This Is Me

This Is Me
eps 47


__ADS_3

Rina masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sudah mentok kata-kata. Ia di buat bungkam oleh kekasihnya sendiri dengan ucapannya.


"Elo tau, Ivi juga menanyakan hal yang sama ke gue."


"Ivi?"


"Iya, dia tanya apa kita udah pernah ciuman atau belum. Ya, gue jawab seperti yang gue bilang ke elo barusan."


Rina tertawa kecil, "Sepertinya Adik elo udah gede ya, Ric."


"Yang benar aja. Dia tuh masih sekolah, status masih seorang pelajar. Belum waktunya tau soal begituan!"


"Tapi, banyak lho Ric, anak-anak SMA jaman sekarang. Udah pada ngerti."


"Enggak! Enggak! Ivi enggak boleh pacaran sebelum lulus sekolah, titik!" tandasnya tegas.


"Tapi, gimana dengan Arya? Bukankah dia mantannya Ivi?"


"Aaaaaaa, soal itu ... eeem," Eric bingung mau menjawab apa. Karena Ivi pernah bercerita padanya, alasan Ivi dan Arya putus itu kenapa. Soal Arya yang pernah mencium Ivi.


"Kenapa? Ada apa?"


"Eeem ... pokoknya Ivi enggak boleh pacaran dengan siapapun, cowok manapun sebelum lulus, titik!" Eric mengulangi ucapannya. Sekarang ia menjadi kesal sendiri.


Tengah sibuk membicarakan Ivi, tiba-tiba ada seseorang membuka pintu.


"Hayooo, pada ngomongin gue ya. Gue denger lho tadi." Ivi menghampiri mereka.


Eric mencibir Ivi. "Iih, ge-er lo!"


Ivi balas menjulurkan lidahnya pada Eric. "Kak Rina, Om Adi dan Tante Retno bentar lagi dateng." Ivi memberitahu.


"Benarkah? Thanks ya Vi, dan sori gue udah bikin elo repot."


Ivi tersenyum seraya memberikan tanda oke pada Rina. Sekarang Ivi duduk sambil merentangkan kedua tangannya. Rasanya capek, ngantuk dan seluruh badannya terasa pegal. Itu karena ia tidur tidak di posisi yang benar.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu kedua orang tua Rina masuk bersamaan dengan kedua orang tua Ivi. Tante Retno segera menghampiri Rina di ranjang, begitu juga dengan Om Adi. Mereka semua terlihat sangat lega ketika melihat Rina baik-baik saja. Terlebih setelah mendapat telepon dari Ivi. Mereka tidak mau membuang waktu, segera mereka pergi ke rumah sakit. Dan sekarang, mereka terlihat begitu bahagia karena Rina sudah siuman.


Sore harinya, sudah waktunya untuk Ivi segera pulang. Itu karena ia sudah seharian berada di rumah sakit sejak ia ikut membawa Rina. Dan sekarang Ivi pulang seorang diri. Begitu turun dari taksi, Ivi melihat Alvin sedang duduk di kursi teras rumahnya. Ivi bertaut alis dan ia segera masuk.


"Alvin?"


Begitu melihat Ivi, Alvin menoleh padanya dan langsung berdiri. "Oh, hay Vi. Elo dari mana?"


"Gue habis dari luar," jawabnya sembari duduk di kursi sebelah Alvin. "Ada apa? Gue pikir elo masih marah sama gue."


Terlihat Alvin ragu untuk membuka mulut. Ia melirik Ivi sejenak, lalu berucap, "Sebenernya gue ke sini mau minta maaf sama elo. Ternyata gue udah salah paham sama elo. Gue minta maaf atas sikap gue waktu itu," ujarnya pelan.


Kini giliran Ivi yang melirik Alvin. Sedetik kemudian ia tersenyum. "Iye. Enggak apa-apa kok, gue ngerti. Gue malah seneng kalo sekarang elo udah paham. Jadi, gue enggak perlu ngerasa bersalah."


"Enggak kok, Vi. Ini murni kesalahan gue," ucapnya cepat. "Eh Vi, kemaren gue—" Alvin menghentikan kalimatnya sendiri.


"Ya? Kenapa?"


"Oh, enggak. Enggak apa-apa kok." Alvin mengurungkan niatnya untuk bertanya. Sementara, di sana Ivi masih menunggu Alvin untuk berbicara. "Kalo gitu gue pulang sekarang, ya. Elo juga kayaknya capek banget."


"Ah iya, hampir lupa. Sori, semalem gue enggak dateng. Kalo gitu gue titip salam aja buat Kak Rina dan Kak Eric ya. Selamat atas pertunangannya."


"He? Elo belum tau, kalo semalem pertunangan mereka batal?"


Alvin terlihat sangat terkejut. Benar juga, semalam Alvin tidak datang ke acara tersebut. Makanya ia tidak tahu mengenai hal ini. "Apa? Batal?"


Ivi mengangguk berkali-kali. "Iya dan Kak Rina semalem mencoba untuk bunuh diri."


