This Is Me

This Is Me
eps 27


__ADS_3

Mereka terus mengintimidasi Ivi tanpa henti. Mereka tidak puas dengan jawaban Ivi. Mereka terus menuntut jawaban dari Ivi.


"Ah, ngaku aja lo! Iya kan?"


"Apaan sih kalian ini! Jangan main tuduh gitu dong. Kasihan Arya." balas Ivi santai.


"Bohong lo pasti! Kalo elo gak ada apa-apa sama Arya, kenapa elo bisa bareng Arya, hayo!" sepertinya mereka tidak ingin kalah.


"Lagian aneh kenapa cuma elo yang deket sama Arya. Dan kalian berdua dari mana coba?" imbuhnya.


"Haduh! Gue musti bilang apa lagi sama kalian. Gue bisa sama Arya, karena kita emang satu kelas, aneh apanya coba. Gue ini gak ada hubungan apa-apa sama dia. Kalo kalian masih gak percaya juga, kalian bisa tanya ke orangnya langsung!" kata Ivi geregetan. Buang nafas kesal.


"Beneran, Ar? Elo sama Ivi gak ada hubungan apa-apa?"


"Hmm." Arya bergumam.


"Elo bukan pacar Ivi atau mantan Ivi, kan?"


"Gimana ya..." jawab Arya usil.


"Ayolah! Apa hubungan elo sama Ivi?" desak mereka pada Arya.


"Kasih tau gak ya?" Arya tersenyum usil.


Dasar cewek liat cowok bening sedikit saja sudah pada heboh. Ayolah, apanya yang bagus dari Arya? Mereka hanya melihat luarnya saja. Ivi geleng-geleng kepala.


Ketika Arya masih di sibukkan dengan para cewek-cewek di sana, Ivi melihat ke arah kawan-kawannya. Lantas ia menarik lengan Arya lalu menyeretnya.


"Maaf, Nona-nona sekalian, kita mau ke sana sebentar, ya. Jadi maaf, pangeran kalian gue bawa dulu. Bye!" ujar Ivi seraya pergi meninggalkan cewek-cewek tadi.


"Yaaaah... kok gitu sih, Vi! Bentar lagi dong, kita kan masih pengen ngobrol!" ujar si cewek merajuk.


"Nanti juga masih bisa kok. Masih ada lain waktu, pangeran kalian gak bakal gue bawa kabur kok. Kalian masih bisa tenang, oke?"


"Ivi, curaaaaang!!" pekik mereka.


"Udah dulu ya!" Ivi hanya merenges geli saja melihat kelakuan cewek-cewek tadi.


Mau tidak mau mereka harus pasrah saat Arya di bawa pergi oleh Ivi.


Lalu di sana Ivi memperkenalkan Arya pada yang lainnya.


"Kalian udah tau dia kan, nah Arya ini temen lama gue." kata Ivi. "Ar, ini temen gue, namanya Wawan."


Wawan mengulurkan tangan dan di balas oleh Arya.

__ADS_1


"Kalo yang ini Erwin, dan yang cewek ini namanya Adel. Mereka berdua pacaran lho." ledeknya pada Adel.


"Iiih apaan sih lo! Siapa yang pacar siapa! Pengen gue cekik lo, hah?!" tukas Adel sembari mencubit lengan Ivi.


"Ampun, ampun! Gue cuma bercanda doang. Jangan marah dong, nanti luntur tuh wajah cantik elo. Terus Erwin gak suka lagi sama elo!" Ivi semakin mengusili Adel.


"Iviiiii! Elo bener-bener pengen gue pukul ya?!" Adel dongkol plus salting.


Mereka tertawa melihat tingkah Ivi dan Adel. Lalu mereka kembali melanjutkan aksi basa-basi busuknya untuk saling berkenalan. Hanya dalam waktu yang tidak lama mereka sudah menjalin sebuah hubungan, dan itu terjadi begitu saja. Bagi anak muda seperti mereka tidak perlu banyak bicara untuk saling mengenal. Hanya dengan saling berjabat tangan saja mereka sudah bisa akrab satu sama lain. Seolah mereka sudah tahu.


Dan untuk Ivi sendiri, ia tidak mengatakan yang sebenarnya kalau mereka dulu pernah pacaran. Ia rasa itu tidak perlu. Saat ini yang bisa Ivi lakukan adalah berteman lagi dengan Arya, dan mencoba membangun hubungan mereka kembali. Ivi bernafas lega bahwa Arya bisa akrab dengan kawan-kawannya. Untuk saat ini biarlah seperti ini. Mereka tidak perlu tahu masalah Ivi dan Arya sebelumnya.


