This Is Me

This Is Me
eps 35


__ADS_3

Setelah sekolah usai, dan pelajaran pun selesai, Ivi mengemas buku pelajarannya.


"Vi, gue sama Erwin pulang duluan ya. Atau, elo mau ikut kita?" tanya Wawan.


"Kayaknya gak deh, Wan. Gue pulang sendiri aja," jawab Ivi.


"Okelah. Bye, Vi.


Ivi mengangguk. Sekarang ia beranjak dari kelas dan berjalan keluar. "Gue pulang sendiri nih?" gumamnya.


"Mau bareng gue?" tawar Arya di samping Ivi.


"Hmm?"


"Tenang aja, gue gak bakal ninggalin elo kayak tadi kok."


"Bener? Entar gue belum siap, elo udah keburu pergi lagi."


"Gak mungkinlah, ayo."


Akhirnya Ivi mau menerima ajakan Arya untuk pulang bersama. Ia pun berjalan beriringan dengan Arya. Sebelum benar-benar pergi dari kelas, Ivi sempat menoleh ke kelas Alvin.


'Sudah sepi, apa Alvin sudah pulang?' batin Ivi. Padahal ia ingin bicara sesuatu, tapi ia harus segera pulang.


"Elo kenapa, Vi?"


"Ah, gak kok. Yuk, cabut."


Sampai di depan rumah Ivi, Arya memarkir motornya.


"Masuk dulu yuk."


"Tapi, gue gak bisa lama-lama. Gue pamit sama orang rumah aja, ya."


"Bentar. Tapi, masuk dulu dong, masa iya di luar sih."


Lalu, Ivi mengajak Arya masuk. Di dalam Ivi celingukan mencari Mamanya.


"Ma! Ada temen Ivi nih, mau pamitan!" seru Ivi sembari mencari Mama.


Tidak lama kemudian Mama keluar dari dalam, "Siapa, Vi?"


"Temen Ivi, mau pamitan."


"Sore, Tante," ucap Arya lalu menyalami Mama Ivi.


"Sore juga. Kamu temannya Ivi?" tanya Mama.


"Iya, Tante. Saya Arya, temennya Ivi di sekolah."


"Begitu. Tapi, kok Tante gak pernah liat kamu main ke sini ya?"


"Arya ini murid pindahan, Ma. Mama tau gak, ternyata dia ini adiknya Kak Radit," kata Ivi memberitahu Mama.


"Masa? Radit punya adik cowok? Wah, kok Tante gak pernah tau ya. Soalnya tiap Radit ke sini, dia gak pernah cerita."


"Iya, Tan. Arya adiknya Kak Radit," ucap Arya tersenyum. "Arya cuma ingin mengantar Ivi pulang saja, Tan."

__ADS_1


"Oh ... terimakasih banyak sudah nganterin Ivi. Jadi ngerepotin kamu, Arya."


"Tidak kok, Tan. Kebetulan jalan pulang Arya dan Ivi searah. Jadi, sekalian saja Arya ajak Ivi."


"Begitu. Nak Arya duduk dulu, mau minum apa?" tawar Mama pada Arya.


"Gak usah, Tan, terimakasih. Arya langsung pulang saja, ada urusan sedikit. Arya cuma mau pamit sama Tante. Jadi, Arya pamit sekarang."


"Sayang sekali ya. Ya sudah, tapi, sering-seringlah main ke sini ya. Kakakmu juga sering ke sini. Sekali lagi Tante ucapin terimakasih, karena kamu sudah mengantar Ivi."


"Sama-sama, Tan. Kalau begitu Arya pulang sekarang ya," ucapnya, lalu beralih ke Ivi. "Vi, gue pulang dulu ya."


"Oke. Thanks ya, Ar. Elo hati-hati pulangnya."


"Hati-hati Nak Arya," imbuh Mama.


"Iya, terimakasih, Tante. Vi, gue balik dulu ya. Sampe besok."


Anak dan Ibu itu membiarkan Arya pergi. Kini mereka berdua masih menatap motor Arya yang semakin menjauh.


"Adik Radit ... ternyata ganteng juga ya, Vi."


"Maksud Mama apa?"


"Masa kamu cuma berteman saja dengan Arya?"


"Lha, terus, maunya apa?"


"Kamu, gak ada rasa suka sama Arya, walau hanya sedikit gitu? Mama pertama kali melihatnya saja sudah langsung suka."


"Kalo gitu Mama aja yang pacaran sama Arya."


"Nah, itu Mama tau."


Kemudian Ivi masuk ke kamar. Di dalam ia menaruh tasnya lalu berbaring di atas tempat tidurnya.


"Dia bukan pacar, melainkan udah jadi mantan," gumam Ivi.


Entah kenapa ketika mengingat wajah Arya, tiba-tiba wajah Ivi mulai menghangat. Lalu, di ikuti detak jantungnya yang terasa aneh.


