This Is Me

This Is Me
eps 49


__ADS_3

Ivi terbelalak akan ucapan Arya, sontak Ivi langsung mundur beberapa langkah darinya.


"Eeeeeh! Apa!" Ivi kaget plus gelagapan.


Arya tertawa melihat tingkah Ivi. "Bercanda!"


Ya, dan akhirnya Arya di perbolehkan membantu Ivi piket kelas. Setelah Arya hampir membuat Ivi terkena serangan jantung, mereka membersihkan seluruh kelas dalam keheningan, tidak ada obrolan atau suara yang keluar dari mereka berdua. Ivi tidak tahu harus memulai obrolan dari mana, sementara Arya pun begitu, ia tidak mengatakan apapun. Arya terlalu fokus pada kegiatannya. Tapi, lama-kelamaan Ivi merasa jenuh juga kalau diam seperti ini terus. Akhirnya, ia pun membuka pembicaraan.


"Emm, Ar ... gimana luka lo?"


"Oh, ini. Udah enggak apa-apa kok."


"Sori ya, gara-gara nolongin gue, elo jadi celaka."


Arya menghentikan aktivitasnya, lalu menatap lurus pada Ivi. "Lagi-lagi itu. Udah deh ya enggak usah dibahas lagi."


"Tapi tetep aja, aaw—" tiba-tiba Ivi merasa kalau matanya seperti kemasukan sesuatu ketika menghapus papan tulis.


"Elo kenapa?" tanya Arya yang kini menghampiri Ivi.


"Kayaknya ada yang masuk ke mata gue deh ini," tukasnya sambil terus mengucek matanya.


"Sini, gue bantu tiupin." Arya maju mendekat untuk membantu Ivi yang masih sibuk menggosok matanya.


Ivi pun membiarkan Arya memeriksa matanya, hingga posisi mereka sangat dekat. Entah kenapa Ivi justru punya tanggapan aneh di sana, yaitu jantungnya yang mendadak berdetak lebih cepat.


Saat Arya tengah memeriksa Ivi dan wajah mereka berdekatan, tanpa mereka sadari di belakangnya di depan kelas, Alvin sudah berdiri memperhatikan mereka. Alvin tahu, mereka sangat dekat, tapi ia tidak tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan. Yang jelas Alvin pasti punya pikiran lain soal pemandangan yang ada di depannya itu. Untuk kedua kalinya Alvin pergi begitu saja setelah melihat kedekatan Ivi dan Arya. Seperti saat malam di mana Alvin mendatangi rumah Ivi untuk meminta maaf padanya. Namun, yang ia temui justru hal yang lain.


"Udah, masih sakit enggak?"


"Kayaknya udah enggak sih." Ivi mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan.


"Bener udah enggak sakit?"


Ivi mengangguk sambil memberikan tanda oke pada Arya. Lalu, mereka pun melanjutkan tugas piketnya. Setelah selesai dua siswa itu segera pulang.


Seperti yang sudah di sepakati. Mereka semua berkumpul di rumah Ivi. Saat semuanya sudah lengkap, mereka langsung berangkat ke rumah sakit. Mereka berlima pergi menggunakan mobil keluarga Ivi.

__ADS_1


Meski tujuan mereka untuk menjenguk Rina di rumah sakit, tetap saja ketika di perjalanan mereka tidak henti-hentinya menggoda Adel, sampai-sampai membuat Adel ngambek. Sementara yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah Adel yang kesal tapi juga malu-malu kucing. Selain itu Adel dan Erwin duduk bersebelahan, alhasil mereka menjadi target bulan-bulanan Ivi.


Tidak terasa perjalanan ke rumah sakit begitu cepat. Sesampainya di depan rumah sakit mereka semua turun, sedangkan Arya memarkir mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Setelah menunggu Arya selesai parkir, mereka pun segera menuju ke ruangan Rina.


"Permisi!" ucap Erwin dan Wawan hampir bersamaan sambil membuka pintu.


Ketika masuk mereka mendapati Rina dan Eric di dalam, ternyata sudah ada Radit juga.


"Waaah, pasukan dateng, Ric," ucap Radit.


"Katanya mereka pengen ikut njenguk Kak Rina. Makanya gue bawa aja sekalian," kata Ivi.


Rina tersenyum melihat mereka semua datang menjenguknya, ia merasa terharu. "Terimakasih banyak lho, kalian udah repot-repot dateng ke sini buat gue."


"Santai aja, Kak," sahut Erwin ceria.


"Kak Radit di sini juga?" tanya Arya.


"Iya. Gue tau soal Rina dari Eric. Makanya gue langsung ke sini bareng dia."


"Kak Rina, gimana keadaan Kakak?" tanya Wawan.


"Sama-sama, Kak."


