This Is Me

This Is Me
eps 29


__ADS_3

Jadi sekarang masalah Ryo dan Zacky sudah selesai. Syukurlah, batin Ivi. Berarti Ryo membenarkan ucapannya waktu itu, apa itu tandanya mereka sudah baikan?


"Apa bener Ryo udah minta maaf sama elo? Emang elo bisa maafin Ryo gitu aja?" tanya Ivi memastikan. Meski sebenarnya ia sudah sangat yakin.


"Sejak awal gue emang gak mau ada keributan, kan. Gue mau maafin dia kalo dia mau nyerah sama Indah. Gue gak masalah selama Ryo gak cari masalah sama gue. Lain cerita kalo Ryo masih ngotot. Elo pastinya tau apa yang akan gue lakuin." kata Zacky.


"Hmm... gue paham." Ivi manggut-manggut.


"Dan sebagai ucapan terimakasih gue ke elo, hari ini gue traktir! Elo mau makan apa? Pilih sendiri, entar gue yang bayar." imbuh Indah.


"Weh... seriusan nih, kok gue jadi gak enak gini ya. Padahal gue gak ngelakuin apa-apa lho." Ivi meringis malu.


"Santai. Sesekali gak apa-apa, kan."


"Hehehe... besok dua kali ya Ndah!" balas Ivi usil.


Jadilah mereka bertiga makan bareng. Dan ini adalah rezeki untuk Ivi.


Berikutnya Ivi kembali melanjutkan perjalanannya, harusnya ini sudah waktunya untuk pulang, tapi karena Ivi masih ingin jalan-jalan sebentar, maka ia pun memutuskan untuk melanjutkan berburunya. Berburu makanan maksudnya. Pulang sedikit telat tidak masalah kan.


Beberapa menit ia berjalan, Ivi menemukan sebuah stand jajanan kecil. Ini sudah menjelang sore, biasanya di tempat tersebut akan sangat ramai di penuhi oleh para penjual jajanan. Tidak mau buang waktu lagi, Ivi segera mencari jajanan di sana. Sudah mulai ramai di sini. Setelah beberapa saat melihat-lihat akhirnya pilihan Ivi jatuh pada syomai dan batagor. Makanan yang di sukai Ivi, dan tidak ketinggalan es lemon tea.


Ivi mengambil tempat duduk di bawah pohon, di sana ia menyantap makanannya sembari mengamati sekitarnya.


Sedang konsentrasi mengunyah, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depannya. Ivi heran dan sedikit merasa terganggu. Ia pun menengadah dan melihat orang tersebut. Beberapa detik kemudian bibirnya tersenyum saat melihat siapa orangnya.


"Alvin!"


"Heh, gue kira lo gak nyadar." sahutnya.


"Tau lah, orang elo berdiri di depan gue, segede gini masa iya gak kelihatan. Walaupun barusan sempet kesel sih."


Alvin duduk di samping Ivi. "Elo laper atau apa sih, beli makanan banyak gitu. Emang muat tuh perut?"


"Yaelah, cuma dua ini doang. Gak banyak juga porsinya. Kenapa, elo mau? Makan punya gue aja, kalo beli lagi gue gak mampu bayarnya!" candanya.


"Hmm? Boleh deh, siniin satu." Alvin mengambil batagor milik Ivi, lalu mulai memakannya.


"Elo ngapain di sini, cari makan juga? Emang Tante gak masak?"

__ADS_1


"Gak, gue biasa cari jajan di sini juga. Mumpung masih sore. Mama pastinya masak, tapi gue lagi pengen jajan."


Sedang tenang-tenangnya makan, beberapa kali gemuruh berbunyi dan langit terlihat mulai mendung.


"Masa mau hujan sih." kata Ivi.


"Belum tau, gemuruh belum tentu hujan."


Ivi hanya mengangguk kecil. "Eh, Vin, gimana lanjutannya?"


"Lanjutan apanya?" kata Alvin.


"Itu, soal cewek yang elo suka. Gimana? Ada kemajuan? Elo udah bilang sama dia belum? Apa dia terima elo?" tanya Ivi penasaran.


"Elo penasaran banget ya?" tanya Alvin sambil memasukkan batagor ke dalam mulutnya.


"Habisnya elo kalo cerita gak pernah tuntas sih, jadinya gue penasaran. Hmm... kalo elo udah jadian sama cewek itu, gue bakalan kesepian dong." ujar Ivi pelan.


