This Is Me

This Is Me
eps 16


__ADS_3

Di dalam toko buku Adel berkeliling mencari barang yang di perlukan, sementara Ivi hanya melihat-lihat aksesoris dan barang-barang yang ada di sana.


Setelah cukup lama mengamati aksesoris entah kenapa tiba-tiba matanya berpusat pada satu titik. Bahkan ia sampai membelalakkan matanya. Seperti tidak percaya kalau Ivi melihat seseorang yang di kenalnya. Ia mengamati lebih dekat lagi, dan memang benar kalau itu adalah dia.


"Ngapain Arya di sini?" Ivi kembali melongok ke orang yang ia kira sebagai Arya. "Kenapa pula gue harus liat dia di sini?"


Ivi mengamati Arya dari balik rak buku, sampai seorang penjaga toko pun menghampiri Ivi.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya si penjaga toko.


Ivi agak terkejut dengan kemunculan si Mbak tersebut. "Eh, oh, tidak Mbak. Terimakasih..." jawab Ivi.


Ivi menoleh lagi ke tempat di mana Arya berada. Betapa terkejutnya Ivi, ternyata Arya juga sedang memperhatikan Ivi yang tengah bicara dengan Mbak tadi, mata mereka bertemu. Sontak Ivi langsung menunduk untuk bersembunyi. Si Mbak penjaga toko tadi kaget melihat pelanggannya bertingkah aneh. Ivi mengumpat dirinya sendiri, hampir saja ketahuan. Dari pada nanti keburu ketahuan mending sekarang ia pergi saja dari sini.


"Maaf, Mbak, saya permisi sebentar. Nanti saja saya balik lagi, oke?" ucap Ivi setengah berbisik pada Mbak penjaga toko. Tentu saja Mbak tadi bingung.


Ivi berusaha menghindar dari Arya, dan ia berharap kalau Arya tidak mengejarnya.


"Ivi?" Arya memanggil Ivi.


Mendadak Ivi jadi panik saat namanya di panggil. Ia pun berlari kecil mencoba untuk tidak menghiraukan Arya.


"Kenapa dia ada di sini sih, sering banget dia ada di sekitar gue!" gerutunya.


Oh, apa Ivi belum bilang, kalau Ivi dan Arya waktu pacaran itu berbeda sekolah?


"Ivi! Berhenti, gue mau bicara sama elo!"


Sialnya Arya mengejar Ivi. Dan Ivi mati-matian menghindari Arya. Ya Tuhan, tolonglah hamba, hamba tidak ingin bertemu dia di sini, Ivi berdoa dalam hati. Ia berharap kalau Arya berhenti untuk mengejarnya.


Hingga akhirnya Ivi bersembunyi di parkiran setelah beberapa menit lari dari Arya. Ivi sembunyi di balik mobil milik seorang pengunjung toko buku tersebut. Ia melihat sekitarnya, terlihat Arya di sana, ternyata itu memang Arya dan ia sedang mencari Ivi. Ia menunduk agar tidak terlihat. Menunggu beberapa saat, kelihatannya sudah aman, di cek lagi sekitarnya, aman. Ivi bernafas lega sembari bersender pada mobil, namun ia kembali terkejut ketika si pemilik mobil membunyikan klakson. Ternyata di dalam mobil ada orangnya, sontak Ivi segera meminta maaf kepada pemilik mobil tersebut. Ia meringis malu. Setelah mobil tersebut pergi, Ivi memutuskan untuk masuk, dan juga sepertinya keadaan sudah aman.


"Elo tadi ke mana aja sih, gue cariin gak ada." kata Adel yang saat itu sudah selesai.


"Maaf, Del, tadi gue kebelet. Gak tahan, makanya gue pergi hihihi..." ia berbohong.


"Habis ini mau kemana lagi?"


"Pulanglah, Del, emang elo gak mau pulang?"


"Ya udah, ayo. Thanks ya udah nemenin gue."


"Santai."

__ADS_1


Mereka pun pulang setelah selesai. Di luar Ivi pasang muka siaga, siapa tahu Arya masih di sana. Tapi kali ini benar-benar aman.


Di rumah Ivi...


"Kemana aja lo, sore gini baru pulang." tegur Eric ketika melihat Ivi.


