This Is Me

This Is Me
eps 26


__ADS_3

Alvin hanya sedikit kaget saja, kenapa tiba-tiba Ivi menanyakan hal itu padanya.


"Emm... belum." jawab Alvin.


"Kok? Kenapa?"


"Gue gak tau dia suka sama gue apa gak, dan gue gak tau apa gue boleh suka sama dia atau gak. Yeah, gue gak yakin aja."


"Kenapa begitu? Menurut gue suka sama seseorang itu boleh-boleh aja. Kan elo yang punya rasa suka, bukan orang lain. Kalo elo mau tau perasaan cewek itu suka atau gak, bukannya elo harusnya bilang padanya langsung. Dengan begitu elo bakal tau bagaimana perasaan dia sama elo. Kalo dia jawab dan balik suka sama elo, itu artinya elo boleh suka sama dia, bener gak?" entah kenapa Ivi bisa berkata seperti itu.


"Gue tau, tapi benarkah gue boleh menyukai dia?"


"Kenapa tidak? Tentu saja elo boleh menyukai dia. Itu hak elo."


"Benarkah?" Alvin menatap Ivi penuh harap.


"Tentu saja! Gak ada undang-undangnya ngelarang untuk suka sama seseorang, kan. Emang siapa sih cewek yang elo taksir itu, katanya gue kenal. Gue jadi makin penasaran deh. Siapa?" Ivi sudah tidak sabar mendengar jawaban Alvin.


"Dia... ada di depan..."


Kalimat Alvin terhenti tatkala melihat seseorang yang di kenalnya ada di belakang Ivi.


"Di depan apa, Vin? Kok diem?"


"Oh... itu, bukannya, Arya...?" ucap Alvin setengah tidak percaya.


"Hah? Apa?" tiba-tiba perasaan Ivi menjadi tidak enak.


Dengan terpaksa Ivi harus menengok ke belakang, dan benar Arya sudah ada di sana. Ketika matanya melihat Arya, entah kenapa yang bereaksi justru jantungnya. Mendadak jantungnya berdetak cepat.

__ADS_1


"Apa ini? Kenapa gue jadi gini sih!" batin Ivi.


Entah sudah berapa detik, menit suasana terasa aneh, hening, sepi, sunyi dan canggung. Sekitarnya terasa mati, tidak ada suara apapun. Itulah kira-kira yang sedang di rasakan dua murid tersebut. Ya, dua murid tersebut tidak lain adalah Ivi dan Arya. Mereka tengah duduk diam seribu dua ribu bahasa. Belum ada suara apapun yang keluar dari mulut mereka.


"Jadi... Alvin itu temen elo, Vi...?" tanya Arya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bersuara setelah beberapa menit diam.


"Hmm." gumam Ivi pelan.


"Kalian udah lama kenal? Kelihatannya kalian berdua akrab."


Sebenarnya Arya sudah tahu kalau Ivi dan Alvin itu teman sejak kecil. Arya hanya ingin mencairkan suasana saja.


"Ya, Alvin temen gue sejak SD, dan dia temen main gue waktu kecil."


"Oh..." Arya diam sejenak. "Vi, gue tau elo masih nyimpan dendam sama gue. Tapi, gue minta tolong, dengerin dulu apa yang mau gue omongin, bisa?" pintanya.


"Elo tau gak, setelah kejadian makan malam waktu itu gue di marahin sama Kak Radit. Kalo gue sampe gak berhasil minta maaf sama elo, gue bakal di hajar sama Kak Radit. Dia ngancem gue, dia bilang katanya gue ini pengecut, dan kalo sampe gue gak bisa bikin elo maafin gue, Kak Radit gak bakalan maafin gue karena udah nyakitin elo." jelas Arya.


Ivi masih belum membuka mulut.


"Vi, kalo elo gak mau maafin gue gak apa-apa. Gue udah siap menanggung kesalahan yang gue buat." Arya menatap Ivi. "Vi, dulu, gue ngelakuin itu karena gue bener-bener sayang sama elo. Gue gak mau kehilangan elo, gue... gue gak tau harus bilang apa lagi supaya elo mau maafin gue... saat itu gue khilaf, cara gue mau membuktikan kalo gue ini cinta sama elo itu salah. Salah besar..."


"Ar... sebenernya gue... gue juga gak mau kita berantem seperti ini terus. Gue gak bisa terus ngediemin elo kayak gini. Sudah cukup lama gue gak komunikasi sama elo, gak pernah ketemu, ah bisa di bilang kalo gue emang sengaja menjauh dari elo..."


