This Is Me

This Is Me
eps 41


__ADS_3

Eric mengusap wajahnya pelan. Lalu, beralih menatap Arya.


"Arya, luka lo musti cepet di obati, kalo gak nanti infeksi," ujarnya. Lalu ia melanjutkan, "Vi, tolong, elo obatin Arya, ya. Gue mau ke kamar dulu."


Ivi hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu, ia mengajak Arya duduk di teras. Yang sebelumnya Ivi mengambil kotak P3K di dalam terlebih dahulu.


"Bentar, gue siapin dulu."


Mereka duduk, dan Arya menunggu Ivi yang tengah menyiapkan obatnya. Keadaan rumah Ivi saat ini begitu sepi dan sunyi. Berbeda dengan beberapa jam yang lalu.


Entah apa yang di katakan orang tua Ivi pada para tamu undangan yang tadi sudah hadir. Yang jelas saat ini keadaan rumah Ivi benar-benar sepi, yang artinya mereka semua sudah pada pulang. Ivi tidak bisa membayangkan bagaimana wajah dan perasaan orang tua Ivi ketika menyampaikan kabar ini. Tapi, keadaan ini benar-benar di luar dugaan Ivi, Eric maupun yang lainnya, dan juga kedua orang tuanya. Mereka tidak menyangka akan terjadi hal seperti tadi.


"Sakit banget ya?" tanya Ivi yang kini duduk di depan Arya sembari mengompres lukanya.


"Cuma sedikit."


"Gue bersihin dulu, elo diem ya."


Arya menuruti perintah Ivi. Ia diam, sesekali di liriknya Ivi yang masih sibuk membersihkan luka. Ketika kain lap menyentuh lukanya, Arya mendesis nyeri.


"Sori," ucap Ivi.


"Gak apa-apa."


"Thanks ya, tadi elo udah nyelametin gue. Gara-gara gue, elo jadi terluka."


"Ini bukan apa-apa kok. Elo tenang aja. Yah, paling lagi apes aja kali." Arya tertawa kecil.


"Tapi, tetep aja elo dapet bonus dari mereka. Dan, gue gak terima itu."


"Santai, Vi."


"Oke, tinggal di perban dikit. Sabar ya."


Ivi mulai merekatkan perbannya. Sementara, Arya tersenyum sambil terus memperhatikan Ivi. Sadar kalau dirinya di perhatikan, membuat Ivi menurunkan tangannya dan menatap Arya heran.


"Elo kenapa liatin gue gitu?"


"Gak. Hanya saja ....," Arya menggantung kalimatnya. Lalu, di raihnya kedua tangan Ivi dan di tatap matanya beberapa saat.


Di depan gerbang, terlihat Alvin tengah berdiri sambil memperhatikan mereka berdua sejak tadi. Alvin yang semula ingin menyapa keduanya, tiba-tiba langkahnya terhenti. Terlebih ketika melihat kedekatan mereka berdua. Lantas, tanpa menyapa mereka, Alvin pun berlenggang pergi.

__ADS_1


Sementara itu Ivi dan Arya tidak mengetahui kedatangan Alvin.


Jantung Ivi rasanya berdebar kencang tidak karuan ketika Arya menatapnya. Ia masih terpaku diam, tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan, Ivi seperti melihat kalau Arya mulai mendekat padanya. Ia mulai panik saat Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Ivi, sedangkan tangannya masih di genggam oleh Arya, membuat ia semakin panik. Wajah mereka sudah sangat dekat, entah kenapa Ivi tidak bisa menghindar seperti kejadian waktu dulu.


Satu tangan Arya mulai menyentuh lembut pipi Ivi, sedangkan tangan yang satunya masih menggenggamnya.


"Ar, elo mau, apa?" tanya Ivi super panik.


Arya masih diam tidak menjawab. Di tatapnya Ivi begitu dalam, sembari terus mendekati wajah Ivi. Sekarang mereka benar-benar sangat dekat. Sampai-sampai Ivi memejamkan matanya. Namun, sedetik kemudian ia merasa kalau ada yang mengelus kepalanya. Lantas, ia pun membuka matanya.


"Arya?"


Arya tersenyum lembut, "Thanks, elo udah obatin luka gue."


"Hoooh!" Ivi membuang napas lega, yang sejak tadi di tahannya.


"Elo kenapa?"


"Gak. Gak apa-apa kok. Gue kira apaan." Ivi tertawa di paksakan. Sungguh, beberapa saat ia merasa sangat gugup. Bahkan jantungnya tidak mau tenang barang sebentar saja. Ia salah tingkah di depan Arya. Benar-benar memalukan.


Di dalam, Eric masuk ke kamar Rina. Sebenarnya itu kamar kosong, hanya kalau ada tamu baru ruangan itu di gunakan. Eric menempatkan Rina di sana. Ia masuk menghampiri Rina.


"Eric ... ah, gue, gue gak bisa tidur ...." ucap Rina yang berusaha untuk duduk. Segera Eric membantunya.


"Elo gak apa-apa, kan? Ada yang sakit gak?" tanyanya pelan lalu duduk di samping Rina.


