This Is Me

This Is Me
eps 12


__ADS_3

Ivi benar-benar masih belum bisa percaya kalau adik Radit itu adalah Arya, mantan pacar Ivi!


Itulah alasan kenapa Ivi ingin cepat-cepat pergi dari kafe tadi.


"Huh, kenapa jadi begini. Jadi Arya itu adiknya Kak Radit?" Ivi tertawa sinis.


Ivi sama sekali tidak tahu kalau Arya adalah adik Radit. Ivi memang kenal dengan Radit, itupun lewat Eric, karena mereka bekerja di tempat yang sama. Selama mengenal Radit, Ivi tidak pernah mengetahui kalau Radit itu punya adik cowok, yaitu si Arya, mantannya.


Mendadak Ivi menjadi pening sendiri, tapi dia tetap bersikukuh. "Kenapa gue jadi parno begini sih. Gue kan udah putus sama Arya, ngapain gue pake acara kabur segala, udah gak ada hubungan apa-apa juga. Tinggal bilang aja kalo kita belum pernah ketemu, susah amat! Tapi, gue tetep aja masih marah sama dia, makanya gue gak mau ketemu sama dia!"


"Neng, mau naik kagak?" seorang kenek bus menyadarkan Ivi.


Oh benar juga, Ivi sudah sampai di halte.


"Iya, Bang, bentar."


Tanpa berpikir panjang ia pun masuk ke dalam bus lalu mencari tempat duduk. Selama ini Ivi memang selalu tertutup dengan urusan pribadinya, ia tidak ingin membawa-bawa masalah pribadinya ke dalam kesehariannya. Begitu juga dengan Eric, sebenarnya Eric juga tidak tahu kalau adiknya itu mempunyai seorang pacar, namun sudah putus. Kalau saja saat itu Eric tidak memergoki Ivi sedang marah-marah, mungkin sampai sekarang pun Eric tidak akan pernah tahu.


"Tapi, ini udah berapa tahun terakhir gue gak ketemu dia. Tetep aja gue ngerasa gugup, walaupun sebenernya udah gak ada perasaan apapun. Dua tahun, lebih malah." gumamnya.


Ivi berjalan sedikit agar sampai ke rumahnya. Entah kenapa hari ini terasa panas sekali, itu kata Ivi. Ia sudah tidak sabar ingin segera sampai rumaaaah!


Tepat di depan rumah hp nya berdering.


"Ryo?" Ivi bertaut alis, ia pun menjawabnya.


"Halo, Vi, elo di mana?" tanya Ryo di telepon.


"Gue di rumah lah, kenapa?"


"Itu, soal kemaren yang mau gue omongin sama elo."


"Iya, kenapa?"


"Elo bisa ke rumah gue gak sekarang?"


"Hmm... sori Ryo, mending besok aja deh ya, gue sekarang lagi bete abiiis!"


"Bete? Kenapa?"


"Bukan apa-apa kok. Maaf ya, kalo sekarang gue gak bisa, lagian gue udah sampe rumah, males mau keluar lagi, sekali lagi maaf ya, Ryo." Ivi meminta maaf, karena saat ini ia benar-benar sedang bad mood.


"Okelah, gak apa-apa kok. Kalo gitu sampe besok, Vi." Ryo mengakhiri teleponnya.


Ivi menatap layar ponselnya. "Huh, tadi di bangunin aja susah minta ampun, sekarang malah nyuruh gue buat ke sana, ya ogah lah! Tadi juga, ngapain gue pake acara ke kafe segala, hampir aja kan ketemu sama mantan doi. Doi nya udah karatan lagi! Untung gue cepet kabur dari sana, kalo gak udah gue sikat tuh tadi, kalo dia bukan adik Kak Radit!"


Saat itu Eric yang baru saja keluar melihat adiknya tengah ngedumel sendiri di depan pagar rumah.


"Vi, ngapain elo di situ? Marah-marah lagi."

__ADS_1


"Ah, gue lagi nyari alamat." jawab Ivi sekenanya.


"Alamat? Alamat siapa?"


Ivi melangkah masuk melewati Eric sembari berkata. "Ini, udah ketemu." ucapnya seraya menunjuk rumahnya sendiri.


"Ada-ada aja lo," kini Eric menyusul Ivi. "Vi, main PS yuk, dari pada bosen gue di rumah."


"Emang kantor gak ada kerjaan?"


"Udah beres kok!"


"Boleh aja, kebetulan gue juga lagi bete."


