
Pukul empat pagi mereka sudah sampai di depan ruang ICU. Para perawat segera membawa Rina masuk ke dalam. Kini, mereka sedang menunggu kabar dari Rina yang tengah di tangani oleh dokter. Papa dan Mama duduk sambil berdoa untuk keselamatan Rina, mereka di temani oleh Ivi. Sementara, Eric terus mondar-mandir di depan pintu dengan cemas.
Lalu, tidak lama kemudian kedua orang tuanya Rina pun datang, dan langsung menghampiri keluarga Ivi. Ivi dan Mama langsung berdiri begitu melihat kedua orang tua Rina.
"Mbak Yu, ada apa dengan Rina? Apa yang terjadi, kenapa Rina sampai berbuat seperti itu?" tanya Mamanya Rina.
"Saya juga tidak tau Retno, tiba-tiba saja Ivi bilang kalau Rina mau mencoba bunuh diri. Jadi, kami langsung membawa Rina ke sini," jawab Mama Ivi. Retno adalah nama Mamanya Rina.
Mendengar hal itu Mamanya Rina langsung limbung, kakinya terasa lemas. Dengan sigap suaminya langsung memeganginya. Namun, tubuhnya merosot ke lantai.
"Ya Allah, kenapa dengan anakku," ucapnya putus asa. Tangis Mamanya pun pecah.
"Tenang, Ma. Yang penting sekarang Rina sudah di tangani oleh dokter," ucap suaminya pada Tante Retno. Suaminya memeluk erat tubuh isterinya, sambil berusaha membuat isterinya untuk tetap tenang.
Ivi yang melihatnya pun merasa terenyuh. Ia tidak bisa menahan air matanya. Tapi, dengan cepat Ivi segera menghapusnya, lalu menghampiri Tante Retno. Ia duduk berjongkok di depannya.
"Tante yang sabar ya. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kak Rina," ucap Ivi tersendat, sebab ia menahan perasaannya.
Dengan pelan Ivi memegang tangan Tante Retno dan mengajaknya untuk duduk. Langkahnya tertatih di samping Ivi dan tangisnya masih terdengar. Di sana Ivi memeluk Tante Retno.
"Eric, maafin anak Tante ya, maafin Rina ... gara-gara Rina, kamu jadi kerepotan mengurus Rina seperti ini ... Rina juga sudah membuat kamu dalam masalah, maafkan Rina ... dan, maafin Tante juga ya," ucap Tante Retno di sela-sela tangisnya.
Eric duduk di samping Tante Retno dan di raih kedua tangannya. Ia tersenyum kecil.
"Tante, ini bukan salah siapa-siapa. Bukan salah Tante ataupun Rina. Semua ini terjadi dengan sendirinya, mungkin Allah sedang memberi ujian pada kita. Jadi, Tante tidak perlu menyalahkan diri Tante, dan tidak ada yang perlu di maafkan."
__ADS_1
"Benar apa kata Kak Eric, Tan. Tante enggak perlu merasa bersalah, karena ini bukan salah Tante, ya," imbuh Ivi.
Tante Retno menatap Ivi dan Eric bergantian. Masih berlinang air mata.
"Harusnya Eric yang minta maaf," ujar Eric menunduk. "Kalau saja Eric menjaga Rina dengan benar, maka hal ini tentu tidak akan terjadi. Karena kesalahan kecil Eric, Rina harus seperti ini. Untuk itu, Eric minta maaf pada Tante."
Semakin deras air mata yang jatuh di pipi Tante Retno. Dengan perasaan hancur Tante Retno menghapusnya. Kini, Tante Retno mengelus punggung Eric dengan lembut, lalu di angkatnya wajah Eric yang masih menunduk.
"Ini bukan salah kamu, Ric. Kamu sudah menjaga Rina dengan baik. Sampai-sampai Tante yang tidak memperhatikan anak Tante sendiri," ucap Tante Retno tertahan, lalu kembali terisak.
"Tante, sudah ya. Sekarang yang lebih penting, kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Kak Rina," ucap Ivi.
"Retno, benar apa kata Ivi dan Eric, kamu jangan menyalahkan diri kamu. Jangan menyiksa diri kamu sendiri. Sebaiknya kita berdoa saja untuk Rina, ya?" bujuk Mama Ivi pada Tante Retno.
Perlahan tapi pasti, Tante Retno mengangguk kecil. Lalu di hapus air matanya.
