This Is Me

This Is Me
eps 45


__ADS_3

Entah apa yang ingin Eric katakan. Ia terlalu senang ketika melihat Rina terbangun. Bibirnya tersenyum ketika melihat Rina, dan tangannya masih di genggam erat. Sebutir air bening terjatuh.


"Rina, elo bisa denger gue?" tanya Eric lirih.


Tampak Rina berusaha membuka mata dan menyesuaikan sekitarnya. Mulutnya sulit untuk bersuara.


"Er ... Eric ...." panggilnya dengan suara parau.


"Rin, elo enggak apa-apa? Ada yang sakit enggak? Elo bisa denger gue 'kan?" tanyanya cemas. Terlihat jelas kalau Eric begitu senang mendapati kekasihnya sudah siuman. Tangannya membelai rambut Rina pelan.


Ivi yang tadi masih tidur pun seperti mendengar suara Eric. Lantas, ia membuka matanya dan bangun untuk duduk. Ia mengerjapkan mata perlahan, lalu melihat sekeliling. Matanya terasa sangat berat.


"Ivi, Rina udah bangun! Rina udah sadar!" ucap Eric begitu menyadari Ivi sudah bangun.


Ivi yang mendengarnya pun terkejut, "He? Benarkah? Kak Rina udah siuman?" kini ia beranjak dan menghampiri Rina. Benar, Ivi melihat Rina sudah membuka mata.


"Elo sekarang panggil dokter ya," perintahnya pada Ivi. Dan, tidak mau membuang waktu lagi, ia pun segera keluar dari ruangan dan mencari dokter.


Tidak lama setelah itu seorang dokter datang bersama dengan satu orang perawat. Kini dokter tersebut langsung memeriksa kondisi Rina. Berselang kemudian sang dokter pun tersenyum sembari mengangguk. Seperti tahu hanya dengan melihat wajah sang dokter, Eric dan Ivi pun ikut tersenyum. Mereka terharu dan merasa begitu lega. Mereka paham akan jawaban dari ekspresi sang dokter. Lantas, Eric pun meraih tangan dokter tersebut sembari mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih banyak Dokter, karena sudah menyelamatkan Rina. Terimakasih ... terimakasih banyak, Dok!" tidak hentinya Eric mengucapkan terimakasih. Senyum di bibirnya terus merekah.


"Saya hanya melakukan tugas sebagai Dokter. Selebihnya itu adalah mukjizat dari Tuhan," ucap sang dokter tersenyum, lalu melanjutkan, "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Dan, untuk pasien usahakan jangan terlalu stres atau banyak pikiran. Biarkan tubuhnya pulih lebih dulu. Perlahan pasien akan segera pulih seperti sedia kala."


"Baik, Dok. Akan saya ingat pesan Dokter. Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih, Dok."


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga cepat sembuh ya untuk Rina." setelah berkata demikian, dokter pun meninggalkan mereka bertiga bersama dengan suster tadi.


Sepergian dokter, Eric merosot ke lantai, kakinya terasa lemas sejak tadi. Kini ia benar-benar sudah menyerah. Namun, bukan menyerah akan keadaan, hanya saja sejak tadi kakinya benar-benar lemas. Karena terlalu tegang. Eric menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Di usap wajahnya pelan.

__ADS_1


"Kak, elo kenapa dah?" Ivi bertaut alis.


"Ah, gue cuma lega aja denger penjelasan Dokter tadi. Gue bener-bener seneng, sampai kaki gue terasa lemas," ucapnya lalu tertawa kecil.


Lalu, Eric berdiri dan mendekati Rina lagi. Di tatapnya wajah Rina yang masih sayu dan sedikit pucat. Namun, saat ini sudah jauh lebih baik.


"Rin, gimana keadaan elo? Ada yang masih tidak enak enggak? Apa yang elo rasain?"


Rina mencoba untuk berbicara, namun sedikit sulit untuknya.


"Hey, Kak Rina. Gimana kabar Kakak?" tanya Ivi.


Rina tersenyum meskipun sedikit, ia mencoba untuk bangun. Tapi, terlalu susah untuknya bergerak. Eric yang melihatnya pun segera membantu Rina.


"Elo jangan banyak gerak dulu. Kata Dokter, elo kudu menstabilkan kondisi badan lo."


"Gue enggak apa-apa kok ... gue bisa," ucapnya lirih.


"Eric ... kalian yang bawa gue ke sini?" tanyanya lirih, "Kenapa?"


Eric sedikit kaget dengan pertanyaan Rina. "Kenapa? Elo tanya kenapa? Elo yang kenapa? Elo tau enggak, semalam elo itu hampir mati kalo elo enggak gue bawa ke sini!" sergah Eric yang mendadak emosi.


