kau hanya seorang wanita yang tega meninggalkanku karena seorang pria yang jauh lebih baik dariku. Lalu apa yang ingin kau luruskan?!"


Seara tertegun menatap Yoongi yang berkaca-kaca, itu bukanlah Yoongi yang dikenalnya. Pertama kali Yoongi membentaknya, rasanya sangat sakit, namun ia merasa pantas mendapatkan itu.


Yoongi menderita karenanya.


Seolah tersadar Yoongi mengubah ekspresinya yang sebelumnya dipenuhi emosi menjadi netral kembali, "maafkan aku, seharusnya aku tidak membentakmu. Ini semua salahku." Seara membuka mulutnya lalu tertutup kembali saat Yoongi mengangguk pelan sambil tersenyum miris.


"Iya.. Semuanya memang salahku, seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, seharusnya aku tidak membiarkan rasa egois ini menguasaiku sebelumnya, dan seharusnya aku sadar dari awal!! Kalau aku hanyalah-- seorang anak yatim yang memiliki harapan menyedihkan, aku memiliki harapan untuk bisa menikahi gadis manisku yang kucintai."


Yoongi tertawa keras, namun terdengar menyakitkan di telinga Seara. Yoongi menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya sambil terus tertawa sumbang.


Pintu terbuka, Hoseok masuk dengan wajah sendu. "Yoongi.." panggil Hoseok dengan hati-hati, tak ada jawaban apapun, hanya tawa yang terhenti.


"Hei, kawan." Hoseok maju selangkah, tapi dicegah lebih dulu oleh Seara dengan tangannya.


"Yoongi-ahh," panggil Seara dengan suara yang serak.


"Min Yoongi lihatlah aku, kumohon dengarkan aku untuk yang terakhir kalinya.." Yoongi segera menoleh saat mendengar kata 'terakhir' yang diucapkan Seara.


Wanita itu menatap Yoongi cukup lama, kemudian tersenyum lembut. "Aku mencintaimu, sangat. Tapi.. Maafkan aku, karena sudah meninggalkanmu sendirian selama beberapa hari ini tanpa alasan yang pasti." Yoongi menekan dadanya yang sakit, rasa mual menjalari tubuhnya.


"Satu yang harus kau ketahui, aku selalu menyayangimu, perasaanku tulus padamu. Tapi orangtuaku juga penting, aku harus menuruti mereka karena mereka yang membesarkanku.. Maafkan aku karena tidak memberitahumu soal pernikahanku, aku sangat menyesalinya.." tak dapat ditahan lagi, air mata itu kembali mengalir membasahi pipi merona Seara.


"Berjanjilah padaku, kau harus berjanji padaku." pandangan Yoongi menggelap, lagi-lagi ia merasakan pusing yang hebat.


"Berjanji padaku bahwa kau akan bahagia, kau akan mencari seseorang yang lebih menyayangimu daripada diriku, berjanjilah kau akan menjadi orang yang paling bahagia setelah semua yang kau alami."


Seara mendekat ke wajah si pria, kemudian berbisik pelan. "Kau tidak salah, and you deserve to be happy."


Setelah itu Yoongi kembali jatuh pingsan, tapi untungnya ia masih mendengar dan akan selalu mengingat tiap kalimat itu.

__ADS_1


*******


Yoongi kembali terlelap setelah siuman kemarin, dan sampai sekarang dirinya masih belum bangun juga. Sedangkan Seara?Hoseok tak tahu kemana wanita itu pergi setelah Yoongi tak sadarkan diri.


Hoseok menatap iba pada wajah pucat yang terbaring lemah di depannya sekarang, sebagai seorang sahabat, dirinya tak kuat melihat Yoongi yang sangat lemah seperti sekarang.


"Yoongi-ahh, kau harus cepat pulih. Melihatmu yang lemah seperti ini, seperti bukan dirimu saja.." gumam Hoseok sambil menyunggingkan senyum kecil.


Hoseok tidak berdua saja bersama Yoongi, disampingnya terdapat Yena yang ikut menatap pria pucat itu dengan perasaan bersalah.


Jika bertanya kenapa bisa Hoseok tahu akan kecelakaan ini, Yena pun tak tahu karena dirinya sama sekali tak mengenal satupun yang dekat dengan Yoongi.


