
Oke, Eric sudah terlalu banyak tertawa. Ivi mulai kesal melihat Kakaknya tertawa mirip emak-emak bar-bar. Benar kan, pasti kalau Ivi cerita ke Eric bakalan jadi bahan tertawaan. Sekarang Eric tertawa seperti kuda. Tidak kunjung berhenti. Ivi yang di sampingnya mulai sebal.
"Kak...!"
"Hahaha... sori, sori... gue gak bermaksud untuk menertawakan kisah elo, cuma...!" Eric balik tertawa lagi.
Ivi mendengus kesal.
"Di liat dari manapun juga tau, kalo elo itu nertawain dan ngejek gue! Bisa stop gak sih tertawanya! Blabas sukurin tuh!" kecamnya.
"Oke, oke, gue tenang sekarang..." ujar Eric sembari mengatur nafasnya. "Sori Vi, gue beneran gak ada niat buat ngejek atau apapun. Jangan ngambek dong!"
"Huh! Nyesel gue ceritain ini ke elo!"
"Jadi, hanya gara-gara Arya nyium elo, sampai sekarang elo masih segitu bencinya sama dia? Ya ampun, Vi."
"Lagian kenapa Kak Eric malah ketawa?!"
"Buset dah, Vi, masa hanya karena masalah sepele, elo jadi benci dan gak mau bicara apapun sama Arya. Segitu gak sukanya elo sama Arya?"
"Kak, itu bukan masalah sepele ya. Dan kenapa Kakak bilang "hanya", bagi gue Arya itu udah salah besar tau!"
"Aduuh... jangan-jangan alasan elo gak mau gue cium juga gara-gara ini. Elo trauma. Pantes aja tiap kali gue cium, elo berontak habis-habisan, jadi ini toh." Eric mulai paham.
"Itu gak ada hubungannya kali!"
"Vi, Vi... dalam hubungan percintaan itu bukannya hal yang biasa dan wajar ya?"
"Gak! Menurut gue pacaran gak harus ada adegan itu, yang menurut gue gak harus ada di setiap orang pacaran! Kalo tujuan pacaran hanya untuk itu, buat apaan dong kalo cuma nafsu doang yang di cari!" dumel Ivi. "Berarti Kakak sama Kak Rina juga udah pernah dong!"
Eric tersenyum kecil lalu menggeleng. "Tidak pernah." jawabnya kemudian.
__ADS_1
"Lah? Gak pernah? Terus, kenapa elo bilang kalo itu adalah hal yang wajar dalam pacaran, kalo Kakak sendiri aja belum pernah melakukannya?"
"Itu karena gue menghormati Rina sebagai seorang wanita. Gue menghargai apa yang dia punya, gue murni tulus mencintai Rina. Gue bukan gak pernah, tapi gue belum mau melakukannya sebelum Rina bener-bener menjadi isteri gue. Itulah alasan kenapa gue gak mau melakukan apapun terhadap Rina, karena gue menghormati Rina." jelas Eric.
"Makanya waktu itu Kakak suruh gue buat tanya sama Kak Rina langsung?"
Eric mengangguk. "Dan untuk masalah elo, mungkin Arya bener-bener cinta sama elo, hanya saja caranya yang keliru."
"Bukan keliru lagi, tapi salah! Wrong!"
"Tapi setidaknya walaupun elo gak bisa menerima Arya kembali, cobalah untuk membuka hati elo, dengerin tuh penjelasan Arya. Jangan langsung pake emosi, elo belum tau apa-apa udah main emosi aja sih, makanya elo ngerasa susah sendiri kan. Lagian menghadapi masalah dengan emosi itu gak akan memperbaiki hubungan elo sama Arya. Inget gak apa kata Rina tadi, Tuhan aja mau memaafkan hambanya yang berbuat salah, masa adik gue gak mau maafin sesama hamba Tuhan. Turunin sedikit ego elo, oke. Jangan jadi orang yang egois."
Eric mengusap kepala Ivi pelan. Eric tersenyum ketika melihat Ivi mengangguk sambil menunduk.
"Jadi, selama ini gue yang udah jahat dong, bukannya Arya."
