This Is Me

This Is Me
eps 11


__ADS_3

Ivi mengetuk pintu, dan ketika pintu terbuka ia melihat Ibunya Alvin di depannya.


"Siang, Tante." sapa Ivi. Lalu mencium punggung tangan Ibunya Alvin.


"Owalah, Ivi toh. Ayo masuk sini." balasnya ramah. "Tumben main ke sini."


"Terimakasih, Tan. Gak, iseng aja mumpung hari Minggu. Ivi gak ganggu Tante, kan?"


"Jelas tidak dong, Vi. Tante juga lagi nyantai, hari ini tidak bikin kue, libur dulu. Oh ya, omong-omong Eric kapan tunangannya?"


"Hmm, Ivi belum tau deh, Tan. Saat ini Kakak masih sibuk sama kerjaannya."


"Oh gitu."


"Alvin nya ada kan ya?"


"Ada di kamar, masih tidur mungkin. Ada Ryo juga, dia nginep di sini semalam. Gak tau tadi malam pada ngapain aja, sampai jam segini masih tidur. Bener-bener deh anak itu."


"Anak muda, Tan, biasa. Ivi boleh ke kamar Alvin, Tan?" Ivi meminta ijin.


"Silahkan, sekalian bangunin mereka."


"Oke, Tante."


Kamar Alvin berada di atas, jadi ia harus menaiki tangga. Sampai di depan pintu kamarnya Ivi mengetuk pintu, tapi belum ada sahutan. Ia pun membuka pintu dan melongok ke dalam.


Benar saja Ivi melihat Alvin dan Ryo yang masih tertidur pulas. Ia melihat stick PS yang masih tergeletak di lantai. Sepertinya mereka habis main PS semalaman, mungkin sampai pagi.


"Buset! Jam segini masih molor." gumam Ivi. Ia menengok jam di dinding. "Woy! Bangun! Udah siang ini, jangan tidur melulu!" Ivi memanggil dua orang yang masih berada di alam mimpi. Mereka belum bergerak sama sekali.


"Heh, bangun! Alviiiin! Ryoooo! Udah siang Bro!" Ivi menaikkan suaranya.


"Nggh... apaan sih, masih berat nih mata..." sahut Ryo masih malas.


"Habis pada ngapain sih, jam segini masih tidur. Pasti habis begadang main PS ya. Ayo, buruan bangun!" Ivi memaksa Ryo untuk bangun.


"Bentaran lagi, masih ngantuk..."


"Cepetan! Atau mau gue seret ke kamar mandi terus gue guyur pake air dingin!" ancamnya.


"Hmmm... iya, iya, gue bangun..." tetap saja meski menyahut Ryo masih merem.

__ADS_1


"Bangun apaan, elo masih merem gitu! Ini juga Alvin, gak gerak sama sekali kek orang mati! Hah, percuma deh gue gembar-gembor kek toa!" gerutunya.


Tidak ada reaksi apa-apa dari dua orang yang masih terlelap itu. Percuma membangunkan orang yang teler akibat begadang. Saat Ivi hendak membangunkan Alvin, tanpa sengaja ia memperhatikan Alvin beberapa saat. Ivi tersenyum, dalam hati ia berkata.


"Alvin kalo lagi tidur kayak gini cakep juga. Baru sadar gue kalo temen kecil gue yang dulunya ingusan ini, sekarang udah gede, mana cakep lagi!" seru Ivi dalam hati.


Merasa tidak enak sudah mengganggu Alvin dan Ryo, Ivi pun berniat untuk pergi dari kamar Alvin. Dan juga percuma, mereka sama sekali tidak bergeming dari kasurnya. Kini Ivi kembali menutup pintunya.


Namun sepergian Ivi, di sana Alvin membuka matanya, lalu tersenyum kecil. Tapi ya tetap saja ia kembali tidur.


"Lho, mana Alvin?" tanya Ibu Alvin.


"Hah, Ivi nyerah, Tan. Pada susah di bangunin, kayaknya Alvin sama Ryo mainnya sampe pagi deh."


"Ya ampun mereka itu, bener-bener deh."


"Ya udah, Tan, kalo gitu Ivi pamit pulang aja ya."


"Gak main dulu di sini?"


"Lain kali aja, Tan, Ivi ke sini lagi. Alvin juga belum bangun, biarin aja."


"Ya sudah, makasih ya sudah datang, dan maaf lho Alvin nya malah belum bangun."


