This Is Me

This Is Me
eps 43


__ADS_3

Begitu keadaan sudah tenang, orang tua Rina memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Itu juga berkat bujukan dari Eric, supaya mereka pulang dan beristirahat. Karena kalau tidak, mereka terus memaksa ingin menemani anaknya. Dan, setelah di bujuk oleh Eric, akhirnya mereka pun mengerti.


"Tante sama Om tenang aja, Rina aman di sini. Eric bakalan terus jagain Rina. Lagi pula kasihan kalo Rina pulang dalam keadaan seperti sekarang ini." Begitulah kata Eric untuk meyakinkan kedua orang tua Rina.


*****


"Ric, maafin gue. Gue udah gak bisa sama elo lagi."


Eric melihat Rina pergi menjauh darinya bersama seorang cowok. Ia tidak bisa melihat wajah cowok itu. Ia hanya bisa melihat punggung si cowok.


"Rina, maksud elo apa? Gue gak ngerti."


"Gue gak bisa sama elo, Ric. Jadi, elo harus melupakan gue."


"Gak! Gak bisa! Rina, gue mohon jangan tinggalin gue!"


Eric berusaha mengejar Rina, tapi usahanya sia-sia. Langkahnya seperti tertahan oleh sesuatu, sedangkan Rina semakin menjauh. Eric mencoba memanggil Rina, dan berteriak sekencang mungkin. Tapi, tetap nihil. Rina terus berjalan bersama cowok itu. Bahkan, Rina tidak menoleh sedikitpun pada Eric. Rina berjalan dengan menggandeng tangan si cowok. Lalu, perlahan terlihat kalau si cowok hendak menoleh. Namun, pandangannya terhalang oleh sesuatu, hingga Eric harus memicingkan matanya. Sebelum Rina dan cowok tersebut pergi, terakhir yang Eric lihat adalah, sebuah senyum simpul dari bibir cowok tersebut.


"Rina!" pekiknya. Bersamaan dengan itu, Eric membuka matanya lebar-lebar. Ia terkejut. Sontak ia melihat sekelilingnya, dan ia masih ada di kamarnya sendiri. Napasnya terengah-engah.


"Cuma mimpi," gumamnya pelan. Eric mendesah dan membuang napas berat. Ia bernapas lega ketika mengetahui bahwa dirinya masih ada di dunia nyata. Ternyata tadi itu hanya mimpi saja. Sepertinya ia terlalu memikirkan tentang kejadian sebelumnya. Kini ia mengusap wajahnya pelan. Eric melihat jam di dinding, masih jam tiga pagi. Lalu ia bangun dan beranjak dari kasurnya.


Eric keluar dan menuju dapur untuk mengambil air minum. Di saat yang bersamaan, ia melihat adiknya sudah ada di dapur. Hampir saja Eric terkena serangan jantung. Karena dapur masih dalam keadaan gelap, sementara dengan tenang Ivi di sana dan bergerak-gerak.


"Ivi? Elo ngapain gelap-gelapan gini?" tanyanya heran, lalu menekan sakelar lampu.


"Hmm? Gue mau minum. Elo sendiri ngapa ke sini?"


"Sama." Eric mengambil gelas lalu mengisinya. Di teguk airnya, lalu ia letakkan gelasnya kembali di meja. "Tau gak, Vi."


"Apaan?"


"Tadi gue mimpi ... Rina ninggalin gue."


Hampir saja Ivi tersedak air minumnya, "Apa?!" Ivi setengah terkejut.


"Ya, gue mimpi kalo Rina pergi ninggalin gue sama cowok lain. Tau gak, cowok yang membawa Rina pergi adalah cowok yang nyulik Rina waktu itu."


"Wah, gak bener nih. Gak mungkin Kak Rina ninggalin elo. Mimpi itu cuma bunga tidur aja 'kan. Mungkin aja Kakak yang masih terlalu mikirin itu semua. Makanya sampe ke bawa mimpi. Atau, Kakak cuma kelelahan aja."


"Mungkin elo bener."

__ADS_1


"Udah ah, gue mau balik tidur lagi. Ngantuk banget."


Ivi berniat kembali ke kamarnya, tapi saat melewati kamar yang di tempati Rina, ia melihat pintunya terbuka.


"Kak, sini bentar deh," intruksi Ivi.


"Apaan?"


"Pintu kamar Kak Rina kebuka nih."


"Masa? Gue yakin tadi udah di tutup kok."


"Makanya sini geh."


Eric menghampiri Ivi, dan benar, memang pintu kamar Rina terbuka. Aneh. Bukannya tadi Eric sudah menutupnya?


Mereka mengecek ke dalam. Tapi ....


"Lah? Kak Rina mana? Kok kosong?"


"Ke mana dia? Di kamar mandi mungkin, coba elo cek."


Ivi mengecek kamar mandi, "Kak? Kak Rina di dalam?" ucapnya sambil mengetuk pintu, tapi nihil, tidak ada jawaban dari dalam. Ivi melihat Eric dan menggeleng tanda tidak ada apapun di dalam.


