
Benar saja, di tengah derasnya hujan mereka berdua nekat menerobosnya. Alhasil sampai rumah Alvin, mereka berdua basah kuyup.
"Gila! Elo bener-bener nekat, Vin! Gue sampe gemeteran gini! Udah gak waras kita, nekat nerjang hujan, mana deres banget tadi!" Ivi memegangi kedua lengannya. Ia benar-benar kedinginan sekarang.
"Kalo gak di terobos, kita masih di sana nungguin hujan reda, dan gak tau sampe kapan. Mending di sini, walaupun basah setidaknya udah aman di rumah."
"Iya sih. Emak lo ada di rumah kan?"
"Ada kok. Kalo gak ada mana mungkin gue berani bawa cewek ke rumah malem-malem gini." jawab Alvin santai.
"Kali aja, soalnya gue takut, kalo..."
"Tenang aja, gue gak bakal nyerang atau gigit elo. Gue gak tertarik sama tubuh elo yang kerempeng itu." kata Alvin cuek.
"Bisa-bisanya elo ngeledek gue setelah elo bikin gue kayak tikus masuk got kayak gini! Alvin, gue kedinginan tau!" kesal Ivi.
"Ya udah ayo masuk, gue kasih handuk sama baju ganti. Emang lo doang yang kedinginan, gue lebih dingin karena gue yang bawa motor di depan!"
"Intinya kita sama-sama basah kuyup somplak!" maki Ivi.
Mereka masuk dengan baju yang benar-benar sangat basah. Mama Alvin terkejut melihat dua anak itu yang sudah seperti kucing kedinginan.
"Kalian berdua kenapa basah begitu?"
"Maaf, Tante, ganggu Tante malam-malam gini. Tadi Ivi sama Alvin ketemu di jalan, mau pulang udah keburu hujan. Tadi udah sempet neduh, cuma ya itu kelamaan nunggunya. Makanya Ivi sama Alvin nerjang hujan deh." jawab Ivi di susul cengiran.
"Ya ampun, nekat banget sih Kalian ini. Ya sudah, kalian keringkan badan dulu biar gak masuk angin. Tante bikinin teh anget ya buat kalian. Vin, kamu kasih Ivi baju ganti ya, habis itu kamu juga ganti baju." perintahnya pada Alvin.
"Iya, Ma." jawabnya. "Vi, gue ambilin handuk bentar ya."
Mama Alvin ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk Ivi, sementara Alvin masuk ke kamarnya mencari baju untuk Ivi dan juga handuk.
Tidak lama setelah itu Alvin keluar membawa handuk serta kaos dan celana untuk Ivi, tidak mau buang waktu ia pun segera mengganti bajunya di kamar mandi. Berselang beberapa menit kemudian Ivi sudah keluar kembali dengan handuk yang melilit di kepalanya.
"Belum reda juga hujannya?"
"Belum. Minum dulu tuh tehnya." kata Alvin yang juga sudah selesai ganti baju.
"Ow, thanks, Vin."
"Oh kalo elo mau ngabarin rumah, pake hp gue aja tuh." kata Alvin seraya menunjuk hp miliknya yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Bener juga, hampir gue lupa!"
Ivi meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menyambar hp milik Alvin yang ada di sampingnya. Ia menelepon nomor Eric. Begitu tersambung ia mendengar suara Eric di seberang.
"Halo, siapa?" tanya Eric di seberang.
"Kak, ini gue."
"Heh, elo di mana? Hujan nih, kenapa elo belum pulang juga! Mana hp lo gak bisa di telepon! Bikin orang rumah khawatir aja! Di mana lo sekarang!" sergah Eric di telepon.
"Huh, santai aja kenapa sih, gak usah ngegas gitu. Masih untung gue inget telepon elo. Gue sekarang di rumah Alvin, tadi ketemu dia di jalan. Karena hujan makanya gue mampir di mari. Hp gue mokad tadi!" jelas Ivi.
"Huh, dasar, bikin khawatir aja!"
"Iya, maaf. Sekarang elo gak usah khawatir lagi, gue aman di rumah Alvin selama dia gak macem-macem sama gue."
Yang lagi di omongin lantas melotot ke arah Ivi kesal.
"Ya udah, jangan terlalu malam pulangnya."
"Tergantung hujannya udah reda atau belum."