Rina tidak menjawabnya, ia justru menunduk dan mulai menangis, "Eric, maafin gue ... maafin gue ....!"


Eric merasa sakit dan terenyuh melihat keadaan Rina.


"Udah, elo jangan nangis. Gue ngerti kok, elo gak mungkin ngelakuin itu sama gue. Gue percaya sama elo. Sekarang elo tenanglah dulu, gue temenin sampe elo tidur, oke?"


Eric tersenyum kecut. Sejujurnya di dalam hatinya ia merasa sakit, seperti di khianati. Tapi, ia tidak bisa berkata apapun saat ini. Mengingat apa yang baru saja terjadi. Di peluknya Rina begitu erat, penuh kasih sayang. Rambutnya di belai lembut, sembari berucap untuk membuatnya lebih tenang. Ia berusaha bersikap biasa di depan Rina.


"Terimakasih, Ric ... terimakasih, elo udah percaya sama gue. Gue pikir, elo bakalan benci sama gue, setelah elo tau semuanya."


Eric masih mendengarkan.


"Gue gak bermaksud untuk mengkhianati elo, Ric ... sungguh, gue gak ada maksud untuk mengkhianati kepercayaan elo, perasaan elo, gue gak ada maksud untuk ... gue, maaf, Ric. Maafin gue ...." ucapnya lagi. Air matanya kembali jatuh di pipinya.


"Gue gak benci ataupun marah sama elo, Rin. Percayalah, gue gak benci atau apapun," ucapnya sambil menghapus air mata di wajah Rina.

__ADS_1


"Tapi, gue udah ....!" ia terisak.


"Rin, elo tau, gue paling gak bisa membenci orang. Apalagi elo, oke? Sekarang tenangin dulu pikiran elo, gak usah mikir yang macem-macem. Sebaiknya elo istirahat aja. Gue tetep di sini kok, gue gak kemana-mana."


"Maaf, Ric ... maaf," ucapnya lagi.


Di bantunya Rina kembali berbaring, dan di pakaikan selimut untuknya. Eric duduk di samping Rina sambil terus menggenggam tangannya sangat erat. Seolah ia tidak ingin melepas tangan Rina sedetikpun.


Saat ini, entah apa yang tengah di rasakan oleh Eric. Apakah ia harus marah atau kasihan. Ingin marah pun, Eric tidak tega jika melihat kondisi Rina saat ini. Ia memperhatikan wajah Rina yang sudah tertidur begitu cepat, mungkin saja Rina kelelahan. Di sudut matanya masih membekas sisa air mata karena menangis tadi. Lantas, tangan Eric bergerak untuk menghapusnya pelan. Tiba-tiba Eric teringat akan perkataan cowok tadi.


'Gue ini pacar Rina,' kata cowok itu.


Eric juga teringat, saat cowok tersebut menunjuk Ivi dan juga tentang ucapan Wawan. Eric semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi. Ia pun berniat menanyakan hal ini pada Ivi. Sekali lagi di lihatnya Rina yang sudah tertidur pulas. Eric beranjak dari duduknya lalu mengecup kening Rina. Di tutup pintunya pelan, ia pun membiarkan Rina beristirahat.


Begitu keluar dari kamar, Eric mendapati Radit dan Arya sudah ada di depan pintu.


"Ric, gimana Rina?" tanya Radit.


"Dia udah tidur."


"Syukurlah kalo gitu. Gue lega dengernya," ucapnya lega. "Semoga dia baik-baik aja. Ya udah, kalo gitu kami pamit pulang sekarang ya, Ric."


"Elo gak nginep aja? Udah malem lho, rumah lo juga jauh, kasian tuh adik lo," usul Eric.


"Gak perlu, Ric. Gue balik aja, kasihan sama orang rumah. Entar mereka khawatir sama gue, apalagi sama Arya," jelasnya.


"Seriusan? Elo gak apa-apa, Ar?" kini ia beralih ke Arya.


"Iya, Kak. Gue gak apa-apa kok. Ini juga udah di obatin sama Ivi."


"Hah, ya udah kalo kalian mau pulang. Hati-hati ya di jalan, dan terimakasih karena kalian udah bantu gue di sana."


"Sama-sama. Elo yang sabar ya, Ric. Gue ikut prihatin atas apa yang menimpa Rina. Anggap aja ini ujian dari Tuhan. Gue yakin, elo bisa ngadepin ini semua," kata Radit seraya menepuk pundak Eric untuk menyemangatinya.


"Thanks, Dit. Elo juga, Arya. Thanks ya, elo udah ikut bantuin gue. Gara-gara itu, elo jadi terluka. Maaf ya, Ar."


"Kak Eric tenang aja, ini cuma luka kecil kok."


"Sekali lagi, gue ucapin terimakasih banyak buat kalian semua."


Radit dan Arya mengangguk bersamaan. Tidak mau menunggu lagi, karena ini juga sudah terlalu malam, Radit dan Arya segera berpamitan dengan orang tua Ivi dan orang tua Rina. Setelah itu mereka berdua meninggalkan rumah Ivi.

__ADS_1


__ADS_2