"Gak mungkinlah. Coba cek di kamar mandi luar."


Mereka berdua keluar dari kamar Rina, lalu mengecek kamar mandi luar. Saat mereka sampai di sana, dan membuka pintu tersebut, betapa terkejutnya mereka, saat melihat Rina terkapar di lantai dengan wajah yang pucat. Di tangan kirinya mengeluarkan darah segar yang masih menetes. Sedangkan tangan yang satunya memegang sebuah silet.


"Astaga! Kak Rina!" pekik Ivi, ia sangat terkejut melihat Rina.


"Rina!" Eric cepat-cepat masuk dan menghampiri tubuh Rina. Di angkat kepalanya dan di lihat wajahnya yang sudah memucat. "Elo kenapa begini sih! Rina, bangun Rin!" Eric mencoba membuat Rina sadar.


"Gimana, Kak Rina?" tanya Ivi panik.


"Rin, elo denger gue gak? Rina, buka mata lo! Jangan begini dong, Rin, please buka mata lo. Jangan tinggalin gue! Rina!"


Eric mengguncangkan tubuh Rina, serta wajahnya berkali-kali di tepuknya. Berharap kalau Rina akan sadar, tapi sampai sekarang Rina masih memejamkan matanya, dan tidak ada reaksi apapun darinya. Lalu ia melihat tangah kirinya yang mengeluarkan darah.


"Vi, elo bangunin Mama sama Papa. Kita bawa Rina ke rumah sakit!" perintahnya yang langsung di tanggapi cepat oleh Ivi.


"Oke!"

__ADS_1


Ivi setengah berlari menuju kamar orang tuanya. Ia tidak peduli suara langkahnya berisik atau berbunyi. Sekarang yang penting adalah Rina.


Ivi sudah sampai di depan pintu kamar orang tuanya. Tidak mau menunggu lagi, Ivi langsung mengetuk pintunya. Bukan, bukan mengetuk, melainkan menggedor pintunya dengan kencang.


"Ma! Pa! Maaf ganggu kalian!" teriaknya dari luar. "Gawat, Ma, Pa! Cepet bangun! Gawat!"


Sepertinya kedua orang tua Ivi langsung menanggapinya, terbukti mereka langsung membuka pintunya.


"Ada apa sih Vi, malam-malam begini gedor-gedor kamar Mama. Mana gak sabaran gitu, ada apa?" Mamanya heran melihat Ivi.


"Kenapa kamu panik gitu? Teriak-teriak malam-malam seperti ini," imbuh Papa.


"Aduh, Ma, Pa. Maafin Ivi, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu pada Ivi. Ivi gak punya waktu untuk mendengarkan pertanyaan Mama sama Papa!" Ivi semakin tidak sabar.


"Ada apa sih, kenapa kamu panik gitu?" tanya Mama lagi yang semakin bingung.


"Bukan panik lagi, tapi ini gawat! Sangat gawat!"


"Gawat kenapa? Bilang yang jelas," kata Papa.


"Kak Rina, Ma, Pa! Kak Rina!"


"Iya, Rina kenapa?" tanya Papa bingung, karena Ivi bicara tidak jelas.


"Kak Rina mau bunuh diri!"


Mama dan Papa sangat terkejut mendengar hal ini. Mereka berpandangan tidak mengerti. Tidak mau membuang waktu lagi, Ivi mengajak orang tuanya untuk melihat keadaan Rina. Mereka setengah berlari menghampiri Eric dan Rina yang masih di dalam kamar mandi.


Mereka begitu terkejut melihat Rina sudah tidak sadarkan diri di dalam pangkuan Eric.


"Ya Allah, apa yang terjadi, Ric? Kenapa sama Rina?" Mama berjongkok di samping tubuh Rina yang sudah terasa dingin. Beliau memeriksa keadaan Rina.


"Eric, kenapa bisa terjadi?" Papa tidak kalah kagetnya.


"Eric gak tau, Pa. Lebih baik sekarang kita bawa Rina ke rumah sakit. Papa siapin mobil, biar Eric yang angkat Rina."


"Baiklah, Papa siapin di depan ya." Beliau pun berlari dan segera menyiapkan mobil.


"Duh, Rina ... kenapa kamu seperti ini, Nak. Apa yang terjadi sama kamu. Ya Allah ....!" Mama menangis melihat keadaan Rina.


"Eric gak tau, Ma. Waktu Eric sama Ivi menemukan Rina, dia udah kayak gini," ucap Eric terus menatap Rina yang tidak sadarkan diri. "Mama sekarang telepon orang tuanya Rina, suruh mereka ke rumah sakit langsung," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"I,iya, Mama telepon mereka sekarang, ya."


Tidak lama kemudian Papa berseru kalau mobil sudah siap. Lantas, Eric pun mengangkat tubuh Rina, dan membopongnya menuju mobil, di ikuti Mama dan Ivi di belakangnya. Mereka tidak habis pikir, kalau Rina akan berbuat senekat itu.


__ADS_2