This Is Me

This Is Me
eps 40


__ADS_3

Dengan geram Arya membalasnya dengan pukulan bertubi-tubi. Sampai akhirnya orang tadi jatuh pingsan. Napas Arya naik-turun setelah selesai dengan satu orang barusan.


"Arya, elo gak apa-apa?" tanya Ivi cemas sembari menyentuh luka Arya.


"Gue gak apa-apa. Elo sendiri?"


"Iya, gue gak apa-apa. Thanks, elo udah dateng nolongin gue."


"Oke. Sekarang kita bantu yang lain."


Ivi dan Arya berdiri kembali untuk membantu yang lainnya. Di dalam ruangan antara suara teriakan mereka dan suara senjata mereka yang menggema pun masih berlanjut. Tidak ada yang mau kalah di antara mereka. Dengan geram mereka memukul dan membalas orang-orang suruhan cowok tadi. Beberapa ada yang pingsan dan melarikan diri. Setelah pertempuran yang cukup sengit berakhir, akhirnya pihak Eric lah yang menang, sedangkan cowok tadi sepertinya sudah menyerah, terbukti saat ia melarikan diri bersama orang-orangnya.


Napas mereka ngos-ngosan karena mengeluarkan banyak tenaga. Tentu saja, karena mereka kalah jumlah. Tapi, meskipun hanya berenam mereka sanggup menghadapi para berandalan tadi. Walaupun tidak ada yang sampai mati, setidaknya mereka sudah menghajar cukup parah. Mereka tidak pandai berkelahi, karena memang mereka tidak pernah belajar silat atau sebagainya. Hanya saja, jika keadaannya seperti tadi maka akan menjadi lain lagi ceritanya. Mau tidak mau mereka harus melawannya, meski secara fisik mereka tidak ada apa-apanya. Di tambah lagi mereka tadi membawa senjata, itu sangat tidak adil untuk Ivi dan yang lainnya. Tapi, beruntung mereka bisa melawan dan menyerang balik. Dan yang lebih penting, mereka bisa menyelamatkan Rina dari ancaman cowok tadi.


"Rin, elo gak apa-apa?" tanya Eric memastikan keadaan Ririn.


"Eric, gue takut ...." ucapnya seraya memeluk Eric sangat erat, dan ia masih terisak.


"Sst ... elo udah aman sekarang," ucap Eric sambil membelai rambut Rina pelan, ia langsung memeluknya begitu erat. Seolah ia tidak ingin kehilangan Rina.


"Ric, maafin gue ...." isaknya dan masih memeluk Eric sangat erat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, bahkan Eric pun bisa merasakannya di dalam pelukannya.


"Udah, elo tenang aja. Elo udah sama gue, oke?" Eric mengusap punggung Rina pelan untuk menenangkannya.


Eric paham betul apa yang di rasakan Rina, bagaimana perasaan Rina, bagaimana rasa takutnya Rina tadi. Melihatnya seperti ini membuat Eric merasa marah dan sakit. Marah karena tidak bisa menjaga Rina baik-baik, bahkan ia membiarkan Rina sendirian. Sakit karena melihat Rina begitu ketakutan, dan menangis sesenggukan. Sungguh, hal itu membuat Eric merasa kecewa dengan dirinya sendiri, ia begitu marah dengan dirinya. Eric sangat menyesal, kenapa ia tidak menjaganya setiap saat. Kenapa ia bisa begitu teledor menjaga wanita yang begitu ia cintai. Bahkan Eric tidak bisa apa-apa untuknya saat ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk tubuhnya saat ini yang terasa begitu ketakutan. Hanya sebuah pelukan yang bisa Eric berikan.


"Ric, bagaimana keadaan Rina? Dia gak apa-apa, kan?" tanya Radit.


"Gak, dia baik-baik saja, Dit. Thanks elo udah bantuin gue."

__ADS_1


"Santai. Yang penting sekarang Rina udah selamat," ucapnya sambil tersenyum lega. "Kalian baik-baik aja kan, ada yang terluka?" tanya Radit pada yang lain.


"Ya! Kami baik-baik saja!" balas Erwin sambil mengacungkan jempolnya.


"Terimakasih juga buat kalian semua. Kalian udah bantu gue, dan maaf udah menempatkan diri kalian dalam bahaya," tutur Eric merasa bersalah.


"Sama-sama, Kak. Santai aja, untung Kak Eric gak ke sini sendirian. Coba kalo kita gak ikut, Kakak pasti udah habis di hajar sama mereka. Kak Eric kan gak tau mereka bawa komplotan atau tidak," jelas Wawan.