Untuk yang kedua kalinya Alvin terkejut, lebih dari terkejut. Ia kaget bukan main. Kini, Alvin duduk kembali yang semula ingin pamit pulang. Dan di situ Ivi menceritakan semuanya pada Alvin dengan detail.


"Begitulah, jadi cowok yang kita liat waktu itu, dia yang udah menculik Kak Rina. Kayaknya dia mau balas dendam deh, karena dia di tinggalin Kak Rina. Dia enggak terima dan mau bikin acara Kak Eric berantakan. Gue enggak tau cowok itu tau dari mana kalo mereka bakal tunangan. Yang jelas di sini gue bisa simpulin kalo tuh cowok enggak terima di tolak Kak Rina. Makanya tuh cowok ngincer Kak Rina." Jelas Ivi sambil menganalisis perihal yang menimpa Rina dan Eric.


"Kenapa masalahnya bisa jadi kayak gini." Alvin ikutan heran. Di situ Ivi angkat bahu pertanda tidak tahu. "Tapi Vi, gue minta maaf karena gue enggak bisa bantu elo maupun Kak Eric. Gue enggak tau masalah yang menimpa mereka, itu karena gue enggak dateng ke rumah elo. Karena sikap kekanak-kanakan gue, akhirnya gue enggak bisa berbuat apa-apa. Maafin gue Vi, gue udah bersikap egois seperti ini. Maaf."


"Apaan sih, minta maaf melulu. Bukan salah elo juga kali, jadi elo enggak perlu minta maaf kayak gitu. Lagi pula semalem kita di bantu sama Kak Radit dan yang lainnya juga kok. Jadi semuanya bisa diatasi."

__ADS_1


Alvin terdiam lagi. "Apa, Arya juga ada?"


"Ya."


"Oh," Alvin mengangguk kecil. "Jadi, sekarang Kak Rina masih di rumah sakit?"


"Ya. Tapi, sekarang Kak Rina udah baikan."


"Gue ikut prihatin Vi untuk mereka. Gue bener-bener enggak tau apa-apa. Temen macam apa gue ini. Temen lagi kesulitan gue malah mementingkan diri gue sendiri. Apa yang udah gue lakuin sih!" Alvin geram terhadap dirinya.


"Udahlah, Vin. Elo jangan nyalahin diri elo sendiri dong. Ini sama sekali bukan salah elo. Asal elo tau, gue itu udah seneng banget kalo elo udah enggak marah sama gue, itu aja udah cukup. Ya, semuanya akan baik-baik aja, elo enggak usah khawatir." Ivi tersenyum sembari menepuk pundak Alvin berkali-kali. Ia berusaha menyakinkan Alvin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dalam hati Alvin masih belum yakin kalau ia sudah di maafkan oleh Ivi karena sikapnya.


Di rumah sakit ....


"Eric, elo enggak pulang? Udah seharian ini elo nungguin gue di sini. Mending sekarang elo pulang dan istirahat ya, gue enggak mau kalo sampai elo kenapa-napa."


"Enggak. Bentaran lagi."


"Benar, Ric. Kamu pulang saja, biar Tante dan Om Adi yang jagain Rina. Kamu juga butuh istirahat, sudah seharian kamu belum pulang lho. Nanti kalau kamu sampai jatuh sakit bagaimana? Kita enggak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Lagian besok kamu harus kerja, nanti kamu kecapaian." Tante Retno berusaha membujuk Eric untuk pulang dan beristirahat. Tante Retno tidak tega melihat Eric seperti itu.


"Eric enggak apa-apa, Tante," jawab Eric.


"Ric, demi gue. Gue mohon, elo pulang dan istirahat aja di rumah, ya. Gue udah baikan, gue enggak apa-apa kok, ya." Bahkan Rina pun harus turun tangan sendiri untuk membuat Eric luluh.


Di tatapnya Rina yang memandangnya dengan tatapan sayu. Eric menghela napas berat dan kemudian mengangguk. "Baiklah. Gue pulang sekarang, itupun elo yang minta. Tapi, elo juga janji harus jaga diri dan banyak istirahat."


"Iya, pasti." Rina tersenyum untuk meyakinkan Eric.


"Kamu tenang saja, ada Tante dan Mama kamu di sini menemani Rina. Kamu istirahat saja yang tenang, ya. Ini permintaan Rina lho."


Sekali lagi Eric menarik napas panjang. "Kalo gitu Eric pamit pulang ya, Tan. Maaf, Eric enggak bisa menemani Rina."


"Iya. Tidak apa-apa. Tante sudah sangat berterimakasih padamu. Berkat kamu, Rina sekarang ada di sini. Kalau bukan karena kamu, Tante tidak tau apa yang terjadi," ucap Tante Retno seraya memegang kedua tangan Eric.


"Sudah menjadi tugas Eric untuk menjaga Rina, Tan," balas Eric sembari menatap Rina.

__ADS_1


Setelah itu Eric pamit pulang ke Rina dan orang tuanya. Tidak lupa pada orang tuanya sendiri. Kini hanya tinggal keluarga Rina dan orang tuanya di sana.


__ADS_2