Pulang sekolah...


"Elo mau bareng gue gak?" tanya Alvin.


"Hmm, kayaknya hari ini lewat dulu deh, Vin. Gue lagi pengen jalan kaki."


"Serius mau jalan kaki sampe rumah? Waras lo?"


"Ya gak gitu juga kali. Tetep aja naik bis, cuma gue lagi pengen pulang sendiri."


"Oh, ya udah. Kalo gitu gue duluan ya."


Selang beberapa menit Alvin pergi, Arya muncul di belakang Ivi.


"Belum."


"Mau bareng gue gak, itupun kalo elo mau sih."


Demi apa coba sekarang Ivi dan Arya bisa ngobrol dengan normal. Bahkan Arya mengajaknya pulang bareng.


"Sori, Ar... gue ada urusan penting. Jadi, lain kali aja ya." tolak Ivi halus.


Arya mengangguk. "Oke. Kalo gitu gue cabut duluan. Bye, Vi."


Ivi melambaikan tangannya. Ini yang kedua kalinya Ivi menolak ajakan untuk pulang bareng. Dan karena itu yang Ivi inginkan, maka ia pun harus pulang sendiri sekarang.


Sampai rumah Ivi melepas penat di atas kursi, ia memejamkan matanya sambil membuang nafas panjang.


"Vi, gue denger dari Radit kalo Arya pindah ke sekolah elo, ya? Apa bener?"


"Iya."


"Terus, elo gimana?"

__ADS_1


"Gue gimana apanya?"


"Ya keadaan elo lah. Bukannya elo lagi ada masalah sama Arya? Kalian satu kelas kan? Emangnya itu gak mengganggu elo?"


Ivi mendesah berat lagi. "Bukannya elo yang bilang, kalo gue di suruh membuka pintu maaf gue untuk Arya?"


"Lalu?"


"Ya sekarang gue sama Arya udah balikan lagi."


"Balikan? Maksudnya? Elo sama Arya...?"


"Bukan balikan sebagai pacar, tapi balikan lagi sebagai teman, seperti saat di mana pertama kali gue bertemu dengan Arya."


"Oh." Eric ber-o ria. "Gue salut sama elo, Vi. Tapi, ngomong-ngomong gue denger dari Radit, kalo Arya itu sebenarnya masih sayang sama elo."


"Hmm?"


"Itu yang Radit bilang. Elo sendiri, gimana? Elo masih ada rasa sama Arya?"


Ivi tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama. "Gue... gak tau..."


"Walau hanya sedikit, apa elo masih..."


"Elo kepo ya?"


"Sedikit sih. Jadi, gimana setelah ketemu lagi, dan sekarang malah satu kelas. Bakalan ketemu tiap hari dong."


"Itu dia. Kenapa dia tiba-tiba pindah ke sekolah gue di semester ini coba!"


"Elo gak tau ya, Radit kan pindah rumah karena pekerjaannya. Jadi mau gak mau Arya cari sekolah yang deket sama rumahnya." jelas Eric.


"Oooh!"


"Gimana sama pertanyaan gue tadi. Setelah ketemu sama Arya sekali lagi, apa yang elo rasain?" tanya Eric sedikit memaksa.


"Udah gue bilang, gue gak tau!" sungutnya. "Tapi... gak tau kenapa saat gue liat Arya, jantung gue gak berhenti berdetak."


"Lha iya, kalo berhenti berarti elo mati dong! Gimana sih nih anak!"


"Apaan sih! Gue serius! Lagian kenapa elo yang penasaran?!"


"Apa, elo bakal CLBK lagi sama Arya?"


"Aduuuuh! Ini lagi, bikin gue makin pusing aja sih! Bisa gak, gak udah ikut campur urusan gue!" Ivi kesal. Padahal ia sedang sangat lelah.

__ADS_1


"Dasar. Cuma tanya doang, Vi, jangan emosi gitu ngapa. Kan gak ada salahnya kalo elo balikan lagi, terus besok jadi isterinya Arya, dan gue sama Radit jadi saudara!" kata Eric lalu di akhiri dengan tawa.


Satu detik kemudian sebuah bantal kecil melayang tepat di wajah Eric dan menghantam dengan sempurna. Ivi bersorak sambil mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi. Pertanda ia menang.


__ADS_2