"Ya, kalian bener. Beruntung ada kalian di sini, sekali gue ucapin terimakasih banyak untuk kalian. Sekarang Rina udah aman, gue bener-bener lega dia gak apa-apa," Eric mengecup kepala Rina penuh kasih sayang.


"Syukurlah, Kak," Ivi bernapas lega.


"Dan, Arya, sori ya. Elo jadi terluka gara-gara ikut gue."


"Ah gak, ini cuma luka kecil kok, Kak. Kak Eric gak usah khawatir," ucap Arya.


"Sebaiknya elo obati lukanya di rumah. Sekarang kita pulang."


"Bentar! Sepatu gue ketinggalan satu!" ujar Erwin membuat yang lain tertawa.


Yeah, mereka cukup berantakan karena baru saja menghajar pada berandal tadi. Baju yang mereka kenakan sejak tadi memang masih rapi dan keren dari rumah, tapi sekarang penampilan mereka lebih mirip anak-anak geng. Sangat berantakan. Tapi, itu tidaklah penting. Paling penting saat ini adalah, bahwa Rina selamat dan ia baik-baik saja. Dan mereka bisa pulang secara utuh, mereka juga pulang dengan bangga karena bisa menghajar para penjahat.


Sampai rumah Ivi, mereka di sambut oleh orang tua Ivi, dan orang tua Rina. Mereka sudah sangat khawatir dengan keadaan anak-anak yang tadi pamit untuk pergi. Namun ketika melihat mereka semua pulang dengan selamat, membuat orang tua Ivi merasa sangat lega. Di sana Eric menceritakan semuanya dari awal, meskipun belum sepenuhnya Eric tahu sebenarnya ada masalah apa di antara Rina dan cowok tadi. Masih belum ada kejelasan yang bisa Eric terima. Dalam hatinya ia masih bertanya-tanya. Sementara, Eric sudah mengantar Rina ke kamar untuk beristirahat. Sepertinya Rina masih sangat syok dengan kejadian tadi.


"Tapi syukurlah, Rina baik-baik saja. Kalian juga pulang dengan selamat. Kami sangat khawatir dengan kalian, soalnya Eric bilang tidak perlu memanggil polisi. Makanya kami hanya bisa berdoa dari sini. Kami benar-benar takut kalau terjadi sesuatu dengan kalian semua," kata Papa Ivi.


"Iya, Tante tadi sempet takut banget kalau kalian kenapa-napa. Tapi, Tante lega kalian semua selamat," imbuh Mama Ivi.


"Lalu, bagaimana dengan mereka? Kalian apakan mereka?" tanya Papa lagi.

__ADS_1


"Mereka kabur Om," sahut Erwin.


"Kalian tidak menyerahkan mereka ke polisi?"


"Gak Om, karena menurut kami, mereka gak bakalan berani macem-macem lagi," sambung Wawan.


"Bagaimana kalian bisa seyakin itu?"


"Yah, kami rasa, kami sudah cukup memberi mereka pelajaran Om. Radit pikir, mereka tidak akan berani muncul lagi di hadapan kita," kata Radit.


"Semoga saja begitu," Papa Ivi mengangguk setuju. "Ya sudah, kalian istirahat saja dulu di sini."


"Hmm, gak usah Om, terimakasih. Tapi, kita pulang saja," ujar Wawan.


"Tapi, kalian pastinya capek, kan. Lagi pula ini sudah larut malam, apa sebaiknya kalian menginap saja?" tanya Mama Ivi.


"Gak usah, Tan. Kita pulang aja, besok kita dateng lagi ke sini. Kita hanya ingin memastikan keadaan Kak Rina aja, Tan," kata Wawan lagi.


"Serius lo mau balik sekarang?" tanya Ivi.


"Yap! Besok gue ke sini lagi sama Erwin," ucap Wawan.


"Baiklah kalau mau kalian begitu. Sekali lagi Om ucapin terima kasih banyak buat kalian, dan maaf sudah merepotkan kalian semua."


"Sama-sama, Om. Kalo gitu kita berdua pamit ya Om, Tante. Kak Eric, gue sama Erwin pulang dulu, ya. Kak Radit, kita balik duluan. Arya, kita cabut sekarang ya," pamit Wawan pada yang lain. Dan di balas anggukan kecil oleh mereka.


"Thanks ya Wan, Win, kalian udah bantu Kak Eric buat nolongin Kak Rina. Kalian hati-hati pulangnya, ya."


"Ya, sama-sama, Vi. Ya udah, kita pamit sekarang ya."

__ADS_1


Wawan dan Erwin pulang lebih dulu, selain mereka sudah memastikan keadaan Rina baik-baik saja, ini juga sudah terlalu malam. Sepeninggalan Wawan dan Erwin, yang lainnya masih duduk di dalam satu ruangan.


__ADS_2