
Tidak habis pikir, kalau cewek yang di maksud Alvin adalah dirinya. Ivi mengerang di dalam bantal.
Tadi siang...
"Apa... elo suka sama, gue? Maksud elo apa?"
"Iya, cewek yang gue suka itu elo, Vi. Udah lama gue suka sama elo. Tapi, gue gak pernah berani bilang sama elo. Karena, gue takut kalo elo bakal benci sama gue." jelas Alvin.
"Gak mungkin, elo pasti salah. Elo lagi bercanda kan? Ada yang salah pasti." ujar Ivi tidak percaya.
"Gue gak salah, Vi. Gue beneran suka sama elo, makanya waktu itu gue tanya, apa gue boleh suka sama cewek itu atau gak. Gue takut kalo gue gak boleh menyukai elo. Waktu itu gue bilang, kalau elo kenal sama cewek itu. Dan, memang benar kalo elo kenal cewek itu. Karena cewek itu adalah elo, Vi. Cewek yang gue suka. Sekarang, gue mau tanya satu hal sama elo. Apa, gue boleh suka sama elo?"
Saat ini...
Percakapan tadi masih terdengar jelas di telinga Ivi. Apa yang di katakan Alvin membuat Ivi bingung, melongo. Ia bangkit untuk duduk lalu mencari ponselnya. Tapi, ketika hendak mengambil ponsel, Ivi melihat DVD pemberian dari Alvin. Lantas, ia meraih DVD tersebut.
"Jadi selama ini, elo suka sama gue, Vin. Gue gak nyangka sama sekali. Padahal gue pikir bahwa elo akan tetap jadi sahabat gue. Gue gak tau harus bagaimana, elo itu temen gue sejak kecil, elo adik kelas gue, dan elo itu juga sahabat gue. Gue gak mungkin suka sama elo, Vin. Dan, bodohnya kenapa gue gak menyadarinya sama sekali!" gumamnya sambil menatap DVD tersebut.
Ivi menaruh DVD nya lalu kembali meraih ponselnya, ia hendak menelpon Alvin. Tapi, tiba-tiba kepala Eric nyembul dari balik pintu kamar Ivi.
"Vi, bisa bicara sebentar?"
"Ada apa?"
"Kita bicara di luar aja."
"Oke, gue ganti baju sebentar."
Begitu Eric menutup pintunya, Ivi bergegas mengganti seragamnya dengan baju santai. Begitu selesai ia segera keluar kamar untuk menemui Eric. Dan, Ivi lupa kalau tadi ia hendak menelpon Alvin. Saat Ivi keluar, ponselnya berdering beberapa kali, tapi, Ivi tidak mengetahuinya. Karena, ia tidak membawa ponselnya.
"Ada apa ini, kenapa semuanya pada kumpul begini?" tanya Ivi ketika melihat Eric dan orang tuanya sudah ada di sana.
"Emang gak boleh?" tanya Papa.
"Gak sih, cuma heran aja. Jadi, ada apa ini?" tanyanya sembari duduk di sebelah Mama.
"Gini, gue mau minta tolong sama elo." Eric memulai.
"Minta tolong? Apaan?"
"Jadi, begini, Vi. Kakakmu dan Rina kan sudah lama menjalin hubungan serius. Jadi, Eric memutuskan akan melamar Rina secepatnya, supaya mereka mempunyai ikatan yang lebih serius." jelas Papa.
"Wah, yang bener, Pa?" Ivi terkejut.
__ADS_1
"Iya, Vi. Tapi, gue gak langsung nikah , gue mau tunangan dulu sama Rina, sambil mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Nah, gue mau minta tolong sama elo bantuin gue buat mempersiapkan semuanya. Gimana, elo mau?" tanya Eric pada Ivi.
"Emm, boleh aja sih, tergantung honornya berapa. Kalo gak ada bayarannya, gue gak mau. Sekarang di mana-mana itu gak ada yang gratis, Kak. Jadi, gue mau bantuin elo, kalo ada duitnya." ujar Ivi usil sambil terkekeh.
"Yeee... masih kecil ngomongin honor!" protes Eric
"Oke, oke! Gue siap bantu apapun. Kakak mau minta bantuan apa, bakal Ivi laksanakan!"
"Terimakasih, Vi. Nah, elo kan mau bantu gue apapun, kan? Kalo gitu sekarang gue minta tolong, elo pijitin gue. Pegel semua nih badan." kata Eric.
"Apa? Mijitin? Ya ogah!" tolak Ivi.