"Elo pasti bisa berpikir secara dewasa lah, elo kan udah gede, bukan anak-anak lagi. Pasti tau dong, mana yang baik dan buruk. Setidaknya elo dengerin penjelasan Arya sampe tuntas, dan meskipun kalian udah putus, tapi kalian masih bisa berteman, kan?"
"Tapi..."
Ivi menatap Eric. "Elo tau dari mana, kenapa bisa seyakin itu?"
"Tau lah posisi kita ketika kita berbuat salah dan ingin minta maaf, tapi orang itu malah mengabaikan kita. Dan elo ada di posisi itu, gimana rasanya, saat elo mau minta maaf tapi orang itu gak mau dengerin elo?"
Ivi terdiam.
"Gue percaya kalo elo itu punya kebesaran hati, dan gue percaya elo pasti bisa memaafkan Arya."
Lagi-lagi Ivi hanya bungkam.
"Seburuk, dan separah apapun orang itu berbuat salah pada kita, akan lebih baik jika kita juga bisa menerima permintaan maafnya. Itu akan lebih baik dari pada kita diam dan tidak mau mendengarkannya sama sekali. Kalo elo bisa ngelakuin itu, sungguh, elo orang yang bener-bener punya hati lapang."
__ADS_1
Di tempat lain...
"Jadi, Ivi itu mantan pacar elo, Ar?" tanya Radit setengah tidak percaya.
"Ya." jawabnya pendek.
"Terus, kenapa tadi Ivi bilang kalo kalian baru kenal?"
"Mungkin Ivi masih benci sama gue, makanya Ivi bilang kalo kita gak saling kenal. Gue tau dia harus berbohong."
"Begitu juga elo? Elo harus bohong gitu sama gue dan Eric?"
"Gak, gue cuma...!"
"Gak nyangka gue... tapi, apapun alasannya secepatnya elo harus menyelesaikan masalah elo itu. Gue gak mau hubungan gue sama Eric jadi rusak gara-gara masalah elo." kata Radit datar
"Gue ngerti, gue minta maaf. Tapi, sepertinya Ivi bener-bener udah gak bisa maafin gue. Dia udah bener-bener benci sama gue."
"Elo jangan lembek gitu dong. Elo sebagai cowok harus tegas, elo harus minta maaf sama Ivi kalo elo emang udah berbuat salah!"
"Udah gue coba berkali-kali, tapi tetap saja, Ivi gak mau ndengerin omongan gue." balas Arya lesu.
Tanpa di duga Radit justru memukul wajah Arya hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Arya tercengang menatap Kakaknya, ia terkejut apa yang baru saja terjadi. Di situ Radit menatap tajam kearah Arya yang masih memegangi wajahnya.
"Pengecut lo! Siapa yang ngajarin elo untuk jadi seorang pengecut seperti ini! Elo yang udah memulai masalah, jadi elo juga yang harus menyelesaikannya! Jangan main angkat tangan dari masalah yang elo buat dong!" sergah Radit emosi.
Radit masih melanjutkan.
"Arya, elo itu cowok, dan cowok itu jangan sampai menyakiti cewek. Cowok tuh pantang buat nyakitin perasaan cewek. Inget itu. Sebaiknya elo berdoa saja, kalo Ivi bakalan maafin kesalahan elo. Masih untung kalo Ivi mau mendengarkan omongan elo. Kalo gak, udah, selesai!"
Setelah itu Radit meninggalkan Arya di kamarnya. Sedangkan Arya masih tidak bersuara, ia hanya memikirkan ucapan Kakaknya tadi.
__ADS_1
*****
Pagi ini Ivi benar-benar malas untuk bersekolah. Mulai dari bangun, mandi, menyiapkan jadwal untuk hari ini, sarapan, eh pagi ini Ivi tidak sarapan, tidak ada nafsu sama sekali, dan mungkin saja ia lupa untuk sarapan. Saking tidak konsentrasinya, sampai-sampai ia melupakan kewajiban pagi harinya. Bahkan dengan langkah gontai ia memasuki halaman sekolah. Untung saja tadi waktu naik bis tidak sampai kebablasan. Bisa gawat kan.