
Selama di perjalanan Ivi merasa kedinginan. Masih sedikit gerimis, tapi mau tidak mau Ivi harus memberanikan diri untuk pulang. Karena kalau tidak Ivi bisa kena semprot Eric. Selain itu ia juga kasihan dengan Alvin yang harus mengantarnya pulang.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Ivi.
Di sana Alvin tidak berlama-lama, karena sudah malam, dan juga takut kalau hujan lagi. Maka Alvin pun langsung pamitan dengan orangtuanya Ivi. Mereka bernapas lega melihat Ivi baik-baik saja, dan Ivi meminta maaf karena pulang terlambat. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan jika Ivi pulang terlambat, mereka hanya khawatir karena sejak Ivi keluar tadi siang tidak ada kabar darinya sama sekali. Tapi, Eric maupun orangtuanya lega karena Ivi berada di rumah Alvin. Mereka percaya dengan Alvin dan keluarganya, karena keluarga mereka sangat dekat.
Di kamar Ivi mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Ivi benar-benar mengantuk, ia pun tidak mau menunda lagi, langsung saja ia menarik selimutnya. Ivi memejamkan matanya, tapi sedetik kemudian matanya kembali terbuka.
"Tadi Alvin ngomong apaan ya, kayaknya gue denger dia bilang sesuatu deh. Tapi, apa ya?" Ivi berpikir sebentar, tapi kemudian angkat bahu. "Entahlah, cuma mimpi mungkin."
Di luar hujan kembali turun. "Kira-kira Alvin sudah sampe rumah belum, ya. Moga aja dia udah sampe rumah, kan kasihan kalo belum sampe tapi udah hujan. Gue bakalan ngerasa bersalah banget sama Alvin." gumamnya. Ia pun melanjutkan tidurnya kembali.
*****
Paginya...
Saat bangun tidak ada yang salah dengan Ivi, ia merasa baik-baik saja. Ia pun langsung mandi dan memakai seragamnya begitu selesai mandi. Selesai mempersiapkan jadwal untuk hari ini, ia pun bergabung di meja makan. Tapi, ketika melihat makanan yang ada di atas meja, Ivi merasa tidak berselera. Bukan karena masakan Mama, tapi nafsunya hilang entah kemana.
Eric yang melihatnya pun heran.
"Vi, elo gak sarapan?"
"Gue gak nafsu makan."
"Kenapa Vi, kamu sakit?" tanya Mama lalu menyentuh jidat Ivi. "Vi, kamu kok agak anget ya. Kamu gak apa-apa, kan?"
"Gak kok, Ma. Ivi baik-baik aja."
"Apanya yang baik-baik saja, kamu anget gini lho." ujar Mama khawatir.
"Masa sih, mana?" Eric ikutan memegang jidat Ivi. "Iya, bener lho, elo panas. Mending elo gak usah masuk deh."
"Gak bisa, tugas gue banyak. Lagi pula gue gak apa-apa, gue aman-aman aja kok." Ivi bersikeras.
"Tapi kalau kamu tambah panas gimana? Kamu gak usah masuk dulu ya, biar Kakakmu yang ijin sama Guru mu." kata Mama mulai cemas.
"Bener apa kata Mama. Mending elo gak usah masuk dulu. Takutnya elo kenapa-kenapa entar, elo kan gak tau." imbuh Eric.
"Ivi gak apa-apa, Ma, Kak... entar juga ilang sendiri kok. Kalian tenang aja."
__ADS_1
"Huh, biasa, di bilangin selalu ngeyel elo ini. Tapi, paling gak elo sarapan sedikit biar gak lemes. Gue ambilin ya?" tawarnya pada Ivi.
"Gak usah, Kak." tolak Ivi.
"Beneran, Vi. Mama khawatir lho." ucap Mama sembari memegang jidat Ivi sekali lagi.
"Mama tenang aja, oke?"
Mama hanya membuang napas pasrah membiarkan anak perempuannya itu berangkat sekolah. Walaupun dalam hati Mama merasa sangat khawatir akan keadaan Ivi. Dan, pagi ini Ivi benar-benar tidak makan apapun. Meski di paksa pun, Ivi tetap tidak mau sarapan.
Di sekolah...
