
Setelah itu apa yang akan terjadi di sana. Eric yang tidak terima wajahnya di lempar pakai bantal, kini ia menghampiri Ivi lalu mengunci di ketiaknya.
*****
Satu minggu berlalu begitu saja. Tidak ada yang berubah sama sekali, hanya begitu-begitu saja di sekolah. Kegiatan belajar berjalan dengan mulus. Selain Arya yang mulai akrab dengan kawan-kawannya, ia juga mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah. Setiap harinya Arya bersama Ivi dan yang lainnya. Begitu juga dengan para cewek-cewek di sekolah yang terus mencoba mendekati Arya. Mereka masih penasaran dengan Arya, dan menyelidiki hubungan antara Ivi dan Arya. Dan ketika Arya mulai kewalahan menghadapi para cewek itu, ia akan meminta pertolongan pada Ivi. Dengan senang hati Ivi akan datang membantunya. Tentunya hal itu membuat mereka semakin curiga pada Ivi.
Selain itu Ivi sepertinya mulai terbiasa bersama Arya di sekitarnya. Tidak ada yang berubah dari Ivi, termasuk perasaannya.
Lalu apa lagi yang tidak berubah selain mereka? Tentu saja tidak ada. Hanya saja berbeda dengan Ryo. Ryo masih bersikap acuh terhadap Ivi. Ryo terus menghindar dari Ivi sejak kejadian beberapa hari yang lalu. Sepertinya Ryo benar-benar tidak ingin berbicara dengan Ivi. Terlihat sangat jelas bahwa Ryo mengabaikan Ivi. Terbukti, tiap kali Ivi hendak memanggilnya atau hanya sekedar menyapa, Ryo sudah lebih dulu pergi begitu menyadari keberadaan Ivi. Ia hanya membuang nafas kesal saja melihat sikap Ryo.
Hari berikutnya dan berikutnya lagi, Ryo masih tetap sama. Ryo menganggap seolah Ivi itu adalah musuhnya. Mungkin teman-temannya juga menyadarinya.
Tapi, siapa yang akan menyangka, kalau ternyata Ryo yang malah lebih dulu menghampiri Ivi, saat itu Ivi yang baru saja keluar dari UKS sekolah, tiba-tiba ia di kejutkan dengan kemunculan Ryo. Tentu saja Ivi tidak percaya.
"Vi, gue mau bicara sama elo, bisa?"
"Ng, bisa."
"Gue mau minta maaf sama elo, Vi. Gue udah berkata seperti itu sama elo, gue udah nyakitin hati elo. Waktu itu gue lagi emosi. Elo bener kalo gue ini emang gak punya perasaan, dan gue minta maaf karena itu."
"Gue ngerti, elo gak bermaksud berkata demikian. Oke, gue paham."
"Gue sadar kalo gue salah, dan bersikap seenaknya sendiri tanpa tau bagaimana perasaan Indah dan Zacky. Gue salah karena udah berani suka sama Indah. Gue udah bodoh karena gak menyadari kesalahan yang gue buat. Karena gue, elo jadi ikut terseret masalah gue."
"Gue yang harusnya minta maaf, tanpa gue sadari gue ikut campur urusan elo. Mungkin elo bener, gue yang gak pernah suka sama seseorang tidak akan pernah tau bagaimana rasanya menyukai seseorang. Elo bener tentang gue, Ryo."
"Bukan, berkat elo gue jadi sadar di mana letak kesalahan gue, Vi. Karena elo, gue akhirnya tau, kalo perasaan gue itu salah arah. Harusnya gue dengerin elo sejak awal. Mungkin elo juga bakal marah dan emosi jika di posisi Zacky. Siapa yang gak marah kalo ada yang suka pacarnya."
"Gue tau, gue percaya sama elo, kalo elo bisa mikirin gimana perasaan elo sendiri. Bagaimana menjaga perasaan elo, gue hargai itu. Makanya gue bilang, sebaiknya elo pikirkan dulu tindakan elo."
__ADS_1
"Sekali lagi gue minta maaf, Vi. Sekarang gue udah gak mau berurusan dengan Zacky lagi. Gue udah menyerah untuk Indah. Gue gak akan mengganggu mereka lagi. Sudah cukup gue membuat masalah untuk Indah dan juga elo. Maafin gue, Vi."