"Gue tau..."


"Elo ngerasa bosen gak sih, kita kayak gini udah sangat lama. Ya, gue juga salah karena terus menghindar dari elo. Gue udah bersikap keras kepala, egois, tanpa memikirkan bagaimana perasaan elo. Kak Rina dan Kak Eric yang udah bikin gue sadar, katanya gue ini jahat kalo gue gak mau maafin elo." jelas Ivi panjang lebar.


"Ivi..."

__ADS_1


"Gue harap, gue bisa ngelupain masa lalu dan gue gak mau masalah ini terus ada di dalam hati, pada akhirnya itu yang bikin gue jadi semakin membenci elo. Karena rasa dendam gue yang gak pernah hilang, bisa dikatakan kalo gue yang gak mau menghilangkan rasa sakit ini, supaya gue inget terus apa yang sudah elo lakukan ke gue. Elo pikir gue mau maafin elo semudah itu? Gak! Pada awalnya gue berpikir begitu, tapi tiap kali gue mengingat ucapan Kak Rina gue jadi sadar. Gue udah salah selama ini..."


Ivi diam lagi.


"Kira-kira udah berapa lama kita gak seperti ini... gue lupa kapan terakhir gue bicara sama elo kayak gini..." kata Arya.


Ivi tersenyum sinis. "Kalo gue gak inget bagaimana persahabatan Kak Eric dan Kak Radit, jangan harap kalo gue bakal mau maafin elo, jangankan memaafkan, untuk bicara sama elo aja gue ogah!"


Kini Arya yang diam.


"Ah, lagi-lagi gue bersikap egois di depan elo. Setidaknya itulah yang gue rasakan beberapa waktu lalu dan sekarang. Tapi, sekali lagi gue gak mau terus bersikap egois. Gue pengen, kita balikan seperti dulu, mungkin, itupun kalo elo mau... gue juga gak bisa maksa elo."


"Vi, jadi... elo mau maafin gue? Elo mau nerima gue lagi?" tanya Arya tidak percaya. Ini seperti mimpi, selain Ivi mau memaafkan dirinya, Ivi juga sudah mau bicara lagi dengannya. Sungguh, ini waktu yang sangat berharga untuk Arya.


Ivi hanya bisa menatap Arya, cukup lama. Mereka kembali terdiam. Lalu tertawa bersamaan. Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari tempat mereka duduk, Alvin mendengarkan pembicaraan Ivi dan Arya sejak awal. Tatapannya datar ketika mengamati Ivi dan Arya. Tidak tahu kenapa saat melihat kedekatan mereka, Alvin merasa kesal. Seolah ada yang mengganggunya. Lantas karena tidak ingin berlama-lama di sana, akhirnya Alvin pun beranjak dari tempatnya tadi.


Tidak lama setelah itu Ivi maupun Arya sepertinya benar-benar sudah berdamai? Mereka baikan? Entahlah, yang jelas saat ini Ivi dan Arya tengah berjalan beriringan menuju kelas. Sampai-sampai beberapa murid cewek heboh ketika melihat kedekatan mereka. Mereka pada protes, tidak rela jika melihat Arya bersama dengan Ivi.


"Vi, elo curang! Masa elo udah jalan bareng sama Arya sih, kita aja belum sampai tahap perkenalan, eh elo udah akrab aja sama Arya!" protes salah satu dari mereka.


"Kenapa sih, dia kan satu kelas sama gue, jadi gak ada salahnya kan?" balas Ivi.


"Tapi kalian akrab banget sih! Gue gak rela Arya jalan bareng elo! Kenapa kalian bisa sangat dekat seperti ini? Gue juga mau deket sama Arya, ya?" rengeknya pada Ivi.


Heuuuh! Ivi pusing lagi!


"Ah, atau jangan-jangan kalian berdua itu pacaran ya?!" celetuk salah satu murid cewek.


Hampir saja Ivi nyusruk ke depan mendengar pertanyaan itu. Untung saja tidak ada batu di depan Ivi, jadi tidak mungkin tidak dia bakalan tersandung. Logisnya ini di sekolah dan tidak ada batu di tengah-tengah lantai keramik. Sumpah ya cewek-cewek ini, bikin Ivi mendadak terkena serangan jantung!

__ADS_1


__ADS_2