This Is Me

This Is Me
eps 25


__ADS_3

Paginya...


Ketika melewati kelas lain Ivi mendengar beberapa murid cewek pada ngerumpi. Mereka tengah kasak-kusuk membicarakan tentang murid pindahan.


"Eh, katanya bakalan ada anak pindahan ya?"


"Masa? Cowok apa cewek?"


"Cowok. Dan katanya sih ganteng banget! Gue penasaran nih!"


"Tapi dia bukan di kelas kita. Dia masuk kelas lain."


"Yaaaah!" semuanya pada kecewa.


"Tapi dia masuk di kelasnya Ivi!" seru salah satu dari mereka. Dan ketika melihat Ivi di sana, tiba-tiba ia memanggilnya. "Ivi! Sini bentaran deh!" si cewek melambai ke arah Ivi.


"Apaan? Ada apa? Kok kayaknya seru amat?"


"Vi, elo udah tau orangnya belum? Anak baru itu? Elo udah liat?"


"Mana gue tau! Gue juga baru dateng. Emang iya ada anak pindahan?" Ivi balik bertanya.


"Ho oh! Cowok lho, tadi yang gue denger kalo gak salah namanya...!"


Belum sempat si cewek menyelesaikan kalimatnya, mendadak Ivi di panggil seseorang.


"Vi!" Wawan dan Erwin sudah di sana.


"Sori, gue di panggil sama mereka. Kalo gitu gue ke sana dulu ya." kata Ivi pada murid cewek tadi dan di balas anggukan kecil olehnya.


Ivi berlari kecil menghampiri dua kawannya itu. Saat melewati kelas Alvin, ia melihat Ryo ada di depan pintu kelasnya. Dan Ryo pun menyadari keberadaan Ivi di sana. Tapi saat mata mereka bertemu tiba-tiba Ryo seperti berusaha menghindari Ivi. Padahal saat itu Ivi hendak menyapa Ryo, tapi anaknya sudah keburu pergi. Ivi bingung bertaut alis.


"Ryo kenapa pergi gitu aja, padahal dia tau kalo gue di sini. Tapi dia kek menghindari gue ya. Apa, kemaren ada ucapan gue yang kelewatan ya?" batin Ivi.


"Elo ngapa dah?" tanya Erwin.


"Ryo, kenapa dia kayak ngindarin gue, ya?"


"Masa?" Erwin ikutan bingung. Tidak mengerti.


"Kemaren apa yang terjadi setelah itu?" tanya Wawan.


"Setau gue gak ada apa-apa kok."


"Tapi, Ryo seperti takut gitu sama elo. Elo kemaren beneran gak menghajar Ryo seperti yang elo bilang, kan? Atau elo beneran menghajar Ryo, makanya dia menghindari elo?" selidik Wawan


"Sembarangan! Ya kali gue beneran menghajar Ryo, gue gak sekejam itu, Wan! Kemaren itu gue cuma bicara doang sama Ryo. Apa, dia marah sama gue ya?"

__ADS_1


"Elo gak tau, Win?" tanya Wawan ke Erwin.


"Apalagi gue!"


Jelas saja kalau Erwin tidak tahu, soalnya dia tidak ada di sana saat kejadian Ryo dan Zacky.


"Biarin ajalah, palingan Ryo lagi nenangin diri. Eh, katanya hari ini ada anak pindahan, cowok." ucap Wawan.


Benar juga, Ivi hampir lupa dengan si anak baru itu. Tapi, sudahlah itu bukan urusannya. Ia tidak terlalu peduli. Mendadak perasaan Ivi menjadi tidak nyaman, was-was akan sesuatu, tapi apa?


Ruangan kelas Ivi masih ramai saat itu, tapi begitu seorang Guru memasuki kelas, seketika suasana menjadi hening.


"Selamat pagi anak-anakku semuanya!"


"Pagi Pak!!" jawab seisi kelas.


"Langsung saja ya. Sebelum kita mulai pelajarannya, Bapak akan memperkenalkan seorang anak pindahan. Dia baru di sini, dan baru mulai belajar di kelas ini hari ini. Bapak harap kalian semua bisa berteman dengan dia." jelasnya singkat. "Nah, silahkan masuk."


Siswa baru itu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Kini semua mata tertuju pada siswa baru tersebut. Begitu pula dengan Ivi. Ivi melebarkan matanya, pertanda kalau ia sangat terkejut. Ivi tercengang saat melihat anak baru itu. Ia hampir tidak percaya, bahkan Ivi mengerjapkan mata berkali-kali. Siapa tahu ia salah lihat.


"Pagi. Perkenalkan, nama saya Arya Aditama. Mulai hari ini saya belajar di sini. Dan saya harap kalian semua mau membantu saya, terimakasih." ucap si anak baru itu mengakhiri perkenalannya.


Ivi menelan ludahnya, susah! Terlalu kering tenggorokannya untuk menelan. Benar-benar tidak bisa di percaya!