Rina terkesiap melihat sikap Eric.


Ivi melotot ke arah Eric, "Kak, jangan emosi gitu dong. Kak Rina tuh baru aja sadar."


"Enggak, Vi," Rina mulai menangis. "Gue emang pantas untuk di marahin Eric. Karena gue udah bertidak bodoh. Dan ... gue udah mengkhianati Eric. Gue pantas di perlakukan seperti ini, Eric pantas marah sama gue."


"Enggak Kak, itu enggak bener. Kak Rina salah, Kakak jangan terlalu banyak pikiran dulu kata Dokter."

__ADS_1


"Harusnya kalian enggak perlu bawa gue ke sini. Harusnya kalian biarin gue--"


"Ya, elo bener. Harusnya gue biarin elo mati tadi malam. Harusnya gue enggak perlu bawa elo ke Dokter segala, percuma gue nolongin orang yang otaknya tumpul kayak elo. Harusnya elo mati aja semalam. Tapi, gue yang akan terlihat bodoh kalo gue beneran ngebiarin elo mati," balas Eric kesal. Ia membuang muka ke arah lain setelah berkata demikian. Tidak peduli bagaimana tanggapan Rina padanya.


"Kak Eric, udah dong," Ivi geram dengan sikap Eric.


"Elo ini bodoh atau apa sih. Apa maksudnya elo mau coba bunuh diri? Elo pikir dengan elo bunuh diri, elo bisa menebus kesalahan elo? Elo pikir itu elo keren, bisa mati kayak gitu hah?" tuntutnya pada Rina. Eric sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Kak Eric! Stop! Jangan nambahin beban pikiran Kak Rina dong. Kak Eric tuh enggak mikirin keadaan Kak Rina ya? Apa kata Dokter tadi, kalo Kak Rina enggak boleh sampai stres dulu. Mending Kak Eric keluar aja deh, dari pada gue pukul lo di depan Kak Rina!" ancam Ivi kesal.


Lalu, tanpa berkata sepatah kata pun, Eric berlalu dari ruangan Rina. Ivi masih mendengus menatap pintu yang di lewati Eric.


"Kak, maafin Kak Eric, ya."


Rina menggeleng pelan, "Enggak, harusnya gue yang minta maaf. Gue emang pantas di benci oleh Kakak elo. Wajar kalo Eric marah sama gue, karena gue udah bertindak bodoh dan ... yeah, elo tau sendiri 'kan. Elo aja tau gimana gue di belakang Eric."


"Enggak, Kak. Kak Rina enggak salah. Kak Eric marah sama Kak Rina karena sebenernya Kak Eric itu bener-bener khawatir sama Kakak."


Rina tersenyum pahit, "Enggak mungkin Eric khawatir sama gue. Gue lebih berharap kalo Eric akan membenci gue."


"Bukan, Kak. Bukan itu yang ada di pikiran Kak Eric. Elo salah. Elo salah kalo elo ngira Kak Eric enggak peduli sama Kak Rina!" suara Ivi mulai meninggi.


"Sudahlah, Vi. Gue terima apa aja perlakuan Eric ke gue setelah ini. Karena, gue emang pantas mendapatkannya dan juga--"


"Kak Rina!" seru Ivi sambil menatap Rina tajam. "Udah gue bilang kalo elo itu salah menilai Kakak gue. Elo tau enggak, kalo semalem Kak Eric tuh yang bawa elo ke sini. Dia juga yang paling khawatir liat keadaan Kak Rina. Dia yang paling enggak tenang selama menunggu pemeriksaan. Kak Eric yang paling merasa bersalah. Dia yang merasa paling kehilangan. Kakak gue bener-bener enggak mau kehilangan elo, Kak. Sampai-sampai kebawa mimpi. Kak Eric bilang, kalo dia mimpiin Kak Rina ninggalin dia," jelasnya menggebu.


Rina terkejut mendengarnya. Ia menatap Ivi tidak percaya, "Apa?"


"Iya. Kak Eric bener-bener mencemaskan Kak Rina. Dan, dari tadi yang jagain Kak Rina Kakak gue kok. Sebenernya tadi ada Tante Retno dan Om Adi, tapi mereka di suruh pulang sama Kak Eric."

__ADS_1


"Kenapa ....?"


"Kenapa? Jelas aja kalo Kak Eric tuh sayang sama elo, Kak. Enggak ada alasan lain, percaya deh sama gue. Kak Eric tuh bener-bener enggak pengen kehilangan elo. Makanya Kak Eric emosi kayak tadi. Dia merasa, kalo dia enggak bisa jagain Kak Rina dengan baik," jelasnya lagi.


__ADS_2