"Pagi, Vi!" sapa Erwin.
"Yuk, pagi, Wawan mana?"
"Dia gak bareng gue." jawabnya sambil memperhatikan Ivi. "Elo kayak lemes banget, kenapa?"
"Gue gak apa-apa kok. Gue ke bangku gue dulu ya, Win." ujarnya pelan.
"Beneran elo gak apa-apa? Pucet gitu, elo sakit ya?" Erwin melihat ada yang aneh dengan temannya ini.
Ivi duduk di kursinya, lalu ia benamkan wajahnya di atas meja menggunakan tangannya sebagai penopang. Sampai-sampai Ivi tidak menyadari kalau Wawan dan Arya datang. Mereka menyapanya, tapi Ivi tidak menyahut sama sekali. Wawan masih belum sadar, makanya Wawan berpikir kalau Ivi biasa-biasa saja, dan sedang tidur. Lantas, Wawan pun membiarkan Ivi.
Tapi sampai bel berbunyi pun Ivi masih seperti tadi. Wawan merasa ada yang aneh dengan Ivi, tidak biasanya dia tidur di kelas apalagi pagi seperti ini. Wawan pun mencoba membangunkan Ivi.
"Vi, bangun. Udah bel."
Ivi mengangkat kepalanya, dan mendapati Wawan ada di depannya. Lalu, ia melihat sekelilingnya. Kepalanya terasa berat.
"Hmm... oh, elo Wan. Kenapa?" tanya Ivi ling lung.
"Udah bel barusan, makanya gue bangunin elo." Wawan heran. "Tapi, gak biasanya elo tidur di kelas kayak gini. Elo sakit?"
"Gue... gue cuma ngantuk aja kok." Ivi menguap.
"Bener?" Wawan bertaut alis tidak percaya, kemudian Wawan memegang jidat Ivi. "Wah, elo panas, Vi."
Ivi ikut memegang keningnya sendiri. "Masa? Gak tuh, biasa aja."
__ADS_1
"Iya kalo elo, ini elo beneran panas. Demam kali lo."
Mendengar pembicaraan Ivi dan Wawan, membuat Arya menghampiri Ivi.
"Ivi kenapa, Wan?" tanya Arya.
"Nih, coba lo pegang jidat Ivi, di kira gue bohong kali." kata Wawan.
Arya pun menuruti Wawan, dan setelah mengeceknya Arya sedikit kaget. "Bener kata Wawan. Vi, elo panas banget, mending elo istirahat di UKS ya, gue anter."
"Kalian berlebihan deh, gue gak apa-apa kok. Gue gak perlu ke UKS."
"Orang pucet gitu!" timpal Wawan.
"Gak perlu, Wawan!" Ivi tetap bersikeras.
Padahal terlihat jelas oleh Wawan dan Arya. Tidak di sangka Arya menarik tangan Ivi.
"Bangun lo." ucap Arya.
"Kenapa?" Ivi bingung.
"Udah, cepetan!" paksa Arya.
Ivi pun menuruti perintah Arya. Begitu Ivi berdiri Arya langsung menariknya keluar dari kelas, masih dengan menggandeng tangan Ivi. Saat di depan pintu mereka berpapasan dengan sang Guru.
"Hei, kalian berdua mau kemana? Ini sudah bel, ayo masuk!" perintahnya pada Arya dan Ivi.
"Maaf, Pak. Ivi sakit, jadi saya mau mengantarnya ke UKS. Bolehkah?" tanya Arya meminta ijin.
"Sakit? Sakit apa? Jangan cari-cari alasan supaya tidak mengikuti pelajaran saya, ya!" ujarnya tegas.
"Beneran, Pak. Saya gak bohong, nih badan Ivi panas. Bapak bisa cek langsung."
"O,oh, baiklah. Ivi boleh pergi ke UKS, tapi setelah ini kamu kembali ke kelas, ikuti pelajaran saya!" jawabnya cepat ketika melihat wajah Arya yang terlihat serius.
"Baik, Pak, terimakasih banyak. Kami permisi dulu, Pak." ujarnya sambil menganggukkan kepala.
Sang Guru mengangguk mempersilahkan dua muridnya pergi ke UKS, dan beliau pun masuk ke dalam kelas.
__ADS_1