This Is Me

This Is Me
eps 48


__ADS_3

Begitu sampai rumah Eric langsung menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi. Rasa dingin terasa di sekujur tubuhnya saat ia memutar keran air, tapi rasa dingin itu justru membuat Eric merasa lebih segar. Dan, sudah sejak tadi rasa itulah yang Eric nantikan setelah seharian ini menjaga Rina di rumah sakit. Bahkan ketika masuk rumah pun ia tidak memperhatikan Ivi yang sudah berada di rumah lebih dulu. Ia melewati Ivi begitu saja. Usai mandi, Eric mencari kaos santai dan celana pendek untuk ia kenakan. Masih memakai handuk di kepalanya, Eric langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memejamkan mata sejenak sembari menarik napas panjang. Kemudian di buka matanya dan di tatapnya langit-langit kamar. Ketika menatap langit-langit kamar, tampak Eric sedang memikirkan sesuatu, namun entah apa itu. Baginya, kejadian ini sangat sulit untuk di bayangkan. Bahkan sampai sekarang Eric masih belum bisa melupakan semua kejadian itu. Iya, Eric berbohong kalau ia tidak memikirkan lagi masalah itu. Tapi pada kenyataannya, ia masih belum bisa melupakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Rina. Terlepas dari pengakuan Ivi dan Wawan saat itu. Ini sudah menjadi masalahnya.


*****


Paginya ....


Seperti biasa, Ivi berangkat di antar Eric. Tapi, hari ini Eric tidak bisa menjemputnya lantaran ia harus kembali ke rumah sakit setelah selesai kerja, dan Ivi pun mengiyakan.


Belum juga masuk kelas, tiba-tiba dua kawan Ivi langsung menyerbunya. Siapa lagi kalau bukan Wawan dan Erwin. Mereka menghampiri Ivi sambil setengah berlari.


"Vi, gimana keadaan Kak Rina?" tanya Erwin begitu di depan Ivi.


"Apa Kak Rina baik-baik aja?" imbuh Wawan. "Sori, kemaren gue ada urusan mendadak, gue juga telat buka chat dari elo. Jadi, gue enggak bisa langsung ke rumah sakit. Sori banget!"


"Iya, enggak apa-apa kok. Gue juga baru bisa kabarin ini ke elo pas gue udah di rumah. Semuanya aman kok," jawab Ivi seraya masuk ke dalam kelas dan di ikuti dua kawannya itu.


Begitu Ivi sampai di kursinya, Wawan pun ikutan duduk di bangku di depan Ivi. "Tapi Vi, gimana ceritanya Kak Rina masuk rumah sakit? Gue masih belum mudeng ini."


"Ho oh, gue kaget lho waktu Wawan bilang ke gue kalo Kak Rina masuk rumah sakit. Dan, itu karena Kak Rina mau coba bunuh diri," tukas Erwin.


Ivi membenarkan posisi duduknya. "Jadi, habis kejadian penculikan itu, malamnya Kak Rina mau bunuh diri. Waktu itu gue bangun buat ambil air minum, eh enggak taunya kamar Kak Rina pintunya kebuka. Nah, di situ gue penasaran makanya gue cek tuh sama Kak Eric. Ternyata Kak Rina udah pingsan, tangannya udah berdarah sama pegang silet. Ugh ... gue kalo inget jadi merinding deh," jelasnya pada Wawan dan Erwin.


Dua kawannya itu saling menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kok bisa Kak Rina nekat bunuh diri?" tanya Wawan.


Ivi angkat bahu. "Gue juga enggak tau. Tapi, Kak Rina bilang kalo dia ngerasa bersalah banget sama Kak Eric."


"Segitunya ya Kak Rina merasa bersalah sama Kakak elo. Tapi, kalo Kak Rina bener-bener cinta sama Kak Eric, kenapa Kak Rina nekat kayak gitu?" Erwin bertanya sambil bertopang dagu.


"Entahlah, Win. Gue enggak paham pikiran orang dewasa. Gue enggak tau apa yang di pikirkan mereka. Mungkin mereka pikir, mengakhiri hidupnya dengan cara kayak gitu bisa bikin mereka tenang. Tapi, kalo menurut gue sih, itu bakal nambah masalah aja, iya enggak sih?"


Wawan dan Erwin berpandangan bingung. Mereka berdua pun tidak paham dengan urusan orang dewasa. Mereka juga tidak habis pikir kalau Rina akan berbuat senekat itu. Padahal mereka pikir kalau Rina bukanlah seseorang yang berpikiran sempit.


"Tapi sekarang Kak Rina udah enggak apa-apa 'kan?" tanya Erwin.


Ivi mengangguk. "Dia udah enggak apa-apa. Paling beberapa hari lagi udah boleh pulang. Rencananya sih entar gue mau ke rumah sakit. Elo pada mau ikut?" tawarnya.


"Ya! Gue ikut!" jawab Wawan seketika.

