
"Tapi, apa elo bisa jamin kalo Kak Rina gak bakalan ngulangin lagi?" tanya Wawan.
"Bener, Vi, jangan percaya gitu aja."
"Gue percaya kok sama Kak Rina, kalo dia berani selingkuh lagi dari Kakak gue, liat aja apa yang bakal gue lakuin. Itu berarti Kak Rina harus siap-siap." kecamnya.
"Uuuuh! Serem woi!" ujar Wawan.
Sedangkan Erwin cekikikan. Ia geleng-geleng kepala. "Ivi, Ivi... jangan serem gitu dong, gue jadi merinding nih." candanya.
"Beneran, gue serius Win!"
"Oh iya, Vi, tadi elo di cari sama Alvin." ucap Wawan memberitahu. "Vi, akhir-akhir ini elo sering banget bareng Alvin, ada apa sih?"
"Hehe... sori, gue belum bisa ngasih tau sekarang." Ivi meringis usil.
Setelah itu bel sekolah berbunyi tanda masuk. Mereka pun segera beranjak dari tempat duduknya, dan berlomba siapa yang paling cepat sampai kelas.
Di kelas masih terlihat ramai karena wali kelas mereka belum masuk. Beberapa saat kemudian seorang Guru memasuki kelas dan menyuruh murid-muridnya untuk duduk.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi, Paaaak!! jawab serentak seluruh murid.
"Baik, kita mulai pelajarannya. Sebelum itu kumpulkan tugas kalian yang saya kasih Minggu lalu di meja saya. Dan bagi yang belum mengerjakan tugas, siapapun itu, apapun alasannya saya harap keluar dari kelas saya sekarang juga." tegasnya.
Mendengar ucapan Pak Guru membuat beberapa muridnya gelisah, termasuk Erwin.
"Gawat! Gue belum selesai ngerjain tugasnya lagi, gimana nih, mati gue!" gumam Erwin yang mulai panik.
Kini ia menoleh ke arah Ivi tanda meminta bantuan, tapi di kursinya Ivi hanya bisa menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak bisa membantunya. Apa lagi sudah mau di kumpulkan, sudah tidak ada waktu lagi untuk Erwin menjiplak, meskipun bisa tetap saja waktunya tidak cukup.
"Maaf, gue gak bisa." ucap Ivi lirih, meminta maaf.
Tentu saja Erwin semakin panik, Pak Guru yang melihat gelagat Erwin pun curiga.
"Erwin, kamu kenapa? Apa kamu sudah mengumpulkan tugasmu?"
"Em... sebenarnya... anu, ini Pak, saya..."
Beliau kini menghampiri Erwin dan mengambil buku yang masih di pegang oleh Erwin lalu membukanya, begitu selesai mengecek di tatap satu muridnya ini. Erwin tertangkap basah, ia tidak bisa menghindar ataupun beralasan.
"Kenapa buku kamu kosong?" tanya Pak Guru sambil menatap Erwin tajam.
"Ng, saya..."
"Sekarang kamu keluar dari kelas saya dan jangan masuk sampai pelajaran saya selesai, paham?" tandasnya tegas.
__ADS_1
"Tapi, Pak...!"
"Saya sudah bilang, saya tidak butuh alasan apapun, bagi yang tidak mengerjakan tugas saya, di mohon untuk keluar. Sekarang silahkan kamu menunggu di luar kelas."
Sebelum meninggalkan kelas Erwin sempat melihat ke arah Ivi dan Wawan, mereka merasa kasihan pada Erwin, tapi apa daya, Ivi tidak bisa membantunya. Lantas Erwin pun mau tidak mau keluar kelas.
"Baiklah. Sekarang kita mulai pelajarannya."
Bel istirahat sudah berbunyi...
Seluruh isi kelas berhamburan keluar begitu mendengar bel istirahat. Di luar Ivi dan Wawan menghampiri Erwin yang tengah duduk di bangku depan kelas.
"Win, sori ya tadi gue gak bisa bantu elo." ujar Ivi melihat kawannya itu yang pasrah akan hukumannya.
"Elo gak perlu minta maaf, ini emang salah gue kok. Jadi, elo gak usah khawatir."
"Lagian napa juga elo belum kerjain tuh tugas sih, padahal itu udah Minggu lalu, kan!" Wawan ikutan greget.