"Gak kok. Titip salam buat Mama kamu, ya. Tante belum sempet main ke sana."


"Iya, nanti Ivi sampaikan. Kalo gitu Ivi pulang dulu ya, Tan." Ivi mencium punggung tangan Ibu Alvin. Kemudian meninggalkan rumah Alvin.


"Hati-hati, Vi!" ucap Ibu Alvin, dan di balas anggukan kepala oleh Ivi.


Sebenarnya tadi ia iseng saja main ke rumah Alvin, dan sekarang Ivi bingung mau ngapain. Tapi rasanya Ivi belum pengen pulang. Jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.


Ketika di jalan Ivi melihat sebuah kafe, sepertinya tidak apa-apa kalau mampir sebentar, dan juga sepertinya kafe itu seru, selain kafe ada juga buku-buku yang terpajang. Nongkrong saja sebentar. Ivi pun masuk ke dalam.


Di dalam Ivi mengambil sebuah buku yang lumayan tebal, yang pasti itu bukan buku pelajaran. Sebuah novel, sekedar iseng baca-baca, dan ditemani secangkir kopi hitam di depannya.


Tengah asik dengan novelnya, Ivi di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.


"Ivi!" panggil orang tersebut sambil melambai ke arah Ivi. Kini ia menghampiri Ivi.


"Kak Radit? Kakak ngapain di sini?"

__ADS_1


"Ya mumpung hari Minggu, jalan-jalan lah sebentar. Elo sendiri, ngapain?"


Ivi mempersilahkan Radit untuk duduk bersamanya di salah satu kursi yang kosong. Radit adalah teman sekantor tempat Eric bekerja.


"Tadi Ivi habis dari rumah temen, terus mampir ke sini deh."


"Ooh... Eric, gak ikut?"


"Gak, Kak Eric di rumah. Kakak sendiri sama siapa, sendirian?"


"Gue sama adik gue kok, tapi tadi mau ke toilet katanya."


"Kakak punya adik juga ya, cowok apa cewek?" tanyanya iseng.


"Napa? Kalo cowok elo mau kenalan sama dia?" canda Radit sembari tersenyum usil.


"Ng, gak kok, cuma tanya aja. Ya kan selama ini Ivi tau tentang Kak Radit lewat Kak Eric, bisa kenal aja dari Kak Eric, kan. Ketemu juga gak setiap hari." jawab Ivi jujur.


Radit tersenyum lagi. "Adik gue cowok, mungkin seumuran sama elo. Kelas tiga kan ya. Nah, itu dia." Radit menunjuk ke arah adiknya.


Radit melambai ke arah anak cowok yang baru saja keluar dari kamar kecil. Dan Ivi pun mengikuti arah pandangan Radit. Ivi menatap cowok yang sedang berjalan ke arahnya. Karena panggilan Radit, si cowok pun segera menghampiri mereka.


Namun Ivi sangat terkejut, bahkan tidak percaya ketika melihat cowok, yang di sebut adik oleh Radit barusan. Ivi menatap Radit lalu ke anak cowok itu bergantian, tidak percaya. Ivi berkerut kening. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mendadak Ivi menjadi gugup, ia menelan ludahnya yang terasa kering.


Belum sampai si cowok mendekati meja mereka, tiba-tiba Ivi bangkit berdiri.


"Ng, maaf Kak, Ivi lupa kalo tadi di suruh pulang. Ivi pamit pulang duluan ya, Kak, maaf...!" Ivi terlihat gelisah.


"Lho? Kok udah mau pulang aja, baru juga ketemu. Elo juga belum ketemu sama adik gue." Radit heran dengan Ivi yang tiba-tiba ingin pulang.


"Gak usah Kak, lain kali aja. Ivi buru-buru soalnya. Maaf banget ya, Kak. Tapi, Ivi harus pulang sekarang. Sampai besok, Kak!"


Lalu tanpa menoleh lagi Ivi benar-benar pergi meninggalkan Radit yang masih terheran-heran dengan tingkah lakunya.


"Kak? Kak Radit ngapain? Liatin siapa sih?" tanya adik Radit yang kini sudah di depannya.


"Eh, elo. Gak, tadi ada adik temen sekantor gue, tapi gak tau kenapa dia buru-buru pergi. Padahal gue mau ngenalin dia ke elo." kata Radit.


"Cewek?"


"He em, eh Arya, elo bayar minuman kita tadi ya, elo udah selesai kan. Habis ini kita pulang."

__ADS_1


"Oke." Arya mengangguk.


__ADS_2