
Ivi menatap Alvin bertaut alis. Heran, tidak biasanya Alvin seperti ini.
"Vin, elo kenapa sih?"
"Apa, karena sekarang ada Arya, elo gak mau nyapa atau bareng gue lagi? Atau, sekarang elo mulai suka sama Arya lagi?"
"Alvin, ini gak ada hubungannya sama Arya. Elo kenapa sih dari tadi, gue bingung tau sama elo," Ivi mendercak, lalu membuang napas. "Oke ... sebenernya, gue ke sini itu cuma mau ngasih ini buat elo dan Tante Dina, dari Kak Eric."
Ivi menyerahkan sebuah undangan, dan di letakkan di atas meja.
"Ini undangan dari Kak Eric. Itu tujuan gue dateng ke sini. Tapi, karena sepertinya suasana kita lagi begini, gue gak mau bicara terlalu banyak, karena emang gak ada yang harus gue jelasin. Dan, elo salah kalo elo ngira gue gak mau bareng elo karena Arya. Gue bilangin ke elo ya, Vin. Gue gak pernah nyapa atau pulang bareng elo, karena gue sibuk bantuin Kakak gue buat ini, mempersiapkan semuanya. Kak Eric minta tolong sama gue, jadi gue gak salah, kan?" jelas Ivi, sebenarnya ia sedikit kesal.
Alvin masih tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya mendengarkan, tapi terlihat tidak peduli.
"Oke, sekarang gue mau pulang dulu. Urusan gue di sini udah selesai. Tolong, kasih undangan ini ke Tante Dina. Dan, thanks buat waktu elo. Gue pamit," Ivi pergi tanpa ekspresi. Sedangkan, Alvin masih diam tidak memperdulikan Ivi.
Setelah Ivi keluar dari pintu, barulah Alvin membaca undangan pemberian Ivi yang ada di atas meja. Benar saja, di dalam undangan tersebut tertulis nama Eric dan Rina. Jadi, kedatangan Ivi ke rumahnya memang untuk menyerahkan undangan ini. Dan, Ivi benar-benar tidak berbohong soal dia yang tidak pernah menyapanya. Alvin segera mengejar Ivi ke luar setelah menaruh undangannya di meja. Tapi, mau bagaimana lagi, Ivi sudah tidak terlihat di sana lagi. Ia pun kecewa, dan menyesal karena sudah salah paham padanya.
Sejak keluar dari rumah Alvin, sepanjang perjalanan Ivi ngedumel sendiri sambil menendang kerikil kecil di depannya. Ia masih saja menggerutu.
"Alvin kenapa sih, ngomongnya gitu amat! Gue ke sono tuh cuma mau ngasih undangan Kak Eric! Kenapa dia malah sensor gitu, maksud gue kan baik dateng ke rumahnya. Apa maksudnya coba bicara kayak tadi, pake bawa-bawa Arya segala!"
Saking jengkelnya sampai-sampai Ivi meremas daun yang sudah terpotong dengan rapi itu di depan sebuah rumah.
"Ada apa dengan cinta, eh ada apa dengan elo, Alviiiiiin ...!" pekiknya kesal.
"Marah sih boleh aja, tapi itu tanaman punya orang," ujar seseorang di belakang Ivi.
"Maaf ... maaf, saya tidak sengaja!" ucap Ivi meminta maaf, lalu berbalik, "Eh, Arya?"
Arya mengajak Ivi duduk di sebuah bangku taman. Di sana Arya menanyakan alasan Ivi menjadi kesal seperti itu. Setelah mendengarkan sampai selesai, Arya langsung tertawa di buatnya.
__ADS_1
"Ya ampun, jadi hanya gara-gara itu elo kesel kayak tadi? Kok bisa sih?"
"Hah, tau tuh! Tiba-tiba Alvin jadi ketus sama gue. Dia mengira gue gak pernah mau pulang bareng dia lagi karena ada elo. Dia gak tau aja, padahal gue itu sibuk bantuin Kak Eric bikin undangan, ini dan itu! Alvin mana tau, dia aja gak nanya! Bodoh banget sih!"
"Ah, iya. Kakak elo mau tunangan sama Kakak cewek yang waktu itu, ya?"
"Yap. Elo pasti dateng sama Kak Radit kan. Palingan Kak Radit udah tau."