"Nah, Arya, silahkan cari tempat duduk mu." kata Pak Guru.


Arya celingukan mencari kursi yang kosong. Sedetik Arya melirik ke arah Ivi dan mata mereka bertemu. Segera Ivi mengalihkan pandangannya.


"Apa? Arya di sini? Ngapain dia di sini? Jadi, dia murid pindahannya? Yang benar saja! Itu berarti... gue bakalan ketemu sama dia tiap hari dong! Hiyaaaa... gimana ini! ****** gue! Kenapa? Kenapa jadi begini? Kenapa masalah gue gak kelar-kelar siiih!"


Batin Ivi berteriak sekuat tenaga.


"Baiklah, anak-anak buka buku Bahasa Inggris kalian. Kita akan segera memulai pelajarannya."


Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan si anak baru. Pelajaran akan segera di mulai, dan mereka tidak bisa mengabaikan pelajaran tersebut, terutama untuk siswa cewek.


"Aaah! I hate you!" tanpa sadar Ivi bergumam. Dan ternyata Pak Guru mendengarnya.


"Ivi, kamu mengatakan sesuatu?"


"Eh, oh, gak Pak. Tidak, saya tidak bilang apa-apa!" jawab Ivi gelagapan.


"Oke. Sekarang buka buku kamu."


Lagi-lagi Ivi mendesah. "Apaan sih gue!"


Entahlah apa yang di jelaskan oleh Pak Guru di depan, bagi Ivi penjelasan Pak Guru tidak ada yang bisa di pahami. Seluruh jaringan otak Ivi nge-blank.

__ADS_1


Saat bel istirahat berbunyi, Ivi cepat-cepat kabur dari kelas. Gerakannya secepat kilat, bahkan Wawan, Erwin dan Adel di buat bingung olehnya. Mereka yang melihat tingkah Ivi hanya saling berpandangan bingung. Mungkin Ivi yang paling pertama keluar dari kelas.


Ketika di luar Ivi berlari kecil sampai-sampai ia menabrak seorang siswa.


"Sori... gue gak sengaja!" ucap Ivi.


"Ivi?"


"Huh? Alvin?" Ivi beruntung bertemu Alvin. "Ikut gue ke kantin sekarang!"


"He?"


Tanpa menjawab Ivi menarik tangan Alvin. Ivi menyeret Alvin sampai meja kantin. Di sana Alvin mengambil minuman dingin untuk mereka dan langsung meneguknya.


"Haaaah! Bete! Gue bete banget!" keluh Ivi.


"Bete kenapa sih, heboh amat."


"Pokoknya gue lagi bete berat!"


"Ya, ya, baiklah. Oh ya, Vi, elo udah dapet DVD nya?"


"Huaaah! Jangan ingetin gue soal DVD dulu! Gue lagi ada masalah, jadi gak sempet mikirin itu!" jawab Ivi kesal.


"Hmm... ini bukan, barang yang elo cari?" Alvin menyodorkan sebuah benda tipis dan terdapat cover sebuah nama band kesukaannya.


"Alvin... ini..." Ivi menatap Alvin tidak percaya.


"Gue kemaren iseng jalan keluar, dan gue gak sengaja liat itu di sana. Bener gak itu barangnya?"


"Ya ampun, Alvin! Ini buat gue?" Ivi mengambil DVD pemberian Alvin. Ia sangat senang, sampai tidak percaya. Bibirnya tersenyum semakin lebar.


"Iya."


"Ini yang gue cari-cari! Akhirnya... ya ampun, Vin! Gue seneng banget, gue bener-bener belum sempet nyari. Tapi elo malah repot-repot nyariin buat gue. Thanks ya, Vin, gue gak tau harus bilang apa, tapi, gue bener-bener berterimakasih sama elo!!"


Tidak hentinya Ivi mengucapkan terimakasih pada Alvin. Ia terlalu senang, dan terharu.


"Santai. Udah gue bilang, gue cuma iseng lagi jalan-jalan aja. Waktu liat DVD itu gue jadi kepikiran sama elo, kira-kira elo udah dapet DVD nya atau belum. Makanya gue ambil deh." jelas Alvin.


Ivi menatap Alvin terharu. "Elo pengertian banget sama gue! Elo bener-bener sahabat sejati gue, Vin!" saking senangnya Ivi sampai memeluk DVD tersebut. "Oh ya, ngomong-ngomong gimana lanjutan cerita elo waktu itu?"


"Cerita apaan?"


"Yang waktu itu, katanya elo lagi suka sama cewek. Elo udah bilang sama orangnya belum?" tanya Ivi penasaran.


Benar juga, saat ini Alvin belum bilang apa-apa soal cewek yang di sukainya itu. Sampai sekarang Ivi masih penasaran, kira-kira siapa cewek itu.

__ADS_1


__ADS_2