"Gak apa-apa. Gue seneng dengernya, gue bersyukur kalo elo mau ngerti apa yang sudah elo lakuin. Sekarang elo bisa kembali berteman dengan Indah maupun Zacky dengan normal."
"Thanks ya, Vi, elo udah mbuka mata gue. Elo udah bikin gue sadar di mana letak kesalahan gue. Gue bener-bener beruntung punya temen kayak elo, Vi."
"Santai. Gue bicara kayak gini sama elo, karena gue bener-bener peduli sama elo. Gue gak mau kalo elo kenapa-kenapa nantinya."
"Ya, terimakasih elo udah bantuin gue. Sekarang gue bisa lega."
"Gue harap kalian tetep kayak gini, berteman, tanpa ada konflik lagi. Gue gak suka liat temen gue itu musuhan. Thanks, karena elo mau mengerti."
"Baiklah, hanya itu yang pengen gue sampaikan. Terimakasih, dan maaf udah bikin elo susah."
Ryo maupun Ivi tersenyum setelah selesai bicara. Dan, akhirnya Ivi bisa melihat senyuman Ryo lagi, karena sejak kejadian itu Ryo sama sekali tidak mau menunjukkan ekspresi wajahnya. Apakah sekarang Ivi boleh bernafas lega?
*****
Kira-kira seperti itulah reaksi anak-anak jika mendengar hari libur. Tapi tidak dengan Ivi, mau hari minggu atau hari apa saja, baginya itu tidak akan berpengaruh pada Ivi. Semua sama saja.
Saat itu jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, eh jam sepuluh itu bisa di bilang pagi atau siang? Ah sudahlah, yang jelas saat ini Ivi tengah jalan-jalan di luar seorang diri.
Biasa, Ivi mampir ke kafe, di sana ia duduk dan di temani secangkir kopi. Tidak lupa koran yang tengah di bacanya. Eh, bukan koran deng, tapi novel yang sedang di hadapannya. Kafe tersebut memang menyediakan berbagai macam buku untuk para pengunjungnya. Dan Ivi sedang menikmati waktunya.
Saking asiknya membaca novel, tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang.
"Hey, Vi!" sapanya.
"Heh, Indah?"
__ADS_1
"Elo lagi ngapain di sini sendirian?" tanya Indah, yang kemudian ikut duduk bersama Ivi.
"Lagi mulung!" candanya. "Ya lagi baca novel lah, di temani secangkir kopi!"
"Bisa aja lo. Eh Vi, apa elo ini termasuk orang yang gak betah di rumah kalo hari libur gini?"
"Gak juga sih, cuma iseng aja main keluar. Lha, elo sendiri sama siapa? Sendiri?"
"Jelas gak dong! Gue di temani sama Zacky!"
"Udah gue tebak." ujar Ivi sembari menyeruput kopinya lagi.
Lalu datang Zacky menghampiri mereka. "Weh, ada Ivi juga. Hay, Vi!" sapanya.
"Halo, Zacky."
"Lagi santai nih, kok sendirian aja. Cowok elo mana?" tanya Zacky yang juga ikut duduk di samping Indah.
Hampir saja Ivi tersedak kopi yang baru saja di telannya. Sontak Ivi tertawa mendengar pertanyaan Zacky. "Astaga! Gue lupa kalo gue ini gak punya pacar! Bercanda lo?"
"Ya kali aja. Tapi, kebetulan kita ketemu di sini. Ada yang mau gue omongin sama elo."
"Ng, soal?"
"Soal Ryo." sahut Indah.
"Gue gak tau apa yang udah elo lakuin pada Ryo. Yang jelas kemaren dia tiba-tiba nyamperin gue dan minta maaf sama gue. Awalnya gue gak percaya gitu aja, tapi setelah mendengar penjelasan dari dia akhirnya gue ngerti. Dia bilang kalo dia udah nyerah sama Indah, dan Ryo juga bilang gak bakalan ganggu gue sama Indah lagi. Dia udah ngaku salah." jelas Zacky.
"Iya kah?"
__ADS_1
"Ya, gue juga gak bisa langsung percaya dong, mengingat gimana dia ngotot pengen mendapatkan Indah. Kalo liat waktu itu, gimana Ryo pengen mancing gue, tentu aja gue marah dan emosi. Bahkan elo liat sendiri kan gimana reaksi gue."
Ivi mengangguk. Jadi, memang benar bahwa Ryo sudah menemui Zacky. Ryo sudah menyelesaikan masalahnya dengan Zacky.