This Is Me

This Is Me
eps 23


__ADS_3

Ivi duduk di depan Ryo sambil menatapnya dingin. Sesekali Ivi membuang nafas berat.


"Apa gue bilang, untung elo gak di hajar habis-habisan sama Zacky. Sebenernya gue gak peduli Zacky mau ngapa-ngapain elo, tapi gue kepikiran sama elo. Ryo, elo ini temen gue dan gue gak mau kalo temen gue itu kenapa-kenapa. Gue udah bilang sama elo, kan. Elo boleh suka sama siapa aja, sama cewek manapun, asal jangan Indah. Akhirnya apa coba, elo dapet bonus dari Zacky bahkan ketika elo belum sempet mengambil milik dia. Belum lagi Indah, pastinya dia gak mau bicara sama elo lagi." jelas Ivi.


Ryo hanya diam mendengarkan Ivi.


"Gue bicara seperti ini karena gue gak mau kalo elo sampe kenapa-kenapa. Gue...!"


"Elo gak tau apa yang gue rasain, Vi!" potong Ryo cepat. Membuat Ivi melongo.


"Hah?"


"Elo gak tau gimana rasanya suka sama seseorang! Elo kan gak pernah punya cowok ataupun suka sama cowok. Mana mungkin elo tau perasaan gue!" kata Ryo sinis.


Ivi terkesiap mendengar ucapan Ryo. Rasanya baru saja Ivi di tusuk menggunakan tusuk sate, bukan lah! Yang jelas ucapan Ryo berhasil membuat Ivi terdiam seketika. Ia menatap Ryo kesal, tangannya mengepal kuat.


"Jangan samakan gue sama elo! Elo gak tau apa-apa soal gue! Jadi gak usah menilai gue berdasarkan apa yang elo liat!" Ivi tiba-tiba berdiri, baru kali ini Ivi semarah ini. "Terserah apa yang elo pikirkan tentang gue, tapi gue di sini buat nasehatin elo, supaya elo jangan lagi deketin Indah, ataupun membuat masalah. Karena elo itu temen gue dan gue peduli sama elo! Pikiran itu baik-baik kampret!!"


Ivi sudah cukup menahan emosi, ia tidak bicara apapun lagi. Ia meninggalkan Ryo yang masih duduk terdiam.


Kaki Ivi terasa lemas, seolah tidak ada tenaga sama sekali hanya untuk berdiri saja. Tidak mau sampai tumbang, ia pun berpegangan pada tembok. Kepalanya semakin terasa pusing, hampir saja ia terjatuh. Beruntung saat itu ada seseorang yang sigap menangkap tubuh Ivi yang hampir oleng. Ivi terkejut, ia pun menatap orang tersebut.


"Alvin?"


"Elo kenapa? Sakit?" Alvin menaikkan alisnya. Kini ia membantu Ivi untuk berdiri kembali.


Ivi meringis malu. "Hehe... gue... gue, laper..." kata Ivi di akhiri dengan cengiran.


"Hah??"


Di kantin...


Alvin terbahak mendengar penjelasan Ivi. Bahkan ia tidak percaya.


"Ya ampun, Vi. Jadi, elo itu hampir tengsan hanya karena belum sarapan??"

__ADS_1


"Hehehe...!" Ivi hanya bisa nyengir kuda. Di kantin ia sudah memesan makanan, dan langsung melahapnya.


"Gue kira kenapa, buset!" Alvin geleng-geleng kepala. "Ya udah, sekarang makan dulu sampe kenyang, tapi bayar sendiri ya."


"Iya, tenang aja. Gue gak bakal nyuruh elo buat bayarin makanan gue kok."


"Bercanda gue. Oh ya, elo udah dapet DVD yang elo cari?"


Ivi menelan makanan yang di kunyahnya, lalu menggeleng. "Itu dia, gue lupa lagi kemaren. Yeah, kapan-kapan ajalah."


"Hmm... Vi, gue boleh jujur sama elo?"


"Ng... kenapa? Gue suka sama orang yang jujur." jawab Ivi sambil menyuapi mulutnya.


"Tapi kalo gue jujur, elo janji gak akan marah?"


"Apaan sih emangnya? Aneh amat deh!"


"Elo harus janji dulu." paksa Alvin.


"Sebenernya gue lagi suka sama cewek..."


