
"Kalian udah pada kenal?" tanya Eric pada Ivi.
"Sebenarnya..." Arya hendak menjawab, tapi...
"Aaah! Gak kok...gak! Kita belum kenal kok, ketemu juga baru kali ini. Iya, kan... kita belum pernah ketemu sama sekali...!" jawab Ivi tiba-tiba menyerobot kalimat Arya. Ivi melotot ke arah Arya sambil pura-pura tersenyum.
"Iya, kita baru ketemu sekali ini," imbuh Arya tanpa melepas tatapannya dari Ivi.
"Oh, kirain udah pada kenal. Kalo waktu itu elo ketemu Ivi, pasti kalian udah jadi temen. Kalian juga seumuran, jadi gue pikir kalian bakal akrab. Gimana, cantik bukan adiknya Eric?" kata Radit sembari menyikut lengan Arya.
"Iya, cantik." jawab Arya
Jawaban Arya berhasil membuat Ivi ingin muntah, jenuh, tapi mau bagaimana lagi ia sedang bersama yang lainnya, mau tidak mau Ivi harus bertahan sampai akhir.
"Kok malah ngobrol, duduk dong." kata Eric.
"Thanks, Ric. Sori ya, adik gue akhirnya ikut, soalnya dia gabut di rumah. Melamun terus kerjaannya, makanya gue ajak aja sekalian."
"Gak apa-apa, makin rame makin seru. Oh ya, nama elo Arya, ya?" tanya Eric pada Arya.
"Iya, Kak."
"Vi, kalo gak salah nama mantan elo juga Arya kan? Atau jangan-jangan Arya adik Radit?" tebak Eric asal.
Spot jantung dong, mendadak Ivi dag dig dug jantungnya. Mungkin hampir loncat keluar kali ya jantungnya. Untung belum makan apa-apa, coba kalau pas makan, panik deh Ivi, mendadak pakai acara tersedak, dan tentunya pasti akan ketahuan kalau ia panik. Dan membuat mereka curiga. Untung sekarang tidak. Hingga Ivi menanggapinya dengan santai.
"Ng... bukan kok. Nama Arya kan gak cuma satu doang. Lagi pula gue gak kenal sama adiknya Kak Radit. Ketemu aja baru sekarang, jadi gak mungkin lah ya Arya adiknya Kak Radit." jelas Ivi setenang mungkin.
"Bener juga ya, belum tentu Arya adik Radit." Eric menimpali.
__ADS_1
"Betul sekali." ucap Ivi. Ia benar-benar lega sekali, untung saja tidak ada yang menyadarinya. Ivi melirik Arya beberapa detik, dan sialnya Arya juga memperhatikan Ivi.
"Kenapa sama adik elo?" tanya Radit.
"Adik gue punya pacar, tapi itu dulu, namanya juga Arya. Sekarang udah putus, karena namanya sama kayak adik lo, gue jadi mikir kalo itu Arya yang sama."
"Kak Eric apaan sih!"
"Sama dong seperti Arya, katanya dia punya pacar tapi udah lama putus. Tapi kayaknya nih anak masih mikirin mantannya itu deh. Katanya dia nyesel banget udah nyakitin si cewek. Pantes aja kerjaannya cuma melamun di kamar, baru tau gue." Radit tertawa kecil.
"Sampe saat ini gue masih terus berharap bisa ketemu sama dia lagi, gue mau minta maaf atas kesalahan gue. Dan gue harap dia bakalan maafin gue." jelas Arya, yang sejak tadi terus memperhatikan Ivi tanpa lepas sedetikpun.
"Semoga aja mantan elo itu mau maafin elo, Ar." tukas Eric.
"Gak. Sepertinya mantan gue bener-bener udah gak bisa maafin gue. Dia udah terlalu membenci gue. Gue tau itu." ucap Arya sambil terus menatap Ivi. Ivi yang sadar akan hal itu segera mengalihkan pandangannya.