Saat ia mengantar Yoongi ke rumah sakit, tahu-tahu Hoseok datang dengan wajah pucatnya sambil bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Hari ketiga Yena di rumah sakit, tak sedikitpun niatnya untuk meninggalkan rumah sakit itu. Rasa bersalahnya yang membuatnya memilih untuk tetap menetap hingga keadaan Yoongi benar-benar kembali seperti sebelumnya.


Hoseok sudah menyuruhnya untuk pulang, tapi gadis itu keras kepala dan tidak ingin pulang, akhirnya Hoseok membiarkannya setelah mendengar cerita dari Yena, tentang pertemuan mereka hingga kecelakaan yang menimpa Yoongi saat menyelamatkannya.


"Cepatlah bangun, dasar bodoh. Kau pikir menunggumu sadar tidak membuang waktuku?" cetus Hoseok, Yena hanya terkekeh geli menanggapi.


"Aku pergi ke luar dulu sebentar, kutinggal dulu kau disini apa tidak apa-apa?" Yena menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, dan Hoseok melenggang pergi dari ruang Yoongi dengan ponselnya yang berdering sehingga mengharuskannya untuk segera diangkat.


Kini tinggal mereka berdua sendiri. Hawa dingin menyelimuti Yena, cukup canggung meskipun pria di depannya tengah menutup matanya dengan damai.


"Namamu Min Yoongi? Temanmu Jung Hoseok yang memberitahu padaku.." entah kenapa, Yena mengajak bicara Yoongi seolah-olah pria itu tengah sadar.


"Maafkan aku karena membuatmu seperti ini, semuanya salahku yang tak ingin mendengarkan apapun darimu. Harusnya aku tidak lari dan mendengarkan permintaan maaf-mu.." lirihnya melanjutkan.


"Tapi rasa amarah menguasaiku waktu itu, karena aku baru saja kehilangan pekerjaanku lagi. Aku menyalahkanmu, haha, padahal aku sudah tahu semuanya karena kecerobohanku." Yena membasahi kedua bibirnya sebelum melanjutkan.


Dia melirik tangannya yang tiga hari lalu digunakannya untuk membantu petugas mengangkat tubuh Yoongi ke dalam mobil ambulans, ia masih mengingat bagaimana darah itu mengotori seluruh pakaiannya, tapi itu sama sekali tak dipikirkannya.


Yang ada di dalam pikirannya, hanyalah 'dia harus selamat'.


Bahkan Yena melupakan OCD-nya, padahal ia akan berpikir puluhan kali untuk menyentuh seseorang. Dan jika setelah menyentuh dirinya harus membersihkan bekas orang itu menggunakan hand sanitizer yang selalu dibawanya.


Tapi tidak saat itu, semuanya terjadi dengan begitu cepat.


"Maafkan aku, dan juga, terima kasih telah menyelamatkanku"


"Sama-sama,"


"AAAHHHHH!!"


Teriakan dari Yena sukses membuat pria yang baru saja siuman itu menutup kedua telinganya dengan rapat, "kenapa kau berteriak begitu saja? Kau hampir mengoyak gendang telingaku!" ketusnya melirik Yena yang terpaku di tempatnya.


"Se-sejak kapan kau sadar?" gumam Yena terbata-bata dengan suara bergetar, untungnya masih bisa di dengar Yoongi cukup jelas.


"Baru saja, beberapa menit yang lalu. Aku terbangun dan hendak membuka mataku, tapi saat mendengarmu yang berbicara aku kembali berpura-pura tidur." jelas Yoongi sambil menyengir tanpa dosa.


Yena kembali ke mode dinginnya, ia memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Geurigo, aku juga minta maaf." ujar Yoongi tiba-tiba.


"Buat apa kau meminta--"


"Kehadiranku tak pernah kau inginkan, tapi aku tak pernah paham dan malah membuatmu selalu tertimpa sial." Yoongi bangkit dari posisinya, lalu duduk sambil menyenderkan kepalanya ke dinding


Yena hanya menghela napas, tangannya terangkat untuk menepuk pundak Yoongi, tapi diurungkannya kemudian bergidik sesaat. Yoongi yang sedari tadi memerhatikan menjadi tersinggung.