"Eh, tau enggak Del, kemaren itu Erwin keren banget lho waktu berantem sama preman-preman itu. Dia jago banget berantem, ada berapa ya dia ngalahin tuh preman." Ivi sengaja menceritakan kepahlawanan Erwin di depan Adel.


"Masa? Kok gue enggak percaya, ya?" sahut Adel cuek. "Gue sih lebih suka orang yang jago pelajaran ketimbang jago berantem. Jago berantem enggak bisa bikin nilai nambah juga kok."


Ivi tertawa tengil. "Eeeh, apa? Apa elo barusan bilang kalo elo suka? Suka sama siapa? Hayooo!"


Adel salah tingkah. Tapi ia tidak mau menunjukkannya di sana. Yang lainnya justru gencar untuk menggoda Adel lebih lanjut.


"Kalo elo enggak percaya, elo tanya aja sama Kak Eric atau yang lainnya. Mereka juga tau kok."


Kini mereka semua tahu mengenai hubungan Adel dan Erwin, meskipun mereka hanya ikut-ikutan Ivi menggoda Adel. Sementara Adel membantah semua tuduhan Ivi terhadapnya. Jadilah di sana Adel menjadi bahan ledekan yang lain sampai membuat Adel sangat malu dan tidak bisa membela dirinya. Sedangkan Erwin, ia justru senang-senang saja.


Tidak lama setelah itu mereka mulai berpamitan untuk pulang. Mereka sudah cukup yakin setelah melihat keadaan Rina yang berangsur membaik.

__ADS_1


"Vi, gue pulang bareng Kak Radit ya. Elo enggak apa-apa 'kan?"


"Oh, oke. Gue enggak apa-apa. Elo hati-hati ya, Ar."


"Hmm, sampai besok."


Arya serta Radit pulang setelah berpamitan dengan Rina dan Eric. Sedangkan Adel, ia pulang bersama Wawan dan Erwin. Awalnya Adel menolak pulang bareng mereka berdua, bahkan Ivi harus meyakinkan Adel supaya ia mau pulang bersama mereka. Ivi mengatakan, bahwa Adel tidak perlu khawatir kalau terjadi apa-apa, Wawan dan Erwin bisa menjaga dan melindungi Adel. Ya, mau tidak mau Adel harus pulang bersama dua cowok itu, demi keselamatannya.


"Vi, tadi elo bawa mobil Papa?"


"Iya, tadi Arya yang nyetir. Elo mau bareng gue pulangnya?" tawar Ivi.


"Kalo gue bareng elo, motor gue siapa yang mau bawain!"


"Oh, bener juga."


"Ya udah pulang yuk. Udah sore, elo jangan ngelayap kemana-mana lho ya pakai mobil Papa!"


Ivi menjulurkan lidahnya. "Iyeee!"


Jadilah dua bersaudara itu pulang membawa kendaraan masing-masing. Tapi, begitu di jalanan Ivi punya pikiran lain. Ia merasa tidak masalah jika jalan-jalan sebentar. Asal jangan sampai terlalu malam saja.


Setelah mencari tempat parkir yang cukup dekat, Ivi memutuskan untuk berjalan berkeliling sebentar. Sembari melihat-lihat pedagang di tempat tersebut yang lebih mirip seperti pasar malam. Ia melihat kanan-kiri ke para pedagang yang ada. Lalu, mata Ivi terhenti ketika melihat sebuah gantungan yang menurutnya menarik.


Ivi menghampiri si penjual. "Bang, ini gantungan sepasang berapaan?"


"Itu duapuluh ribu Neng."


"Hah, masa duapuluh ribu sih Bang. Enggak bisa kurang apa, sepuluh ribu deh ya." Ivi menawar pada si penjual.


"Enggak bisa Neng, itu udah harga pas."


"Yaaah, limabelas ribu deh. Boleh ya?"


Tampak si penjual sedang berpikir. "Ya udah deh, khusus buat Neng aja saya kasih harga segitu," jawab si penjual kemudian.


"Oke. Nih, uangnya, kembali lima ribu ya." Ivi menyerahkan uang lembar duapuluh ribuan pada si penjual. "Makasih ya, Bang!"

__ADS_1


Setelah menerima kembaliannya dan pergi, ia melanjutkan kembali perjalanannya. Sebelum itu ia masukkan gantungan yang baru ia beli ke dalam tas. Ketika sedang sibuk melihat-lihat beberapa barang, di depan Ivi ada seorang nenek-nenek yang tertabrak seorang anak cowok. Tapi, si cowok langsung pergi begitu saja tanpa bilang maaf pada nenek tersebut. Melihatnya hal itu Ivi merasa geregetan. Dengan langkah cepat Ivi menghampiri si cowok tadi.


__ADS_2