"Tuhan aja mau memaafkan hambanya yang berbuat salah, masa mantan elo gak mau maafin sih. Itu berarti mantan lo jahat dong sama elo." Rina menjelaskan.
"Udah, kok malah ngomongin mantan sih. Mulai pesen dong." ujar Eric memecah keheningan.
Mereka memesan makanan masing-masing. Mereka memilih sesuai kesukaannya, tapi tidak dengan Ivi. Ia memesan makanan yang sama dengan Eric.
Berselang beberapa saat kemudian pesanan datang di meja mereka. Dan mereka segera melahapnya tanpa ragu. Lagi-lagi hanya Ivi yang merasa tidak berselera. Ia merasa makanan kali ini terasa sangat tidak enak. Bukan karena makanan yang di pesan Eric tidak sesuai seleranya, melainkan karena ada Arya di sini. Sehingga Ivi tidak bisa makan dengan tenang.
Entah kenapa ia sudah merasa kenyang bahkan sebelum menyentuh makanannya. Mereka makan sambil asik bercerita, sedangkan Ivi, ia hanya membolak-balik sendok di piringnya. Sesekali ia membuang nafas.
"Vi, elo kenapa? Kok gak semangat gitu, bukannya tadi pagi elo yang paling semangat mau makan apa saja, dan bilang mau nguras habis isi dompet gue. Kenapa sekarang malah di diemin aja makanannya."
"Hmmm..."
__ADS_1
"Kalo elo gak suka sama makanannya, elo bisa pesen yang lain, elo pilih sendiri, mau?" tawarnya pada Ivi.
"Gak usah Kak, ini aja udah cukup kok. Cuma gak tau kenapa gue jadi kenyang gini." Ivi membuang nafas berat lagi. "Gue ke toilet sebentar ya." pamitnya.
Ivi bangkit berdiri lalu cepat-cepat ke toilet. Beberapa detik setelah Ivi meninggalkan meja, kini giliran Arya yang tiba-tiba berdiri.
"Maaf, gue juga mau ke kamar kecil."
Di dalam toilet Ivi hanya duduk di atas kloset. Ia mengatur nafasnya yang terasa sesak dan berat. Berkali-kali Ivi menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Sangat terasa kalau jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan ia tidak bisa tenang.
"Haaaaaaah... tenang, Vi. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Elo gak usah pedulikan Arya, anggap aja dia gak ada, oke?" ujarnya pada dirinya sendiri.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari bilik toilet dengan tenang. Sudah hampir berhasil ia menenangkan dirinya. Tapi, ia kembali di kejutkan dengan kemunculan Arya di depannya. Tiba-tiba ia melihat Arya sudah ada di dalam toilet... cewek?
Bukan itu sekarang, yang penting kenapa Arya ada di sini! Jantung Ivi kembali berpacu yang tadi sempat tenang setelah mati-matian menahannya. Kali ini jantungnya benar-benar akan meninggalkan tubuhnya. Terlalu kaget!
Ivi hendak menerobos keluar, namun Arya menahan lengannya.
"Lepasin gue!" pekik Ivi tertahan, karena mereka ada di toilet. Takut ada yang datang.
"Dengerin gue dulu. Tolong."
"Apa lagi sih! Gak ada yang perlu di dengerin lagi! Jangan cari masalah sama gue!"
"Gue mohon, dengerin gue. Maafin gue, Vi."
"Lepasin gue, atau gue teriak!" ancamnya.
"Gue gak bakal lepasin elo, sebelum elo mau maafin gue." Arya ngotot ingin menahan Ivi.
__ADS_1
"Elo jangan macam-macam! Elo pikir ini di mana sialan! Ada yang lain di sana! Minggir!" Ivi mencoba mendorong tubuh Arya menjauh. Tapi tanpa di duga Arya justru memeluk Ivi.
Ivi terbelalak, ia bungkam sekaligus terkejut karena sikap Arya padanya. Ivi terdiam antara menahan emosi dan Arya yang memeluknya erat. Emosinya sudah mencapai ujung kepala.