
Tengah sibuk menegak air putih, Papa masuk ke dapur dan mendapati anak-anaknya di sana.
"Sudah selesai olahraganya?"
"Udah dong, Pa. Nih sampe keringetan gini!" jawab Ivi.
"Bagus dong, biar sehat." kata Papa. "Kelihatannya dari tadi kalian lagi ngomongin sesuatu yang seru, ada apa memangnya?"
"Ah, ini... tadi Kak Eric bilang kalo dia bakal bayar utangnya ke Ivi."
"Utang? Utang apaan?" Papa bingung.
"Jadi gini, kemaren kita main PS, dan kalo seandainya Eric menang, Eric bakalan traktir Ivi sebagai perjanjian. Nah karena Eric menang, hari ini Eric mau bayar utang Eric ke Ivi, gitu, Pa." jelas Eric.
"Owalah... gitu. Papa kira ada apa. Jadi nanti kalian mau pergi?"
Ivi dan Eric mengangguk bersamaan.
"Kalian ini seperti anak kecil saja, main taruhan. Ya sudah kalau begitu." lalu beliau keluar dari dapur seraya membawa kopi yang sudah di buatkan oleh sang isteri.
"Kak, gue beres-beres dulu ya." kata Ivi yang di jawab anggukan kepala oleh Eric
Ivi berjalan ke kamarnya sambil memainkan ponselnya. Begitu ia ingin meletakkannya tiba-tiba hp nya berdering. Lantas Ivi pun melihat nama di layar hp.
"Alvin?" gumamnya. "Ya, halo."
"Halo, Vi... gue ganggu gak?" suara Alvin di telepon.
"Gak sih, gue baru aja selesai joging. Ada apa pagi-pagi gini udah telepon gue?"
"Entar sore, elo ada waktu gak?"
"Emang ada apaan?"
"Gue mau ngajak elo jalan, itupun kalo elo mau. Gimana?"
"Wah, sori Vin. Sori banget ini, tapi entar sore gue sama Kak Eric mau pergi juga. Soriiii banget! Lain kali aja, ya?"
"Gitu ya..." Alvin terdiam.
"Atau elo mau ikut gue sama Kakak gue, biar gue bilangin ke Kak Eric sekarang."
"Hmm... gak usah deh, Vi. Elo pergi aja sama Kak Eric, entar gue ganggu kalian. Tapi, lain kali elo mau kan jalan sama gue?"
"Oh jelas, pasti mau dong. Sekali lagi gue minta maaf, ya."
__ADS_1
"Yo, santai. Ya udah, gue tutup. Bye."
Ivi menghela nafas panjang. Ia kembali meletakkan hp nya lalu menyambar handuk, kemudian masuk kamar mandi.
Di tempat lain, tampak Alvin sedang duduk di pinggir jendela kamarnya sambil melamun. Di tangannya ia memegang sesuatu. "Kapan gue bisa kasih ini ke Ivi." gumamnya.
Sore hari yang di tunggu Ivi pun datang...
Ivi sudah bersiap-siap di kamar. Setelah selesai ia pun keluar dari kamar lalu mendatangi kamar Kakaknya. Ivi menyembulkan kepalanya ke dalam kamar Eric.
"Udah selesai belum sih, lama amat!" komentar Ivi.
"Sabar kek, cowok juga butuh dandan sama persiapan. Emang cewek doang yang betah lama-lama di depan kaca." balas Eric.
"Heleh! Alasan!"
"Emangnya elo, gak pernah dandan sama sekali. Kayaknya elo gak pernah nyentuh kosmetik, dan gue juga gak pernah liat elo beli barang begituan."
"Ember! Gue emang gak pernah beli barang begituan, gak cocok sama gue."
"Dan gue tebak, pasti elo pake baju warna hitam lagi, kan?!" tebaknya.
"Ember! Kenapa?"
"Dasar cowok!"
Kakak adik tersebut sudah selesai, kini mereka keluar menemui Mama. Ternyata di depan sudah ada Rina tengah duduk dengan Mama.
"Selesai juga kalian berdua, dari tadi Rina sudah nungguin lho."
"Bukan salah Ivi, ini nih Kak Eric lama banget dandannya!"
"Sudah, sudah... masih saja sempat-sempatnya berantem." Mama menggeleng kepala. "Jadi kalian pergi tanpa mengajak Mama atau Papa nih ceritanya. Duh, Mama kok agak sedikit sakit hati ya." kata Mama pura-pura kecewa.
Ivi menggandeng lengan Mama. "Bukan begitu, Ma. Bukan berarti kita gak sayang sama Mama atau Papa, cuma hari ini Kak Eric mau bayar hutangnya sama Ivi kalo dia berhasil mengalahkan Ivi main game. Maaf ya, Ma."