Adel yang baru keluar pun ikut menimbrung. "Makanya kalo punya tugas tuh ke kerjain, bukannya di diemin aja, peak lo! Kena hukuman kan, rasain lo!"
"Hush! Jangan gitu dong, Del, kasian Erwin tuh, kena hukuman." bela Ivi.
"Biarin, orang dia kena hukuman akibat kesalahannya sendiri kok, dia pantas dapetin hukuman! Gue sih udah sering ngingetin elo ya, Win!" sahut Adel kesal.
"Woooh... ada yang perhatian sama elo nih, Win." tukas Wawan usil. "Ada apa nih kalian berdua, hmm?"
"Ehem!" Ivi berdehem.
"Apa! Elo juga mau ikutan ngejek gue?!" sergah Adel pada Ivi.
"Dih, siapa yang ngejek, gue cuma batuk kok," kilahnya dan berpura-pura batuk.
"Makasih ya Del, udah nasehatin gue." ucap Erwin manis.
Sontak Adel melotot ke arah Erwin, membuat mereka tertawa karenanya.
"Vi!" panggil seseorang.
"Iya, tadi elo bilang kalo gue di cariin sama Alvin, ya." katanya pada Wawan.
Ivi menoleh, ia melihat Alvin di sana, dan Ivi pun mengerti. Lantas Ivi meminta pamit undur diri dari hadapan yang lainnya.
Di tempat lain, masih di sekolah...
"Jadi, elo belum cerita soal Kak Rina ke Kak Eric?"
"Belum. Waktu itu Kak Rina dateng ke rumah, dia minta maaf sama gue, gimana coba."
__ADS_1
"Kenapa malah minta maaf sama elo, dan bukannya Kak Eric?" Alvin terheran.
"Gue juga awalnya bingung, harusnya dia minta maaf ke Kak Eric, bukan ke gue, tapi waktu liat Kak Rina memohon kayak gitu, gue gak tega liatnya, Vin. Ya gue maafin lah."
"Kalo seandainya Kak Rina gitu lagi, gimana? Apa elo juga bakalan maafin Kak Rina gitu aja?"
"Gak, elo percaya deh sama gue, ya. Kak Rina juga udah janji sama gue."
"Ya udah, terserahlah."
"Oh ya, Vin...-"
"Vi!"
Ivi agak kaget tiba-tiba Alvin memotong kalimatnya.
"Ya?"
"Gue... sebenernya ada yang mau gue omongin sama elo..." ucap Alvin ragu. "Gue...-"
Tiba-tiba...
"Vi, gue cari elo kemana-mana taunya malah di sini. Lagi ngapain elo di sini bareng Alvin?" Kini Indah melirik ke arah Alvin, dan karena kemunculan Indah membuat Alvin harus menunda pembicaraannya.
"Ada apa, Vin. Elo mau ngomong apa, lanjutin dong."
"Uh, gak jadi aja deh, kapan-kapan aja. Kalo gitu gue balik lagi ke kelas ya, bye!"
Tanpa berkata apa-apa lagi Alvin berlenggang pergi.
"He??" Ivi berkerut kening.
"Elo ada apa sih sama si Alvin? Ngapain juga elo di sini berduaan sama dia?" tanya Indah yang kini duduk di samping Ivi.
"Gak ada apa-apa kok. Gak usah mikir yang macem-macem lho ya. Ada apa elo nyariin gue?"
"Eh iya, hampir lupa. Gimana, elo udah bicara sama Ryo belum?"
Ivi menceritakan apa yang Ryo katakan hari itu. Karena Ivi tidak tahu harus bagaimana lagi, untuk itu ia pun meminta maaf pada Indah. Padahal Indah sudah percaya pada Ivi, tapi sepertinya Ivi belum bisa membantunya. Kalaupun bisa Ivi hanya bisa membantu sebisanya saja.
Pulang sekolah...
"Vi, habis ini anterin gue ke toko buku yuk, ada yang mau gue beli. Elo mau gak?" tanya Adel.
"Hmm... boleh deh, gue juga lagi belum mau pulang."
Kemudian Ivi bilang ke dua kawannya itu untuk pulang duluan, karena Ivi dan Adel mau mampir ke toko buku. Mereka pun hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1