"Udah ya, ini pake hp orang. Jangan lama-lama, entar habis pulsanya! Udah ya, makasih Kak, bye!" Ivi menutup teleponnya. Lalu cengengesan.
"Napa lo?" Alvin terheran.
"Gak kok."
"Elo udah makan belum?"
"Udah tadi syomai, sama batagor, tapi batagor gue, elo ambil. Ya udah, tapi gue masih kenyang sih."
"Masih di bahas, gak ikhlas aja lo. Ah, gue ke kamar bentar." ucapnya lalu beranjak berdiri.
Ivi menaikan kakinya ke atas kursi agar merapat, lalu ia memeluk kakinya. "Dingin banget! Bener-bener deh Alvin, tau hujan kayak tadi main terjang aja. Gue ya kenapa mau aja tadi di ajak! Oneng kan gue, huh!"
Di luar masih hujan deras, mau sampai jam berapa itu redanya. Kini ia menyelimuti kakinya menggunakan handuknya. Ivi berharap kalau hujannya akan segera mereda. Ia merasa tidak nyaman berada di rumah cowok malam-malam seperti ini, meski ia sudah kenal akrab dengan Alvin dan orangtuanya, Ivi hanya tidak terbiasa saja seperti sekarang. Ini juga terpaksa karena hujan.
Alvin keluar dari kamar. "Vi, kalo gue liat, sepertinya elo sama Arya makin deket. Elo sama Arya udah baikan emang?"
Alvin bertanya tanpa melihat orangnya, ia menunggu, kenapa Ivi tidak menjawabnya. Alvin merasa aneh, lantas ia pun menoleh padanya.
__ADS_1
"Vi?" panggilnya. Alvin mendapati Ivi sudah tertidur. "Yee, malah molor."
Alvin hendak membangunkan Ivi, tapi ia urung karena kasihan. Selain itu sepertinya Ivi
kelelahan. "Kalo elo pake handuk buat selimut, yang ada entar lo masuk angin, dasar!"
Alvin masuk ke kamar, lalu keluar lagi sambil membawa selimut. Kini ia memberikan selimut itu untuk Ivi. Alvin duduk di samping Ivi sembari memperhatikan wajahnya. Sedetik kemudian Alvin tersenyum.
"Andai elo tau, Vi. Kalo cewek yang gue suka itu elo. Apa, gue boleh menyukai elo? Maafin gue, Vi." ucap Alvin lirih.
Kini Alvin berjalan memeriksa di luar, sepertinya hujannya sudah berhenti. Tapi, ia tidak ingin membangunkan Ivi.
Ivi mengerjapkan mata perlahan. Kakinya terasa pegal dan ia mendapati dirinya sudah memakai selimut. Perasaan tadi ia pakai handuk untuk menutupi kakinya. Apa Alvin yang memberi selimut padanya? Kini ia melihat jam di dinding.
"Woaah! Udah jam sembilan! Buset, gue ketiduran berapa lama! Alvin kenapa gak bangunin gue sih!"
Cepat-cepat Ivi melangkah ke arah jendela, dan memeriksa di luar. "Oh kayaknya udah reda sih." gumamnya.
"Udah bangun lo?"
"Elo kenapa gak bangunin gue sih?"
"Elo tidurnya nyenyak gitu, mana gue tega."
"Lebih tega mana kalo gue pulangnya kemaleman?!" ia geregetan.
"Tenang aja, gue anterin. Gak usah heboh deh, kayak gak bisa pulang aja lo. Entar gue balikin elo ke rumah!"
"Ya udah, kalo gitu anterin gue sekarang yuk. Udah malem lho ini, gue bakalan kena omel Kak Eric nih!"
"Sekarang?" tanya Alvin.
"Besok! Ya sekarang lah, Alvin! Elo pengen liat gue tidur di luar apa?"
"Gak nginep aja?"
"Sembarangan aja lo, gak boleh lah. Mana Tante, gue mau pamit. Sekalian gue siap-siap dulu. Anterin gue sekarang lho ya!"
"Iya, iya bawel! Udah sono, Mama ada di kamar!"
Ivi mengetuk pintu kamar Mamanya Alvin. Setelah pintu terbuka dan mendapati Mama Alvin belum tidur, Ivi langsung berpamitan. Ia mencium punggung tangan Mamanya Alvin, lalu setelah itu ia bergegas pulang.
__ADS_1