Alvin menghentikan makannya, lalu beralih menoleh ke Ivi. "Kenapa begitu?"


"Ya otomatis hampir seluruh waktu elo bakalan buat cewek elo. Pasti gak ada waktu buat gue lagi. Kayaknya gue bakal cemburu nih kalo elo udah jadian, entar siapa yang bisa gue ajak pulang bareng. Gak mungkin elo, kan. Wah... gue egois amat ya?" Ivi bergumam sendiri.


"Kok gitu? Sebenernya siapa sih ceweknya? Jadi makin penasaran tau gak."


"Elo beneran pengen tau?" ia menatap Ivi.


Ivi mengangguk beberapa kali.


"Kalo nanti elo tau, elo bakalan marah gak?"


"Ng, kenapa gue harus marah?" Ivi heran.


Alvin diam beberapa saat. Sekarang Alvin menatap Ivi cukup lama, tidak ada satu jam yang pasti. Ia memperhatikan wajah Ivi yang tengah menunggu jawaban dari Alvin.


"Cewek yang gue suka itu..." Alvin menggantung kalimatnya sesaat. Lalu ia lanjutkan. "Cewek itu, sekarang... ada di depan mata gue..." ucap Alvin lirih.


Tapi tiba-tiba sebutir air jatuh dari atas, lalu di ikuti yang lainnya. Hujan maksudnya.


Sepertinya bukan hari keberuntungan Alvin saat ini, tepat setelah Alvin menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba hujan turun dengan deras mengguyur mereka. Ivi dan Alvin berpandangan panik. Bukan hanya Ivi dan Alvin saja yang panik, mereka yang tengah menikmati jajanan pun ikut berlarian mencari tempat untuk berteduh.

__ADS_1


"Yaah, hujan, berteduh yuk!" ajak Ivi.


Mereka berdua berhasil menemukan tempat untuk berteduh. Ada beberapa orang yang juga ada di sana. Untuk saat ini mereka aman. Sepertinya hujannya bakalan lama.


"Aiiiih...! Basah kan, kenapa mendadak hujan sih! Gimana pulangnya ini!" keluh Ivi.


"Entar bareng gue. Gue bawa motor."


"Ugh! Makin bete nih gue! Lagi makan pake hujan segala! Rugi gue!"


Alvin menggeleng kepala. "Yang di pikir makanan terus. Tapi, elo udah bilang sama orang rumah kalo elo pergi, kan?"


"Udah sih, kalo gak salah." Ivi meringis. Terlihat Ivi menggosok lengannya supaya tidak kedinginan.


Sepertinya Alvin menyadari hal itu. Lantas ia membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Ivi. "Nih, pake."


Ivi agak terkejut. Lalu di liriknya Alvin. "Wah, elo lagi berlagak sok keren di depan gue ya? Pake ngasih gue jaket lo segala. Elo sendiri menggigil gitu."


"Bisa diem gak?" tandasnya.


"Hihihi... meskipun elo ngasih gue jaket, gue gak bakalan tersentuh, terus jatuh cinta sama elo kayak di film-film itu." ujar Ivi usil.


Alvin melotot ke arah Ivi, dan seperti ingin menjitaknya. Ia gemas melihat Ivi.


"Iya, iya! Bercanda, maaf! Tapi, thanks ya." Ivi cekikikan geli.


Mereka berniat menunggu sampai hujannya reda, tapi kenapa hujannya semakin deras saja. Ivi mulai bingung, karena hari mulai gelap. Jam berapa ini, ia hendak mengecek hp nya, tapi ketika menekan tombol on layarnya tetap gelap. Sepertinya mati. Bagaimana caranya Ivi menghubungi orang rumah.


"Vin, pinjem hp elo dong. Hp gue mati."


"Sori, gue gak bawa. Hp gue tinggal di rumah. Kenapa emangnya?"


"Gue mau telepon Kak Eric, buat ngasih tau kalo gue masih di luar, dan bakalan telat pulangnya."


"Gak perlu, mending sekarang kita pulang ke rumah gue aja dulu. Rumah elo kan jauh, gue bawa motor jadi cepet kalo balik ke rumah gue. Elo nunggu di rumah gue aja, dari pada di sini."


"Hah? Sekarang?"


Ivi menatap Alvin tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2