This Is Me

This Is Me
eps 34


__ADS_3

Ivi melotot ke arah Eric. Rasanya kesal tiap kali ia mendengar kata pacar.


"Apaan sih! Gak ada hubungannya kali!"


Eric tertawa, "Elo tenang aja, meskipun gue nanti bakalan pindah ataupun gak, elo tetep adik gue yang paling gue sayang kok."


"Gombal Mukiyo!"


"Gue juga bakal punya tanggung jawab sendiri, entah itu pekerjaan atau rumah tangga. Gue juga gak mungkin bergantung sama Mama dan Papa terus. Gue gak mau ngerepotin mereka lagi nantinya. Karena kalo gue udah menikah, otomatis gue ini bukan tanggung jawab mereka lagi. Giliran gue yang bertanggung jawab atas Rina."


"Apa, gue juga bakal seperti Kakak, ya?"


"Tentu saja ... nanti kalo udah waktunya elo nikah, elo juga pasti bakal ikut suami elo, atau mungkin ikut mertua malah."


"Kalo gue dapet mertua yang cerewet gimana?"


Eric tertawa renyah, "Yang penting elo nurut aja apa kata suami dan mertua. Entar lama-kelamaan mertua elo bakalan luluh juga. Mertua elo bakal kalah, kalo elo bisa menghadapinya. Yang penting adalah kesabaran, jangan mudah emosi, apapun yang mertua elo katakan, turutin, kalaupun elo jengkel, tahan aja. Mertua kan sangat sayang sama menantu yang penurut."


"Penurut, emang anak kecil! Kalo apa-apa cuma bisa nurut dan sabar, berarti gue bodoh dong!"


"Hiih! Nih anak di kasih tau malah bantah!" Eric geram pada adiknya.


"Lagian, jaman sekarang mana mau menantu tinggal bareng mertua. Yang ada entar di suruh ini dan itu! Males!"


"Kalo elo ikut suami juga bakalan di suruh ini itu, karena itu emang tugas elo sebagai isteri! Paham?!"


"Huh! Gak mau denger!"


"Apaan sih! Kenapa malah ngomongin sampe situ. Sekarang penting buat elo adalah, belajar yang rajin dan serius. Entar kalo lulus elo bisa lanjutin tuh sampe kuliah. Terus kerja yang bener, baru boleh menikah. Jangan nikah kalo belum ada modal kemampuan otak atau keterampilan yang bisa menjamin kehidupan elo setelah menikah."


Di situ Ivi manggut-manggut saja.


"Lha kok malah ngelantur ngomongin nikah sih! Udah mandi sono, bau tuh badan elo!"


"Gue capek plus ngantuk berat!"


"Kalo udah mandi kan enak."


"Gue entar aja deh. Ah, gue lupa kalo gue punya PR. Kalo gitu gue ke kamar ya, Kak."


Ivi pun beranjak masuk ke kamarnya.


Di kamarnya Ivi memeriksa jadwal untuk hari Senin besok. Sekalian saja ia menyiapkan semua keperluannya. Saat ia ingin membuka buku tugasnya, mendadak ia menyadari sesuatu.


"Bener juga kata Kak Eric, mending gue mandi aja dulu. Udah lengket banget badan gue."


Ivi menyambar handuknya, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Saat memeriksa ponsel, terdapat beberapa panggilan tidak terjawab di sana.

__ADS_1


"Alvin? Wah, gue gak denger sama sekali. Tadi gue mode silent sih, jadi gak tau. Apa, gue telepon balik aja kali ya?"


Ivi hendak menelpon Alvin, tapi tiba-tiba perutnya terasa mulas, maka ia pun mengurungkan niatnya. Dan, meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya.


*****


Besoknya ...


"Entar elo langsung pulang ya. Mau gue jemput atau gimana?" tanya Eric.


"Gue pulang sendiri aja deh, Kak. Elo gak usah jemput gue," jawab Ivi mantab.


"Ya udah. Tapi, hati-hati lho ya. Kalo gitu gue cabut dulu, belajar yang rajin ya!"


"Iyeee!"


"Bye!"


Setelah Eric berlalu, Ivi bernapas lega. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya kuat-kuat.


"Elo kenapa narik napas panjang gitu sih?" tanya Arya yang sudah ada di belakangnya. Ivi pun agak terkejut.