"Apa karena tak sadar selama beberapa hari, tampangku sangat luar biasa hingga kau tak berani menyentuhku?" sarkas Yoongi, dibalas gelengan kuat si gadis.


"Bukan begitu, hanya saja--bukankah aku sudah memberitahumu?" kali ini Yena yang kesal.


"Oh, aku lupa." ucap Yoongi cengengesan.


"Huft, kupikir kau hilang ingatan juga. Ah, soal hilang ingatan, apa kau ingat wanita cantik yang menjengukmu kemarin?" Yena berusaha mengalihkan topik, tapi ia tak tahu topik itu membuat senyumnya memudar seketika.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Yena basa-basi. Yoongi tak kunjung menjawab, pria itu hanya menatap kaki kirinya yang terkilir dengan tatapan kosong.


"Ah, lupakan saja--"


"Aku tidak mengenalnya. Aku juga tak pernah melihatnya sebelumnya." potong Yoongi tanpa menatap sang lawan bicara.


Yena mengangguk sekali, jelas sekali Yoongi sedang berbohong dan ia mengerti Yoongi tak ingin membahas hal itu.


"Baiklah, sebaiknya aku memanggil Hoseok diluar, dia belum kembali saat menerima telepon" pamit Yena kemudian keluar dari ruangan Yoongi tanpa menunggu jawabannya.


******


Hoseok yang terkejut mendengar Yena yang memberitahunya jika Yoongi telah sadar, langsung memanggil perawat dan dokter untuk memeriksa keadaan manusia pucat itu.


"Pasien sudah cukup pulih sekarang, tetapi ia belum diperkenankan untuk pulang saat ini dikarenakan luka di kepalanya yang masih belum sembuh total." tutur dokter yang memeriksa Yoongi pada Hoseok.


Yoongi menatap Hoseok dengan wajah memelas, "aku ingin pulang sekarang." ucapan itu akhirnya mengundang kekesalan Hoseok.


"Kau ini tuli? Dokter sudah memberitahukan kalau kau belum boleh pulang, jadi kau harus tetap disini!" cerocos Hoseok sambil berkacak pinggang.


Lagi-lagi Yoongi menggeleng lemah, bahkan gelengan itu membuatnya merasakan pusing.


"Aku tidak ingin berlama disini, kau tahu aku sangat membenci tempat ini.."


Yoongi dengan keras kepalanya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu serentak menggeleng kehabisan kata.


"Tuan bisa pulang besok, tapi kaki kiri anda masih tak bisa digerakkan dan harus memakai kursi roda untuk beberapa minggu ini." jelas Dokter Kim Seokjin, selaku penanggung jawab atas Yoongi yang adalah pasiennya.


Dokter Kim juga yang merawat Yoongi saat mahg-nya kambuh saat itu.(Eps 1)


"Ck, sial." maki Yoongi entah untuk siapa.


Sekali lagi, semua kepala terkecuali si pasien menggeleng untuk kedua kalinya.


"Aku akan pulang besok, yang akan membayar kursi roda adalah Hoseok"


Lelaki yang disebut namanya mendelik tak percaya, "aku? Naega wae?!" teriaknya tak terima, sedangkan Yoongi hanya mengedikkan bahunya.


"Kau 'kan baby sitter pribadiku" sahut Yoongi tak tahu diri.


"Pfftt--" Yena menahan tawanya dengan susah payah.


"Dasar anak tak tahu terima kasih, masih untung kau saat ini dalam kondisi lemah, manusia pucat!" maki Hoseok dengan wajahnya yang memerah akibat emosinya semakin memuncak.


Siapa juga yang tak kesal dengan pria bernama Min Yoongi itu? Wajah sok tampannya-yang sialnya memanglah tampan dengan mulut yang selalu melontarkan kata-kata pedas seenak jidatnya.


Tapi dari semua itu, Hoseok menyayanginya. Sungguh.


******


Author's notes:


Hai guys, jumpa lagi dengan yunkie:*


Alias kembarannya Jungkook, hehe.


Jangan bully saya:"

__ADS_1


__ADS_2