"Iya, Dok, saya. Saya Ibu dari pasien yang bernama Rina," jawab Tante Retno cepat seraya berdiri. "Bagaimana Dok kondisi anak saya?"
"Anak Anda sudah melewati masa kritis. Pasien kehilangan banyak darah, dan kami sudah menanganinya. Sekarang tinggal menunggu pasien siuman. Selain itu tidak ada yang perlu di khawatirkan. Beruntung ia segera di bawa kemari, karena kalau terlambat sebentar saja, nyawanya bisa dalam bahaya," jelas sang dokter.
Mereka semua lega mendengar bahwa Rina baik-baik saja. Perasaan yang sejak tadi tegang kini berangsur tenang kembali. Mereka tidak henti-hentinya mengucap syukur. Bahkan Tante Retno hampir terjatuh lagi, tapi dengan cepat Tante Retno berpegangan pada suaminya. Bibir bawahnya bergetar tatkala mendengar kabar baik ini. Tante Retno menangis lagi, tapi kali ini menangis karena lega. Apa lagi Ivi, ia merasa sangat lega mendengarnya.
"Terimakasih ya Allah, engkau telah menyelamatkan anak hamba," tiada hentinya Tante Retno mengucap syukur.
"Terimakasih banyak Dokter, atas bantuannya," ucap suaminya Tante Retno.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugas saya."
"Apa, kami boleh melihatnya?" tanya Eric.
Sang dokter mengangguk mempersilahkan. Dan, mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Di dalam mereka melihat Rina yang terbaring tidak sadarkan diri. Dengan langkah cepat, Tante Retno segera menghampiri anaknya.
"Rina," panggilnya lirih. Air matanya tidak dapat di bendung lagi. "Ini Mama, Rin ... kamu bisa mendengar Mama 'kan? Ini Mama, Papamu juga ada di sini. Eric, Ivi, semuanya ada di sini untuk kamu, Rin. Cepatlah bangun, Rin.
Tidak ada reaksi apapun dari Rina.
Keadaan Rina saat ini benar-benar lain, tidak seperti biasanya. Saat ini wajahnya terlihat sangat pucat, sekitar mata berwarna hitam, serta bibirnya yang kering. Juga selang infus yang terpasang di tangannya mengalirkan cairan merah dari kantung yang tergantung di sampingnya, dan sudah pasti itu adalah darah. Rina mendapat donor darah dari rumah sakit tersebut. Beruntung stok darah di sana tersedia, sehingga Rina bisa di tangani dengan cepat.
Eric menatap wajah Rina yang terpejam. Perasaannya hancur tatkala melihat seseorang yang ia cintai terbaring tidak berdaya. Eric melangkah lebih dekat lalu sedikit membungkuk, di raihnya tangan Rina, dan di usap kepalanya penuh kasih sayang.
"Rina ... ini gue. Elo bisa denger gue 'kan?" tanyanya lirih di samping Rina. "Kalo elo denger suara gue, tolong, buka mata lo. Gue tau elo bisa denger gue."
Tapi, sosok yang tengah terbaring di ranjang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan segera membuka mata. Eric duduk di samping ranjang Rina, sambil terus menggenggam tangannya erat, serta tidak berhenti berdoa. Bibirnya tidak berhenti yang terus mendoakan supaya Rina cepat pulih.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, di luar matahari sudah menjalankan tugasnya seperti biasa. Cahayanya yang silau masuk melalui jendela. Sedikit menyilaukan namun terasa hangat. Ruangan tersebut kini terlihat terang karena adanya cahaya yang masuk.
Saat ini hanya ada Eric dan Ivi yang menemani Rina. Karena sebelumnya Eric menyuruh orang tua Rina dan kedua orang tuanya pulang. Dan, untuk Ivi, ia tetap ngotot ingin menemani Rina dan Kakaknya. Awalnya Eric menolak, tapi bukan Ivi namanya kalau tidak ndableg. Dengan terpaksa, Eric pun mengijinkannya. Ivi tidur di sofa yang ada di dalam ruangan, sedangkan Eric, ia tidak tidur sama sekali. Sejak Eric masuk bersama yang lainnya, ia terus terjaga di samping Rina.
Namun, ketika Eric memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba ia merasakan kalau jari Rina bergerak. Ia yang merasakannya pun terkejut, ling-lung lebih tepatnya. Eric bingung antara mengamati jari Rina dan Rina sendiri.
Terdengar rintihan lirih dari Rina.
__ADS_1
"Rina?" panggilnya pelan.