"Eh, elo Ar. Gak kok, cuma agak heran aja."


"Heran kenapa?"


"Ya, perasaan baru aja tidur, udah pagi lagi, sekolah lagi, hah ...!"


"Hehe ... yuk ah masuk."


"Kita balapan, gimana? Siapa yang nyampe duluan ke kelas dia yang menang," tantangnya pada Ivi.


"Hmm ... boleh aja! Siapa takut!" jawab Ivi cepat.


"Oke. Gue hitung sampe tiga ya. Siap?"


"Siap!"


"Oke. Satu ... tiga...!"


Entah bagaimana, tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba Arya langsung berlari mendahului Ivi. Sedangkan, Ivi bingung dengan hitungan Arya. Tidak mau menunggu lagi, ia pun segera berlari, karena tidak mau kalah darinya. Ivi berusaha mengejar Arya di belakangnya.


Di belakang terdengar Ivi berlari mengejar Arya sambil memakinya. Tapi, sepertinya Arya tidak memperdulikan makian Ivi. Ia terus berlari meninggalkan Ivi yang masih jauh tertinggal.


Sesampainya di depan kelas, Arya yang sampai lebih dulu dari Ivi. Ia tertawa karena berhasil mengalahkan Ivi, dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Gue yang menang!" ujar Arya.

__ADS_1


"Haaah! Curang lo, katanya ngitung sampe tiga! Tadi elo ngitungnya salah, gue bingung tau! Tiba-tiba elo main lari aja ninggalin gue!" sungut Ivi kesal, tidak terima.


"Kan, gue bilang, sampe tiga. Tadi gue udah bener kan ngitungnya!" Arya tertawa.


"Salaaaah!" protesnya geram.


"Mau di ulang atau gimana? Gue nurut deh."


"Ogah! Entar juga palingan gitu lagi, huh!"


"Pagi guys!" sapa Adel.


"Pagi, Adel," balas Arya.


"Kalian berdua habis ngapain? Kenapa ngos-ngosan gitu?" Adel memperhatikan Ivi dan Arya bergantian.


"Habis balapan, tapi Arya curang tuh. Ngitungnya salah, masa belum sampe tiga udah lari duluan!" Ivi dongkal lagi.


Arya tertawa lagi.


"Kalian akrab banget sih, gue jadi cemburu nih liat kalian berdua, uh!"


"Lha kenapa?" Ivi heran.


"Secara, Arya kan anak baru, tapi elo udah akrab aja. Mana keliatan deket banget lagi!"


"Wah, Ar ... Adel suka sama elo tuh kayaknya. Tapi, bukannya elo itu udah punya Erwin ya?"


"Apaan sih! Kok jadi bawa-bawa Erwin!" gerutu Adel. "Oh, Vi, tadi Erwin nyariin elo tuh. Katanya mau jiplak PR lagi."


Kini mereka bertiga memasuki kelas. Benar saja, Erwin langsung memohon pada Ivi agar di pinjamkan PR. Ivi hanya menghela napas. Tapi, ia punya ide yang lebih bagus. Ketika melihat Arya sontak ide tersebut muncul.


"Ar, elo bisa bantu gue gak?"


"Apa?"


"Win, dari pada elo njiplak PR gue, mending elo ngerjain bareng Arya. Dia pinter lho, jadi sekalian elo belajar rumus-rumusnya, gimana?" tanya Ivi pada Erwin.


"Tapi, udah gak ada waktu lagi, Vi ..."


"Makanya, sekarang di kerjakan. Semakin elo banyak bicara, semakin banyak pula waktu yang terbuang sia-sia. Udah sana cepet!"


"Tapi, Vi ...!"


"Ar, elo bisa kan bantu Erwin ngerjain tugasnya? Please, sekalian ajarin dia bagaimana ngerjain rumusnya," pinta Ivi.


"Oke, gak masalah."

__ADS_1


"Thanks, Ar. Nah, Win, Arya bersedia bantu elo tuh. Setidaknya elo bisa bebas dari hukuman Guru kali ini. Sana kerjain, keburu Pak galak dateng!"


Mendengar nama Pak galak, membuat Erwin cepat-cepat mengerjakan tugasnya. Karena ia tidak mau lagi di suruh berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai.


__ADS_2