"Apa ini? Gue kenapa? Gak mungkin gue suka lagi sama Arya, kan?" tanyanya pada diri sendiri. Kini ia membuang semua pikirannya.


*****


Hari demi hari, Ivi berangkat dan pulang sekolah seperti biasa. Hanya saja beberapa hari ini ia tidak pernah mampir atau kelayapan sehabis pulang sekolah. Karena biasanya Ivi akan mampir ke suatu tempat, atau sekedar pulang bareng sahabatnya. Tapi, kali ini Ivi selalu pulang tepat waktu. Sampai-sampai Wawan heran dengan sikap temannya itu.


"Ada apa sama Ivi, ya. Akhir-akhir ini dia jarang banget pulang bareng kita," kata Wawan.


"Ho oh, sepertinya buru-buru banget. Apa, dia marah sama kita, ya?" Erwin menerka-nerka.


"Emang kita salah apa sama Ivi? Setau gue, Ivi baik-baik aja deh."


"Apa ya? Apa, gara-gara gue sering njiplak PR punya dia, ya?"


"Kalo itu sih udah jelas! Gak perlu di tanya lagi. Elo sih suka bikin gara-gara!"


"Kok gue jadi ngerasa bersalah gini ya."

__ADS_1


"Harus itu, biar elo sadar!"


"Gawat. Berarti gue dalam masalah dong?"


"Tapi kayaknya bukan karena itu deh, Win. Dia gak mungkin marah hanya karena masalah itu. Kalo Ivi marah karena elo sering njiplak PR, harusnya udah dari lama dia lakukan."


"Terus, Ivi kenapa dong?"


"Entar kita coba bicara sama Ivi."


*****


Hari Jum'at ...


Ivi sadar kalau belakangan ini ia jarang sekali pulang bareng mereka, terutama Alvin. Sejak hari itu, Ivi sama sekali belum menghubungi Alvin. Main ke rumah Alvin pun tidak. Ivi khawatir kalau Alvin akan berpikiran yang tidak-tidak. Alasan Ivi belum melakukan itu semua, karena Ivi sedang sibuk membantu Kakaknya mempersiapkan acara pertunangannya dengan Rina. Itulah alasan, kenapa Ivi tidak pulang bareng Alvin. Bisa ketemu pun hanya di sekolah, itupun tidak pernah mengobrol atau menyapa. Dan, saat sekolah selesai, Ivi selalu pulang lebih awal.


"Nanti sore ke rumah Alvin deh. Gue takut aja kalo dia entar berpikiran yang aneh-aneh tentang gue, gara-gara gue nolak dia."


Sorenya ...


Ivi mengetuk pintu rumah Alvin. Beberapa saat kemudian pintu pun di bukanya, di sana ia melihat Alvin.


"Hay, Vin!"


"Hay, Vi. Tumben elo ke sini. Masuk gih."


"Thanks."


Ivi mengikuti Alvin masuk ke dalam.


"Duduk, Vi. Elo mau minum apa?"


"Apa aja deh, Vin. Elo punyanya apa."


"Bentar ya."


Alvin masuk ke dapur, berselang kemudian ia keluar kembali sambil membawa dua gelas minuman.


"Nih ..."


"Thank, Vin."


"Gue pikir, elo masih marah sama gue."


"Marah? Kenapa harus marah?"


"Ya, soal waktu itu. Soalnya kalo gue liat setelah kejadian hari itu, elo seperti menghindar dari gue. Dan itu jelas banget. Gue coba telepon elo, gak di angkat. Gue telepon lagi, malah gak aktif. Dan, beberapa hari ini elo gak pernah pulang bareng gue, di sekolah elo juga gak nyamperin gue. Main ke rumah pun, elo gak pernah. Akhir-akhir ini elo kayak berubah banget, Vi."


"Sebentar, sepertinya ada yang salah deh. Gue gak ngerasa menghindari elo kok."


"Terus apa, kenapa akhir-akhir ini elo gak pernah punya waktu buat gue. Buat terima telepon aja gak pernah, kan?"


"Oh, soal itu! Sori, Vin ... pertama, waktu itu habis elo telepon, ponsel gue mati. Terus gue mau telepon elo nih, gak tau kenapa tiba-tiba perut gue sakit. Gue lupa mau telepon balik. Jadi, elo jangan salah paham."


Alvin masih belum bisa mempercayainya. Ia seperti meragukan jawaban Ivi.


"Terus, di sekolah juga, elo gak pernah nyapa gue atau nyamperin gue."

__ADS_1


"Kalo untuk soal itu, gue punya alasan lain, Vin."


"Alasan apa? Apa, karena elo lagi sama Arya? Itu kan alasan elo?" pertanyaan Alvin berubah menjadi sinis. Kini ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


__ADS_2