"What? Elo lagi suka sama cewek? Yang bener lo? Seriusan nih? Siapa dia? Namanya siapa? Anak sekolah ini juga?" tanya Ivi seperti kereta tanpa jeda. Maklum, Ivi terkejut mendengarnya.


"Bisa gak sih kalo tanya tuh satu persatu, Vi. Mentang-mentang udah di isi main ngegas aja, cempreng lagi!" gerutu Alvin. Tapi ia gemas melihat reaksi Ivi.


"Hihihi, sori, Vin. Gue terlalu seneng soalnya. Jadi, siapa cewek yang elo suka? Gue kenal gak?" Ivi semakin bersemangat.


"Masih pedekate sih sama dia. Dan elo kenal kok, dia anak sekolah sini juga. Tapi, namanya masih rahasia!"


"Yeee... pake rahasia segala!" Ivi agak kecewa. Hampir saja Alvin di timpuk pakai sendok yang di pakai makan oleh Ivi. "Tapi ceweknya lebih cantik dari gue gak? Cantikan gue atau dia? Yeah, tapi gue rela sih kalo elo dapet cewek yang cantiknya lebih dari gue." ujar Ivi usil, lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


"Gak usah ge-er deh lo. Hmm... bisa di bilang dia cukup cantik kok, malah lebih cantik ketimbang elo!" ledeknya.


"Waaah... kalo gue gak cantik, berarti gue gak termasuk cewek yang elo suka dong. Maksud lo, gue ini pas-pasan mukanya, hah?!"

__ADS_1


Alvin tersenyum simpul. "Elo termasuk orang yang gue suka kok."


"Hm? Apa? Elo barusan bilang apaan?" tanya Ivi dengan tampang bodohnya. Karena sibuk makan.


"Gak, bukan apa-apa kok." Alvin menggeleng kecil. "Udah belum sih makannya, lama deh!"


"Ini juga belum tiga mangkok!"


"Buset dah! Elo makan banyak, tapi tetep aja kerempeng tuh badan!" ejeknya.


"Gue bukan kerempeng, tapi gue cuma langsing aja!" balas Ivi di ikuti tertawa.


Sejenak Alvin memperhatikan Ivi, diam-diam ia tersenyum.


Pulang sekolah...


Wawan dan Erwin serta Adel pulang lebih dulu, soalnya Wawan ada keperluan. Erwin di suruh pulang segera dan jangan sampai mampir kemana-mana. Sedangkan Adel pulang bersama teman ceweknya. Lalu Ivi, ia pulang bareng Alvin, sekalian nebeng maksudnya.


"Elo bawa motor sendiri apa gak takut?"


"Takut apa? Elo kayak gak tau gue aja. Biasanya juga gue bawa motor kan." kata Alvin santai.


"Iya sih, lagian Tante gak bisa bawa motor kan ya. Sedangkan Om bawa mobil kalo ke kantor."


"Itu elo tau. Ya dari pada motor di rumah nganggur kan, mending gue bawa. Lagipula gue sering di suruh belanja, jadi mau gak mau harus bisa bawa motor." jelasnya.


Ivi manggut-manggut. "Vin, elo masih kelas dua, bukannya harusnya kita itu satu kelas ya?"


"Ngaco! Jelas-jelas elo satu tahun lebih tua dari gue, gimana mau satu kelas. Aneh otak lo, Vi."


"Iya, ya, kalo di inget lagi, dulu waktu kita masih SD, elo nangis kejer karena pengen satu kelas sama gue! Elo gak mau pisah sama gue, bener gak sih? Elo masih inget gak kejadian itu?" tanya Ivi sambil menepuk punggung Alvin. Ivi tertawa lagi.


Alvin hanya diam sambil geleng-geleng kepala, bagaimana bisa Ivi mengingat kejadian lama itu. Alvin saja hampir lupa. Tapi, memang sih, dulu mereka satu kelas waktu SD. Sering main bareng, bahkan Alvin berkata kalau ia tidak ingin pisah dengan Ivi. Dulu Alvin sering bermanja pada Ivi, tidak mau melepas Ivi kemanapun. Ketika hendak pulang pun Alvin menghalangi Ivi, sampai-sampai Ivi merasa kasihan melihat Alvin yang menangis.


Entah kenapa kalau mengingat kenangan dulu, sangat menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2