"Ya, gue udah tau dari Kak Radit," Arya mengangguk. "Vi, tadi lo bilang, kalo Alvin ngira elo gak pernah mau nemuin dia lagi, gara-gara ada gue?"
"Ya."
"Kenapa? Apa dia cemburu?"
"What? Cemburu? Kenapa dia harus cemburu?" Ivi tertawa kecil.
"Apa ... Alvin suka sama elo?"
"A,apa ... Alvin suka sama gue? Gak mungkinlah, kita ini sahabatan dari kecil. Mau gue ataupun Alvin, gak pernah mempunyai perasaan yang namanya suka! Gak mungkin dia suka sama gue, jangan bercanda. Ada-ada aja lo!" Ivi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kita kan gak tau apa isi hati orang lain, Vi. Elo juga, pasti gak tau isi hati gue saat ini, kan?"
Ivi beralih menatap Arya, terheran, "Apa maksud lo?"
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel milik Arya.
"Sori, ini Kakak gue. Gue angkat sebentar, ya."
Ivi mengangguk mempersilahkan. Ia tidak tahu apa yang sedang di bicarakan Arya dan Radit di telepon. Itu karena Arya menjauh dari tempat Ivi. Dan, ia juga masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Arya.
Terlihat Arya kembali menghampiri Ivi, "Vi, sori, gue harus pulang sekarang. Elo gimana?"
__ADS_1
"Oh, gak apa-apa. Elo pulang aja, bentar lagi gue juga balik kok."
"Baiklah. Gue duluan ya, Vi."
"Hati-hati lo, dan jangan lupa, besok dateng ya!"
"Pasti. Bye, Vi."
Ivi melambai kecil pada Arya yang berjalan menjauh. Lalu, ia membuang napas berat.
"Andai aja dulu elo gak ... ah, ngapain gue ngungkit hal itu lagi. Itu udah lama berlalu, gue maupun Arya, sekarang udah beda. Sekarang, udah gak ada apa-apa lagi di antara kita. Haaah ... kenapa jadi begini!" Ivi membuang napas panjang.
Lantas, ia pun melanjutkan perjalanannya. Hari sudah mulai gelap, Ivi tidak ingin terlalu malam sampai rumahnya. Ketika di dalam taksi pun pikiran Ivi entah kemana, tidak fokus. Memikirkan, antara sikap Alvin yang mendadak berubah, dan ucapan Arya tadi.
Apa yang musti di cemburui coba. Toh, ia dan Arya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Atau, karena Arya itu adalah mantan Ivi, makanya Alvin bersikap seperti itu. Alvin mengira kalau ia dan Arya masih berhubungan? Apa, Alvin benar-benar cemburu, seperti yang di katakan Arya. Entahlah, Ivi pusing. Saat ini, ia harus fokus pada tugas yang di berikan Eric kepadanya.
*****
Hari Sabtu pagi semua berjalan dengan lancar seperti biasanya. Meskipun di rumah sedikit berantakan, karena beberapa orang membantu mempersiapkan untuk acara nanti malam. Ya, nanti malam adalah acara pertunangan Eric dan Rina. Sepertinya hari ini bakalan jauh lebih sibuk lagi. Tapi, meskipun begitu, Ivi tetap masuk sekolah.
Ketika pelajaran usai, Ivi cepat-cepat berlari keluar dari kelas. Karena ia tidak ingin mengecewakan Kakaknya. Sebelum itu, ia sudah berpesan pada kawan-kawannya untuk datang ke rumahnya nanti malam.
Di jalan entah ada apa, tiba-tiba saja Ivi tersandung, ia terkejut.
"Aiiiih! Kenapa nih, pake acara kesandung segala! Apa, gue udah di tungguin Kak Eric ya ..." gumam Ivi.
Benar saja, begitu sampai rumah Ivi sudah di hadang oleh Eric. Bahkan saat Ivi masih di depan gerbang. Eric sengaja menunggu kepulangan Ivi.
"Telat! Telat! Elo telat lima menit!" seru Eric.
"Baru juga lima menit, belum satu jam!" balasnya cemberut. "Elo gak tau sih, tadi gue kesandung di jalan, makanya gue lama jalannya! Jadi, jangan protes!"
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Eric, menaikkan satu alisnya. "Ah, itu bukan urusan gue. Sekarang elo mandi, siap-siap, dandan yang cantik. Gue gak mau di acara gue, elo cuma pake kaos warna hitam sama jeans doang ya!" perintah Eric tegas.