"Barusan elo bilang, kalo elo mau melakukan apapun yang gue suruh! Sekarang gue nyuruh elo mijitin gue. Jadi, elo harus kerjakan!"
"Huh!" dengan kesal Ivi menghampiri Eric dan duduk di sebelahnya. Ia mulai memegang lengan Eric. "Nih, rasain pijitan gue!"
Ivi memijat lengan Eric dengan amat kencang, karena gemas. Buka memijat pelan, melainkan mencubit Eric hingga membuatnya berontak.
"Aaaw! Udah! Udah! Stop, gak usah di lanjutin!" sergah Eric sembari melepaskan diri dari adiknya.
"Apaan sih, katanya minta di pijit. Sekarang gue pijit malah kabur! Maunya apa sih!" sungutnya.
"Gimana mau tahan sama pijitan elo! Orang elo mijitnya begitu! Itu sih bukan mijit namanya, tapi penyiksaan! Entar yang ada malah badan gue bengkak semua!" kekinya.
"Makannya ya nasi, gimana sih!"
"Haduh! Udah deh kalian ini, kenapa ribut terus sih. Sampai-sampai kita di cuekin." ujar Mama yang sejak tadi memperhatikan kedua anaknya tersebut.
"Ini nih Kak Eric cari gara-gara!" tuduhnya.
"Kok gue sih!" bantahnya balik.
"Semoga semua berjalan dengan lancar ya, Ric. Kita mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga Rina." tukas Papa.
"Amin, Pa! Terimakasih banyak untuk bantuannya, Pa, Ma. Dan, thanks juga buat elo, Vi. Mungkin beberapa hari ini, elo bakal sibuk bantuin gue. Elo gak apa-apa, kan?"
Ivi mengangguk mengiyakan. "Oke. Gak apa-apa kok."
"Yang penting gue gak ganggu belajar elo."
"Santai. Jadi, kapan acara pertunangannya?"
Di kamar...
__ADS_1
Ivi lanjut belajar untuk hari Senin. Meskipun besok hari Minggu ia tetap belajar.
"Hah, bentar lagi Kak Eric tunangan sama Kak Rina. Apa, setelah menikah nanti mereka bakalan pergi dari rumah ini, dan punya tempat tinggal sendiri? Bakalan sepi dong." gumamnya pelan.
Sibuk dengan pikirannya, mendadak Ivi teringat kalau tadi ia ingin menelpon Alvin. Ia pun mencari ponselnya, tapi begitu mendapati ponselnya mati, Ivi menggerutu.
"Yeee, malah mati. Gimana sih! Entar aje deh teleponnya."
Saat itu Eric masuk ke kamar Ivi.
"Vi, udah tidur?"
"Belum. Kenapa?"
"Main PS yuk."
*****
Hari Minggu Ivi membantu Kakaknya. Ia mulai membantu apa yang di perlukan untuk acara pertunangannya. Hari ini mereka menyempatkan waktu untuk berbelanja untuk persiapan acara tersebut. Rina juga ikut membantu di rumah Eric. Karena Eric ingin acaranya di adakan di rumahnya saja.
Sepertinya Ivi lupa akan satu hal, bahwa ia ingin menghubungi Alvin. Awalnya ia ingin menelpon Alvin. Tapi, kemudian Ivi mengurungkan niatnya. Toh, di sekolah mereka pasti ketemu.
Dan, saat sedang berbelanja bersama Eric dan Rina, ponsel Ivi dalam mode silent. Jadi, ia tidak mendengar ada suara telepon masuk.
"Aaiiiih! Capeknya! Mantab!" seru Ivi seraya duduk di kursi. Ivi leyeh-leyeh di kursi setelah selesai pulang dari belanja.
"Haaah... sama lah! Tapi, thanks ya, elo udah nemenin gue sama Rina belanja." kata Eric.
"Yaaa!" Ivi memejamkan matanya, dan bertanya pada Eric. "Kak, apa, setelah kalian menikah nanti, Kakak bakalan pergi dari rumah ini?"
"Kenapa, elo sedih ya?"
"Gak juga sih. Aneh aja pasti."
"Liat aja nanti."
"Eh, tapi gak juga sih. Gue malah seneng elo gak ada. Gak ada yang gangguin gue lagi." kata Ivi yang kemudian tertawa.
"Ooh! Jadi, elo seneng kalo gue gak ada, hah?!"
"Tapi, pasti bakalan sepi kalo elo pergi dari rumah ini. Kayak ada yang hilang gitu."
"Makanya cari pacar lagi sono!"
__ADS_1
Sontak Ivi bangkit duduk, lalu melempari Eric menggunakan bantal kecil.