Jadilah mereka main game. Sejak kecil Ivi memang suka main PS, yeah meskipun itu permainan yang sering di mainkan anak laki-laki. Ivi mulai suka PS ketika ia sering memperhatikan Eric saat bermain. Lalu dari sana ia berminat untuk bergabung main PS. Tapi meskipun Eric yang lebih dulu suka PS, nyatanya saat bermain Eric selalu saja kalah dari Ivi, yang bisa di bilang hanya sekedar iseng ingin main. Beberapa kali Eric ingin menantang Ivi, tapi ia tidak pernah menang darinya.


"Haaaah! Kenapa sih gue gak pernah bisa menang dari elo." keluhnya.


"Yeee... jangan emosi gitu dong, tiap orang kan kemampuannya beda-beda, begitu juga dengan elo."


"Gue juga tau, tapi masa iya ampe sekarang gue gak pernah menang satu kali pun dari elo, di mana harga diri gue sebagai cowok?!"


"Santai dong, ini cuma permainan doang. Jangan terlalu di buat pusing, bisa bahaya lho."


"Gak! Gue gak akan kalah dari elo. Gue tetep mau berusaha buat ngalahin elo. Masa gue kalah dari cewek sih!" Eric masih ngomel.


"Terus, mau Kak Eric apa? Mau main lagi?"


"Beneran nih?"


"Bener lah, elo pegang omongan gue. Tapi, kalo gue menang ya."


"Oke, bakal gue inget tuh!"


"Ya udah, gue balik ke kamar dulu. Elo yang beresin ya." kata Eric yang kemudian masuk ke kamarnya.


Ivi merapikan PS nya kembali ke tempat semula. Di rumah Ivi termasuk orang yang rajin, suka bersih-bersih, meksipun ia sedikit tomboy. Karena bagi Ivi kebersihan dan kerapihan adalah number one!


Tengah sibuk dengan urusannya, hp milik Ivi berbunyi.


"Siapa sih, gak tau orang lagi sibuk aja deh." ia meraih hp nya dan melihat nama Indah di sana. "Lha, Indah? Ngapain dia telepon gue? Ya, halo."


"Vi, elo dimana?" suara Indah di seberang.


"Gue di rumah dong, napa Ndah?"


"Ada yang mau gue omongin sama elo, bisa?"


"Bisa sih."

__ADS_1


"Hmm... elo bisa nemuin gue di luar gak sekarang?"


"Sekarang?" Ivi melirik jam dinding. "Bisa sih."


"Oke, gue tunggu ya, Vi. Entar alamatnya gue kirim ke elo." Indah menutup teleponnya.


Ivi menghela nafas berat, kini ia mencari Mamanya di kamar.


"Ma, Ivi ijin pergi sebentar ya?"


"Mau kemana lagi, bukanya kamu baru saja pulang?"


"Gak tau ini Indah, katanya ada yang mau di omongin sama Ivi." ia menjelaskan.


"Kenapa gak suruh ke sini aja Indah nya?"


"Indah pengen ketemuan di luar, gitu. Ya udah, Ma, Ivi pergi ya. Gak lama kok!"


Ivi mencium tangan Mama, lalu pergi begitu saja. Mama hanya menggeleng kepala pasrah saja terhadap anak perempuannya.


Dia sudah sampai di tempat yang di maksud oleh indah, Ivi masuk ke sebuah kedai teh. Di sana ia celingukan mencari sosok Indah.


"Ivi!" panggil Indah begitu melihat Ivi sudah datang. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Udah lama lo?"


"Gak kok, elo mau pesen apa?" tawarnya.


"Uumm...kopi aja deh."


"Oke, bentar ya." Indah memanggil seorang pelayan lalu memesan apa yang Ivi bilang tadi. "Elo tuh suka banget sama kopi, ya?"


"Yoi, tapi gak terlalu sih. Jadi, apa yang pengen elo bicarain sama gue?"


"Gue mau curhat sama elo."


"Curhat? Sama gue? Boleh aja sih."


"Thanks ya, Vi." Indah mulai mengambil nafas lalu membuangnya. "Gini, elo tau kan kalo gue udah lama pacaran sama Zacky."


"Em, ya, kenapa?"


Indah menarik nafas lagi. "Dan elo juga kenal dong sama Ryo anak kelas dua, adik kelas kita."


"Hmm, napa?"


"Elo tau gak, kemaren gue ketemu sama dia, dan elo tau apa yang dia bilang ke gue?"


Ivi berkerut kening. "Apaan emang?"

__ADS_1


"Dia bilang kalo dia suka sama gue!"


Hampir saja Ivi tersedak ludahnya sendiri, saking kagetnya mendengar pengakuan Indah barusan. Ivi menatap temannya itu dengan tatapan tidak percaya.


__ADS_2