"Gue habis nemenin Adel ke toko buku." jawabnya sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Elo gak sekalian nyari DVD nya? Bukannya tadi elo pergi kan, kenapa gak sekalian cari di sana?"


Ivi tersadar. "Ah iya, kenapa gak kepikiran tadi, sekalian cari. Hadeeeh!"


"Dasar!"


"Mana gue inget, tadi aja gue sempet liat Arya di sana. Makanya gue gak sempet inget yang lain. Udah panik duluan sebelum bisa berpikir!" Ivi kesal.


"Ketemu mantan lagi?"


"Untung gue langsung kabur."


"Sebenarnya ada masalah apa sih yang bikin elo sama Arya tuh putus?"


Ivi menatap Kakaknya. "Rahasia!"


"Kampret lo, gue tanya serius nih. Ngapain pake rahasia-rahasiaan segala sama Kakak sendiri. Gue kan bukan orang lain."


"Kalo gue orang utan, elo juga orang utan! Secara elo itu masih adik gue, ngerti?!" Eric masih melancarkan balas dendamnya.


Setelah kelelahan karena tertawa, mereka berdua rebahan di lantai, nafasnya ngos-ngosan.


"Kak..."


"Hmm?"


"Elo... hmm, udah pernah... ciuman sama Kak Rina belum?"


"Apa?!" hampir saja Eric keselek, padahal tidak makan apapun. Ia terlalu kaget mendengar pertanyaan Ivi. "Kenapa elo bisa tanya seperti itu sih? Oh, jangan-jangan elo udah pernah ya?!"


Ivi yang balik terkejut. "Iiiiih, siapa bilang!"


"Wah, elo udah gede ya ternyata, bisa tanya begituan. Atau, elo mau coba-coba?"


"Gue tonjok juga lo!" protesnya. "Gue kan cuma nanya doang, masa langsung di tuduh!"

__ADS_1


"Habis pertanyaan elo gitu amat, aneh. Elo mau tau?" kata Eric.


Ivi mengangguk.


"Elo tanya aja sama Rina."


"Yeee, malah suruh nanya Kak Rina. Gue kan tanya sama elo!" sungut Ivi.


Eric bangun dari lantai. "Udah sono mandi, bau tuh!"


"Iye, bawel!"


Eric meninggalkan kamar Ivi, setelah itu barulah Ivi siap-siap untuk membersihkan diri. Baru sadar dia kalau badannya terasa lengket dan bau.


Di tempat lain...


Alvin sedang berada di luar, sekedar iseng saja ia main. Ia masuk ke sebuah toko buku, ia melihat-lihat buku yang berjajar. Beberapa kali ia mengamati judul dan sinopsis. Alvin meraih satu buku yang menurutnya menarik. Beberapa halaman di bacanya lalu ia mengembalikannya ke rak. Alvin berjalan lagi seraya mengamati yang lainnya, dan saat itu matanya tertuju pada salah satu tempat. Ia mendekat lalu mengamati barang tersebut.


"Ini kan, yang di cari sama Ivi." gumam Alvin. Ia pun kemudian berlanjut berkeliling kembali.


*****


Minggu pagi...


Ivi joging di sekitaran kompleks perumahannya, dan ia berkeliling beberapa kali di gangnya. Ivi tidaklah sendirian, ia di temani oleh Eric.


"Vi, udahan yuk, udah capek nih gue..." kata Eric yang sudah ngos-ngosan.


"Oke."


Mereka berdua berjalan santai menuju rumah, sesekali mereka bercanda.


"Vi, seperti yang gue janjikan sama elo kemaren. Hari ini gue bayar utang gue ke elo, yaitu mentraktir elo."


"Beneran?" Ivi terlihat senang.


"He em, entar sore kita jalan-jalan keluar. Elo boleh makan apa aja!"


"Yang bener? Boleh makan apa aja?" Ivi semakin bersemangat.


"Yap! Tapi gue ngajak Rina juga ya, gak apa-apa, kan?"


"Oke. Baiklah! Gue bakalan nguras habis isi dompet elo!" seru Ivi di sela-sela tawanya.

__ADS_1


"Woooh... udah nafsu aja lo!"


Sesampainya di depan rumah Ivi dan Eric cepat-cepat masuk dan mengambil air minum. Mereka meneguk beberapa gelas air putih dalam waktu singkat, saking hausnya.


__ADS_2