__ADS_1


"Gue juga. Gue ikut!" imbuh Erwin.


"Oke. Entar kita ke sono bareng, tapi gue ada piket dulu sebentar. Enggak apa-apa 'kan kalian nungguin gue?"


"Siap!" jawab Wawan dan Erwin bersamaan.


Tengah sibuk mengobrol mengenai rencana mereka, datang Arya dan Adel secara bersamaan. Ivi dan yang lainnya pun sama herannya.


"Pagi semuanya," sapa Adel.


"Del, Ar ... kalian berangkat bareng?" tanya Erwin yang juga penasaran akan hubungan mereka.


"Enggak. Kita cuma ketemu di depan aja, jadi sekalian bareng deh," balas Adel cuek.


"Del, nanti ada yang cemburu lho liat elo dan Arya barengan," pancing Ivi.


Adel bertaut alis. "Siapa?"


"Tuh." Ivi menunjuk ke arah Erwin.


Sedetik, Adel sempat melirik ke arah Erwin. Namun, ia kembali bersikap tak acuh padanya. "Apaan sih, Vi. Apa hubungannya juga sama manusia tukang jiplak ini."


"Ecieee ... ehem!" Ivi menggoda dua sejoli itu. Sontak membuat yang lain tertawa. Sementara Adel, ia melotot ke arah Ivi. Berbeda dengan Adel yang kesal, Erwin justru tersenyum sumringah.


"Ar, elo udah tau soal Kak Rina yang masuk rumah sakit?" celetuk Wawan di sela-sela tawa mereka.


"Rumah sakit? Kak Rina?" Arya menggeleng tanda tidak tahu. "Emang bener, Vi, kalo Kak Rina masuk rumah sakit? Kenapa?"


"Berarti Kak Eric belum ngasih tau soal ini ke Kak Radit ya. Emang bener Kak Rina masuk rumah sakit, kemaren dia mencoba mau bunuh diri."


Arya terlihat sangat terkejut. "Apa? Bunuh diri? Kok bisa?"


"Entar aja ceritanya ya. Ini pada mau ikut gue ke sana nengok Kak Rina. Elo mau ikut enggak, Ar?" tanyanya pada Arya.


Pertanyaan Ivi langsung di jawab anggukan kepala oleh Arya. "Boleh, gue ikut."


"Elo ikut enggak, Del?" Ivi melirik Adel.


Adel tampak sedang berpikir. "Hmm ... meskipun gue enggak kenal Kak Rina, gue ikut kalian deh. Gimanapun juga gue 'kan kenal Kak Eric."

__ADS_1


"Oke. Semua setuju, nanti tinggal berangkat ke sana bareng. Eh, tapi mending pulang dulu aja kali ya. Enggak enak 'kan kalo kita ke sana masih pakai seragam, gimana? Kumpul aja di rumah gue."


Dan semuanya menjawab usul Ivi dengan sangat kompak.


Pulang sekolah ....


"Vi, kalo gitu gue sama Erwin balik duluan ya," ucap Wawan sambil berjalan keluar kelas.


"Oke!" Ivi memberikan tanda oke.


"Adel mau pulang bareng kita enggak?" tawar Wawan.


"Enggak mau, ogah. Gue pulang sendiri aja. Bisa bahaya kalo bareng elo berdua," jawab Adel sambil melengos.


"Hey, hey ... apa maksud elo kita berdua berbahaya. Emang elo pikir gue bakal gigit elo apa?" balas Erwin gemas.


"Pokoknya ogah! Never, bye!" Adel ngeloyor pergi.


"Dih, orang kita yang ngajak balik, kenapa dia yang malah ngeloyor pergi duluan," Erwin cemberut.


"Udah deh kalian, katanya mau balik. Bisnya keburu pergi lho, oh atau kalian mau bantuin gue piket?" canda Ivi.


Mendadak Wawan dan Erwin cengengesan. Lalu Erwin berucap, "Hehe ... bukan kita enggak setia kawan nih, tapi gue harus pulang sekarang, iya 'kan, Wan?" tanya Erwin seraya merangkul pundak Wawan. Sedangkan Wawan hanya pasang wajah heran.


"Huuu, dasar!" Ivi mencibir Erwin.


"Oke! Kita duluan ya!" mereka berdua pun keluar kelas.


Begitu dua manusia itu pergi, Arya menghampiri Ivi. "Vi, mau pulang bareng?"


"Ng ... enggak usah deh Ar, gue piket soalnya. Jadi elo duluan aja," tolak Ivi.


"Kalo gitu gue tunggu aja."


"Enggak usah, pasti bakalan lama."


"Kalo gitu gue bantu elo piket, ya?"


"Enggak usaaaaah!"

__ADS_1


"Udah, enggak apa-apa. Atau, mau gue cium lagi supaya elo nyerah dan gue bisa bantuin elo?" ancamnya pada Ivi.


__ADS_2