"Haaah... kalian ini, main taruhan seperti anak kecil saja, malu dong sama Rina."
"Gak apa-apa, Tan. Rina udah hafal gimana mereka." kata Rina.
"Ya sudah, sana pergi keburu malem. Biar Mama sama Papa mu bisa berduaan di rumah." canda Mama.
"Cieeee, ahem!" Ivi bersiul menggoda Mama. "Ya udah, entar Ivi bungkusin deh buat Mama, oke?"
"Iya, iya, terimakasih."
__ADS_1
"Kalau gitu kita pamit, Tante." ucap Rina.
Usai pamitan mereka bertiga pun segera pergi. Mereka menggunakan mobil Eric. Katanya sih Eric ingin mengajak mereka makan di sebuah restoran yang baru di buka beberapa minggu yang lalu. Dan katanya di restoran tersebut menunya sangat banyak dan enak-enak. Makanya Eric ingin mencobanya bersama mereka.
Begitu sampai Eric memarkir mobilnya yang di pandu oleh tukang parkir. Mereka keluar dari dalam mobil.
"Ini dia tempatnya, katanya sih di sini macem-macem menunya. Baru di buka beberapa minggu yang lalu, tapi tempat ini rame terus. Makanya gue penasaran pengen nyoba. Apalagi buat Ivi yang doyan makan, cocok nih."
Lalu mereka masuk ke dalam, benar saja tempat itu banyak sekali orang yang datang, tentunya untuk makan bukan untuk demo. Bahkan hampir penuh semua meja. Beruntung mereka masih ada meja di bagian belakang. Dan mereka duduk di kursi yang sesuai dengan jumlah orang, tapi Ivi menyadari ada yang aneh di sini.
"Kenapa kita gak duduk di sana aja, kan kita cuma tiga orang." ujar Ivi ketika menghitung jumlah kursinya.
"Ah iya, gue lupa. Gue juga ngajak Radit untuk gabung sama kita. Gak apa-apa kan?"
"Oooh." Ivi manggut-manggut.
"Tapi kayaknya dia juga ngajak adiknya deh, kalo jadi sih."
"Apa?! Ivi sangat terkejut. "Adik Kak Radit?!"
"Iya, dia punya adik satu, dan katanya mau ikut. Elo kenapa? Elo keberatan?" tanya Eric heran.
"Oh... gak, gak kok..."
Ivi benar-benar tidak menyangka kalau Eric juga mengundang Radit, dan adiknya. Itu berarti, Arya... Arya akan ada di sini juga. Oooh... Ivi menjadi panik saat mengetahuinya. Kenapa Eric ngundang mereka sih, batinnya. Apa yang harus ia lakukan.
"Ivi, elo kenapa?" tanya Rina, karena melihat sikap Ivi yang mendadak menjadi aneh.
"Oh, ng... gak, gak ada apa-apa kok..." jawab Ivi gugup, bahkan terlihat sangat jelas.
"Nah, itu mereka datang." tunjuk Eric. "Dit, di sini!" panggil Eric sambil melambaikan tangan.
Panik! Sekarang Ivi benar-benar sangat panik dan tidak nyaman. Ivi melirik ke arah mereka, dan benar ada Arya di sana. Lantas ia pun memalingkan wajahnya.
"Hey Bro, apa kabar hari ini?" sapa Radit.
"Baik dong, selalu. Dit, ini adik elo?" tanya Eric sembari menatap anak cowok yang ada di samping Radit.
"Ya. Kenalin, ini adik gue, Arya." kata Radit. "Arya, ini Eric temen sekantor gue dan ini Rina, tunangannya Eric. Dan satu lagi cewek yang pake baju hitam ini adiknya Eric, namanya Ivi. Ivi ini cewek yang pengen gue kenalin ke elo waktu kita di kafe itu, tapi dia buru-buru balik." jelas Radit memperkenalkan pada yang lain.
"Elo kapan ketemu Ivi?" Eric heran.
"Beberapa minggu yang lalu kok."
Saat melihat Ivi, Arya sedikit terkejut. "Ivi?"
__ADS_1
"Hay." sapa Ivi pendek dengan senyum di paksakan.
Arya sedikit terkejut, bukan karena Ivi ada di sini, mungkin karena ia baru tahu kalau Ivi itu ternyata adiknya Eric, teman sekantor tempat Kakaknya bekerja. Berbeda dengan Ivi, ia sudah tahu kalau Arya adalah adik Radit, ia hanya kaget karena mendadak Arya muncul di sini sebagai teman Kakaknya.